
Love In Bandung
Bab 2
Pada awal perceraian orang tuanya belasan tahun lalu, dia tinggal bersama ibunya di Surabaya. Lima tahun kemudian, ketika berumur tujuh belas tahun, dia memutuskan pindah ke Bandung dan tinggal bersama ayahnya. Sejak saat itu, Bandung menjadi hidupnya, dan tempat ternyaman baginya.
Bunyi dentingan halus membuyarkan lamunannya. Bunyi itu menarik paksa pikirannya untuk kembali dari bayangan masa lalunya.
Lisa dan Rena segera keluar dari lift. Lisa melambaikan tangan ke arah Rena, sebagai tanda dari perpisahan mereka yang sementara.
Alasan mereka berpisah sesaat setelah keluar dari pintu lift, karena mobil mereka diparkirkan di tempat yang berbeda.
Rena memarkir mobilnya di basement, sementara Lisa memarkir mobilnya di lapangan parkir di luar gedung. Sebenarnya Lisa juga mendapatkan fasilitas parkir di basement, sama seperti Rena. Namun, dia tidak menggunakan fasilitas itu, karena dia lebih suka berjalan jauh dari tempat parkir menuju kantornya, dengan alasan untuk kesehatan.
Dia juga tidak biasanya mengendari mobil ke mana-mana. Dia lebih suka naik bus atau kendaraan umum lainnya. Walaupun dia harus ekstra hati-hati terhadap kejahatan yang mungkin terjadi di kendaraan umum, misalnya pencopetan.
Namun, pagi ini jalanan cukup padat, dan terjadi kemacetan panjang. Jadi, dia terpaksa mengendari mobilnya sendiri supaya bisa datang ke kantor lebih awal, dan tidak terlambat karena terjebak macet.
Lisa belum benar-benar pergi dari depan pintu lift itu, sebelum Rena menghilang dari pandangannya.
Dia mulai membalikkan badannya setelah memastikan, jika Rena sudah tidak terjangkau oleh penglihatannya.
Baru saja dia hendak melangkah, tiba-tiba saja manik-manik matanya menangkap seorang laki-laki yang kini tengah berdiri di dekat meja resepsionis di lobi gedung.
Langkah kakinya terhenti dan dia menahan napas, tapi hanya sebentar. Dia memilih untuk tidak mempedulikan orang itu, seolah-olah dia tidak mengenali sosok laki-laki yang baru saja tertangkap oleh penglihatannya. Dia memutuskan untuk mengabaikan orang itu dan kembali melanjutkan langkahnya.
Laki-laki itu melihat Lisa berjalan dengan terburu-buru ke arah pintu utama. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepada Lisa, tapi Lisa mengabaikannya dan malah semakin mempercepat langkah.
"Lisa ...." Seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Dia mendengar jelas suara yang memanggil namanya. Namun, tidak ada niatan sedikit pun untuk mendengarkan orang itu.
"Lisa!" Lagi-lagi laki-laki itu memanggilnya dan dia tetap memilih untuk pura-pura tidak mendengar.
Dia terus melangkah ke luar dari gedung dan melangkah semakin cepat ke tempat di mana mobilnya terparkir.
Dia sama sekali tidak mempedulikan bunyi langkah kaki yang kini tengah menyusul langkahnya. Langkahnya semakin cepat untuk meghindar dari laki-laki yang kini masih mengikutinya dan terus-menerus memanggil namanya.
Angin musih hujan menerpa tubuhnya yang kini terbalut jaket hitam. Lisa semakin merapatkan jaket yang dia kenakan. Dinginnya malam semakin menusuk pori-pori tubuhnya.
Gerimis mulai lebat, membasahi wajah cantiknya yang kini tertutup oleh beberapa helaian rambut yang tertiup angin. Butiran air yang jatuh semakin menambah pesonanya.
"Lisa ... tunggu sebentar."
Lisa masih tidak mempedulikan laki-laki yang sejak tadi memanggil namanya.
Berapa ratus kali pun laki-laki itu memanggil namanya, dia akan tetap mengabaikan.
Ketika dia hampir sampai di tempat parkir mobil putih kecilnya, dia langsung mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya.
Terdengar bunyi piip dua kali tanda pintu mobil sudah terbuka. Setelah itu, dia cepat-cepat masuk.
