Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Last Twilight

Last Twilight

Senja Aluna tidak pernah mengerti alasan orang tuanya bersikap dingin dan mengabaikannya. Kondisi sang adik yang sakit parah justru membuat Senja menjadi sasaran kemarahan Bunda. Tanpa kasih sayang keluarga, hanya Dilan sang sahabat yang setia melindunginya. Namun, saat takdir mengancam menjauhkan Dilan, Senja kehilangan arah. Ia hanya mendambakan pelukan dan perhatian tulus dari Bunda sebelum segalanya terlambat. Mampukah keinginan sederhana itu terwujud?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab. 3

Bel pulang sekolah bergema memenuhi seluruh penjuru sekolah. Para siswa pun bersorak gembira lalu segera membereskan buku pelajaran yang terserak di meja. Begitu pun dengan Senja, gadis itu tampak tengah menyusun bukunya kemudian memasukkan ke dalam tas ransel yang sudah terlihat usang.

Wajar saja, tas itu dibeli ketika ia pertama kali masuk SMA dan sekarang ia sudah kelas tiga. Jadi perubahan warna serta ketahanan pun sudah mulai memudar. Namun Senja tidak pernah protes untuk dibelikan yang baru. Selagi masih bisa dipakai, Senja tidak masalah untuk memakainya.

"Mau langsung pulang?" tanya Dilan menghampiri bangku Senja.

Senja mendongak. "Nggak, deh. Senja mau ke kedai dulu. Tadi tante Siska ngechat Senja katanya kedai lagi rame," jawab Senja sembari menyampirkan tas itu ke bahunya.

Dilan mengangguk paham. Kemudian menarik tangan Senja. "Gue anterin, ya?" tawarnya.

"Nggak usah. Lagian kan kedai tante Siska deket," tolak Senja.

Ia hanya merasa tidak enak jika terus-terusan mengandalkan Dilan. Apalagi arah kedai dengan rumah Dilan itu berlawanan.

Dilan mendecak kesal. "Bodoamat. Pokoknya gue anter," putus Dilan membuat Senja mengangguk pasrah.

"Widih, pacaran mulu lo berdua," ledek seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu.

Namanya Andra, sang ketua kelas yang mulutnya tidak pernah bisa diam. Selalu berisik dan membuat onar dalam kelas. Sedikit heran kenapa manusia semacam Andra bisa menjadi ketua kelas.

"Orang cuma temen," kilah Senja tak terima.

"Ah, cuma temen masa gandengan tangan," lagi, Andra menggoda dua insan itu sambil menaikkan kedua alisnya berulang kali. Bibirnya tersenyum jenaka.

Sontak keduanya langsung melepaskan tautan tangan mereka. Senja bahkan bisa merasakan pipinya bersemu merah karena godaan berantai dari Andra.

Bahkan para teman sekelasnya yang lain pun ikut menggodanya juga.

"Kalo suka ya diungkapin kali, Lan. Ntar kalo kesalip sama si doi kelas sebelah gimana?" ujar Bayu yang tengah duduk sambil bermain dengan gitar yang ada dipangkuannya.

Yang dimaksud dengan doi kelas sebelah adalah Raga, mantan Senja. Bukan rahasia lagi kalau Raga itu masih mengejar Senja. Belum ada yang tahu pasti penyebab putusnya hubungan kedua orang itu.

"Berisik lo semua. Gue sama Senja cuma sahabatan doang. Sampe kapanpun juga bakal kayak gitu," tukas Dilan dengan lantang.

Tanpa ia sadari ada dua hati yang patah mendengar ucapan itu. Hatinya dan juga hati gadis yang berada di sampingnya.

Mereka sama-sama menyukai tapi takut untuk mengungkapkan. Takut untuk keluar dari zona nyaman.

Andra berdecih. "Kejebak friendzone nggak enak, bro," katanya lagi.

Senja hanya memutar bola matanya malas kemudian berjalan keluar kelas. Mencari udara segar karena udara di dalam kelas tiba-tiba berubah panas.

Membiarkan Dilan masih beradu mulut dengan Andra. Senja pun berdiri di dekat pembatas balkon kelasnya yang berada di lantai tiga. Matanya memandang kerumunan siswa yang ada di parkiran.

"Jangan bunuh diri, Ja. Gue belum siap kehilangan lo."

Suara itu mengalihkan atensi Senja. Gadis itu menatap malas ke arah Raga yang sudah berdiri di sampingnya.

