
Kutukan Cinta Pertama
Bab 2
Mas Haidar melepaskan tangannya dari mulutku dan dengan tiba-tiba menggantikannya dengan bibirnya. Aku kaget dan syok dibuatnya, tapi entah kenapa aku tidak menolak dan malah melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Cukup lama kami melakukan hal itu, "ini tidak benar mas!" ucapku sambil memalingkan wajah darinya.
"Ya! memang ini tidak benar, tapi kau dan aku menikmatinya. Lihat dimana saat ini kedua tanganmu berada," ujar mas Haidar.
Aku menyadari tanganku yang masih memeluk pinggangnya akhirnya segera mendorongnya menjauhiku.
"Aku masih mencintaimu, ra," ucap mas Haidar.
Jantungku berdegup kencang mendengar pengakuannya, sama seperti dulu saat dia mengungkapkan isi hatinya pertama kali.
Aku diam tak menjawab, ku kepalkan tangan untuk menahan gemuruh di dada. Bergegas aku membuka pintu kamar kecil itu dan kebur dari situ secepatnya.
Sepanjang acara hatiku kacau tidak menentu. Kemanapun arah mataku memandang, ada mas Haidar yang sedang menatapku. Oh Tuhan, ada apa dengan laki-laki itu!
Apa laki-laki itu bermasalah dengan istrinya hingga dia bisa berbuat macam-macam padaku. Untuk apa dia mengungkapkan isi hatinya padahal kami sama-sama memiliki pasangan. Aku dengar dari Laila, sampai sekarang maa Haidar juga belum memiliki buah cinta, sama seperti diriku.
Akan tetapi, meskipun aku dan mas Arkan belum memiliki keturunan hidup kami tetap berjalan biasa. Hanya satu yang membuat hidupku tidak bahagia, yaitu mimpi aneh yang selalu datang padaku. Dan sekarang mimpi itu hadir di dunia nyata.
Aku tidak bisa menikmati acara hari ini, pikiranku kacau aku ingin segera pulang. Pukul delapan malam, akhirnya kami menyudahi acara reunian kami. Aku segera mengekor Laila menuju mobilnya.
"Lara, maaf kamu tidak bisa bareng kami. Ibu mertuaku menyuruh kami langsung kerumahnya, arah rumahnya kan berlawanan sama rumah kamu jadi kami gak bisa antar," ucap Laila.
"Trus aku harus bareng sama siapa dong?" ucapku kebingungan
"Tadi aku sudah bilang sama Haidar, dia bisa anterin kamu,"
"Hah?" aku kaget mendengar penuturan Laila.
Belum sempat hilang kagetku, sosok mas Haidar terlihat berjalan kearah kami.
"Itu dia orangnya, aku pergi dulu yaa,"
"Haidar, titip Lara yaa!"
Laila berkata dua arah padaku dan pada mas Haidar, kemudian masuk ke mobil dan berlalu begitu saja.
"Aach...!" aku sangat kesal di buatnya.
"Ayo ikut ke mobilku," ucap mas Haidar saat sudah sampai di dekatku.
Aku hanya diam tidak menjawab, aku harus melewatkan sepanjang jalan dengan orang ini? mana bisa? tapi jika tidak ikut dengannya harus pulang dengan siapa?
Semua orang terlihat sudah meninggalkan tempat ini, waktu mulai beranjak malam. Mas Haidar masih setia menungguku mengikutinya.
"Ayolah... kamu mau disini sepanjang malam? Bersamaku?" ujar mas Haidar.
Mendengar perkataannya aku segera sadar, lebih baik aku pulang bersama daripada disini semalaman dengan dia.
"Ayo," ucapku pelan.
Bergegas kami menuju mobil mas Haidar yang terparkir tidak jauh dari tempat kami berdiri. Dia membukakan pintu mobil untukku, setelah menutupnya kembali dia segera menuju kursi kemudi dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
"Maafkan atas perbuatanku tadi," ujar mas Haidar memecah keheningan. "Aku tidak bisa menahan diri saat melihat dirimu. Setelah kamu menikah dengan orang lain, baru aku menyadari jika kamu berhaga buatku," mas Haidar melanjutkan ucapannya.
"Tapi itu salah mas! kita sama-sama sudah menikah. Itu namanya berkhianat! Gimana perasaan istrimu kalau tahu perbuatanmu!"
"Aku dan istriku sudah tidak bersama, meskipun kami belum bercerai." ucap mas Haidar hampir tidak terdengar.
