
Lelaki Itu Membeliku Bukan Mencintaiku
Bab 2
Pagi itu, Kota Penuh Dosa tidak lagi menampilkan sisi kelamnya. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela hotel seolah membersihkan kotoran yang menempel di sudut-sudutnya. Namun, tidak bagi Vania. Hatinya masih terasa kotor, hampa, dan penuh amarah. Setelah semalam suntuk dihantam emosi dan kenikmatan yang menakutkan, ia merasa kosong.
Reza, dengan wajah datar yang sama seperti saat ia masuk kamar, meletakkan amplop tebal di atas meja nakas. Amplop itu tampak membengkak, berisi tumpukan uang yang bisa melunasi semua hutang orang tuanya. Jumlahnya persis seperti yang ia sebutkan semalam, seratus juta rupiah. Vania hanya menatapnya, tanpa berani berbicara. Ia tidak tahu harus merasa apa: lega karena mendapatkan uang sebanyak itu, atau jijik karena cara ia mendapatkannya.
Reza tidak mengatakan sepatah kata pun. Tidak ada ucapan terima kasih, permintaan maaf, atau bahkan basa-basi. Ia hanya menatap Vania sekilas, matanya dingin dan tak terbaca. "Rahasiakan kejadian ini," suaranya serak dan nyaris berbisik, tetapi nadanya mutlak. "Jangan berani-berani membocorkannya pada siapa pun."
Setelah mengatakan itu, Reza berbalik dan berjalan menuju pintu. Ia bahkan tidak repot-repot menoleh kembali. Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Vania sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.
Vania merasakan amarah melonjak di dadanya. Pria itu begitu dingin dan kasar. Pelanggan-pelanggan lainnya, meskipun menuntut dan menjijikkan, setidaknya memiliki sedikit sopan santun. Mereka mungkin memberikan uang dan pergi, tetapi tidak ada yang memperlakukannya dengan cara Reza semalam. Ia bukan hanya melampiaskan nafsu, tetapi juga amarah dan kekerasan.
Dengan tubuh yang terasa remuk dan perih di mana-mana, Vania mencoba bangkit dari ranjang. Setiap gerakan terasa menyiksa. Ia memunguti gaunnya yang sudah robek, seolah kepingan harga dirinya turut tercerai-berai bersamanya. Dengan enggan, ia memakai kembali gaun itu. Ia tidak peduli jika terlihat berantakan, yang ia inginkan hanyalah segera pergi dari tempat terkutuk ini.
Sebelum melangkah keluar, mata Vania tertuju pada amplop di atas meja. Seratus juta. Jumlah yang bisa mengubah hidupnya. Jumlah itu bisa membuat adiknya tidak perlu mengalami penderitaan seperti dirinya. Tanpa ragu, ia meraih amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas. Uang ini bukan untuknya, ini untuk Cinta, adiknya. Ini adalah satu-satunya alasan mengapa ia rela menanggung semua penderitaan ini.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Ia berjalan di sepanjang trotoar yang mulai ramai oleh orang-orang yang bergegas menuju aktivitas pagi. Rasanya begitu ironis. Di saat mereka memulai hari baru yang bersih, ia baru saja selesai menjalani malam yang kotor.
Sesampainya di kost-kostan kecilnya, keheningan menyambutnya. Pintu tidak terkunci. Dengan langkah gontai, ia masuk dan menemukan Cinta, adiknya yang berusia tujuh tahun, terlelap di sofa ruang tamu. Rambutnya yang hitam berantakan, dan selimut tipis menyelimuti tubuh mungilnya. Sebuah buku cerita anak-anak jatuh dari tangannya.
Melihat adiknya, semua amarah dan rasa sakit Vania lenyap. Yang tersisa hanyalah rasa sayang yang tak terbatas. Cinta adalah alasannya untuk tetap bertahan. Vania berlutut di samping sofa, mengelus rambut adiknya dengan lembut. Ia melihat jam dinding. Sudah hampir jam enam pagi. Ia tidak tega membangunkan Cinta. Perlahan, ia menggendong tubuh kecil itu dan membawanya ke kamar tidur. Setelah menyelimuti Cinta dengan benar, Vania ikut merebahkan diri di sampingnya, kelelahan. Tanpa sadar, ia pun tertidur, memeluk amplop berisi uang itu erat-erat di dalam tasnya.
Pukul 07.00, alarm berdering. Vania terbangun dengan kaget. Ia melirik adiknya, yang masih tertidur pulas. Dengan hati-hati, ia bangkit dan bersiap-siap. Hari ini adalah hari penting, ia harus ke kampus. Ia mengenakan celana jins dan kaus polos, lalu mengambil jaket dan tas ranselnya. Penampilannya yang sederhana dan rapi adalah identitasnya di siang hari.
Saat ia sedang sarapan sereal, Cinta bangun. Senyumnya langsung merekah begitu melihat sang kakak. "Kakak sudah pulang!" sapa Cinta riang. Ia menghambur ke pelukan Vania. "Aku tunggu Kakak sampai ketiduran semalam. Kok lama sekali?"
Vania merasakan hatinya teriris. Ia membalas pelukan adiknya, berusaha menahan air mata. "Maaf, Sayang. Kakak lembur di restoran. Ada pesanan banyak sekali jadi harus bantu sampai pagi."
Vania terpaksa berbohong. Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya. Ia tahu, kebohongan ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi Cinta. Ia tidak mau adiknya tahu pekerjaan kotor yang ia jalani. Ia tidak mau Cinta membencinya atau merasa malu. Ia hanya ingin Cinta tumbuh menjadi anak baik-baik, meraih cita-citanya, dan tidak pernah harus melewati jalan hidup sekelam dirinya. "Kakak janji hari ini tidak akan pulang terlalu malam," bisik Vania pada Cinta.
