
Love & Destiny
Bab 2
Marcel masih diam mencerna semua yang terjadi. Dia memikirkan keadaan yang seakan menjepitnya. Di satu sisi, kehidupan bahagia dan penuh cintanya bersama istrinya, Michelle dan di sisi lain keluarganya. Dia seakan merasa keputusannya 3 tahun yang lalu meninggalkan keluarganya demi Michelle adalah kesalahan yang menorehkan banyak luka. Apalagi ketika mengingat adiknya, Michael yang keadaannya terpuruk saat ini. Membayangkannya saja sudah membuat Marcel sesak nafas. Marcelpun menatap ibunya dan berkata, “Aku akan pulang,Ma. Ini demi Michael”.
Mendengar itu, Ribka pun memeluk erat putra sulungnya bahagia. Michelle hanya bingung tak mengerti. Dia berharap keputusan Marcel memang yang terbaik dan tidak merugikan siapa pun. Setelah mendengar kepastian kepulangan sang putra, Ribka pamit kembali ke Jakarta.
Setelah itu, Marcel hanya diam tak bicara sampai tengah malam. Michelle enggan membuka percakapan karena merasa suaminya memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi dalam hati, Michelle sangat takut seandainya Marcel memilih untuk meninggalkannya seperti yang dulu dilakukan sang adik padanya. Ya, sebelum mengenal Marcel, Michelle menjalin hubungan asmara dengan Michael. Semuanya baik-baik saja sebelum keluarga Buana menentang habis hubungan mereka dan memisahkan mereka. Sejujurnya, Michelle sangat trauma ditinggalkan oleh orang yang dia cintai.
“Michelle”, Marcel mulai bicara.
“Ya, mas?," jawab Michelle dengan perasaan tak karuan memenuhi pikirannya.
“Dibanding diriku, mungkin Michael lebih membutuhkanmu saat ini. Aku akan pulang dan sangat tidak mungkin aku mengenalkan dirimu sebagai istriku kepada adikku. Itu akan membuat Michael semakin sedih. Bisakah kau membantu adikku?," tanya Marcel dengan nada sendu sekaligus sedih tak berani menatap Michelle. Saat bertanya demikian, Marcel sadar dia telah bersikap egois kepada Michelle. Dan memang tak seharusnya dia meminta hal demikian kepada Michelle yang adalah istrinya.
“Apa maksudmu? Mas…ingin aku kembali kepada adikmu. Mas…jahat! Hiks…!," Michelle benar-benar tidak terima dengan permintaan Marcel. Rasanya seperti Marcel mempermainkan kehidupannya. Dia seakan-akan seperti barang yang dioper ke sana kemari dan dipermainkan oleh kakak-beradik itu.
“Aku tahu aku salah hiks…tapi aku sangat menyayangi Michael. Sudah hampir 5 tahun kami tidak bertemu. Selama di Amerika, aku tidak sempat melihat adikku itu dan saat menikahimu, aku sudah tak tahu kabar apapun tentang keluargaku. Aku sangat menyayangi Michael lebih dari nyawaku sendiri hiks…A-aku selalu melakukan apapun yang membuat Michael bahagia. Michelle…posisiku sangat sulit," jelas Marcel sambil terisak. Dia benar-benar merasa sedih dan tertekan.
“Pantaskah seorang suami meminta istrinya untuk menjadi milik orang lain? Apalagi menjadi kekasih adiknya sendiri? Suami macam apa kau ini Marcel? Mas orang berpendidikan kan? Apa begini caramu menghargai istrimu? Hiks…! Aku tidak akan pernah melakukannya!” Michelle tak terima dengan permintaan Marcel. Dua benar-benar sudah tak bisa memaafkan Marcel. Hatinya benar-benar hancur.
“Aku minta maaf. Hiks…Aku tahu, kalau aku bukan suami yang baik. Tapi, tak bisakah kau anggap ini sebagai permintaan seorang kakak? Ah, tapi itu keputusanmu Michelle," Marcel memohon bahkan berlutut kepada istrinya. Michelle merasa sedih ketika melihat suaminya sampai seperti ini. Tapi disisi lain dia juga punya kehormatan yang dijunjungnya tinggi. Apa mungkin dia ingin menjatuhkannya demi cintanya.
