Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Love a Sweet Psycho

Love a Sweet Psycho

Hun dikenal sebagai pria rupawan bak pangeran dongeng, namun aku sama sekali tak tertarik padanya. Kehidupan tenangku terusik saat pria berdarah dingin ini mulai terobsesi mengejarku. Ia bertindak ekstrem demi melindungiku, mulai dari membunuh ular hingga nyaris mencekik orang yang menggangguku. Aku benci menjadi pusat perhatian dalam drama gila ini. Mengapa Tuhan mengubah hidup mediokerku menjadi pelik karena campur tangan cowok psikopat ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Hm. Beberapa. Sudahlah, jangan bahas yang beginian, kenapa kau bertanya-tanya seperti ini?” gerutu Arin akhirnya, dan merasa merinding saat melihat satu titik yang sangat dingin di mata itu, seperti bukan Hun yang ia kenal barusan.

“Berarti aku juga harus jahat pada mereka, yang menjahatimu,” gumam Hun yang membuat Arin tertegun, merinding hebat mendengar nada menyeramkan dan sangat dingin barusan, rasa-rasanya kebengisan dari suara itu sanggup menjalar ke inci tubuh Arin, menusuk tulang-tulangnya.

“Kau tidak perlu melakukannya, Hun,” ujar Arin sedikit dengan takut-takut. Gadis itu mencoba menyentuh pundak Hun yang terlihat sedikit bergetar, dan begitu ujung jarinya menyentuh bahu itu, Hun seperti tersadar, bak seorang anjing menggeram yang akhirnya tenang begitu sang majikan mulai membelai bulunya.

Raut Hun yang sempat mengeras, meski sebentar sekali, langsung luruh seketika, berganti seperti citra pertama yang ia tampilkan pada khalayak umum tadi, pria tampan ramah yang baik hati.

“Kalau kamu memerlukan bantuan, jangan sungkan bilang padaku, Arin. Aku pasti akan membantumu,” ucapnya lagi dengan wajah yang ceria, sedang si Arin sedikit terengah, takut dengan yang ia lihat barusan. Atau memang ia hanya salah lihat? Salah dengar? Apa pun itu, yang barusan tadi benar-benar menyeramkan, ia tak akan pernah menyulut kemarahan pria ini apa pun keadaannya.

Arin hanya menganggukkan kepala kaku, lantas meminum susunya, dan langsung merasa ragu kembali saat menyadari bahwa susu itu pemberian Hun, pria yang kini sudah tercap aneh di kepalanya. Namun, karena itu juga, ia cepat-cepat menghabiskan isi susunya, agar tak menyinggung perasaan Hun.

Arin merutuk dalam hati. Pasti hari-harinya tak akan setenang biasanya lagi. Kehidupan sekolah yang terpaksa ia jalani karena janjinya sendiri di masa lalu—sebuah kisah yang sangat rumit untuk diceritakan, kini pasti akan semakin terasa mengerikan. Jadi, dia hanya menghela napas samar, diam-diam, meratapi nasibnya. Sedang Hun yang berada di sampingnya masih menatap Arin dengan raut cerianya, membuat gadis itu meringis kaku padanya.

Kehidupan Arin yang baru akan dimulai, karena pemeran baru juga ditambahkan. Tak tahu apakah ia masih seorang figuran belaka, atau berganti menjadi seorang tokoh utama. Pastinya kehidupan monoton yang sudah sangat ia cintai, jelas tak akan datar lagi sekarang, mulai diisi oleh kasarnya kerikil, juga kelokan liku yang menyesakkan.

***

Arin menghempaskan tubuh mungilnya di kasur empuk kesayangannya, memejamkan mata seraya menghela napas panjang sekali. Punggungnya yang entah mengapa hari ini sangat terasa kaku, langsung rileks, membuat ia bisa mengukir senyum samar, merasa terlalu nyaman.

Koki, kucing gembulnya yang sudah minta disapa sejak si majikan berada di pintu rumah tadi, mengikuti langkah Arin, dan berakhir melompat ke kasur itu juga dan menyeruduk lembut wajah majikan, merajuk karena diabaikan.

“Sebentar, Koki, hari ini melelahkan sekali,” ujar Arin masih dengan mata yang terpejam, dan langsung dipenuhi oleh sensasi kantuk, benar-benar kewalahan menghadapi Hun yang rasa-rasanya selalu tak berhenti bicara padanya tiap kali ada kesempatan, tertarik sekali dengan semua yang mengenai dirinya.

