Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love By Accident

Love By Accident

Akibat satu kesalahan fatal di masa lalu, Liz mengandung anak dari Caden, pria asing yang nyaris tak ia kenali. Tanpa mengetahui kebenarannya, Caden justru menaruh kebencian mendalam dan menuduh Liz telah sengaja menjebak dirinya demi kepentingan pribadi. Setelah bertahun-tahun berlalu tanpa kabar, takdir secara mengejutkan membawa mereka kembali pada pertemuan yang tak terduga. Kini, rahasia besar dan luka lama pun mulai membayangi hubungan mereka kembali.
Bab
Bagikan

Bab 2

Axel melangkah pasti menuju sekolah. Dibukanya kantong cokelat berisi beberapa kue berwarna cerah. Sekejap mata bocah itu berbinar. Lidah menjilat bibir dan tangan terulur untuk mengambil. Namun sesaat kemudian ia menggeleng. Segera ditutup kembali kantong itu dan melanjutkan langkah menuju sekolah.

Setiba di sekolah, ia membuka kantong. Beberapa teman sebaya datang mengerumuni, sekejap mereka mencomot kue-kue tersebut satu per satu.

"Ingat, ya, kalian besok harus membayar semua itu!" seru Axel. Para bocah mengangguk sambil sibuk melahap kue.

"Kami pasti ingat, hari ini gratis, besok baru bayar," sahut seorang bocah.

"Pintar," puji Axel sambil mengacungkan jempol.

***

Liz sedang menata kue-kue yang hendak dikirim ke toko. Setelah menghitung, jumlah kue tersebut ternyata memang berkurang cukup banyak. Ia kemudian kembali ke dapur untuk memeriksa.

"Ada apa, Liz?" tegur Nyonya Emma yang membantu membereskan peralatan membuat kue.

"Kue-kue kenapa berkurang banyak, ya?" sahut Liz sambil memeriksa sekeliling.

"Mungkin Axel yang mengambil. Kau tahu sendiri dia sangat menyukai kue itu. Tidak mungkin tikus atau kucing yang ambil kalau banyak."

Liz mengangguk. Ia dan nyonya Emma tadi memang lengah mengawasi Axel karena sibuk mengemas kue. Perempuan muda tersebut kemudian pamit dan segera pergi untuk mengantar kue pada beberapa toko.

***

Axel sedang berjalan seorang diri waktu jam istirahat. Matanya berbinar saat membuka kotak makanan dan sebuah kue berada di dalam sana. Untung dia tadi sempat mencomot kue dan memasukkan dalam kotak yang telah kosong. Nasi yang disiapkan ibunya telah ia keluarkan semua dan ia taruh dalam lemari.

Axel berniat untuk melahap kue tersebut. Mulut bocah itu telah terbuka lebar. Akan tetapi, suara tangis membuat dia berhenti. Segera ia melihat sekeliling. Seorang gadis kecil dengan pita merah muda duduk di ayunan yang tidak jauh darinya. Bocah perempuan berpipi tembem tersebut tampak tengah menangis.

"Kamu kenapa?" tanya Axel yang ikut duduk di ayunan sebelah gadis itu.

"Teman-teman tadi memakan kue, tapi tidak ada yang mau memberikan padaku, padahal aku juga mau makan kue," sahut gadis tersebut. Ia kemudian bahkan kembali menangis dengan suara lebih keras. Tangan Axel mengulurkan kue tersisa yang dia bawa. Mata gadis kecil tersebut berubah berbinar.

"Buat ... aku?" tanyanya sambil menoleh pada Axel. Axel hanya mengangguk.

"Makasih," ucap si anak perempuan sambil segera mengambil kue dari tangan Axel. Ia kemudian segera memakan.

"Enak," puji gadis kecil tersebut sambil tersenyum manis.

"Iya, manis," sahut Axel sambil menatap gadis kecil itu.

"Aku suka."

"Aku juga."

"Makasih, ya."

"Sama-sama, tapi besok jangan lupa bayar, ya."

***

Axel baru pulang sekolah sambil bersenandung riang. Wajahnya langsung berubah saat melihat Liz berdiri di ambang pintu sambil bertolak pinggang.

"Axel, kue-kuenya kamu umpetin di mana?"

"Nggak ada di aku."

"Terus?"

"Sudah kukasih teman semua, besok mereka bayar."

"Axel!"

