
Langit dan Evelyn
Bab 2
Ada sebuah standar konstruksi sosial yang Evelyn benci selama hidup sebagai seorang perempuan di Indonesia. Pertama, seorang perempuan tidak boleh lebih tinggi pendidikannya daripada laki-laki atau risikonya adalah akan sedikit laki-laki yang mau pedekate. Evelyn pernah disindir oleh Bibinya saat perkumpulan keluarga. “Jadi perempuan itu, ya nggak perlu sekolah tinggi-tinggi toh ujungnya nanti bakal bekerja di dapur, laki-laki juga kan punya ego yang tinggi, nggak mau dikalahkan sama perempuan.”
Evelyn yang panas pun langsung menjawab, “Tapi Bu, perempuan itu calon ibu yng bakal mendidik anak-anaknya kelak. Pendidikan pertama seorang anak didapat dari rumah, bukankah punya kebanggaan sendiri kalau punya istri dan ibu yang cerdas? Lagipula Bu, saya nggak mau menurunkan standar hidup saya hanya demi seorang laki-laki.”
Alhasil tiap kali ada perkumpulan keluarga, Evelyn jarang datang hanya untuk menghindari pertanyaan seputar “Kapan menikah?” atau “Kapan nih ngasih momongan ke Mami kamu? Kasihan lho kalau kumpulan, dia sendiri yang belum menimang cucu.” Cih, Evelyn kesal sekali dengan ucapan demikian. Memangnya pernikahan itu ajang cepat-cepatan seperti area balapan, ya? Lalu seandainya suatu hari bercerai, lingkungan akan kembali mencemooh, “Tuh kan, harusnya pedekate dulu, jangan buru-buru menikah. Begini ujungnya kalau belum saling mengenal.”
Usia Evelyn 26 tahun, menjabat sebagai founder dari sebuah e-commerce sepatu yang sudah terkenal di Indonesia, Eve's Beaute. Sebetulnya ada banyak pria berkualitas yang ingin mendekati Evelyn. Sebut saja Niko, seorang anak konglomerat yang bertemu dengan Evelyn sewaktu sedang menonton sebuah pertandingan Golf. Atau Vino, CEO dari Devano's Corporation, pewaris tunggal dari perusahaan raksasa yang bergerak dibidang kostruksi. Seandainya Evelyn tertarik, sudah dapat dipastikan, dia lebih beruntung dari Nia Ramadhani. Dia tidak perlu bekerja keras untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri.
Namun, kalau disuruh menyebutkan kualifikasi menjadi pasangan Evelyn, syaratnya yaitu: tidak mendominasi. Evelyn tidak mau jika dirinya diatur-atur, bahkan meskipun oleh pasangannya sendiri dan memiliki pasangan dengan sama-sama memiliki kuasa sepertinya bukan pilihan tepat. Evelyn bahkan pernah berikrar kalau dirinya tidak mau menikah—dia trauma dengan pernikahan. Dia sudah menyusun planning mengadopsi anak di usia 30 tahun, mungkin dengan mengambil di sebuah panti asuhan, lalu hidup bahagia ditemani kucing-kucing kesayangannya. Dia tidak akan pernah lagi merasa kesepian, kan?
“Heran gue ya sama lo, dideketin sama cowok cakep malah nggak mau. Udah mapan, mateng, dewasa. Kurang apa lagi, sih?” Seperti hari ini, tiap kali bertemu dengan Rara dan Sofie sepulang kerja, pasti Evelyn akan diceramahi habis-habisan.
“Gue ngeri nikah, yah kalian tahulah ya bokap gue.” Berteman dengan Evelyn sejak SMP, Sofie dan Rara sudah hapal di luar kepala permasalahan keluarga Evelyn. Tentang ibu Evelyn yang selalu jadi korban KDRT. Ayah Evelyn yang menikah lagi karena ingin memiliki anak laki-laki. Ibu Evelyn yang ditolak mentah-mentah dalam keluarga ayahnya karena tidak bisa melahirkan keturunan laki-laki. Meskipun ada berbagai alasan Evelyn membenci ayahnya, tetap saja Evelyn tidak bisa membencinya, karena ayahnya adalah sosok bapak yang baik bagi Evelyn meskipun telah gagal menjadi seorang suami.
Namun sebaik apa pun dia menjadi ayah, tidak bisa mengubah fakta bahwa dirinya menjadi sumber utama luka yang dialami dalam hati Evelyn. Menanamkan pemikiran dalam diri Evelyn sejak kecil bahwa dia tidak akan menikah.
“Tapi Ev, masalahnya sekarang udah beda. Lo tahu kan surat wasiat bokap lo apa isinya? Iya, bagian harta buat lo nggak akan dicairkan kalau lo nggak menikah.” Sofie geleng-geleng kepala. “Barangkali bokap lo tahu kali ya, lo ada keinginan nggak mau married. Makanya dia buat peraturan begitu.”