Kucing itu mengeong, dan naik ke atas perut Arin yang kini sudah dengan napas teraturnya, terlelap tanpa sengaja. Kucingnya mengeong terus-terusan, tapi si majikan sepertinya benar-benar kelelahan hingga tak merasa terganggu sedikit pun.

Ikut lelah, Koki akhirnya melingkarkan tubuh, memeluk dirinya sendiri di atas lengan Arin, dan ikut tertidur, melupakan lapar yang sempat mendera perutnya, juga usahanya membangunkan sang majikan untuk membuka kedai jus seperti biasanya.

Keduanya bernapas dengan teratur, tenang dan lelap sekali, tertidur bersama di kamar Arin yang selalu terasa sejuk itu. Sampai setengah jam kemudian, suara ketokan pintu akhirnya membangunkan Arin yang sepertinya sudah merasa cukup dengan istirahat kecilnya.

Matanya membuka perlahan, dan ia menggeliat kecil, membuat Koki juga terbangun dan meregangkan badannya mengikuti sang majikan. Arin cepat-cepat mendudukkan dirinya, dan mendesah saat melihat jam yang terpasang apik di jam. Harusnya ia sudah membuka kedainya sekarang.

Suara ketokan pintu kembali menyita atensinya. Ia merapihkan singkat rambut berantakan lepas tidurnya, dan langsung melompat dari tempat tidur, berlari menuju pintu.

“Iya, sebentar,” ujarnya setengah berteriak di sela larinya, dan begitu kakinya sampai di ruang utama, larinya berubah menjadi jalan, lantas semakin pelan hingga hampir berhenti, demi melihat sosok yang berada di tepi pintu rumahnya itu.

“Halo, Arin, kita tetanggaan juga ternyata. Aku tadi melihatmu pulang mengendarai sepeda ke rumah ini, dan terkejut sekali,” ujar seseorang yang pasti sudah sangat terterbak sekali siapa dia. Hun. Choi Taehun.

Bahu kecil Arin mulai meluruh jatuh. Energi yang berusaha ia kumpulkan selama ketiduran barusan, seperti langsung menguap ke udara. Ia menatap tanpa daya ke arah Hun yang masih berdiri dengan senyum cerianya itu.

“Aku hanya ingin menyapa dan membawa oleh-oleh untuk tetangga baruku,” ujarnya seraya menyodorkan satu piring berbentuk kotak panjang yang berisi kue di atasnya, masih terlihat sedikit kepul uapnya.

Hati Arin perlahan luluh karena kue yang tampak masih baru sekali dibuat itu, belum lagi aromanya yang menari-nari di hidung Arin, juga jangan lupa senyum yang tak lelah Hun beri padanya, seolah tak pernah kehabisan tenaga.

“Ini untukku?” tanyanya lagi dengan perasaan yang sudah lebih membaik. Hun mengangguk cepat, antusias.

“Duduklah terlebih dahulu,” sila Arin kemudian, menunjuk pada sofa di ruang tengahnya.

“Ah maaf, kapan-kapan saja aku singgah lebih lamanya. Aku harus melakukan sesuatu di rumah baruku. Masih banyak yang harus kulakukan,” cerita Hun pada akhirnya, dengan raut yang sedikit muram, tampak lesu.

“Tadi pagi aku sempat mengintip, sepertinya kau tinggal sendiri? Pasti melelahkan sekali kalau melakukan semuanya sendirian,” ujar Arin kemudian seraya menerima kue yang Hun sodorkan lagi padanya.

“Iya, aku tinggal sendiri, ingin menghirup udara segar pegunungan tiap paginya, makanya pindah dari kota. Sedang orangtuaku bekerja di luar negeri. Begitulah, aku dari kecil suka berpetualang sendiri,” jelas Hun yang membuat Arin tersenyum kecil.

“Ya sudah, aku pulang dulu. Jangan lupa dihabiskan ya kuenya, itu aku sendiri, lho, yang membuatnya,” aku Hun yang membuat mata Arin sedikit membesar.

“Pintar memasak juga, ya,” kata Arin dengan senyuman yang makin mengembang tanpa ia sadari setelah melihat hasil karya tangan Hun itu, kue yang berbentuk persegi panjang mengikuti pola piringnya, dengan taburan cokelat serut di atasnya, serta beberapa potong buah stroberi segar yang menambah aroma sedapnya.

