
Lelaki Asing Yang Menodaiku
Bab 2
Duduk seorang lelaki muda yang tampan di tepi pantai, dia merasa kelelahan setelah berlarian seorang diri menanti senja.
Dari setiap sudut wajah lelaki itu bak lukisan illahi yang begitu sempurna. Banyak sekali wanita yang terpikat tetapi tidak ada satupun yang mampu meluluhkan hatinya. Meskipun begitu Lars memiliki banyak pacar dan tidak bertahan lama.
Entah kenapa setiap kali menatap langit dia merasa rindu, seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dan melihat fajar serta senja sudah seperti kegiatan wajib yang harus dilakukan.
Pemuda itu bernama Lars, CEO perusahaan besar yang memiliki karakter dingin dan misterius. Tidak banyak bicara dan tidak suka terlalu dekat dengan orang lain kecuali saat bekerja. Dalam tubuhnya seperti ada alarm untuk menjaga jarak dan mempercayai orang lain.
"Bos, Anda sudah di sini berjam-jam, mari pulang dan hangatkan diri? " ajak Daniel, asisten Lars.
Lars memang sudah basah kuyup, tetapi masih enggan untuk berdiri.
"Bos, kalau Anda tidak kunjung pulang nanti saya kena marah Tuan Dan Nyonya, saya mohon mari kembali dengan saya, " bujuk Daniel yang berusia tak jauh darinya.
"Iya, " jawab Lars datar.
Lars berjalan setapak demi setapak diikuti oleh Daniel, masuk ke hotel pribadinya dan setelah mandi dan berganti baju baru keluar lagi untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Sampai rumah sudah malam, di sana dia disambut oleh kedua orang tuanya dan juga seorang gadis yang tampak tidak asing.
"Nak, kenapa kamu selalu bermain di pantai saat sore hari sih? Kami sudah menunggu kamu makan malam, " ucap Arina cemas.
"Mama, sudah aku bilang kalian tidak usah menungguku untuk makan malam. Aku juga bisa makan di luar," sela Lars menahan kesabaran.
"Kamu ini tidak boleh begitu, namanya juga orang tua pastinya akan selalu mencemaskan anak semata wayangnya dalam hal kecil sekalipun, oh iya ini kebetulan ada Alista. Apa kamu masih bisa mengingatnya? " sergah Marco.
Lars mengerutkan dahi, mencoba mengingat apakah dimasa kecil memiliki teman bernama Alista?
"Putrinya Pak Aries, dia tunangan kamu dari masa kecil, " sela Marco gemas.
Lars hanya mengangguk saja, sebenarnya dia memang sudah lupa tetapi merasa tidak asing.
Lars melihat sekilas ke Alista, memang cantik di banding para kekasihnya. Tetapi dia sama sekali tidak tertarik.
Lars sama sekali tidak peduli dengan cinta, dia tidak peduli dengan apapun. Hidupnya terasa hambar tanpa tujuan yang pasti.
"Lars, sesuai jadwal yang sudah direncanakan. Sebulan lagi adalah pesta pertunangan kalian," ujar Marco.
"Terserah Papa dan Mama saja, tetapi asal dia tidak terlalu mengusik hidupku! " jawab Lars santai.
"Iya, aku akan menjadi calon istri yang pengertian untukmu, " sela Alista sangat senang.
"Alista, kamu yang sabar ya? Lars sejak kecil memang begitu. Jangankan dengan gadis, pada kedua orang tuanya juga cuek, apalagi dia juga kehilangan sebagian ingatannya, " bujuk Arina.
"Iya, nggak papa. Justru lelaki seperti ini pasti akan setia, tidak mudah tergoda oleh wanita lain, " jawab Alista.
Lars hanya meringis, sebab dalam hidupnya memiliki banyak perempuan untuk mainan. Setia? Adalah ucapan bodoh dalam hidupnya.
Lars sama sekali tidak peduli, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia membuka laptop, tetapi kepalanya jadi pusing dan tidak fokus bekerja.
Lars membuka jendela, duduk di kursi sambil memandang langit yang hitam bertabur bintang.
