
Lima Tahun Kebohongan
Bab 2
Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun pengantin yang dia kenakan masih melekat di tubuhnya, tetapi kini terasa seperti sebuah penghinaan. Dia telah menyerahkan dirinya pada kesepakatan yang dingin dan tanpa hati-demi keluarganya, demi kehormatan yang sudah lama terkikis oleh kesalahan ayahnya.
Dari pantulan cermin, dia melihat Damon berdiri di ambang pintu kamar hotel mereka. Dengan jas yang sudah dilepas dan dasi yang longgar, dia terlihat santai, tetapi sorot matanya tetap tajam.
"Kau tidak perlu menunggu di sini," kata Aurelia tanpa menoleh.
Damon menyandarkan bahunya ke kusen pintu. "Aku hanya ingin memastikan kita memiliki pemahaman yang sama."
Aurelia memutar tubuhnya, menyilangkan tangan di depan dada. "Pemahaman seperti apa?"
Damon berjalan mendekat dengan langkah lambat namun pasti. Setiap gerakannya mencerminkan kendali yang begitu kuat atas dirinya sendiri, seolah dia tidak pernah membiarkan emosi menguasainya.
"Bahwa tidak akan ada harapan di antara kita," ucapnya tegas. "Kita menjalani pernikahan ini sebagai formalitas. Aku tidak akan mencampuri hidupmu, dan kau tidak akan mencampuri hidupku."
Aurelia tertawa kecil, sinis. "Aku tidak pernah menginginkan lebih dari itu, Damon."
Dia bisa melihat rahang pria itu mengeras, tetapi hanya dalam hitungan detik, ekspresinya kembali netral.
"Bagus," ujar Damon. "Aku akan meminta pengacara untuk menyusun perjanjian tertulis. Kau akan mendapatkan semua yang kau butuhkan selama kita masih menikah. Setelah semuanya selesai, kita akan berpisah tanpa drama."
Aurelia menahan napas. Kata-katanya begitu lugas, seolah dia berbicara tentang kesepakatan bisnis biasa.
"Aku mengerti," jawabnya pelan.
Damon mengangguk, kemudian berbalik untuk pergi. Namun, sebelum dia mencapai pintu, Aurelia berbicara lagi.
"Apakah kau mencintainya?"
Langkah Damon terhenti. Tanpa menoleh, dia menjawab, "Siapa?"
Aurelia menatap punggungnya yang tegap. "Mira. Wanita yang kau inginkan sejak awal."
Butuh beberapa detik sebelum Damon akhirnya berbalik, matanya gelap dan penuh ketajaman.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu," katanya dingin. "Apa pun yang terjadi dalam hidupku, itu bukan urusanmu, Aurelia."
Senyum tipis muncul di bibir Aurelia, tetapi matanya dingin. "Tentu saja. Kita hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam pernikahan kosong, bukan?"
Damon tidak menjawab. Tanpa sepatah kata lagi, dia keluar dari kamar, meninggalkan Aurelia sendirian di malam pernikahan mereka yang terasa lebih seperti kesepakatan bisnis daripada sebuah awal baru.
LIMA TAHUN KEMUDIAN
Damon duduk di ruang kantornya yang mewah, menatap dokumen di tangannya. Perceraian. Kata itu seharusnya tidak berarti apa-apa baginya. Sejak awal, dia dan Aurelia sudah sepakat bahwa pernikahan mereka hanya sementara.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
"Mira ingin kita menikah segera setelah perceraianmu selesai," ujar seorang pria di seberang meja-Ethan, sahabat sekaligus pengacaranya.
Damon menutup dokumen itu. "Tentu saja dia menginginkannya."
Ethan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau terdengar ragu."
Damon menghela napas. "Tidak ada keraguan. Aku hanya ingin menyelesaikan ini secepat mungkin."
"Aku bisa menghubungi Aurelia dan menyusun pertemuan untuk menyelesaikan semuanya," kata Ethan. "Dia tidak akan memperumit keadaan, bukan?"
Damon terdiam. Aurelia bukan tipe wanita yang akan membuat segalanya menjadi rumit. Dia menerima pernikahan ini dengan sikap dingin, dan dia juga akan menerima perpisahan dengan cara yang sama... bukan?
"Tidak akan ada masalah," jawab Damon akhirnya.
Tetapi dia salah.
Karena ketika akhirnya dia bertemu dengan Aurelia lagi setelah lima tahun, dia tidak hanya menemukan mantan istrinya-dia juga menemukan seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang memiliki mata dan rahang yang begitu mirip dengannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Damon kehilangan kendali.
Anda Mungkin Juga Suka





