
Lama-lama Jadi Cinta
Bab 3
"Aaaa ...!"
Rini refleks berteriak ketika sebelah tangannya dipegang oleh Andre. Sementara ponselnya terjatuh begitu saja di atas ranjang. Padahal ia sedang asyik berteleponan dengan Agam.
"Kenapa? Enak kan?" tanya Andre sambil menaruh sebelah tangan Rini di atas perut sixpack-nya.
Ia sangat gugup dan buru-buru menarik tangannya. Ia terlihat salah tingkah lalu menggerutu pada Andre. Kedua matanya dengan cepat melotot tajam.
"Ce-cepat sana pakai baju!" suruh Rini sambil memalingkan wajah.
Sementara itu, panggilan yang sempat terhubung dengan Agam kini sudah terputus. Rini jadi kesal sendiri karena sambungannya diputuskan secara sepihak. Kemudian, sang suami berlalu menuju ke lemari pakaian.
Rini yang masih memakai gaun pengantin, berniat hendak ke kamar mandi untuk berganti. Namun, saat berdiri, Andre tiba-tiba mendekat padanya. Melihat wajah suaminya saja, ia sudah kehilangan mood.
"Dek, nih pakai," ucap Andre sambil menyodorkan handuk bersih ke arah Rini.
"Makasih!"
Buru-buru ia menuju ke kamar mandi dan menutup pintunya. Dari balik pintu, ia sangat gugup dan malah terbayang-bayang dengan kejadian tadi. Tangannya dipegang, lalu diletakkan oleh Andre di atas perut sixpack-nya. Kerlingan mata sang suami juga terlihat manja padanya. Harusnya, malam ini menjadi malam yang paling membahagiakan bagi sepasang suami istri. Namun, malam pertama malah tidak terlintas di dalam pikiran Rini karena merasa takut.
***
Benar saja, ternyata Andre tidak ada di dalam kamar ini setelah ia ke luar dari kamar mandi. Mungkin saja, laki-laki itu sedang ada di sofa ruang tamu untuk beristirahat. Di rumah ini hanya mereka berdua saja yang tinggal. Andre memang sudah membeli rumah sebesar ini untuk ditempati.
Ia duduk di atas ranjang sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Tiba-tiba, tatapan matanya teralihkan pada ponselnya yang berada di atas nakas. Rini agak ragu, apakah menghubungi Agam lagi atau besok saja.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Ia tidak enak mengganggu waktu istirahatnya Agam saat ini. Ia urungkan niatnya untuk menghubungi sang mantan.
"Besok aja deh."
***
Rini telah selesai mengerjakan Salat Subuh hanya sendirian saja di dalam kamar. Sementara itu, Andre sedang melaksanakan Salat Subuh di ruang tamu. Ia tidak mau melakukan salat berbarengan. Walaupun mereka berdua adalah suami istri, tapi tetap saja Rini ingin memberi penghalang jarak antara dirinya dan juga sang suami.
Tok! Tok!
"Assalamualaikum," ucap Andre dari luar kamar.
"Waalaikum salam," sahut Rini.
Setelah memberi salam, laki-laki itu masuk ke dalam kamar. Rini melepaskan mukena yang dipakainya, lalu merapikannya kembali.
"Dek, gimana tidurnya semalam? Nyenyak kan?" tanya Andre.
Rini mengangguk dengan cepat. Memang benar, semalam ia tidur nyenyak karena saking lelahnya menyambut para tamu yang hadir di acara pernikahannya itu.
"Alhamdulillah kalau gitu."
Mendadak suasana jadi hening di antara mereka. Andre tampak ingin berbicara sesuatu padanya. Namun, laki-laki itu sepertinya tak berani buka suara.
"Ada apa?" Rini inisiatif bertanya pada Andre lebih dulu. "Kalau gak ada yang mau diomongin lagi, mending ke luar aja."
"Aku mau minta tolong."
"Tolong apa?" Rini menaikkan sebelah alisnya dan menunggu kelanjutan Andre berbicara.
