
Lelaki Asing Yang Menodaiku
Bab 3
Alana menginap di sebuah hotel bintang lima, dia sengaja ingin menghibur diri sendiri selama beberapa hari. Setelah itu dia belum memiliki rencana lain, memang semenjak dirinya ternoda Alana seolah tidak punya masa depan yang cerah. Hari-hari hanya di penuhi dengan mimpi buruk. Sesungguhnya dia sudah lelah, berpura-pura seolah semua baik-baik saja.
"Aku sangat lelah sekali setelah menempuh perjalanan jauh, tapi aku baru ingat jika aku tidak memiliki pakaian ganti."
Alana tahu di samping hotel ada Mall yang besar, diapun memutuskan ke sana dan sebelum itu menghapus make up dan riasan bunga kantil yang masuk melekat di rambutnya.
"Astaga, pantas saja dalam perjalanan hampir semua orang yang melihatku nampak terheran-heran. Mungkinkah mereka tahu jika aku kabur dari pernikahan?" gumam Alana.
Tetapi sesaat kemudian dia tidak peduli, toh tidak mengenal mereka semua dan belum tentu bertemu lagi. Diapun fokus menghapus make up, kantung matanya agak bengkak bekas menangis yang tiada hentinya.
"Alana, tidakkah kamu merasa bodoh terpuruk seperti ini? Memangnya kenapa kalau kamu sudah tidak suci lagi? Siapa yang perlu kamu takuti? Allah tahu jika kamu adalah korban, dan kamu juga tidak jadi menikah, tak perlu merasa bersalah lagi pada Syarif. Dia akan mendapat pengganti yang lebih baik darimu! Lebih baik kamu mencoba memulai hidup baru, menjadi pribadi yang lebih baik," Ucap Alana sambil memandang dirinya sendiri lewat cermin besar di hadapannya.
Tetapi ucapan memang lebih mudah, nyatanya Alana menangis lagi. Jauh di lubuk hatinya masih belum bisa merelakan Syarif seutuhnya. Pemuda yang dia cintai selama bertahun-tahun, pemuda yang menemaninya walau sekedar saling mencurahkan isi hati lewat telepon saat dia menjalani kehidupan keras di Hongkong.
Setelah puas menangis, Alana cuci muka lagi tapi tetap saja kesedihan itu tidak mau hilang.
"Aku benar-benar harus segera belanja, aku sama sekali tidak memiliki apa-apa, " gumam Alana menguatkan diri.
Masih menggunakan kebaya, dia hanya mencepol rambutnya. Dalam hati masa bodoh dengan penilaian orang lain, tok hal itu tidak merubah apapun juga.
Cukup jalan kaki, hanya butuh waktu beberapa menit dia sudah sampai. Kemudian dia terkejut saat ada anak kecil berusia dua tahun yang berlarian dan menabrak kakinya. Untung saja Alana langsung sigap menangkap jika tidak anak kecil itu terjatuh.
"Haduh, Nona maafkan anak saya ya? Dia memang terlalu aktif, dan terima kasih sudah membantu anak saya, " ucap perempuan yang memakai baju muslimah sangat cemas.
"Iya, tidak apa-apa, " jawab Alana menyerahkan anak kecil di tangannya.
Kemudian lelaki tampan yang ada di samping perempuan itu langsung gantian menggendong anak kecil itu.
"Yuk, kita ke tempat permainan, " ajak lelaki itu pada anaknya.
Dan si kecil Devan langsung mengangguk bahagia.
"Nona, kami permisi dulu ya? Assalamu'alaikum, " pamit mamanya Devan sangat ramah.
"Waalaikumsalam, " jawab Alana.
Alana masih belum bisa berpaling saat mereka pergi, dalam hati mulai timbul perasaan pedih. Mungkinkah dirinya punya kesempatan untuk memiliki keluarga yang bahagia dan anak yang lucu seperti Devan?
"Perempuan itu terlihat wanita yang baik, pantas saja hidupnya begitu bahagia. Sedangkan aku? Semenjak kerja di Hongkong aku melupakan banyak hal, termasuk shalat lima waktu. Mungkinkah semua ini adalah teguran? Karena aku hanya mengejar harta semata, " batin Alana.