"Pulang bareng gue, yuk? Sekalian bernostalgia sama masa-masa indah kita dulu," ajak Raga sambil tersenyum ke arah Senja.

"Senja pulang sama gue," sahutan dingin itu langsung mengalihkan perhatian keduanya.

Di belakang mereka, Dilan sudah berdiri memandang Raga tajam. Bahkan Raga pun membalasnya dengan tatapan tajam juga. Bahkan aura intimidasi pun jelas dirasakan oleh Senja.

Meskipun Senja benci dengan Raga, tapi melihat keduanya saling melempar tatapan tajam, Senja menjadi takut sendiri.

Ia pun menarik tangan Dilan. "Ayo, Senja mau pulang," ajaknya kemudian membawa Dilan menjauh dari Raga. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika dua manusia itu berada di lingkup yang sama.

Menyisakan Raga yang menatap kepergian Senja dengan Dilan.

***

Semilir angin siang menjelang sore ini cukup menyejukkan. Membuat anak rambut Senja berterbangan membelai wajahnya. Gadis itu tampak tenang duduk di boncengan Dilan.

Sesuai ucapannya tadi, Dilan benar-benar mengantarkan Senja ke kedai tante Siska. Tante Siska memiliki kedai yang dinamai kedai Mawar. Kedai itu menjual banyak macam makanan ala anak muda. Tak sedikit juga anak muda bahkan anak sekolah yang mampir di kedai ini. Selain rasanya yang enak, pelayanan kedai ini juga ramah. Serta tempatnya yang nyaman dengan bertema seperti saung. Cocok untuk kalangan muda-mudi.

Dilan membelokkan motornya masuk ke pekarangan kedai Mawar. Lelaki itu menghentikan motornya kemudian melepas helm yang melekat di kepalanya. Senja pun turun dari motor besar milik Dilan. Namun karena faktor tinggi badan yang terlalu mungil, gadis itu tampak kesusahan.

Dilan yang melihat itu pun tertawa gemas. Ia mengulurkan tangannya ke belakang. Membantu gadis itu untuk turun.

"Tinggi tuh ke atas jangan ke samping," ejek Dilan yang langsung dihadiahi pelototan oleh Senja.

Senja mencebik kesal namun tak urung juga menerima uluran tangan lelaki yang kini tengah meledeknya.

"Dih, iri!" tutur Senja sambil memeletkan lidahnya ke arah Dilan. Gadis itu tampak tengah membenahi rok sekolahnya yang sedikit naik.

Dilan menaikkan alisnya merasa terkejut dengan ucapan Senja. Kemudian lelaki itu tertawa keras.

"Iri kok sama orang pendek," cibirnya lagi. Bahkan lelaki itu masih terus tertawa.

Tentu saja hal itu membuat Senja meradang. Kesalnya bukan main dengan Dilan.

"Udah, ah! Senja mau kerja. Bye!" ujar gadis itu kemudian berbalik meninggalkan Dilan. Gadis itu berjalan memasuki kedai Mawar.

Dilan hanya tersenyum tipis sambil memandangi kepergian Senja. Gadis yang menjadi sahabatnya, ternyata telah berhasil merenggut seluruh hatinya. Membuat Dilan lupa bagaimana caranya dekat dengan gadis lain. Baginya, memiliki Senja di dalam hidupnya itu sudah cukup. Senja terlalu berharga untuknya.

Secinta apapun Dilan pada Senja, ia tidak ingin mengutarakannya. Ia terlalu pengecut. Ia takut kalau nanti Senja malah akan membencinya lalu pergi meninggalkannya. Biarkan saja ia hidup dengan rasa cinta yang terpendam jika itu bisa membuat Senja bertahan disisinya.

Terjebak friendzone? Tidak peduli dengan julukan itu. Yang Dilan inginkan hanyalah berada disisi Senja. Untuk saat ini dan selamanya. Ia berjanji akan selalu ada untuk gadis itu.

Dilan pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kedai Mawar. Ia juga memiliki urusan yang lainnya.

Senja berjalan memasuki ruang dapur yang ada di belakang kedai. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari Siska. Sampai akhirnya ia melihat sosok wanita paruh baya itu tengah membuat beberapa macam masakan. Mungkin itu pesanan para pelanggan. Mengingat ketika ia masuk tadi ada banyak sekali pelanggan yang datang. Kebanyakan adalah anak sekolah.

