
Lima Tahun Kebohongan
Bab 3
Damon berdiri di depan rumah besar yang pernah menjadi rumah mereka. Lima tahun telah berlalu, namun semua yang ada di tempat ini terasa begitu familiar. Namun, ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak seharusnya dia rasakan.
Saat dia melangkah masuk, sebuah aura aneh menyelimuti tempat itu. Begitu berbeda dengan rumah yang dia tinggalkan dulu, yang terasa dingin dan kosong, rumah ini kini dipenuhi oleh kehidupan-laughter, tawa anak-anak, suara musik yang dimainkan di ruangan lain. Semua ini adalah hal yang dia lewatkan. Dan untuk alasan yang tidak bisa dia jelaskan, perasaan aneh ini mulai tumbuh di dalam dirinya.
Aurelia muncul dari ruang tamu, terlihat lebih matang, lebih tenang daripada yang dia ingat. Gaun simpel berwarna hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat elegan, meskipun ekspresi wajahnya tetap tersembunyi dalam ketenangan yang tampak dingin.
Damon menatapnya sejenak, mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan yang terpendam selama ini.
"Kau datang tepat waktu," ujar Aurelia, suaranya datar, namun ada sesuatu yang membuat Damon tertegun-sesuatu yang dia tidak dapat tangkap di balik kata-kata itu.
"Untuk apa?" tanya Damon, berusaha menahan rasa curiga yang perlahan tumbuh.
"Untuk membicarakan perceraian kita."
Damon mengangguk. "Aku tidak punya waktu untuk basa-basi, Aurelia."
"Jadi, mari kita selesaikan."
Namun, saat dia melangkah lebih dalam ke ruang tamu, mata Damon menangkap sosok seorang anak laki-laki yang sedang duduk di atas karpet, memainkan mobil-mobilan. Tiba-tiba, perasaan aneh itu semakin kuat, dan dia tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Siapa dia?"
Aurelia berbalik, memandang Damon dengan mata yang terlihat tenang, namun ada sedikit kebingungan dalam tatapannya.
"Ini Niko," jawabnya pelan. "Anak kita."
Damon terdiam. Seolah dunia berhenti berputar sejenak. Anak mereka?
Hati Damon berdegup kencang. Dia menatap anak itu, matanya yang cerah dan rambut coklat gelap yang mulai tumbuh panjang. Wajah anak itu begitu mirip dengannya. Begitu mirip dengan dirinya ketika dia masih kecil.
"Apa maksudmu... anak kita?" tanya Damon, suaranya hampir tak terdengar.
Aurelia mendalamkan pandangannya, lalu menghela napas berat. "Aku tahu ini mengejutkan," katanya pelan. "Tapi dia adalah anak kita, Damon."
Damon merasa seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Tubuhnya terasa lemah, seolah dia baru saja diserang oleh kenyataan yang tidak dapat dia hindari.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Damon dengan suara yang semakin serak.
Aurelia menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku tidak tahu bagaimana caranya. Saat kau pergi, aku berusaha menjalani hidupku dengan cara yang terbaik untuk kami berdua. Aku tidak ingin membebanimu dengan hal ini."
"Jadi kau memutuskan untuk memendamnya begitu saja? Selama lima tahun?" suara Damon meninggi, emosi yang dia coba sembunyikan kini keluar begitu saja.
Aurelia menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang mengancam untuk jatuh. "Aku tidak tahu bagaimana kau akan merespons, Damon. Aku takut, sangat takut kalau kau tidak akan menerimanya."
"Bagaimana bisa aku tidak menerima anak kita?" tanya Damon dengan nada tajam, namun hatinya bergejolak. "Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari hidupnya? Dari hidupmu?"
Senyap mengisi ruangan itu, kecuali suara Niko yang masih sibuk bermain. Namun, setiap detik terasa seperti menambah berat pada beban yang ada di antara mereka.
"Karena aku tahu betul bahwa kau akan meninggalkan kami begitu kau tahu," jawab Aurelia, suaranya hampir berbisik. "Kau sudah sangat jelas sejak awal. Pernikahan ini bukanlah sesuatu yang kau inginkan, dan aku tidak ingin menambah kesulitan dalam hidupmu."
Damon merasa hatinya hancur. Semua yang dia pikirkan selama ini tentang pernikahan mereka-tentang hidup mereka-ternyata hanyalah ilusi. Dia telah mengabaikan begitu banyak hal. Semua detil kecil yang dia kira tidak penting. Semua yang terjadi selama lima tahun terakhir, semuanya seperti sebuah kebohongan besar yang terbuka di hadapannya.
"Bagaimana bisa aku tidak tahu?" tanya Damon, suaranya kini penuh dengan kebingungannya sendiri.
Aurelia memejamkan mata, berusaha mengendalikan diri. "Aku... aku tidak ingin menjadi penghalang dalam hidupmu. Aku tahu tujuanmu, Damon. Aku tahu betapa pentingnya warisan itu untukmu. Aku tidak ingin menjadi alasan kau gagal meraihnya. Aku tidak ingin menjadi beban."
Damon merasa semakin tercekik. Semua yang dia anggap pasti, semua yang dia lakukan demi mendapatkan warisan itu, ternyata sia-sia. Semua itu tidak pernah benar-benar sepadan.
Aurelia mengangkat wajahnya, menatap Damon dengan tatapan penuh kebingungan dan kesedihan. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya pelan.
Damon terdiam, matanya tidak bisa lepas dari wajah Niko yang sedang asyik bermain. Hatinya bergejolak, bercampur antara kebingungannya, kemarahannya, dan rasa bersalah yang mendalam.
"Saya... saya harus memikirkan ini," jawabnya akhirnya, suaranya begitu rendah.
Namun, dalam hati Damon, sebuah keputusan besar mulai terbentuk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi satu hal yang jelas-hidupnya, tak akan pernah sama lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