Tiba-tiba saja dia jadi teringat mamanya Devan yang memakai gamis dan jilbab syariah, kemudian muncul pikiran dirinya yang ingin memulai memakai jilbab.
Selama ini Alana memang memakai pakaian yang cukup seksi, mungkin terbawa oleh teman-temannya sesama TKW yang juga berpakaian seksi saat jalan-jalan mengambil cuti.
Hatinya sudah mantap, Alana langsung menuju ke tempat penjualan pakaian Muslimah. Tak lupa Alana membeli pakaian dalam, kebutuhan lain termasuk make up dan juga koper karena saat kabur sama sekali tidak membawa apa-apa.
Sesampainya di kasir Alana cukup kaget sebab tagihan lumayan menguras isi tabungan.
"Kalau begini terus dan aku tidak ada pemasukan bisa habis uangku, sebaiknya aku juga harus berpikir bagaimana cara menghasilkan uang untuk menyambung hidup, " batin Alana.
Sambil membawa belanjaan yang banyak, Alana berniat untuk kembali. Tapi sungguh sial lagi-lagi dirinya ditabrak oleh orang. Kali ini seorang pemuda dewasa yang jauh lebih tinggi, adu kekuatan tentu saja dia kalah. Alana terjatuh dan menimpa kopernya, lengannya terasa sangat sakit.
"Ah! " teriak Alana.
"Maaf, " ucap lelaki itu.
Hal yang membuat Alana syok adalah saat lelaki itu mendekat dan hendak menolongnya berdiri, tetapi hidungnya mencium aroma parfum yang seketika mengingatkan dia akan malam kelam itu.
Seketika Alana panik berlebihan, keringat dingin mulai membasahi keningnya dan tubuhnya gemetar hebat.
"Apa Anda baik-baik saja? " tanya lelaki itu ikutan panik.
Alana diam saja, dia mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri. Kepalanya berasa berputar-putar.
"Ya Allah, tolonglah hamba, " batin Alana hampir pingsan.
Tetapi dia tidak mau rubuh, rasa kewaspadaan tubuhnya lebih kuat sehingga Alana mencoba berdiri. Kemudian ada tangan yang menyentuh pundaknya, sontak saja Alana menghempaskan tangan itu dengan kasar.
"Aku bisa sendiri! " teriak Alana histeris.
"Oh, Maafkan saya, " sela lelaki itu merasa bersalah.
Alana sempoyongan, dia memejamkan mata sejenak.
"Ini di tempat umum, ada banyak kamera. Jika orang ini punya niatan jahat aku yakin tidak akan berani, " batin Alana menenangkan dirinya sendiri.
"Nona, apakah butuh bantuan? Saya bukan orang jahat? " tanya lelaki itu khawatir.
Alana tidak mau tahu, dia segera mengambil barang belanjaan yang berserakan dan langsung pergi. Tetapi dia semakin takut sebab lelaki itu mengikutinya di belakang.
"Kenapa dia mengikuti aku?" gumam Alana sudah buntu pikirannya.
Alana berlari, dan lelaki itu masih saja mengikutinya sampai dia memasuki wilayah hotel.
Alana semakin cemas, ingin rasanya menghadang lelaki itu dan memarahinya. Tapi dia sadar, kekuatan perempuan tidak akan bisa sebanding dengan lelaki. Sama seperti waktu itu, dia yang sudah melawan habis-habisan tetap saja kalah oleh lelaki laknat yang setiap detiknya di kutuk tidak akan pernah hidup tenang dan bahagia.
Setiap kali mengingat sang pemerkosa, Alana tidak pernah berharap orang itu mati, baginya kematian adalah sebuah keberuntungan. Alana selalu mendoakan, jika lelaki itu hidup menderita selamanya.
"Aku harus segera pindah dari hotel ini, " batin Alana.
Tak mudah bagi dirinya untuk memiliki pikiran positif saat bertemu lelaki, bahkan bersama Syarif yang merupakan kekasihnya saja dia sangat ketakutan.
Sesampainya di dalam kamar, Alana langsung mengunci rapat pintunya. Walau lelah, sakit kepala dan juga lemas, Alana langsung berganti pakaian dan nekat check out pindah hotel yang lebih jauh.
Tak peduli lelaki itu baik atau jahat, Alana tidak akan bisa tidur tenang jika masih berada di sana.
Anda Mungkin Juga Suka





