
LILYA - Gadis yang Digadaikan Keluarga
Bab 2
"BAGAIMANA kabar terbaru dari pergerakan keluarga Atmawijaya?"
Lionel Ervan Gunawan atau yang akrab disapa dengan nama Evan itu meluruskan kakinya di atas meja. Sembari mengecek satu per satu laporan dari CEO yang tersebar di negeri ini untuknya, Evan sesekali melirik Chris, kaki tangannya yang kini memegangi tablet berisi rangkuman laporan penyelidikannya.
"Mereka hendak mengajukan pernikahan untuk Anda, Tuan."
Evan mendengkus. Apa orang-orang Atmawijaya tidak punya otak sampai mau mengajukan pernikahan padanya? Apa Evan terlihat seperti pria tua mesum yang kurang belaian, karena belum menikah sampai sekarang?
Dengkusannya kembali terdengar. Rumor yang beredar luas tentang dirinya memang jelek sekali. Tambun, jelek, tua, mesum, dan playboy. Semuanya dirangkap menjadi satu, padahal Evan tidak pernah merasa melakukan atau memiliki fisik seperti rumor yang tersebar.
"Siapa yang akan mereka ajukan menjadi pengantinku?"
Chris melihat data, kemudian menunjukkan sebuah foto di layar tabletnya. Wanita itu cantik, cara berpenampilannya modis, usianya sudah dewasa, dan akan sangat pas kalau bersanding dengan Evan ke mana-mana.
"Dia anak sulung keluarga Atmawijaya, namanya Kenanga Atmawijaya, sekarang dia pengangguran, hobinya ke kelab malam dan berkencan dengan laki-laki yang berstatus sebagai teman-temannya."
Evan mendengkus. "Aku akan menolaknya mentah-mentah."
Chris mengangguk setuju. "Mereka bisa saja mengirimkan orang yang berbahaya untuk Anda, Tuan. Anda harus berhati-hati terhadap serangan dadakan Tuan Kaisar Atmawijaya."
Evan mengangguk mengerti. "Kirimkan semua data keluarga besar mereka. Aku ingin tahu, siapa saja kandidat yang bisa kupilih untuk diperistri."
Chris tidak mengerti dengan Tuannya ini. Evan dengan terang-terangan menghancurkan keluarga Atmawijaya yang berani menyeleweng dari tugasnya. Namun, dia juga dengan mudahnya menerima tawaran pernikahan dari mereka.
Apa yang Evan rencanakan untuk keluarga Atmawijaya?
"Chris, sampaikan pesanku pada mereka, aku hanya akan muncul di hari pernikahan, siapa pun yang dipilih untuk calon istriku, aku akan menerimanya. Selama calon itu tidak memiliki niat busuk, aku akan membahagiakannya."
"Baik, Tuan."
Evan tersenyum miring. "Dan satu lagi, Chris."
"Apa, Tuan?" Chris menunggu dengan baik.
"Pasang ranjau untuk memerangkap mereka. Jika mereka tidak bisa lagi dimaafkan, maka jawaban untuk mereka hanya satu."
Chris mengangguk mengerti.
Jalan terakhir di kamus seorang Lionel Ervan Gunawan adalah kematian. Tikus-tikus yang berani mengusik Evan sama dengan mereka yang meminum racun yang akan membunuh secara perlahan.
****
Lilya menangis dalam diam setiap malam setelah mendengar titah ibunya untuk menikah.
Dia masih muda, dia masih sekolah, bahkan dia belum lulus SMA. Lilya masih terlalu dini untuk menikah, tapi demi Kaisar dan Mawar, Bapak dan Ibu yang telah merawatnya selama ini, Lilya rela berkorban.
Digadaikan, dijual pada Pak Tua Mesum dari keluarga Gunawan yang kaya raya demi menyelamatkan perusahaan keluarga. Dia rela menikah dengannya dan mungkin dia akan menjadi istri muda yang akan ditindas oleh istri-istri tuanya di sebuah mansion besar.
Mengingat film-film tentang poligami yang bertebaran di layar televisi dan mengisahkan seorang istri muda yang disiksa istri-istri tuanya, Lilya bergidik ngeri saat membayangkan dirinya akan berakhir seperti itu.
"Tuhan, semoga tidak ada drama mengerikan seperti itu dalam hidupku," doanya sembari menatap langit-langit kamar.
Dia berharap doanya dijamah Tuhan kali ini. Padahal, setiap kali ia berdoa, semua doanya tak pernah dikabulkan sama sekali.