Setelah sarapan, Vania dan Cinta berangkat. Dengan motor matic yang sudah tua, Vania membonceng adiknya menuju sekolah dasar. Cinta bercerita dengan semangat tentang teman-temannya di sekolah, tentang pelajaran matematika, dan tentang inginnya menjadi seorang dokter. Vania tersenyum, mendengarkan setiap celotehan Cinta. Impian Cinta adalah tujuannya. Uang yang ia dapatkan semalam akan memastikan impian itu menjadi kenyataan.
Setelah mengantar Cinta sampai di gerbang sekolah, Vania melanjutkan perjalanannya ke kampus. Suasana di sana sangat berbeda. Kampus yang megah, bersih, dan penuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang ceria. Di sini, ia adalah mahasiswi cerdas yang berdebat tentang teori ekonomi. Tidak ada yang tahu, di balik penampilannya yang rapi, ia adalah seorang wanita malam yang rapuh dan hancur.
Saat ia berjalan di koridor menuju kelasnya, telinganya menangkap suara-suara bisik-bisik dari para mahasiswa. Vania tidak terlalu peduli. Ia sudah terbiasa dengan gosip kampus. Namun, kali ini, ia mendengar sesuatu yang berbeda.
"Dengar-dengar, dosen baru kita tampan banget!"
"Benarkah? Aku dengar dia dosen killer!"
"Aku tidak peduli! Yang penting wajahnya tampan!"
"Aku dengar dia masih muda dan dari keluarga kaya raya!"
Gosip itu berputar di sekitar koridor. Vania tidak ambil pusing. Ia hanya ingin segera sampai di kelas, duduk di bangku paling belakang, dan menyerap pelajaran.
Tepat sebelum ia masuk kelas, seorang mahasiswi mengagetkannya. Lia, teman sebangkunya yang cerewet, melambaikan tangan padanya. "Vania! Sini! Kenapa baru datang?" tanya Lia. "Dosen barunya sudah mau masuk, lho! Katanya tampan banget, seperti model!"
Vania tersenyum. "Aku tidak tahu. Baru dengar ini."
Lia mengangguk-angguk. "Iya! Aku juga baru tahu. Katanya dia mengajar mata kuliah Ekonomi Moneter. Wah, semoga dia tidak sekejam gosip yang beredar, ya!"
Vania hanya tersenyum tipis. Ia tidak peduli dosennya tampan atau tidak. Yang penting ia bisa lulus, mendapatkan gelar sarjana, dan menemukan pekerjaan yang layak.
Saat bel berbunyi, semua mahasiswa kembali ke bangku masing-masing. Suasana di kelas menjadi hening. Semua mata tertuju pada pintu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang pria melangkah masuk.
Wajahnya datar, tatapannya dingin, dan penampilannya sangat rapi. Kemeja putih yang pas di tubuh atletisnya, celana kain hitam, dan rambut yang disisir rapi. Senyumnya tidak ada, dan raut wajahnya menunjukkan kekuasaan.
Vania merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia mengenali wajah itu, mata itu, dan sikap dingin itu. Pria itu adalah Reza. Pria yang semalam merobek-robek harga dirinya dan memberikan seratus juta rupiah.
Reza berjalan menuju meja dosen, meletakkan tasnya, dan menatap ke arah mahasiswa dengan tatapan mengintimidasi. Vania menunduk, berharap pria itu tidak menyadari keberadaannya. Ia ingin bersembunyi. Kenapa dia bisa berada di sini? Mengapa pria itu adalah dosennya?
Suara Reza memecah keheningan di kelas. Suaranya serak dan dalam, sama seperti saat ia membisikkan kata-kata kotor di telinganya semalam. "Selamat pagi, semuanya. Nama saya Reza Mahesa. Saya akan mengajar mata kuliah Ekonomi Moneter. Saya tidak suka basa-basi. Saya hanya suka mahasiswa yang cerdas dan serius. Jika kalian tidak bisa memenuhi standar saya, silakan keluar dari kelas ini sekarang juga. Saya tidak akan segan-segan memberikan nilai F."
Kata-kata itu membuat sebagian mahasiswa merinding. Gosip tentang dosen killer ternyata bukan isapan jempol belaka. Sementara itu, Vania merasa tubuhnya membeku. Tatapan Reza menyapu seluruh ruangan, dan seolah-olah waktu berhenti, mata mereka bertemu. Reza menatap Vania dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis yang penuh misteri muncul di sudut bibirnya, seolah ia menyadari ada rahasia kotor di antara mereka berdua.
Vania tahu, malam yang gelap dan kotor itu tidak akan berakhir. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa pria yang merenggut segalanya darinya kini akan menjadi bagian dari setiap harinya. Pria itu adalah dosennya, dan di dalam kelas ini, ia hanyalah seorang mahasiswi biasa. Namun di luar sana, ia adalah wanita yang pernah dibeli pria itu dengan uang seratus juta.
Ia harus merahasiakannya. Ia harus berpura-pura tidak mengenalnya. Namun, bagaimana ia bisa melakukannya, saat setiap tatapan dari pria itu mengingatkannya pada desahannya semalam? Malam itu, ia berharap ia tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Pagi ini, ia menyadari, takdir memiliki rencana lain. Rencana yang jauh lebih kejam.
Anda Mungkin Juga Suka





