
Lost In Heart
Bab 2
“Suci, kamu sudah menelpon keluarga ibu ini?”
“tidak ada yang menjawab, Pak. Bagaimana kalau kita panggil suaminya saja?” ujar Suci sambil mengusap hidung Cila dengan minyak kayu putih. Sudah 30 menit sejak Cila pingsan di lift dan belum sadar.
Yohan menggeleng lemah.“rasanya kita terlalu ikut campur dalam masalah keluarganya.” Jawab Yohan Pratama sambil menatap iba Cila yang terbaring di Sofabed. “Sebaiknya kamu kembali kedepan. Kasihan Dila tidak ada yang backup kalau banyak tamu yang datang.” Sambung Yohan.
“Baik Pak.”
Yohan Menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Entah yang keberapa kali ia menyaksikan kejadian seperti ini. Seorang istri yang memergoki suaminya berselingkuh begitupun sebaliknya. Bahkan aksi jambak-jambakan antara istri sah dan pelakor juga pernah ia saksikan secara langsung. Namun, kali ini entah mengapa perasaan Yohan begitu sedih. Ia seperti turut dalam perasaan hancur yang dialami oleh wanita ini.
Bahkan dalam kondisi lemah dan tak dasarkan diri, air mata wanita ini terus menetes. Sesekali Yohan mengambil Tissue dan mengelap air mata Cila yang mengalir deras ujung kedua matanya. Tersirat dengan jelas kesedihan yang mendalam dirasakan oleh wanita ini.
Cila mulai menggerakan tangannya perlahan dan menyentuh kening. Ia merasakan sakit kepala yang hebat. Samar-samar ia melihat lampu yang menyilaukan mata dan mengerang pelan. Ia merasa asing berada ditempat ini. “ini dimana?” ujarnya saat melihat seorang pria dengan wajah cemas duduk disampingnya.
“Ibu lagi ada di rest room karyawan hotel Artemis.” Jawab pria itu sambil menyuguhkan segelas Teh manis hangat pada Cila.
“Terimakasih” ujar Cila sambil menuguk teh manis hangat hingga kandas. “maaf sudah merepotkan bapak. Dan maaf juga karena membuat keributan dihotel ini.” Sambung Cila dengan wajah tertunduk.
“Tidak apa-apa. Saya maklumi kejadian tadi. Bagaimana keadaan ibu sekarang? Sudah merasa baikan?”
Terdengar kuat bunyi perut Cila yang sejak tadi minta diisi. “Maaf, saya belum sempat makan siang hari ini.” Ucapnya sambil memegang perutnya yang keroncongan. Mungkin ini salah satu penyebab ia pingsan.
Pria itu tertawa pelan sambil menutup mulut dengan tangan kanannya. “Baiklah, dihotel ini ada restauran dengan banyak menu spesial. Mau saya antarkan?”
Cila tersipu malu sejenak ia melupakan apa yang baru saja terjadi dalam hidup dan rumah tangganya. Bukan berati ia memaafkan dan melupakan kesalahan yang telah diperbuat Dandi dan Metha. Perutnya peru diisi. Cila mengikuti Pria itu dari belakang sambil berlari kecil. Langkah pria didepannya ini sangat cepat, Cila yang kekurangan tenaga hampir tidak bisa ,mengejarnya.
“Ibu Cila berjalan menuju koridor sebelah sana, maka ibu akan menemukan restauran hotel ini.” Ujar Pria itu sambil menujukan arah yang harus dilalui Cila.
“Oh. Baik pak. Terimakasih banyak.”
Baru saja pria itu membalikkan tubuhnya, Cila dengan cepat menarik ujung lengan kemeja Pria itu. “Maaf. Boleh saya tahu nama bapak?”
Langkah pria itu tertahan, dan ia melihat lengan kemejanya ditarik kemudian tersenyum tipis menatap wajah Cila.
“Nama saya Yohan Pratama.”
“ahh. Pak Yohan. Terimakasih banyak atas bantuan bapak. Jika bapak berkenan boleh suatu saat nanti kita makan siang bersama sebagai rasa terimakasih saya?”
Yohan tersenyum, merogoh saku belakang celana dan membuka dompet. Ia menyodorkan kartu namanya pada Cila. “ini kartu nama saya.”
“Terimakasih pak.”
“Semoga masalah bu Cila cepat terselesaikan”
Cila mengangguk pelan dan melihat Pak Yohan berjalan meninggalkannya.
***
“Permisi bu..” sayup-sayup tersengar suara pria asing terdengar ditelinga Cila. Ia membuka matanya perlahan, ternyata ia ketiduran sebentar. Cila meraba tas yang ada dipangkuannya dan memeriksa ponsel. Sepuluh panggilan tidak terjawab dari Dandi. Sudah dua minggu ini Cila menghindari semua panggilan Dandi. Dan ia sudh meminta bantuan sahabatnya Santi yang bekerja sebagai pengacara untuk membantu proses perceraiannya.
“Iya ada apa?” sahut Cila pada pria asing yang berdiri disampingnya.
Pria itu mengangguk ramah, “Bangku disamping ibu orangnya kemana ya?” ujarnya sambil menunjuk bangku disebelah kiri Cila.
Cila merapikan posisi duduknya menjadi tegak,”Dari Gambir tadi emang enggak ada orang mas.”jawab Cila dengan dahi mengerut. Ia berusaha mengingat dan memang belum ada seorang pun yang duduk disampingnya sejak ia naik dari stasiun gambir padahal perjalanan sudah satu jam.
Pria itu menggaruk kepala sembari melihat kekanan dan kiri seperti mencari seseorang. Namun, ia memutuskan untuk pergi ketika tidak menemukan orang yang ia cari. “Maaf bu, mungkin saya salah ingat nomor bangkunya.” Ucap pria itu sambil meninggalkan Cila.