***
Evan menatap sebuah foto di layar ponselnya dengan wajah datar. Cantik, sih, cantik. Tubuhnya pendek, tapi lekukan tubuhnya terlihat sempurna, bahkan cenderung menggoda.
Hanya saja ... pakaiannya.
Evan menghela napas kasar saat melihat ibu tirinya berjalan melewatinya yang sedang duduk nyaman di sofa ruang santai.
"Mom!" panggilnya tanpa ragu.
Nayla menoleh. "Iya, Van? Kenapa?"
"Aku mau menikah."
Mata wanita berusia lima puluh tahunan itu tampak berbinar-binar menatapnya. "Iya?" tanyanya antusias, sembari mendekat pada putra sambungnya. "Mana calonnya?"
Evan menunjukkan sebuah foto gadis berseragam SMA yang sukses membuat mulut Nayla menganga lebar.
"Cantik, kan, Mom?"
Nayla menatap putranya horor. "Serius kamu? Dia masih SMA?"
Evan menganggukkan kepala. "Pernikahan bisnis, Mom." Dia menatap kembali layar ponselnya sekali lagi. Gadis itu memang cantik, tapi tatapannya tampak menyimpan perih yang tidak seharusnya ia miliki di usiany. "Keluarganya nyaris bangkrut. Mereka meminta Evan untuk menikahi salah satu keturunannya, sebagai gantinya aku harus membantu mereka membayar hutang perusahaan."
"Jadi?" Nayla menatap Evan tajam. "Tidak ada cinta di antara kamu dengan gadis itu?"
Evan menggeleng. "Dia bahkan belum pernah bertemu denganku secara langsung."
"Jangan bercanda kamu!" bentak Nayla murka. "Pernikahan adalah hal yang sakral, jangan pernah mempermainkan sebuah ikatan pernikahan. Kamu mengerti, bukan? Pernikahan bukan untuk main-main saja. Mommy tidak akan setuju, Daddy-my juga tidak akan menyetujui ide pernikahan seperti itu."
Evan memejamkan matanya. "Aku tidak punya niat untuk main-main dengan pernikahan ini." Evan kembali menatap Nayla dalam-dalam. "Mommy tahu, umurku sudah tua, aku perlu seorang pasangan yang bisa menemaniku hingga menua. Tapi sayangnya, aku terlalu malas mengurus soal asmara, apalagi cinta. Mommy ingin melihatku menikah, bukan? Lalu mengapa Mommy tidak setuju jika aku menikahinya? Apa karena dia masih kecil?"
"Bukan perkara usianya yang masih kecil atau tidak, tapi apa niatmu menikah dengannya? Jangan sampai kamu mempermainkan pernikahan dan mengulangi tragedi perceraian yang pernah terjadi dengan Daddy kamu dulu."
Evan memejamkan mata. "Aku mengerti, Mommy."
Nayla memeluk kepala putra sambungnya. Dulu, dia anak yang manis, tapi perlahan dia berubah. Semenjak dewasa, Ethan membiarkan putranya memilih jalan hidupnya sendiri, dan Evan berubah menjadi seperti ini.
"Mommy hanya tidak mau melihat pernikahanmu hancur. Kamu tetap anak kesayangan Mommy, Evan. Mommy akan sakit jika sampai melihat rumah tanggamu berantakan."
"Mommy tenang saja." Evan membalas pelukan Nayla. "Aku tidak akan bermain-main, selama dia tidak mempermainkan pernikahan ini."
Nayla tersenyum tipis. "Jadi, kapan Mommy sama Daddy bisa melamarnya buat kamu?"
Evan mengurai pelukan mereka. "Tidak perlu." Evan berdeham singkat. "Mom sama Dad hanya akan melihat calon istriku tepat di saat upacara pernikahan nanti. Aku ingin membuat seseorang di sana menyesal, karena berani menolak sebelum dia bertemu langsung denganku."
Nayla hanya mengernyitkan dahi dan menatap putranya tidak mengerti. Apa maksud kalimat putranya tadi?
Kata-kata Evan memang dipenuhi banyak makna, tapi Nayla percaya, kalau dia akan tetap berlaku baik seperti yang terjadi selama ini.
"Apa pun pilihan kamu, Mommy akan mendukungmu. Asal kamu tidak melakukan sesuatu yang melanggar norma, agama, dan juga aturan. Mom dan Dad akan selalu ada di belakangmu."
"Makasih, Mom."
Nayla tersenyum manis. "Jangan lupa, beritahu mama kamu juga tentang kabar ini, ya?"
Evan tersenyum tipis. "Itu urusan mudah."
Anda Mungkin Juga Suka