Saat dia hendak menutup pintu mobilnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang juga menarik pintu mobilnya dari luar. Sehingga dia tidak bisa menutup pintu itu, karena tertahan.
"Bisa kita bicara sebentar, Lisa Lamona?" tanya laki-laki tampan itu, yang kini masih menahan pintu mobilnya menggunakan satu tangan.
Lisa tidak menjawab pertanyaannya, dia malah memilih untuk memalingkan muka.
"Kenapa kamu tidak berhenti saat aku memanggilmu? Apa kamu sedang buru- buru?" tanya laki-laki itu kembali.
"Mau apa?" tanya Lisa dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah. Malah terdengar jutek dan sinis.
Dia menatap laki-laki tampan itu dengan tatapannya yang sengaja dibuat supaya terkesan tajam dan menusuk.
Laki-laki itu terkekeh pelan sembari menundukkan kepalanya. Rambutnya yang dipotong rapih namun terkesan berantakan sesuai trend, jatuh begitu saja menutupi dahinya.
Hal itu membuat Lisa sulit menahan dirinya untuk tidak terpesona dengan laki- laki yang kini berada tepat di hadapannya. "Jika kamu tidak sedang terburu-buru, aku ingin mengajakmu untuk menemaniku makan malam." Tawaran laki-laki itu sepertinya membuat hati Lisa mulai bimbang.
Sumpah serapah yang dia tujukan untuk laki-laki itu beberapa saat yang lalu, seperti terlupakan begitu saja.
Egonya ingin menolak, tapi hatinya sulit untuk tidak menerima.
'Dasar manusia menyebalkan!' Lisa menggerutu dalam hatinya. Dia mendengus kesal sembari melirik orang di sampingnya, yang kini masih setia berdiri di depan pintu mobilnya.
Laki-laki itu sedang membetulkan rambut bagian depannya, yang menghalangi dahi pari purnanya.
Seulas senyum penuh percaya diri tetap tersungging di bibirnya, seakan dia yakin jika Lisa tidak akan menolak ajakannya.
'Terus saja tebar pesona kaya gitu. Dasar laki-laki narsis!' cibir Lisa dalam hatinya. Lisa masih enggan mengeluarkan suaranya, karena dia masih kesal dengan laki-laki yang berada di depannya.
Karena Lisa tidak menjawab, laki-laki itu memilih untuk melanjutkan perkataannya. "Aku yang akan bayar makanannya. Kamu boleh memilih restoran mana pun yang kamu inginkan."
Belum juga Lisa menjawab ajakannya, tapi dia berkata seolah-olah Lisa akan menerima.
Sejak tadi, Lisa sudah menahan dirinya untuk bersikap tidak peduli, tapi akhirnya dia tidak dapat lagi menahan diri.
"Dasar laki-laki menyebalkan! Reyhan, kamu benar-benar menyebalkan! Ke mana saja kamu selama ini? Kenapa tidak meneleponku atau memberiku kabar?"
Lisa mengeluarkan semua unek-unek yang sejak tadi mengganggu pikirannya dan ingin segera dikeluarkan.
Bukannya merasa bersalah setelah mendengar perkataan Lisa, laki-laki yang diketahui bernama Reyhan itu malah tersenyum lebar. Dia sama sekali tidak terpengaruh perkataan Lisa. Dia bersikap seolah tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuat Lisa kesal.
"Jadi kamu mau makan apa, Nona?" Aska bertanya seperti itu seolah Lisa adalah ratunya. Ratu hati maksudnya.
"Aku mau makan bakso beledug!" jawab Lisa dengan ketus.
Dia melipatkan kedua tangannya di depan dada, sembari menatap lurus ke arah mata Reyhan yang sedang memandanginya. Tatapannya masih menunjukkan bahwa dia belum sepenuhnya memaafkan Reyhan.
"Hanya itu?" tanya Reyhan sambil menaikkan sebelah alisnya. "Hm." Lisa hanya berdehem sambil memalingkan muka.
Bukannya memilih restoran yang mahal, Lisa malah memilih makanan di persimpangan jalan alun-alun kota Bandung.
Baso Beledug yang baru saja dia sebutkan, adalah salah satu makanan yang berhasil masuk ke dalam daftar makanan favoritnya.
Reyhan tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah menduga, jika wanita menggemaskan itu tidak akan menolak ajakannya. Hal ini membuat rasa percaya dirinya semakin bertambah.
Anda Mungkin Juga Suka





