
Lost In Heart
Bab 3
Chapter III
accidentally
Yohan Pratama menoleh dengan dahi mengerut. Ia mengamat-amati wanita yang berteriak memanggil namanya. Seperti mengingat sesuatu Yohan tersenyum lebar. Ia ingat pada wanita yang duduk disampingnya dengan wajah sembab memakai sweater dongker dan rambut acak-acakan. Wanita ini terlihat lebih kacau dari sebelumnya.
“Iya. Saya Yohan. Hemm.. Ibu Cila bukan?” tanya Yohan memastikan ia tidak menyebutkan nama yang salah.
Cila tersenyum lebar dan mengangguk cepat. “Pak Yohan mau kemana?” ujarnya sambil menyodorkan tangan kanan kearah Yohan.
Yohan menyambut uluran tangan Cila,”Saya ada keperluan di daerah Bromo, Bu.” Sahut Yohan “Ibu sendiri ?” sambungnya sambul melepaskan tangan Cila.
“iya, saya sendirian Pak.” Ujar Cila sambil menunjukan jari telunjuknya pada Yohan.
Yohan tertawa pelan. “ Maksud saya, Bu Cila mau pergi kemana?” terang Yohan.
Cila menepuk dahinya pelan, “Ahh. Saya salah paham. Saya mau liburan ke Bromo pak.” Ujar Cila tersipu malu.
Yohan mengangguk pelan. “Healing ya Bu.”
Cila tersenyum tipis. Healing adalah kata yang terlalu mewah untuk melabeli perjalanannya. Belum setengah jalan saja ia sudah dicecar dengan panggilan dari Dandi yang tak kunjung usai. Belum lagi pesan singkat yang entah sudah berapa banyak masuk dalam kotak masuk ponselnya. Cila sama sekali tidak berhasrat untuk memeriksa bahkan membaca semua isi pesan Dandi.
“Tujuan awalnya sih Pak. Semoga aja terwujud.” Ucap Cila sambil merogoh tas dan mengambil ponselnya yang kembali bergetar. “Sebentar ya pak.” Sambung Cila setelah menatap layar ponsel dan melihat nama penelpon.
Yohan mengangguk pelan.” Silahkan Bu.”
Cila segera menekan tombol terima sambil menggeser posisi duduknya membelakangi Yohan.
“Iya bude?” Sahut Cila.
“Ya ampun Non, Bude cemas dari tadi Non Cila enggak angkat telpon Bude. Non Cila sudah dimana?” terdengar nada cemas bude Wandi dari seberang.
“Maaf bude, Cila tadi ketiduran sebentar. Cila enggak tau ini dimana. Tapi baru 2 jam perjalanan bude. Masih lama sampe Malang.” Ujar Cila menenangkan hati wanita paruh baya yang Sejak Kecil merawatnya.
Bude Wandi mendesah cemas. “Pokoknya Non Cila jangan lupa kabari bude ya..” pinta Bude wandi.
Cila mengangguk pelan, ‘Iya bude. Cila janji bakalan kabari bude.” Ucap Cila pasti. “Bye bude.”
Sambungnya lagi.
“Iya non, Hati-hati ya” balas Bude Wandi masih dengan nada cemas.
Cila mengusap layar Ponsel dan masih mendapati Pop-Up pesan dari Dandi. Dengan malas Cila menggeser pesan-pesan tersebut dengan jari telunjuknya sambil bibir dikerutkan. Hatinya masih dipenuhi kesedihan. Cila kembali menatap keluar jendela dan berharap perjalanan ini cepat berakhir. Setidaknya jika tiba di Malang ia bisa menikmati pemandanga Alam yang sesungguhnya, bukan dari jendela ini.
“Bu Cila mau ini? saya ada beberapa potong Roti beli di stasiun tadi.” Ujar Yohan sambil menyodorkan kantong plastik putih bertuliskan Fresh Bakery.
Cila menoleh kearah Yohan. “Oh iya pak. Saya ambil ini.” ucap Cila sambil mengambil satu potong Roti yang diatasnya penuh dengan butiran coklat warna-warni. “Makasih ya.”
Yohan mebalas dengan anggukan kepala dan senyum ramah. Sejujurnya ia tidak tahu harus melakukan apa. Raut wajah Cila sangat sendu. Matanya sembab, rambut panjangnya di kuncir tidak beraturan ditambah dengan segepok tissu yang berada dipangkuannya. Ia benar-benar terlihat lebih kacau dari sebelumnya. Sepertinya Rumah tangga mereka tidak baik-baik saja.Yohan enggan menanyakan tentang hal itu, ia tidak ingin mencampuri urusan orang lain ataupun membuat hati Cila semakin bersedih.
“Di Bromo nginap dimana bu?”tanya Yohan memecahkan kesunyian dan rasa canggung diantara mereka sambil mengunyah roti Coklat pisang ditangannya.
Cila menutup mulut dengan tangan kanan dan berusaha menelan potongan roti yang baru saja masuk kemulutnya. “ Teras Bromo resort, Pak.”
“Wah kebetulan sekali, saya juga menginap disana.” Sahut Yohan dengan mata nanar.
Senyum Cila melebar. “Benarkah?”
Yohan mengangguk pelan.
Cila menghela nafas lega dengan seulas senyum di wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara bantingan keras dari arah depan tempat duduk mereka. Diikuti oleh suara tangisan wanita yang sangat menyayat hati. Lalu berdiri seorang pria bicara dengan nada tinggi pada wanita yang sedang menangis itu sambil mendorong kasar kepalanya.
“Duh ada apa ini?” celetuk Yohan sambil memiringkan tubuhnya melihat kearah depan.