"Aku cuma mau bantu Mom, kok!" seru Axel yang berlari ke kamar sambil menangis.

***

Liz berdiri di depan pintu kamar Axel kemudian bergegas masuk. Dilihatnya sang putra tengah tengkurap di atas tempat tidur. Dulu ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat sang putra seperti itu, tetapi ia dan Axel kemudian sama-sama belajar. Belajar untuk menerima dan memahami kondisi masing-masing. Ia tahu Axel ingin membantu dia. Bocah itu telah dewasa di usia mudanya dan selalu memikirkan dia.

"Axel, lihat Mom bawa pudding vanilla kesukaanmu," ucap Liz sambil menepuk pelan pundak Axel. Namun, putranya itu tetap saja bergeming.

"Mom tahu kamu selalu memikirkan Mom. Kamu menjual kue itu untuk membantu Mom."

"Siapa bilang aku menjualnya?" tukas Axel sambil bangun dari tidurnya.

"Aku memberikan pada mereka dan mereka akan membayar besok."

"Baiklah, kamu tidak menjual."

Axel mengangguk. Matanya tertuju pada mangkok pudding yang masih dibawa Liz.

"Axel, kamu tahu itu tidak boleh. Kamu tidak boleh membawa kue-kue itu ke sekolah."

"Kenapa?"

"Karena tugas Axel adalah belajar. Axel tidak bisa bekerja sambil sekolah. Axel harus belajar giat dan meraih cita-cita Axel."

"Tapi teman-teman Axel suka. Si Manis juga suka."

"Siapa itu si Manis? Kucing?"

Axel hanya menggeleng. Tangan dia terulur untuk meraih mangkok pudding. Liz segera memberikan.

"Baiklah, Axel boleh mengambil kue, tapi untuk Axel dan si Manis saja."

"Lalu teman-teman yang lain?"

"Biar Mom yang memberikan kue pada mereka. Bagaimana? Mom juga bisa sering datang lihat Axel di sekolah?"

Axel mengangguk senang dan segera memeluk Liz.

***

Liz keluar dari kamar Axel sambil membawa mangkok pudding. Nyonya Emma segera mengikuti.

"Lihatlah, Axel memang semakin besar. Akan susah untuk mengurus dia sendiri. Apa kamu tetap bersikeras tidak butuh bantuan lelaki?"

"Aku akan memikirkannya, Bi," sahut Liz sambil mencuci mangkok pudding tersebut.

"Aku tahu kau selaly menolak karena berpikir lelaki itu tidak akan sayang dengan Axel. Bagaimana kalau kau mencoba dengan Henry?"

Liz terdiam sejenak. Henry adalah keponakan dari Nyonya Emma. Selama ini, Henry dekat dan sering membantu dia. Pria bertubuh kurus tersebut juga sering menemani Axel bermain. Akan tetapi, apa pria itu apa memang bisa menjadi ayah bagi Axel?

"Apa lagi yang kaupikirkan? Apa kau keberatan?" tanya Nyonya Emma yang melihat Liz hanya diam. Liz sontak menggeleng.

"Kalsu begitu, sudah sepakat, kau akan memberi kesempatan pada Henry. Tenanglah, aku tahu ini pasti akan berhasil."

Liz mengangguk. Selama ini Nyonya Emma sering menyuruh dia pergi kencan buta, tetapi dia selalu menolak. Bahkan saat wanita itu telah mengatur semua, Liz memutuskan untuk tidak pergi.

"Aku hanya butuh Mom, aku tidak butuh Dad!" tegas Axel saat Liz bertanya tentang masalah pria yang mungkin menjadi ayah putranya itu. Axel memeluk ia sambil menangis sesenggukan. Hal itu pula yang membuat Liz selalu mengurungkan niat untuk kencan buta.

Kali ini dengan Henry, putranya tersebut mungkin akan setuju.

***

"Mana si Manis?" tanya Liz saat mengantar kue ke sekolah Axel.

"Itu di sana," jawab putranya itu sambil menunjuk gadis kecil yang duduk di ayunan. Gadis itu tengah melambaikan tangan pada mereka dan Axel balas melambaikan tangan sambil tersenyum.

Liz tertegun melihat itu dan segera menjewer telinga Axel. Siapa sangka bocah kecilnya yang kini menangis keras tersebut telah suka pada lawan jenis?

Nyonya Emma terbahak saat Liz menceritakan itu.

