
Lima Kesempatan, Akhirnya Berpisah
Bab 8
Setelah berjalan beberapa langkah, Raka menoleh dan melihat Shinta yang masih berdiri di tempat yang sama.
Tubuhnya tampak kurus, kelihatan malang sekali.
Raka baru sadar bahwa dia baru saja berjanji pada Shinta bahwa dia tidak akan lagi mengabaikannya demi Nadine.
Namun, dia merasa dia belum pernah menepati janji itu.
Raka diam-diam bertekad setelah ini, dia akan memberi Shinta kompensasi.
Setelah mereka pergi, Shinta kembali duduk di tempatnya. Pelayan datang membawa kue ulang tahun berlapis dua.
"Nona, selamat ulang tahun. Ini kue ulang tahun yang disiapkan oleh Pak Raka," ucap pelayan itu.
Pelayan itu melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan Raka di sana. Hanya ada Shinta yang duduk sendirian.
"Letakkan saja di sini, terima kasih," ucap Shinta.
Pelayan itu menyalakan lilin dan memberinya sebuah boneka kecil sebagai hadiah.
Shinta menutup matanya dan membuat harapan ulang tahun.
Dia berharap, bayi yang ada di perutnya dapat segera reinkarnasi dan dilahirkan di keluarga yang saling mencintai, semoga hidup mereka bahagia selamanya.
Setelah membuat permohonan, Shinta memakan sepotong kue.
Rasanya sangat manis, tetapi di lidahnya terasa pahit.
Tak lama setelah itu, Tori meneleponnya dan memberi tahu bahwa surat perjanjian perceraian sudah siap dan Shinta bisa segera pergi ke kantor untuk tanda tangan.
Shinta pergi ke kantor pengacara, setelah memeriksa surat perjanjian tersebut dan memastikan semuanya tidak masalah, dia pun menandatanganinya.
"Bu Shinta, kamu dan Pak Raka sudah memiliki anak, semua orang tahu bahwa kamu sangat mencintainya. Kenapa kamu tiba-tiba mau bercerai?" tanya Tori.
Tori menatap Shinta, dia akhirnya tak tahan untuk menanyakan pertanyaan di hatinya.
"Panggil aku Nona Shinta saja. Aku dan Raka sudah nggak ada hubungan lagi," ucap Shinta.
Shinta tersenyum, tetapi tidak menjawab pertanyaan itu. Dia berkata, "Pak Tori, tolong serahkan surat perceraian ini langsung kepada Pak Raka besok. Setelah dia menandatanganinya, beri tahu aku. Aku akan memberimu alamat, kamu kirimkan salinan perjanjiannya ke sana saja."
"Nona Shinta, apa Pak Raka tahu bahwa kamu mau bercerai dengannya? Bagaimana kalau dia nggak setuju?" tanya Tori.
"Huh," cibir Shinta.
Shinta tersenyum dan berkata, "Dia seharusnya nggak akan menolak. Dia sudah nggak sabar mau bercerai denganku, bagaimana mungkin dia menolak. Kalau dia benar-benar menolak, aku akan tanda tangan surat yang lebih banyak lagi. Nanti kamu berikan semua surat itu kepadanya."
"Baik, Nona Shinta. Aku akan pastikan semuanya berjalan lancar," ucap Tori.
"Terima kasih," jawab Shinta.
Setelah menyelesaikan semua urusannya, Shinta kembali ke rumah.
Rumah itu terasa kosong, Raka belum kembali.
Shinta mulai membereskan barang-barangnya. Ketika pelayan melihatnya sedang mengemas koper, dia sedikit penasaran.
"Bu, kenapa kamu tiba-tiba mengemas koper?" tanya pelayan.
Shinta menjawab, "Aku akan pergi beberapa hari."
Shinta tidak memberi penjelasan lebih lanjut. Dia sudah membeli tiket pesawat ke Maldian.
Dia ingin pergi melihat laut. Dia ingin mewujudkan janji yang tidak pernah ditepati Raka.
"Apa Pak Raka tahu tentang ini?" tanya pelayan lagi.
"Dia nggak perlu tahu," jawab Shinta singkat.
Setelah mengemas barang-barangnya, Shinta mengambil catatan hasil pemeriksaan kehamilan, foto USG, dan buku rekam medis keguguran, lalu memasukkan semuanya ke dalam sebuah kotak kecil.
Ini adalah hadiah terakhir yang akan dia tinggalkan untuk Raka.
Dia sebenarnya ingin sekali melihat reaksi Raka ketika melihat semua ini. Apakah dia akan merasa menyesal? Merasa bersalah? Sedih? Atau bahkan putus asa?
Namun, apa gunanya? Anak mereka sudah tiada.
Shinta mengambil kotak itu dan menyerahkannya kepada pelayan.
"Tolong serahkan kotak ini kepada Pak Raka besok pagi," ucap Shinta.
Pelayan itu menerima kotak itu, lalu bertanya dengan bingung, "Kenapa Ibu nggak menunggu Pak Raka kembali dan menyerahkannya sendiri?"
"Aku pergi sekarang," jawab Shinta.
Shinta hanya tersenyum. Apa alasannya? Tentu saja karena dia sudah tidak ingin melihat Raka lagi.
Shinta tidak ingin lagi melihatnya lagi seumur hidupnya.
Shinta naik pesawat menuju Maldian. Ketika pesawat itu terbang, Shinta merasakan kebebasan dan kegembiraan yang luar biasa.
Ternyata meninggalkan seseorang yang tidak mencintaimu adalah hal yang begitu membahagiakan.
Anda Mungkin Juga Suka





