Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Langit dan Evelyn

Langit dan Evelyn

Evelyn mendambakan kebebasan selamanya tanpa pasangan, sementara Langit bersumpah menghindari komitmen pernikahan hingga akhir hayatnya. Meski sama-sama membawa luka masa lalu dan trauma mendalam, takdir justru menyudutkan mereka pada situasi sulit. Dua jiwa yang antipati terhadap pernikahan ini terpaksa berbagi atap dalam satu rumah yang sama. Di tengah ketakutan akan ikatan, mampukah mereka tetap tinggal bersama tanpa melibatkan perasaan cinta?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bukan Evelyn namanya kalau dia tidak mencari tahu dengan siapa dia berurusan. Kalau sudah menyangkut mencari latar belakang seseorang, Evelyn tidak bisa dikalahkan. Dia bisa menjelma menjadi Sherlock Holmes dadakan. Alhasil setelah bertanya ke Rara tetang nama lengkap Langit, dia segera mencari di mesin pencarian internet.

Langit Faresta Ganendra

Muncul profil Linked-In.

Evelyn menge-klik profil LinkedIn-nya. Hanya terlihat foto seorang cowok duduk dengan posisi menyamping sambil menyesap segelas kopi. Satu kata yang melintas di benak Evelyn, misterius. Lalu dia melihat pekerjaannya: Audit Manager. April 2015 - saat ini. Lulusan S1 Universitas Indonesia.

Gadis itu bersiul dalam hati. Dia lantas beralih mencari Instagramnya, ketemu. Tidak ada akun-akun tidak jelas yang dia follow, misalnya akun seperti lambe_turah atau awreceh, bagi Evelyn, kepribadian seseorang bisa dilihat dari daftar following-nya. Kebanyakan yang dia follow adalah akun tentang sepak bola, band-band klasik seperti Queen, The Beatles, Oasis. Oke, selera musiknya juga menarik. Untungnya lagi tidak ada akun cewek-cewek bertubuh seksi di daftar following-nya, kalau memang ada, Evelyn sudah bersiap-siap mencoret nama Lngit untuk menjadi pilihannya.

Ponsel Evelyn kembali berdering, chat dari Rara.

Rara:

Oi, Langit minta WA lo. Gue kasih ya?

Biar besok ketemunya nggak bingung.

Evelyn:

Ok.

Sebetulnya perasaan Evelyn deg-degan juga menyambut pertemuannya dengan Langit. Masalahnya ini kali pertamanya berurusan dengan hal seperti ini. Kalau bukan karena masalah harta wasiat, ogah rasanya Evelyn berhadapan dengan kaum laki-laki.

****

Hari H akhirnya tiba. Evelyn akhirnya terbangun setelah semalaman tertidur nyenyak, sengaja dia tidak begadang atau bekerja lembur, dia ingin memberikan penampilan terbaiknya. Prinsip Evelyn sejak dulu adalah selalu terlihat menarik dihadapan seseorang yang pertama kali ingin bertemu denganmu. Memberi kesan terbaik di pandangan pertama adalah hal mutlak. Gadis itu mengambil kaus berlengan pendek yang dipadu jas berwarna krim dengan model setengah engan. Dia juga mengenakan celana jins dan higheels senada warna jas.

Tak lupa menyapukan foundation, blush-on, eye liner, dan ombre merah dan nude.

“Pagi, Kak.” Bi Uti yang sedang menyapu pun menyapanya yang baru keluar kamar.

“Pagi juga, Bi.” Kalau ada gelar orang paling setia, Evelyn tak segan menyematkannya ke Bi Uti. Beliau sudah ada mengurus Evelyn sejak dirinya masih bayi merah berusia tiga bulan, bahkan hingga Evelyn memiliki rumah, Bi Uti setia pindah untuk mengurusi segala keperluannya.

“Nggak sarapan dulu, Kak?”

“Nggak usah, Bi. Buru-buru.”

“Hati-hati, Kak.” Evelyn meraih kunci mobilnya, memanaskan mesin beberapa menit dan melaju pergi. Hari minggu pagi, jalanan lenggang karena orang-orang sedang beristirahat dari rutinitas mingguan yang menyita pikiran dan barangkali sedang menghabiskan waktu untuk bersantai bersama keluarga.

Ponselnya berdering, ada chat masuk dari nomor tidak dikenal.

081272723xxx:

Pagi, saya Langit, kebetulan dapat nomor kamu dari Rara. Btw saya sudah di tempat ya, di meja nomor 17.