Cila meremas tangannya, ia menggeser tubuhnya ke arah jendela. Suasana menjadi tegang dan tangisan wanita itu semakin menjadi-jadi. Cila merasa tubuhnya gemetar. Ia tahu, ia ketakutan. Tanpa sadar ia meremas tangan Yohan dengan kuat, beruntung saat itu Yohan memakai jaket tebal untuk menghindari udara dingin dari AC kereta. Sehingga remasan tangan Cila tidak begitu terasa.
Terkejut karena Cila memegang tangannya, Yohan menoleh kearah Cila yang sedang memejamkan kedua mata dengan keringat yang bercucuran. Wajahnya kelihatan lebih pucat dari sebelumnya.
“Bu Cila kenapa?”
Cila hanya mampu menggeleng kepalanya pelan. Degup jantungnya berpacu dengan detik jam ditangannya dan nafasnya terengah-engah.
Yohan menjadi gusar. Sesekali ia mengangkat kepala melihat kearah depan sambil memperhatikan kondisi Cila yang belum bergeming.
“Kamu beneran baik-baik saja Cila?” tanya Yohan Gusar sambil menatap tiap centi wajah Cila. Terlihat keringat yang becucuran ditengah-tengah ruangan berAC, bibir Cila gemetar begitu pula dengan tangannya.
“Pak...” itu adalah kata terakhir yang diucapkan Cila sebelum tiba-tiba tubuhnya lemas, bersandar di pelukan Yohan.
Yohan tersentak kaget. Tubuh Cila mendarat dalam pelukannya dengan cepat. Wanita ini pingsan pikirnya. Yohan segera menurunkan sandaran kursi agar Cila bisa berbaring walau tidak sepenuhnya. Yohan mencondongkan badannya kebawah, membuka tas ransel yang ada dikakinya. Ia mancari minyak kayu putih yang dibelinya saat distasiun. Entah mengapa saat itu Yohan seperti tersihir untuk membeli minyak kayu putih yang sebelumnya tidak pernah ia gunakan. Ternyata minyak itu akhirnya berguna walau bukan untuk dirinya.
Cila mengerang pelan. Tangannya yang lemah tiba-tiba saja mendarat di tangan Yohan dan menggenggamnya erat.
Yohan dengan Sigap memperhatikan respon Cila yang pelan-pelan mulai sadar.
“Cila, Kamu tidak apa-apa?” nada gusar terdengar dari ucapan Yohan. Ia menyentuh kening Cila dan memperhatikan tiap centi raut wajah Cila yang sembab dan sendu. Yohan menghela nafas panjang, syukurlah suhu tubuh wanita ini tidak panas. Mungkin ia terkejut dengan kejadian tadi pikir Yohan.
“Aku... aku... takut.. Yohan” sahut Cila dengan suara serak.
“Tenang Cila, semua sudah baik-baik saja.” Ucap Yohan menenangkan.
Cila perlahan membuka kedua matanya, masih tersisa genangan air mata pada kelopak matanya. Degup jantungnya masih tidak karuan, bahkan jemarinya kini ikut gemetar.
Yohan dengan sigap mengambil sebotol air mineral dan memberikan pada cila. “Ayo minum dulu.”
Cila mengangguk lemah sambil meneguk air mineral ditangannya, “Terimakasih ya.” Ucap Cila sambil mengelap sisa air di pinggir bibirnya dengan lengan baju. “Aku enggak kebayang gimana jadinya kalau enggak ada kamu tadi.” Sambung Cila sambil menatap mata Yohan.
Tanpa disadari, Cila merasakan hal yang janggal pada perasaannya. Ia merasa nyaman berada didekat pria ini. Yohan bukanlah pria di usia 30an seperti Cila, terlihat dari rambut yang sudah mulai memutih dan guratan halus di garis senyum dan ujung matanya. Menyadari Cila masih menggenggam tangan Yohan, dengan cepat Cila menarik tangannya salah tingkah.
“Maaf.” Ucap Cila singkat.
Yohan tersenyum tipis. “sudah merasa baikan?”
Cila melirik Yohan dan tersenyum malu, “Iya, sudah merasa enakan kok.”
Yohan merapikan posisi duduknya kearah depan sambil membuang nafas panjang. “Mereka sudah diamankan petugas kereta tadi.” Ucap Yohan menceritakan kejadian yang terjadi sewaktu Cila pingsan.
Cila mengangguk pelan, “mengapa mereka ribut begitu? Kasian yang perempuannya sampai menangis begitu.” Tanya Cila penansaran.
“suaminya ketahuan selingkuh.” Ucap Yohan hati-hati.
Cila tersentak sambil menatap Yohan , “Really?”
Yohan menangguk, “Ya, begitulah.”
Cila menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil mengusap dadanya sendiri. Kamu harus kuat Cila, ada banyak wanita diluar sana yanng juga merasakan apa yangkamu alami bahkan lebih parah. Ucap Cila dalam hati.
“ada banyak kejadian rumit yang terjadi dalam kehidupan ini. dan tidak sedikit orang sulit menemukan jalan keluarnya. Walau terkadang ada orang yang memandang kita sebelah mata dengan semua kejadian yang kita alami, tatapi yang paling tahu seberapa sulit penderitaan dan kesedihan kita adalah diri kita sendiri. Jadi jangan terganggu pada ucapan orang lain yang tidak tahu apa-apa tentang kita.” Ucap Yohan sambil tesenyum tipis kearah Cila.
Cila menatap Yohan dalam-dalam. Pria ini benar-benar membuatnya berdebar.
“Aku boleh bareng kamu ke Hotel?” Ucap Cila Cepat.
Anda Mungkin Juga Suka