"Anak sekarang, mereka besar terlalu cepat. Belum lagi tontonan yang dilihat, maka Axel jadi seperti itu."

Liz hanya diam sambil menggeleng dan menghela napas panjang.

"Kau lihat sendiri, 'kan? Karena itu, aku selalu bilang Axel butuh seorang pria untuk membimbing dia. Sekarang kau tidak perlu ragu lagi untuk pergi dengan Henry."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akhir dari Sepuluh Tahun Pernikahan
9.5
Setelah mengalami kecelakaan demi melihat putranya memenangkan kompetisi piano, seorang istri justru menghadapi kenyataan pahit. Anak yang disayanginya memberikan medali emas kepada cinta pertama suaminya, sementara sang suami malah mencaci penampilannya yang kotor dan melarangnya hadir di pesta perayaan. Terkunci di luar rumah dalam guyuran hujan deras sepanjang malam tanpa kepedulian dari keluarganya, ia akhirnya membulatkan tekad untuk mengakhiri pernikahan sepuluh tahun mereka melalui sebuah perceraian.
Sampul Novel Cinta yang Kadaluarsa
9.6
Setelah sepuluh tahun sia-sia mengejar Kevin Sentosa, Diana Karin akhirnya menyerah dan berpaling kepada Adrian Wisak, pria yang melamarnya di sebuah pulau pribadi dengan kemegahan kembang api. Namun, menjelang pernikahan, Adrian mendadak hilang. Saat melacaknya, Diana justru mendengar rencana busuk Adrian yang hanya memanfaatkannya demi membuat Kevin jijik dan berniat kabur di hari pernikahan mereka. Menolak dipermalukan, Diana memilih melarikan diri lebih dulu, meninggalkan Adrian yang kini frustrasi mencari pengantinnya yang hilang di seantero Kota Jama.
Sampul Novel DI ANTARA NODA DAN CINTA PRASASTI
8.4
Nasib malang Prasasti kian pelik saat terlibat dengan tiga putra keluarga Adisurya yang kaya raya. Cintanya pada si bungsu, Prasetya, harus kandas setelah sulung keluarga itu, Pramudya, nyaris menodainya hingga Sasti dicap buruk. Demi nama baik, Prahara sang putra kedua justru menikahinya. Namun, pernikahan ini mengundang amarah wanita lain yang nekat mencelakainya. Di tengah ancaman maut dan kembalinya Pras, mampukah Sasti bertahan dalam rumah tangganya?
Sampul Novel Mantan Istriku yang Penurut Adalah Seorang Bos Rahasia?!
9.4
Tiga tahun Emilia mengabdi sebagai istri penurut Brandon berakhir sia-sia demi wanita lain. Namun, setelah bercerai, ia muncul kembali sebagai sosok tangguh yang jauh berbeda. Brandon terkejut saat mengetahui identitas rahasia Emilia sebagai peretas, dokter, hingga pembalap. Saat pria itu berusaha mengejarnya kembali, Emilia justru menikmati kebebasan dan menunjukkan keahliannya yang tak terbatas. Kini, Brandon harus menghadapi kenyataan bahwa mantan istrinya adalah bos rahasia.
Sampul Novel Merebut Kekasih Selingkuhan
8.5
Sienna hancur saat memergoki Miranda, kakak iparnya, berselingkuh dengan musuh bisnis Damian di klub malam. Demi melindungi kakaknya yang rapuh, Sienna merahasiakan pengkhianatan ini. Ia pun merancang rencana nekat: menggoda Alec, selingkuhan Miranda, agar hubungan gelap itu hancur. Namun, misi balas dendam ini menjadi rumit saat Sienna mulai terjebak dalam permainan emosi yang ia ciptakan sendiri. Akankah ia berhasil menyelamatkan Damian atau justru ikut tenggelam?
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando menyimpan obsesi gelap terhadap Laily, adik tirinya yang tampak anggun dan bersahaja. Puncak kegilaan Nando terjadi saat ia nekat mencoba menodai Laily di tengah malam ketika sang adik hendak beribadah. Beruntung, seorang pemabuk bernama Abdi datang menyelamatkan Laily. Namun, situasi berbalik tragis saat Abdi justru difitnah melakukan tindakan asusila. Akibat kesalahpahaman itu, Abdi terpaksa menikahi Laily demi menanggung beban fitnah yang menimpanya.