"Kenapa? Kenapa aku merasa jengah dengan semua ini? Kenapa aku merindukan sesuatu yang tidak aku ketahui. Kenapa... Kenapa aku merasa kosong. Dan kenapa setiap kali aku gelisah hatiku akan tenang ketika melihat bintang kejauhan dilangit? " gumam Lars pada dirinya sendiri.
Terkadang tanpa terasa air matanya mengalir. Dia sungguh merindukan kehangatan kasih sayang, tapi entah dari siapa. Hatinya terluka tidak jelas. Di dalam keramaian dia merasa sendiri dan sepi.
Tengah malam Lars masih belum ingin tidur, dia memutuskan ke luar rumah jalan kaki.
Berjalan tanpa arah, Lars menyembunyikan kedua tangannya yang mulai kedinginan di saku celana. Dia tahu, jika dari belakang ada Daniel dan beberapa anak buahnya yang mengikuti. Dengan iseng Lars berlari secepat mungkin dan menghilang dari mereka.
Lars kesal, karena kedua orang tuanya selalu diam-diam mengirim para pengawal untuk mengikutinya. Walau bertujuan demi kebaikan tetapi tetap saja mengganggu privasinya.
Lars terus berlari secepat kilat. Sampai tanpa sadar dia sudah berada di sebuah Terminal Bus. Tetapi dia baru tahu kalau di sana ada sebuah terminal.
"Mungkinkah salah satu yang aku lupakan adalah terminal ini? " gumam Lars.
Lars sangat penasaran, karena terminal tersebut masih begitu ramai dimalam hari.
"Kalau siang pasti akan terlihat lebih ramai lagi, " gumam Lars.
Tetapi sesaat kemudian dia melihat ada orang -orang yang baru turun dari bus malam, mereka sambil membawa banyak barang dan berdesakan.
"Ih bau sekali," batin Lars yang sangat suka kebersihan dalam segala hal.
Kemudian kedua mata Lars terpacu pada seorang gadis yang juga baru turun dari bus. Gadis yang memakai kebaya putih.
Lars tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya, tetapi saat melihat gadis itu hatinya berdebar-debar.
"Dia siapa? Dari postur tubuhnya dia sepertinya tidak asing? " gumam Lars semakin penasaran.
Lars mencoba mendekat, tapi setelah melihat wajahnya dengan jelas dia merasa sakit kepala yang luar biasa.
"Astaga... Sakit sekali, " pekik Lars memejamkan matanya dan memegang kepalanya yang berdenyut.
"Bos kamu kenapa?" tanya Daniel yang ngos-ngosan baru datang.
Lars tidak bisa menahan rasa sakitnya, dia langsung rubuh dan tidak sadarkan diri.
Begitu terbangun dia sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
"Nak, kamu kenapa malam-malam berlarian? Membuat Mama khawatir saja, " tegur Arina menangis pilu.
Tapi Lars malah bengong, dia masih teringat begitu jelas wajah perempuan yang dia temui tadi.
"Daniel dimana? " tanya Lars.
"Kamu ini, " sela Arina kesal sebab diabaikan, tetapi Mamanya Lars yang begitu sayang pada putranya itu langsung keluar memanggil Daniel.
"Ada apa, Bos? " tanya Daniel sigap.
"Apakah tadi kamu juga melihat gadis yang turun dari bus dan memakai kebaya pengantin? " tanya Lars memastikan.
"Maaf, Bos. Saya tidak paham, karena sampai di sana Bos pingsan dan saya fokus ke Bos, " jawab Daniel.
"Ah, buruan ambilkan aku buku gambar dan pencil! " pinta Lars.
Setelah mendapat apa yang diinginkan, Lars mulai melukis wajah gadis dalam bayangannya. Lars pun cukup kaget jika dirinya ternyata punya bakat melukis dan hasilnya tidak mengecewakan.
Daniel tetap berdiri mengawasi, tapi selama bertahun-tahun tidak pernah melihat gadis yang di lukis oleh bos nya tersebut.
"Bos, saya sudah mengikuti Anda kemana-mana tapi saya bisa pastikan bos belum pernah bertemu gadis yang ada di gambar itu, " ucap Daniel merasa yakin.
Lars melihat mata yang jujur dari Daniel, diapun menjadi semakin heran kenapa saat melihat gadis itu terasa nyeri hatinya.
"Who Are You, Girl? "
Anda Mungkin Juga Suka