“Mas tahu, bertahun-tahun aku berusaha melupakan Michael. Bahkan setelah kita menikah, aku masih belum bisa benar-benar melupakannya. Tapi, disaat aku sudah bisa berdamai dengan masa laluku, kenapa mas malah minta aku untuk kembali? Ini sama saja mas mau menghancurkan aku untuk kedua kalinya. Enggak mas, aku gak akan kembali sama Michael. Kalau mas mau datang ke sana tanpa aku, tidak apa. Tapi mas, jangan tinggalkan aku hiks…! Aku tidak sanggup jatuh kedua kalinya," balas Michelle dengan penuh kesedihan.
Marcel memeluk erat Michelle. Mereka berdua menangis dan Marcel mengecup dahi istrinya itu. Dia menatap Michelle dengan penuh kesedihan dan pergi ke kamar untuk mengepak barang-barangnya. Ya, keputusan Marcel sudah bulat. Dia pulang ke Jakarta demi adiknya dan juga keluarganya. Pada akhirnya, cintanya kalah dengan kenyataan yang sangat pahit. Rumah tangga yang mereka bangun dari nol mungkin akan berakhir sampai disini.
“Mas, aku harap kamu pulang dan jemput aku. Aku ingin kamu memperkenalkan aku sebagai istrimu saat keadaannya memungkinkan," pinta Michelle saat Marcel hendak pergi di pagi-pagi buta.
“Mas sangat sayang sama kamu. Tapi mas gak tahu apa yang akan terjadi. Mas gak bisa jamin apakah keadaan memungkinkan untuk membuat kita kembali. Mas ingin kita bersama dan berdamai dengan masa lalu. Tolong doakan yang terbaik ya," Marcel berusaha menguatkan Michelle. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi satu hal yang pasti, ketika Marcel melangkahkan kaki keluar dari rumah kecil mereka, dia tidak akan pernah kembali. Ada hal besar yang menunggunya di Jakarta yang akan terus mengikatnya di sana.
Michelle terus memandang kosong jendela rumahnya. Dia bertanya-tanya apakah Marcel sudah sampai Jakarta atau belum. Setidaknya butuh waktu seharian dari Jogja ke Jakarta. Apalagi, perjalanan dari Desa mereka yang terpencil membutuhkan waktu setengah hari ke kota. Dia terus mengingat kenangan manis mereka sambil meneteskan air mata berharap semuanya bisa kembali seperti semula.
‘Aku berharap Tuhan memang menakdirkan kami bersama’ harapnya dalam hati sambil melihat cincin yang diberikan Marcel padanya sebagai tanda lahiriah bahwa dia adalah milik pria itu.
Flashback
“Mas, kenapa mataku ditutup?" Michelle bertanya saat Marcel dari tadi menutup matanya dan menuntunnya ke suatu tempat. Tiba-tiba, langkah pria itu terhenti membuat Michelle kebingungan. Marcel pun membuka penutup mata istrinya.
“Woah…kunang-kunang! Indah sekali mas!," ujar Michelle senang saat Marcel membawanya ke tempat indah dan ada kunang-kunang indah bercahaya disitu.
“Kamu tahu? Saat lembur, mas sempat perhatikan tempat ini dan langsung teringat untuk bawa kamu kesini," ucap Marcel dibalas senyum indah oleh istrinya.
“Ini indah sekali! Dulu waktu kecil, aku sangat ingin melihat kunang-kunang yang nyata dan kamu membuatnya nyata mas," jawab Michelle senang sambil berputar-putar diantara kunang-kunang itu.
“Berbeda dengan di kota ya mas. Kita sulit mencari pemandangan alam yang seindah ini," sambung Michelle lagi.
“Aku senang kalau kamu suka. Melihatmu bahagia, aku seakan lupa dengan semua yang terjadi," kata Marcel seketika dan membuat Michelle terdiam. Michelle langsung meraih suaminya dan memeluknya erat.
“Mas menyesal memilihku daripada keluarga mas?Apa mas berpikir untuk kembali?,” tanya Michelle dengan sendu. Marcel membalas pelukan istrinya dan menjawab, “Kita suami dan istri, tidak akan ada yang memisahkan kita kecuali kematian . Ketika aku memutuskan untuk memilihmu, aku tidak akan pernah menyesalinya. Aku bahkan sangat bahagia disini. Tidak ada dokumen-dokumen kantor, tidak ada proyek ataupun kontrak yang menguras tenaga dan emosi. Yang ada hanya kebahagiaan”.