"Hmm ... tolong setrika bajuku, ya. Soalnya, aku mau mandi lagi dan siap-siap ke kantornya ayah. Bisa kan?"
Kewajibannya sebagai seorang istri tetaplah harus dijalani. Ia mengangguk ke arah sang suami dan bersedia melakukannya. Ia melihat Andre tersenyum manis padanya.
"Terima kasih," ucap Andre lagi sambil menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai menyetrika pakaian milik Andre, ia segera melangkahkan sepasang kakinya menuju ke arah dapur. Ia berencana akan memasakkan makanan untuk sang suami dengan bahan-bahan seadanya di dalam kulkas. Ternyata, isi di dalam kulkas banyak sekali. Ada buah-buahan, sayuran, minuman, dan cemilan lainnya di sana.
"Aku masak nasi goreng aja deh buat sarapan pagi ini. Nanti siang, aku akan masak yang lainnya."
Tanpa sadar, Rini malah tersenyum ketika memasak. Rupanya, aroma wangi dari masakannya tercium sampai ke dalam kamar. Alhasil, Andre tiba-tiba datang mengejutkannya yang sedang memasak.
"Wow, wangi banget masakan kamu. Pasti enak nih," ucap Andre.
Andre yang sudah siap berpakaian mengenakan setelan jas kini duduk di kursi. Sembari menunggu sebentar makanan dihidangkan di atas meja, tampak sang suami mengutak-atik ponsel. Andre tersenyum semringah ketika makanan sudah ada di depan kedua matanya. Rini mulai mengambil piring kosong dan menaruh secentong nasi serta telur dadar di atasnya untuk diserahkan pada sang suami.
Laki-laki itu bahkan menatapnya sampai tidak berkedip. Rini tampak biasa saja. Berkali-kali, Andre mencuri pandang ke arahnya dan ia sadar akan hal itu. Kemudian, ia juga duduk di sebelah sang suami untuk sarapan bersama. Mereka tak lupa membaca doa sebelum menyuap makanan.
"Dek, nasi goreng buatan kamu enak banget." Andre memuji masakan Rini.
"Makasih."
Hanya satu kata yang terucap dari bibir Rini. Ia bahkan sama sekali tidak menatap wajah Andre dan malah menatap nasi goreng saja yang ada di atas piring. Begitulah dirinya tidak bisa memaksakan perasaannya ini untuk memberi perhatian lebih pada laki-laki di sampingnya. Ia hanya melakukan tugasnya saja, sebagaimana seorang istri.
Selama makan, mereka berdua tidak saling bicara sampai makanan telah habis tak bersisa. Kemudian, Andre membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Dek, aku mau berangkat kerja dulu, ya. Kamu di rumah aja, jangan ke mana-mana," ucap Andre.
"Iya," sahut Rini singkat.
Mereka berdua sama-sama berdiri. Rini mencium punggung tangan sang suami dengan hormat dan mengantarkannya sampai pintu depan. Keduanya berjalan bersisian, walaupun tidak saling bicara. Ia melihat sang suami tersenyum lebih dulu padanya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikum salam," jawab Rini.
Ia melihat mobil sang suami sampai jauh dari pandangan mata. Kemudian, ia segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Terlintas dalam pikirannya untuk menghubungi sang mantan lagi.
"Nelpon Mas Agam ah ...."
Sambil berjalan dengan penuh semangat, Rini telah sampai di dalam kamar. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas lalu mencari nama Agam di layar. Tanpa menunggu lama, sambungan di antara mereka pun terhubung.
"Mas Agam, aku kangen sama kamu, Mas."
Rini langsung mengatakan kalau dirinya merasa rindu pada sang mantan. Ia bahkan tidak canggung apa pun pada Agam, walaupun sudah menikah dengan laki-laki lain, tetap saja sang pemilik hatinya adalah Agam.
"Aku juga kangen sama kamu, Rin. Gimana kalau kita ketemu aja?" ajak Agam melalui sambungan telepon.
"Ketemu, Mas? Sekarang kah nih?"
"Iya, sekarang. Apa kamu bisa, Rin?"
Anda Mungkin Juga Suka