“Iya mas, enggak apa-apa” sahut Cila enggan.
Cila menatap kearah luar jendela, terlihat sawah-sawah yang hijau menyegarkan pandangannya. Ia kembali menanyakan hati atas tindakannya melakukan perjalanan kali ini. karena semua orang khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Cila mengingat kejadian belum lama ini menimpanya.
Entah kenapa, Cila mulai meragukan keputusannya. Ia sangat merasa asing dan kesepian. Tidak ada teman bicara ataupun orang yang dikenalinya saat ini. niat hati ingin mendapatkan ketenangan namun kini ia malah semakin merasa sendiri dan kesepian.
Andai saja Dandi tidak melakukan perselingkuhan ini, mungkin saat ini Dandi berada disampingnya. Cila segera menepis pikirannya agar tidak melayang terlalu jauh. Ia sadar bahwa saat ini ia harus memaafkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia memaafkan apa yang dilakukan Dandi terhadap dirinya. Ia berusaha berdamai dengan segala keadaan yang terjadi sehingga bisa menjalani kehidupannya dengan bahagia. Jika tidak demikian, maka sia-sialah perjalanannya kali ini. Dan selamanya ia akan membenci Dandi.
Cila menatap Ponselnya yang kembali bergetar. Panggilan masuk dari Dandi. Dengan malas Cila menjawab panggilan itu,” ada apa?”
“Kamu dimana Cil?” tanya Dandi gusar. “Aku telpon kamu ari tadi enggak dijawab.”
Cila menghela nafas panjang, “Aku enggak merasa harus menjawab setiap panggilanmu Dandi. Jadi tolong, biarkan aku sendiri. Keputusan aku sudah bulat aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini lagi. Semoga kamu berbahagia dengan perempuan itu.”
“Tapi Cila, aku hanya mencintai kamu. Bisakah kita bertemu empat mata untuk membicarakan ini baik-baik?” Pinta Dandi dengan suara memelas.
Cila menegakkan tubuhnya,”Apa? Cinta kamu bilang? Berani-beraninya kamu sebut cinta dari bibir kamu yang busuk itu? Jangan pernah mempertanyakan perasaan aku pada kamu Dandi. Semua yang aku jalani selama lima tahun bersama kamu adalah tulus sampai dihari kamu menghianatiku.”
Terdengar suara isak pelan Dandi.”Maafkan aku Cila. Tapi aku benar-benar masih sayang sama kamu.”
Cila tak kuasa menahan tangisnya, air matanya mengalir membasahi pipi.”Maaf Dandi, wanita itu lebih membutuhkan kasih sayang kamu dari pada aku. Ingat, bayi dalam kandungannya adalah anak kandung kamu. Akan lebih disayangkan jika kamu meninggalkan mereka berdua demi aku yang tidak bisa memberimu anak.” Ucap Cila dengan suara bergetar. “aku sudah merelakan kamu bersamanya. Jadi mulai hari ini, tolong jangan hubungi aku lagi. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan pada Santi, ia yang akan mengurus segala hal mengenai perceraian kita.” Sambung Cila sambil menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Dandi.
Cila memejamkan mata dengan ponsel didekepan dadanya. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya namun hal itu sangat tidak mungkin. Bisa-bisa ia dikerubungi oleh penumpang satu gerbong. Cila menutupi wajah dengan kedua tangannya, sesekali terdengar isak tangis sedikit keras. Kenyataan ini benar-benar menyiksa jiwanya. Masa kecil yang dilalui Cila tidak seperti anak-anak pada umumnya. Ia harus berjuang hidup sendiri bersama mama yang mengalami depresi karena papanya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Karena tidak kuat menerima kenyataan itu, mama Cila akhirnya berpulang hanya enam bulan setelah bercerai dari papanya.
Karena tidak suka dengan sifat dan perlakuan papanya Cila yangsaat itu berumur 10 tahun memaksa untuk hidup sendiri dirumah peninggalan mamanya. Karena kuatir tante Mala yang menjadi ibu sambungnya mencari seorang pembantu untuk mengurus segala keperluan Cila. Budi Wandhi begitu Cila menyapanya.
“bude, Cila kangen” Isak Cila dengan suara rendah. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. semua tentang masa lalunya tiba-tiba muncul dalam ingatan dan membuatnya semakin bersedih. Beruntung kursi disampingnya tidak ada orang. Setidaknya Cila bisa mengis dan meratapi nasibnya tanpa mengganggu orang lain.
“Permisi bu.” Ucap seorang pria yang berdiri di ujung kursi sebelah kanannya lalu duduk tanpa meminta persetujuan Cila.
Cila segera mengambil tissu di pangkuannya dan mengelap air mata yang membasahi wajahnya dan membuang ingus yang sejak tadi mengganggu pernafasannya.
“Maaf, boleh lihat tiketnya. Saya hanya memvalidasi kalau benar ini kursi bapak.” Ujar Cila dengan suara serak.
“oh, baik. Sebentar ya bu.” Jawab bapak itu sambil merogoh saku celana jeans biru dongker yang dikenakannya.
“ini bu, silahkan periksa.” Ujar bapak itu sambil memberikan selembar kertas yang adalah tiket miliknya.
Cila mengambil tiket itu dan memastikan nomor kursi sudah benar. Namun,matanya tertuju pada nama yang tertulis pada tiket yangada ditangannya. “Yohan pratama?” gumamnya pelan. Nama itu seperti tidak asing. Cila pengalihakan pandangannya kearah pria itu untuk memastikan bahwa ia adalah Yohan yang ia kenal.
“Pak Yohan?” sahut Cila setengah berteriak.
Anda Mungkin Juga Suka