"Tante," panggil Senja.

Siska menoleh kemudian melemparkan senyumnya. "Baru dateng, Ja?" tanya wanita itu.

Senja mengangguk. "Iya, tan. Baru pulang soalnya. Maaf, ya, kalau Senja telat datengnya," ujarnya merasa tak enak dengan Siska.

Siska tampak mengibaskan tangannya. "Nggak papa. Ini nanti kamu antar ke meja nomor 3, ya?" kata Siska sambil menata beberapa piring untuk pesanan yang ada di meja nomor 3.

Senja mengangguk lagi. "Siap, tante."

Senja pun mulai menyusun makanan yang berisi empat macam itu. Sepertinya pelanggannya lebih dari dua orang. Pesanannya saja banyak begini.

Setelah disusun, gadis itu mulai melangkah keluar menuju meja nomor 3. Namun keningnya mengernyit dalam ketika melihat meja itu kosong. Apa jangan-jangan pelanggan itu kabur?

Senja menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Masih terlihat ada ponsel dan kunci motor tergeletak di sana. Mungkin pemiliknya tengah berada di toilet.

Senja pun mulai menaruh makanan itu di meja dengan hati-hati agar tidak tumpah.

"Makasih, ya, mbak," ujar seseorang dari belakang Senja.

Senja pun sontak memutar badannya. "Iya, mas. Sama-" ucapannya tiba-tiba terhenti saat menatap orang itu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bismillah Anna
9.2
Anna memendam cinta pada Malik sejak SMP, meski Malik bersikap dingin dan menyukai wanita lain. Di tengah perjuangan menjadi dokter muda, Anna harus menghadapi duka mendalam karena kehilangan sosok ayah tercinta. Meski takdir terasa pahit dan cintanya tak terbalas, Anna berusaha tegar menjalani hidupnya yang penuh cobaan. Akankah kesabaran Anna berujung pernikahan dengan Malik, atau justru ia akan bersatu dengan pria lain yang jauh lebih misterius?
Sampul Novel Dikejar Mantan Posesif
9.6
Tujuh tahun silam, Farel Zay Amanta mendadak lenyap dari hidup Refa Aletta Zafana tanpa sepatah kata pun. Kepergian misterius itu meninggalkan luka mendalam bagi Refa. Kini, Farel kembali hadir secara tak terduga dengan sikap yang sangat posesif. Tanpa memedulikan masa lalu mereka yang penuh tanda tanya, pada pertemuan pertama setelah sekian lama, Farel langsung melontarkan tuntutan mengejutkan agar Refa segera menjadi istrinya saat itu juga.
Sampul Novel Hingga Akhir Waktu
9.0
Seorang gadis terjebak dalam dilema besar saat dipertemukan dengan dua pria yang memiliki paras identik namun sifatnya bertolak belakang. Keadaan ini memaksanya untuk menimbang perasaan di tengah situasi yang rumit. Apakah ia akan mengikuti kata hatinya demi sebuah ketulusan sejati, atau justru terpaksa mengambil jalan kompromi demi melindungi cinta yang selama ini ia perjuangkan? Sebuah kisah romansa modern tentang pilihan sulit dan pengorbanan.
Sampul Novel Jodoh yang ditakdirkan
9.3
Terpisah sejak kecil akibat perceraian, si kembar Yunara dan Lunara bertemu kembali di hari pernikahan Yunara. Lunara hadir mencari sang ayah, namun takdir justru berubah drastis bagi keduanya. Yunara terjerat dengan pria asing yang obsesif, sementara Lunara terjebak situasi rumit bersama suami kakaknya sendiri. Pernikahan Lunara yang sudah di depan mata pun hancur karena kesalahpahaman. Kini, mereka harus memilih: pasrah pada nasib atau berjuang demi cinta sejati.
Sampul Novel KuNikahi Mantan Istri SahabatKu
9.3
Kepergian suami tercinta mengubah Aleesya Belva Cristabell menjadi sosok pendiam yang menutup diri. Demi masa depan buah hatinya, ia bekerja keras dengan dukungan penuh mertua serta sahabat. Namun, pertahanan hati Aleesya goyah saat bertemu sahabat mendiang suaminya. Pria yang pernah dikhianati ini hadir membawa kasih sayang tulus bagi Aleesya dan anaknya. Akankah Aleesya tetap teguh menutup pintu hatinya, atau justru memberikan kesempatan bagi cinta yang baru?
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.