Jawaban Marcel benar-benar semakin memantapkan Michelle akan cinta pria itu. Dia merasa bahwa Marcel adalah satu-satunya orang yang akan terus berada disisinya selamanya. Dia yakin bahwa pria itu tak akan meninggalkan dirinya dalam kondisi apapun.
“Terima kasih atas cintamu! Kamu memang pria yang terbaik di dunia ini! Semua wanita di dunia pasti iri padaku karena memiliki suami yang tampan dan baik hati sepertimu,” puji Michelle.
“Dan juga semua pria di dunia ini akan iri padaku karena aku memiliki istri yang baik dan cantik sepertimu Michelle. Ah, bukan itu saja, Kamu itu cerdas dan ramah juga. Kamu adalah wanita paling sempurna, Michelle” balas Marcel memuji Michelle.
“Gombal ih!” Michelle berkata sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena pujian Marcel.
“Aku serius! Kamu memang wanita terbaik di dunia. Wajar dong aku bangga dengan istri terbaik dan tercantik di dunia ini,” puji Marcel lagi.
“Berlebihan ih! Pasti banyak wanita yang lebih sempurna di luar sana,”Michelle menyangkal pujian Marcel.
“Baiklah, tapi bagiku kamu yang terbaik,” ucap Marcel lalu mengecup dahi Michelle dengan penuh kasih sayang.
End of Flashback
“Aku yakin kamu pasti pulang mas,” Michelle berkata terus meyakinkan dirinya sendiri.
…
Marcel POV
Aku terus menatap jalanan yang dilalui menuju Jakarta. Mungkin beberapa jam lagi sampai di terminal. Aku terus merasa bersalah pada keluargaku dan juga Michelle. Aku ragu apakah keputusan yang kuambil saat ini sudah benar? Meninggalkan istri demi keluargaku. Apalagi Michael, dia adalah yang terpenting buatku. Dari kecil aku selalu memberikan apapun yang dia minta dariku, bahkan sebelum dia memintanya.
Hubungan kami sangat dekat, aku masih ingat saat dia menangis ketika aku akan pergi ke Amerika untuk kuliah. Aku selalu membawakan buah tangan untuknya saat pulang tiap tahun. Dia akan menjadi orang yang paling merindukanku. Terlebih lagi, dari kecil akulah yang paling memberi perhatian padanya. Karena ayah dan ibu cukup sibuk dan hanya akulah yang ada disisinya.
Mendengar keadaannya sekarang, jujur membuat hatiku tersiksa. Aku terus berpikir apakah mungkin aku mengabaikan adikku yang dalam keadaan menyedihkan dan memikirkan kebahagiaanku sendiri? Kami juga sudah bertahun-tahun tidak berjumpa karena kesibukan dan sekarang malah mendengar keadaannya seperti ini. Demi Tuhan! Aku tidak sanggup terus membiarkan adikku itu. Aku menyesal tidak tahu kalau sebenarnya adikku sangat mencintai Michelle. Seandainya aku tahu, aku pasti akan membantunya dan bukannya malah menjadikan Michelle sebagai istriku.
‘Maafkan kakakmu ini Michael,’batinku penuh sesal.
‘PENGHENTIAN BERIKUTNYA, TERMINAL GROGOL’
“Sudah sampai,” gumamku sambil mengangkat ranselku. Aku pun turun lalu mencari taksi menuju perumahan Puri Indah. Saat melihat sekeliling, terkadang aku juga rindu dengan keadaan kota. Memang sangat berbeda dengan desa yang tenang dan sejuk, kota begitu padat dan sibuk. Tapi, di lingkungan seperti inilah aku dibesarkan. Ah, aku memang pengecut! Aku mengorbankan cintaku yang sudah kuperjuangkan mati-matian. Tapi, tidak mungkin juga aku kembali pada Michelle. Karena aku pasti tidak akan pernah merasa tenang seumur hidupku dan merasa berdosa kepada adikku selamanya.
‘Maafkan aku, Michelle’ aku menyesal.
End Of Marcel POV
Anda Mungkin Juga Suka