Evelyn mengangguk, satu poin plus; cowok itu tahu caranya menghargai waktu. Karena sejujurnya, salah satu kelemahan tinggal di kota metropolitan adalah orang-orang semena-mena dengan waktu. Mereka datang terlambat semaunya dan berlindung di balik alasan, “sori, tadi jalanannya macet.”

Evelyn:

Ok, 30 menit sy sampai.

Evelyn memacu gas kendaraannya. Sesuai dugaan, 30 menit berlalu, kendaraannya sampai tepat waktu di pelataran kafe Vresteck. Evelyn turun dari mobil dan berjalan dengan dagu terangkat. Satpam yang berdiri di depan, sejenak seakan terkesima dengan penampilannya. Evelyn mengibaskan rambut, justru makin menjadi-jadi menunjukkan pesonanya. Dia mengitari pandangan, menatap sepenjuru restoran dan berhenti di meja nomor 17. Seorang pria bertubuh tegap duduk menunggunya.

Gadis itu segera melangkah mendekat, suara ketukan higheels-nya menggema, menciptakan suara dramatis di kafe yang masih sepi pengunjung. “Permisi, dengan Mas Langit?”

Seseorang itu berbalik hingga Evelyn bisa dengan leluasa melihat wajahnya. Kata Rara, Langit orang yang old fashioned, tapi yang terlihat justru seorang cowok berpakaian kasual tapi tetap terlihat trendi. Mengenakan kaus berwarna hitam, celana jins, dan sneakers putih. Dia berdiri begitu melihat Evelyn, menyambut kemunculannya. Kulitnya putih bersih, rambutnya disisir klimis dan tertata rapi. Satu poin penting lagi. Karena Evelyn tidak suka dengan orang yang terlihat lusuh.

“Ya saya sendiri, kamu … Mbak Evelyn?” Suaranya terdengar agak berat dan dalam. Jenis suara yang bisa membuat seseorang betah berlama-lama untuk mengobrol dengannya bahkan berjam-jam.

“Yes, Evelyn aja please, nggak usah pake Mbak.”

“Oke, Evelyn, mari duduk.” Langit menarik kursi di seberangnya. Satu poin plus karena dia menunjukkan gestur sopan.

“Jadi bagaimana perjalanan dari rumah ke sini?” Cowok itu ikut duduk sambil tersenyum sampai matanya sedikit menyipit dan menunjukkan dagunya yang terbelah. Dan satu poin plus tambahan karena rupanya dia memiliki senyum yang rupawan.

Kali ini pilihan Rara memang tidak perlu diragukan lagi.

Proses penilaian dimulai. Pengalaman empat tahun bekerja di HRD atau Human Resources Development membuat Evelyn mampu menyaring orang-orang pilihan untuk bekerja di sebuah perusahaan. Alhasil dia tidak kesulitan untuk menilai karakter dari seseorang, termask laki-laki yang kali ini duduk di seberangnya. Evelyn suka melihat Langit mengucapkan terima kasih pada pramusaji yang selesai mengantarkan menu makanan, atau Langit yang reflex mengambil tisu ketika ada percikan kopi di sebelah piringnya.

“Jadi, kamu kerja jadi Internal Audit Manager? Cita-cita dari kecil?”

“Bukan.”

“Emang dulu cita-citanya mau jadi apa?”

Langit sempat terdiam, sebelum akhirnya menjawab. “Nggak punya cita-cita, let it flow aja, pekerjaan apa pun yang saya dapet bakal saya ambil kok.”

“Termasuk jadi tukang sapu?”

“Apa yang salah sama tukang sapu? Kalau nggak ada tukang sapu, jalanan pada kotor, karena orang-orang pada gengsi mau bersihin sampah di jalanan padahal bekas mereka juga.”

“Hm, nggak ada yang salah, sih, tapi emang kamu hidup nggak mau punya ambisi?”

“Ambisi sama obsesi beda lho ya.” Evelyn mengangguk. “Btw, kamu keren di usia muda udah jadi founder. Pasti capek, ya?” Evelyn terkejut dengan pertanyaan itu, karena biasanya orang-orang yang bertanya justru akan bilang, “Duh beruntung deh jadi kamu!” atau “Gimana sih caranya se-sukses ini?”

“Excuse me? Capek gimana maksudnya?”