"Kenapa?" secara refleks mulutku menanyakan hal itu, pertanyaan yang akhirnya aku sesali. Kenapa aku harus bertanya, kepo dengan kehidupannya? seharusnya aku diam saja.
"Aku melihatnya mengkhianatiku!"
Kali ini aku terdiam, aku tidak boleh banyak bertanya lagi. Istrinya berkhianat? benarkah? Aku jadi mengingat tahun terakhir mas Arkan berdinas, dia sempat terpikat dengan rekan kerjanya.
Entah mereka punya hubungan atau tidak, tapi mereka sering pergi bersama. Saat aku mengetahui kali pertama, aku marah, dan kecewa. Tapi mas Arkan bilang mereka tidak ada hubungan apapun, hanya teman kerja. Sejujurnya aku tidak percaya, tapi sudahlah... pikirku dosa di tanggung mereka sendiri, aku sudah berusaha mengingatkannya sebagai seorang istri.
Satu hal yang membuatku tidak cemburu buta pada mas Arkan, aku tidak mencintainya dengan menggebu seperti saat dulu pertama kali jatuh cinta. Rasaku pada mas Arkan lebih pada rasa hormat dan kewajiban karena karena dia suamiku. Aku rasa lebih nyaman memilihi rasa seperti itu.
Dulu saat jatuh cita pertama kalinya pada mas Haidar, aku begitu posesif. Aku tidak suka wanita manapun mendekatinya. Seluruh hatiku, kuberikan padanya hingga rasa sesak di dada saat dia meninggalkan diriku.
Meskipun aku menerima dan diam saat dia memutuskan hubungan denganku, tapi sebenarnya hatiku hancur. Air mata meleleh berhari-hari, berharap semua akan kembali. Dari jauh selalu ku tatap dirinya, berharap dia meraihku kembali, mengajakku balikan.
Hingga waktu wisuda tiba dan kami dipisahkan jarak, mas Haidar pergi untuk bekerja meraih apa yang dia cita-citakan. Saat itu baru aku sadar jika dia tidak akan menjadi milikku lagi.
"Bagaimana kehidupanmu dengan suamimu?" pertanyaan mas Haidar membuyarkan lamunanku.
"Kami baik-baik saja, kami bahagia!" jawabku pelan.
"Mulai sekarang kalian akan tinggal di kota ini?" dia bertanya lagi.
"He'em," jawabku singkat.
Mas Arkan sudah mengajukan mutasi setelah lima tahun berdinas di pelosok desa, dan disinilah kami sekarang, ketempat dimana masa lalu mulai membayangiku.
Cukup lama kami berkendara, hingga kami sampai didepan rumahku. Aku segera meraih smartphone milikku dari atas dashboard mobil mas Haidar, yang tadi digunakan untuk menunjukkan arah dimana aku tinggal.
"Terimakasih mas," ucapku sambil meraih handle pintu mobil dan hendak keluar. Tapi tiba-tiba saja mas Haidar malah menarik tubuhku dalam pelukannya.
"Tidak bisakah kita bersama seperti dulu lagi," ujarnya sambil memeluk erat diriku.
"Lepaskan mas! sudah terlambat, Jangan berpikir hal gila seperti itu!" ucapku meronta berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
"Harusnya dulu aku tidak melepaskanmu," dia trus berbicara tanpa berniat mengurai pelukannya.
"Mas, aku mohon... biarkan aku pergi, aku harus segera masuk kedalam. Suamiku menungguku,"
Dia merenggangkan pelukannya, segera aku dorong tubuhnya menjauh dari tubuhku. Bergegas kubuka pintu mobil dan berlari masuk ke halaman rumahku.
Sesaat aku menoleh memastikan dia tidak mengejarku, dengan tergesa-gesa kumasukkan anak kunci dan membuka pintu rumah kemudian menutupnya kembali dengan kasar.
Aku refleks melakukannya hingga mas Arkan yang ternyata sedang menungguku di ruang tamu sambil menonton televisi menoleh dan menatapku dengan heran.
"Ada apa ra? kenapa ketakutan seperti itu?" tanya mas Arkan sambil berjalan mendekatiku.
Aku menghambur kedalam pelukannya, ada rasa bersalah dalam hatiku, meskipun bukan sengaja mau mengkhianatinya.
"Kamu berlarian seperti melihat hantu saja," mas Arkan berkata lagi.
"Aku melihat hantu di seberang jalan sana mas!" ucapku sambil mengurai pelukanku kemudian berlalu meninggalkannya setelah rasa kacau di hatiku hilang setelah memeluknya.
****
Anda Mungkin Juga Suka