“Kayaknya balik ke plan A deh, gue bakal nyari di daerah Puncak, cowok yang mau gue ajak nikah. Semacam nikah kontrak gitu. Soalnya gue lagi butuh dana banget nih. Perusahaan gue nggak berhasil narik dana dari investor, lumayan kan kalau dana dari wasiat bisa cair. Bakal menolong gue banget.” Kalau bukan karena kepepet, sepertinya Evelyn akan melupakan uang itu. Masalahnya, Evelyn itu perempuan paling egois yang bakal menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
“Dih, ngaco lo! Nggak usah ngade-ngade lu ye, udah kayak kekurangan populasi cowok aja.” Rara segera membantah.
“Terus gimana? Bantuin gue mikir dong, ah! Lo berdua nggak guna ya gue panggil ke sini?”
“Makanya gue mau diajak ke sini karena kebetulan gue bisa menawarkan solusinya.” Biasanya, Rara paling ndablek kalau ditanya seputar solusi. Alhasil jawaban Rara membuat Sofia dan Evelyn saling berpandangan. “Kalian ingat nggak sih, gue pernah pedekate sama cowok namanya Langit?”
Sofie dan Evelyn berusaha mengingat-ingat, tapi nggak berhasil karena sebetulnya Rara sebelum menikah adalah definisi playgirl. Dalam seminggu, dia bisa pedekate sama 12 cowok sekaligus! Gimana Sofie dan Evelyn mau hapal?
“Ish, itu lho, gue pernah cerita kan ada cowok sekantor sama gue. Cakep, tinggi, baiiiiiik banget. Super-duper baik. Ngomongnya tuh lembut banget, tapi gagal pacaran sama gue karena katanya dia nggak punya keinginan nikah sama punya anak. Ya kali, mas ague mau serius, dia kagak. Jadi semenjak itu kita memutuskan buat temenan aja.” Ketika Rara menjabarkan itu, Sofie dan Evelyn samar-samar mengingat.
“Nah visi-misi kalian cocok, kan? Sama-sama nggak mau menikah. Terus dua hari lalu dia curhat sama gue, katanya dia dipaksa sama bibinya menikah atau dengan terpaksa bakal dijodohin sama seseorang. Habis itu tadi pagi, dia minta sama gue nyariin pacar. Minta dicomblangin, karena dia tahu gue punya banyak temen cewek.” Soal urusan pertemanan, Rara emang juaranya. Cewek itu primadona di segala tempat karena supel dan mudah akrab. “Lo mau nggak? Kalau mau, gue bisa temuin kalian berdua deh. Biar nyambung, enak ngobrol langsung, kan?”
“Cakep orangnya?” Tanya Evelyn to-the-point. “Kalau ada yang bilang cewek tuh nggak liat fisik, sori aja nih ya, gue tuh orang penting … seenggaknya nggak malu-maluin kalau diajak ke acara penting.”
“Honey, gue masih ingat jelas kriteria lo dalam memilih pacar, nggak mau menonjol atau lebih dari lo, nggak mendominasi, ganteng, tinggi. Pokoknya Alan masuk kategori itu. Lo percaya kan sama taste gue? Pilihan seorang Rara gitu lho nggak pernah salah.”
“Idih, heran ya, kok gue bisa berteman sama lo berdua? Sama-sama narsis, hwek.” Sofie berpura-pura mual.
“Sok ngomongin, giliran nangis dan butuh aja, nelponnya ke kita berdua. Muna lo!” celoteh Rara tidak terima.
“Ada fotonya nggak lo? Gue liat dulu deh.”
“Nggak ada, dia nggak pernah mau foto kalau ada pertemuan di kantor. Anaknya nggak narsis kamera. Sosmed aja nggak ada fotonya!"
“Ah masa nggak ada fotonya di sosmed?”
“Anaknya tuh old fashioned banger, anjir. Nggak up to date. Lo nanyain berita-berita yang lagi hits juga dia nggak tahu.”
“Boleh deh, bentar gue cek jadwal gue.”
“Tuan ratu dengan jadwalnya yang super sibuk,” sindir Sofie.
Evelyn membuka kalender di ponselnya. Mengecek jadwal. “Hari Minggu gimana? Pukul 10-an gitu di kafe Vresteck.”
“Dih enak banget lo asal buat jadwal, dimana-mana nih kalau ajak ketemuan harus menyamakan jadwal kedua belah pihak.”
“Halah, gue tahu jadwal rakyat jelata kayak lo semua jam segini mah nggak ada kegiatan apa-apa.”
“Kampret!” Kalau bukan Evelyn yang bilang, mungkin es jeruk di depan Sofie sudah melayang. Mereka kenal Evelyn itu gimana, kalau dibilang sombong, mereka nggak bisa memungkiri itu. Bahkan bisa dibilang, sombong seolah sudah mendarah daging. Namanya juga kaum privilege, kadang suka semena-mena.
“Okke, deal ya? Oh satu lagi—”
“Ya ya gue tahu, nggak boleh telat, kan?" Kali ini Rara yang menyambut dan membuat Evelyn terkekeh geli sambil mengacungkan jempolnya.
****
Anda Mungkin Juga Suka