“Yah iya, kamu udah berhasil di usia muda … pasti kehilangan banyak waktu, kan? Waktu main sama teman-teman, waktu istirahat, waktu buat leha-leha, waktu buat refreshing.” Evelyn sama sekali tidak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari bibir Langit. Namun di sisi lain, kalimat Langit terdengar seakan bisa membaca isi pikirannya. Perhatian Evelyn kembali berkelana.Langit punya tangan yang ganteng—oke bisa dibilang ini gila, tapi Evelyn suka salah fokus. Dia suka melihat urat kebiruan yang muncul di tangan seorang cowok, Evelyn menyebutnya dengan istilah tangan ganteng. Langit juga punya rahang tegas seta sepasang alis tebal di wajahnya. Pengalaman bekerja dalam HRD juga menjadi alasan mengapa penilaian Evelyn cenderung soal fisik.

“Kamu berapa bersaudara?” Evelyn mengalihkan perhatian.

“Anak tunggal, kamu?”

“Wow, kita sama. Nggak enak ya jadi anak tunggal? Nggak ada teman berbagi, nggak bisa curhat sama orangtua juga karena perbedaan usia dan canggung gitu deh.”

“Kalau dikasih kesempatan saya mau, sayangnya, orangtua saya meninggal waktu saya duduk di bangku SMP. Sampai sekarang saya tinggal sama Bibi, dan Bibi punya tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki yang semuanya udah menikah. Sisa saya doang.”

“I am sorry to hear that.”

****

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MXL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MXL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Andara meninggalkan kehidupan desa untuk merantau ke kota besar. Misi utamanya adalah menemukan sosok yang bertanggung jawab atas penderitaan sang ibu di masa lalu. Saat bekerja sebagai staf pembersih, ia justru menarik perhatian seorang CEO tampan yang menjadi pimpinannya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua di tengah perbedaan status sosial. Namun, ketika hubungan semakin dalam, berbagai rintangan besar muncul menguji kesetiaan mereka.
Sampul Novel DIGILIR PREMAN (Istriku Dibawa Kabur)
9.7
Kehancuran hidup Jovan dimulai saat ia kehilangan keluarga dan martabatnya. Sebuah surat misterius menyeretnya ke dalam pusaran dendam dan masa lalu yang kelam. Di tengah pelarian mencari jawaban, ia menemukan kekuatan untuk bangkit demi mengejar jejak istrinya yang menghilang. Ini adalah kisah perjuangan seorang lelaki yang harus melampaui batas kemampuannya demi mengungkap kebenaran pahit di balik pengkhianatan yang telah menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Gairah Sang Pemuas
9.1
Terhimpit masalah finansial, Gusti yang dulunya pemuda desa kolot bertransformasi menjadi pria kota yang menawan demi bekerja sebagai pemuas. Paras rupawannya sukses memikat banyak wanita, namun ia justru terperosok makin dalam ke sisi kelam Jakarta. Di tengah gemerlap kehidupan yang menyesatkan, ketakutan mulai menghantui Gusti saat teman masa kecilnya tiba-tiba muncul. Ia kini terjebak antara tuntutan hidup yang kejam dan bayang-bayang masa lalunya.
Sampul Novel I'm Baby Doll
8.1
Gea Mexalla adalah model seksi yang terjebak dalam lingkaran gelap industri hiburan. Demi popularitas, ia terpaksa menjadi budak seks bagi para sponsor. Saat ia mencoba berhenti dan fokus pada kariernya, Gea justru mengalami pemerkosaan oleh manajer serta sponsornya sendiri. Di tengah penderitaan itu, muncul Cale Vertoghen yang menyelamatkannya. Namun, pria ini adalah CEO kejam yang sangat terobsesi padanya. Mampukah Gea lepas dari jeratan para pria pemangsa tersebut?
Sampul Novel JIKA CINTA INI SALAH
8.8
Demi cinta, aku rela melepaskan segala kemewahan hidup. Namun, pengabdian tulusku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit. Kini aku terjebak dalam dilema besar: bertahan dalam pernikahan yang hancur demi kelangsungan hidup anak-anak remaja kami, atau berani melangkah pergi. Di tengah ketergantungan ini, muncul sebuah rasa baru. Pantaskah seorang ibu dengan dua anak seperti diriku membuka hati bagi cinta lain yang hadir menawarkan harapan?
Sampul Novel Playboy Itu Suamiku
8.9
Masa liburan yang seharusnya menjadi momen indah justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Renata. Tanpa diduga, ia menyaksikan pengkhianatan suaminya yang sedang memadu kasih dengan wanita lain tepat di depan matanya sendiri. Luka hati yang begitu mendalam membuat dunianya seketika runtuh. Kini, Renata terjebak dalam dilema batin yang menyiksa. Mampukah ia tetap bertahan dan menjaga martabatnya sebagai istri sah dari seorang pria yang tidak setia?