“Terimakasih, ya,” ujar Arin pada akhirnya, merasa lebih santai pada Hun, dan membuat pria itu merasa lebih lega sekarang. Memang Arin ini sepertinya merasa terintimidasi jika berada di lingkungan sekolah, makanya bisa berbeda begini. Benar-benar terlihat sekali perbedaannya.

Hun mengangguk, lantas kembali berpamit diri, dan berjalan santai menuju rumahnya seraya bersiul kecil. Suasana hatinya sedang agak baik, dan itu karena seorang Arin yang kini masih sibuk membaui kue di tangannya.

“Kau mau, Koki?” tanya Arin begitu kucingnya menyusul padanya.

Senyum tak lekang dari bibir Arin, seperti pagi tadi. Kue pemberian yang juga sekaligus buatan Hun itu sangat enak, dan ia merasa senang dengan keberadaan Hun sebagai tetangganya—bukan seorang teman sekolah, karena ia memang baik sekali, dan perhatian juga padanya.

Tak tahu saja, dengan senyum yang terus mengembang seperti itu, benih-benih sesuatu di hatinya juga mulai ikut mengembang.

~To be continued~

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GFV" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GFV
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Seorang fotografer alam liar melakukan ekspedisi mendalam ke jantung hutan Amazon yang misterius. Di sana, ia bertemu dengan pemandu lokal tangguh yang memicu ketertarikan kuat sejak awal. Di balik pesona hutan hujan yang eksotis, mereka harus menghadapi berbagai rintangan berbahaya yang mengancam nyawa. Di sela ketegangan dan ancaman alam tersebut, tumbuh gairah membara yang menyatukan keduanya dalam sebuah petualangan cinta yang penuh dengan risiko dan aksi.
Sampul Novel Pedang Naga Siluman
9.5
Satya Wiguna tumbuh dalam kesederhanaan di bawah asuhan Mbah Wiguna hingga menjadi pemuda tangguh yang rendah hati. Bersama kawan-kawannya, ia berkelana ke masa silam demi membasmi kejahatan. Saat kekuatannya mencapai puncak, penghuni dunia sukma menobatkannya sebagai senopati perang. Berbekal Pedang Naga Siluman, Satya mengemban misi vital untuk melindungi alam moksa dan dunia nyata dari invasi besar Sang Raja Iblis yang ingin berkuasa.
Sampul Novel Pengorbanan Cinta Sang Letnan
9.6
Rey dan Alex adalah dua prajurit elit Kopassus dengan latar belakang intelijen yang telah bersahabat sejak kecil. Ikatan persaudaraan mereka diuji saat keduanya menyadari bahwa mereka mencintai gadis yang sama. Di tengah dedikasi tinggi dan pengorbanan besar demi negara, konflik batin pun muncul. Takdir memaksa mereka memilih antara kesetiaan pada tugas atau perasaan pribadi. Siapakah yang akan bertahan demi cinta, ataukah persahabatan mereka yang jadi taruhannya?
Sampul Novel PESONA IBLIS MAFIA KEJAM
9.6
Meskipun berusaha keras menjauh dari dunia kriminal dengan melarikan diri dari sang ayah, darah mafia tetap mengalir deras di nadinya. Pria ini dikenal sangat dingin dan kejam, memiliki rupa menawan layaknya iblis Lucifer dengan gerak-gerik yang mematikan. Namun, watak keras dan berbahaya tersebut justru menjadi daya tarik yang tak tertahankan bagi para wanita serta orang-orang di sekelilingnya, menciptakan pesona gelap yang sangat memikat.
Sampul Novel Racun Dokter Hancurkan Hidupku
9.4
Demi menyelamatkan pernikahan dari rasa nyeri misterius, aku mendatangi Dr. Victor. Namun, ia justru membius dan melecehkanku demi video pemerasan. Aku terjebak kecanduan aneh hingga diagnosa rumah sakit lain mengungkap fakta mengerikan: Dr. Victor sengaja meracuniku dengan stimulan dosis tinggi agar aku terus bergantung padanya. Kini, rasa takutku berubah menjadi amarah yang dingin. Aku akan kembali ke kliniknya untuk menuntut balas dendam yang setimpal.