
Lima Tahun Usai Berpisah
Bab 2
BAB 2
FAKTA YANG TERUNGKAP
"Oke, aku akan mintakan alamatnya. Kamu jangan khawatir, aku pasti akan nemenin kamu!" ujar Dista seraya menggenggam jemari sahabatnya tersebut.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mereka bisa mendapatkan alamat lokasinya. Tak menunggu lama, mereka pun segera meluncur menuju lokasi.
"Lis, kamu gak papa?" tanya Dista cemas. Lisa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bukan karena hatinya baik-baik saja, namun dia berusaha menguatkan dirinya sebelum semuanya terbukti.
'Semoga dugaanku salah. Tidak mungkin Mas Farhan tega melakukan semua ini,' harap Lisa dalam hati. Meskipun foto yang dilihatnya cukup jelas, namun dia masih berharap jika semua itu tidak benar.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil yang dikendarai Dista memasuki halaman sebuah rumah yang cukup mewah di sebuah perumahan elite. Dengan hati berdebar, Lisa melangkah masuk.
Perlahan, Lisa memasuki ruangan tempat diadakannya acara. Dari kejauhan, dia bisa melihat sang suami tengah bercengkrama bersama beberapa orang dengan seorang wanita muda yang menggandeng lengannya mesra.
Lisa terpaku di tempatnya. Air mata yang sejak tadi berusaha dia tahan, akhirnya luruh juga. Merasa ada yang memperhatikan, Farhan menoleh seketika.
"Lisa," ujarnya lirih, namun mampu mengalihkan perhatian beberapa orang di sekitarnya. Serempak, mereka menoleh dan menatap Lisa yang masih terpaku di tempatnya.
"Mas, apa maksud semua ini?" tanya Lisa seraya menatap sang suami nanar.
"Li-Lisa, aku bisa jelaskan!" ujar Farhan gugup.
"Tidak perlu, biar Mama yang jelaskan!" sahut mertua Lisa.
"Ma!" seru Farhan. Sayangnya, Arum tak mengindahkan seruan putranya.
"Seperti yang kamu lihat, hari ini putraku bertunangan dengan wanita yang jelas sepadan dengan kami, dan tentu saja tidak mandul seperti kamu," ujar wanita paruh baya tersebut.
"Ma!" seru Farhan frustasi.
"Sayang, tolong jangan dengarkan Mama. Sebaiknya kamu pulang dulu ya, nanti aku nyusul. Aku jelaskan di rumah!" pinta Farhan.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Farhan. Dia setuju atau tidak, kamu akan tetap menikah dengan Sonya bulan depan," ujar Arum dengan tegas.
"Mas, jadi semua ini benar? Aku benar-benar tidak menyangka kamu tega melakukannya, Mas. Kamu bilang kamu akan setia sama aku, kamu bilang kita akan menghadapi masalah ini sama-sama, tapi mana buktinya? Kamu sudah menghianati aku, Mas," seru Lisa tidak terima.
"Sayang ... tolong jangan seperti ini! Malu dilihat orang. Aku janji setelah ini akan segera pulang, kita bicara di rumah ya," ujar Farhan dengan lembut.
"Dis, tolong ajak Lisa pulang ya!" pinta Farhan dengan tatapan menghiba.
"Jadi ini istrimu yang mandul itu, Mas?" ujar seorang wanita cantik yang sejak tadi bergelayut manja di lengan Farhan.
"Sonya, jaga bicaramu!" ujar Farhan dengan tegas.
"Mas, kamu tega bentak aku demi wanita mandul ini?" ujar Sonya tidak terima.
"Sonya, aku mohon mengertilah!" ujar Farhan frustasi.
"Kamu pergilah dulu, aku harus bicara dengan istriku," ujar Farhan.
"Gak, aku mau tetap disini. Lagipula, bukankah kita butuh tandatangannya untuk pernikahan kita nantinya? Jadi sekalian saja minta izin," ujar Sonya dengan pongahnya.
"Benar yang dikatakan oleh Sonya. Lisa, Farhan butuh tanda tangan izinmu untuk menikah lagi. Jadi, Mama harap kamu tidak mempersulitnya," ujar Arum.
"Ma, aku bisa bicara sendiri dengan Lisa,"ujar Farhan yang mulai frustasi.
"Kami harus memastikan kalau dia setuju dengan pernikahan kita," sahut Sonya.
"Cukup!" seru Lisa. Dia benar-benar geram mendengar perdebatan mereka.
"Mas, ini tidak benar kan?' tanya Lisa lirih.
"Sayang ... maafkan aku! Aku terpaksa melakukannya," sahut Farhan. Lisa membekap mulutnya seketika. Tangis yang sedari tadi berusaha dia tahan, kini mulai pecah. Tubuhnya limbung hingga terduduk di lantai.
"Sayang!" seru Farhan berusaha menahan tubuh sang istri, namun dengan tegas Lisa menghempaskan tangannya.
"Tega kamu, Mas. Aku benar-benar kecewa sama kamu!" ujar Lisa seraya tergugu.
"Sayang, ini semua demi kebaikan kita. Lagipula, saat kami nanti punya anak, anak itu nanti juga akan menjadi anak kamu juga. Kita akan merawatnya sama-sama," ujar Farhan dengan lembut. Spontan, Lisa menggelengkan kepalanya.
"Sayang ... aku mohon, izinkan aku menikah lagi, demi kebaikan kita semua!" pinta Farhan.
"Demi kebaikan kita? Tidak, Mas. Itu hanya demi kebaikanmu dan mamamu saja," sahut Lisa tidak terima.
"Sudahlah, tidak perlu banyak bicara. Kamu harus mengizinkan Farhan menikah lagi kalau tidak mau diceraikan," cecar Arum. Perlahan, Lisa menghapus air matanya dengan kasar, lalu bangkit dari posisinya, kemudia menatap sang suami dengan tatapan menghunus.
"Lebih aku diceraikan dari pada dimadu," ujar Lisa tegas.
"Sayang, jangan bicara seperti itu," sahut Farhan.
"Ceraikan aku, Mas. Setelah ini, kamu bebas menikah dengan siapapun," ujar Lisa.
"Sayang!" seru Farhan tidak terima.
"Farhan, cepat jatuhkan talak pada wanita mandul ini. Mama tidak terima jika sampai pernikahanmu dengan Sonya sampai gagal," ujar Arum. Farhan terpaku di tempatnya. Di tatapnya sang istri dengan lembut dan menghiba, memohon dengan tatapannya agar dia membatalkan permintaannya.
"Mas, cepat jatuhkan talak, biar urusannya cepat selesai," sahut Sonya. Farhan menghembuskan nafas panjang beberapa kali sebelum mengatakan kalimatnya.
"Sayang ... tolong cabut permintaanmu. Ayo kita besarkan anak kami sama-sama," pinta Farhan sekali lagi.
"Gak, Mas. Aku tidak mau dimadu. Kamu harus memilih salah satu di antara kami," sahut Lisa dengan tegas. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak kembali terjatuh dan menetes.
Anda Mungkin Juga Suka





