
Kutukan Cinta Pertama
Bab 3
"Apa kau tidak merindukanku?" suara lembut itu menyapa indera pendengar ku.
"Aku sangat merindukanmu, sangat! sangat!" kali ini tangannya menyentuh dan meraihku dalam pelukannya. Hembusan nafasnya hangat menerpa pipiku.
"Ini hanya mimpi, ini tidak boleh! ayolah buka matamu Lara!" aku berteriak dalam hati, berusaha sekuat tenaga membuka mataku. Antara mimpi dan nyata itu yang aku alami, otaku mencerna jika ini mimpi tapi aku tidak bisa membuka mata. Dan akhirnya malah terlelap lagi dalam tidur.
Aku terbangun di pagi hari tanpa semangat, begitulah jika aku bermimpi aneh di malam hari. Hatiku sangat tidak nyaman dan melow sepanjang hari.
Aku raih smartphone milikku yang ada di atas nakas, ku cari sebuah nama.
[aku merindukanmu,] ku kirim pesan itu padanya. Setelah mengirim pesan itu hatiku terasa ringan, hilang sudah sesak di dada.
"Apa yang kulakukan!" aku berteriak dalam hati, bisa-bisanya aku mengirim pesan seperti itu pada mas Haidar. "Bodoh!" aku merutuk diriku sendiri.
Segera aku raih benda pipih tersebut dan hendak menghapus pesan itu. Terlambat! sudah terbaca, hatiku menjadi was-was menanti reaksi darinya.
[ Aku juga merindukan dirimu, Lara. sangat merindukanmu!] sebuah balasan masuk ke dalam ponsel milikku.
Aku tertegun membacanya, apa yang telah kulakukan?
"Serius banget lihatin layar handphone?" mas Arkan mengagetkanku. "Baca apaan sih?" dia bertanya lagi sambil duduk di sampingku.
"Biasa mas, habis reuni pada ramai di group," jawabku sambil meletakkan telpon pintar itu diatas nakas.
Mas Arkan terlihat segar sepertinya habis mandi, aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suamiku itu. sebelum berangkat kerja memang mas Arkan selalu menyantap sarapan yang aku buatkan untuknya.
Sepulang dari tempat mas Arkan dinas, aku memang belum memiliki pekerjaan. Dulu saat ikut mas Arkan, aku memilih mengabdikan diri sebagai guru honorer di sekolah yang ada disana. Pendidikan S1 jurusan keguruan dan ilmu pendidikan, membuatku bisa menjadi salah satu pendidik di sekolah itu untuk mengisi waktuku disana.
Setelah selesai membuat sarapan, aku ke kamar. Kulihat mas Arkan sedang memakai baju dinasnya, aku mendekatinya dan membantu mengancingkan bajunya. Setelah itu kami keluar kamar bersama menuju meja makan.
Kami sarapan bersama, lebih tepatnya aku menemaninya sarapan. Aku memang tidak terbiasa sarapan di pagi hari, hanya menemani mas Arkan sambil meminum teh hangat.
Setelah selesai sarapan, mas Arkan segera berangkat ke kantor. Aku mengantarkannya hingga di depan pintu, ku cium punggung tangannya saat dia berpamitan.
"Mas jalan kerja ya, mungkin hari ini terlambat pulang. Lagi banyak kerjaan," ucapnya sambil mencium keningku.
Setelah mas Arkan pergi, aku segera berlari masuk kedalam rumah dan mengambil smartphone milikku.
"[Maaf mas, aku salah kirim pesan, itu bukan untukmu]" ku balas lagi pesan tadi pagi.
"[Bohong! aku tahu itu pesan untukku, kamu juga masih mengingatku Lara! kamu juga merindukanku kan.]" tanpa menunggu lama balasan pesanku masuk.
"[Aku sudah menikah mas, kita tidak seharusnya bermain api! Kamu tahu rasanya dikhianati kan, aku tidak mau mengkhianati suamiku]" ku balas lagi pesan itu
"[Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu, Lara. Aku hanya butuh teman, aku membutuhkanmu sebagai teman, aku merasa nyaman denganmu] " dia masih kukuh membalas pesanku.
Aku hanya menarik nafas dalam-dalam, tidak ada pertemanan antara pria dan wanita yang sudah menikah mas. Kalau kau membutuhkan diriku sebagai teman, kalau kau nyaman denganku kenapa dulu kau meninggalkanku. Kata-kata itu hanya ku simpan dalam hati tanpa aku ungkapkan. Aku tidak berniat lagi untuk membalas pesan dari mas Haidar.
Ku hapus pesan darinya, dan akupun sejak awal tidak menyimpan nomornya, aku tadi mengirim pesan padanya lewat nomor dia yang ada di grup alumni.
Hari ini, mas Arkan benar-benar pulang terlambat. Hingga selepas maghrib dia tidak kunjung datang, aku menunggunya sambil membaca-baca novel dalam bentuk cetak. Ya, meskipun sekarang era digital. Semua sudah ada dalam smartphone, tapi kadang kala aku memilih membaca lewat buku.
Aku menyukai novel-novel romantis dan kisah cinta, sejak jaman kuliah dulu aku sering membelinya untuk dibaca dan di koleksi. Bahkan mas Haidar sering memberiku hadiah novel, apalagi jika penulis-penulis favoritku baru merilis novel baru.
Benda pipih disampingku berbunyi, kupikir pesan dari mas Arkan. Segera ku raih benda pintar tersebut dan akupun membaca pesannya.
[ Lara, aku didepan rumahmu] pesan dari mas Haidar.
Jantungku berdegup kencang, bisa-bisanya laki-laki itu datang ke rumahku, bagaimana jika tiba-tiba mas Arkan datang dan salah sangka terhadapku.
[Ngapain kamu kesini mas? bagaimana jika suamiku menanyaimu?]
[Aku akan bilang jika aku teman kuliahmu, kalau kamu tidak punya perasaan apapun padaku kamu tidak akan takut ketahuan suamimu] balas mas Haidar.
Benar juga, jika aku takut-takut ketahuan suamiku mas Arkan, maka dia akan yakin aku masih punya perasaan padanya. Tanpa pikir panjang lagi aku keluar rumah dan melihat mobilnya terparkir di depan jalan rumahku.
Melihatku membuka pintu, laki-laki itu keluar dari mobilnya. Dia terlihat membawa sebuah paper bag berukuran besar ditangan kanannya dan kemudian menghampiriku.
"Apa kamu tidak mempersiapkanku untuk masuk?" dia bertanya.
"Maaf mas, diluar saja. Lara tidak mau memasukkan laki-laki lain saat suami Lara tidak ada. Silahkan duduk di sini," aku mempersilahkan mas Haidar duduk di teras. Teras kami terhalang oleh pagar tembok setinggi badan orang dewasa.
Mas Haidar duduk si kursi yang ada di teras, aku duduk seberang meja.
"Ini buatmu," mas Haidar memberikan paper bag itu padaku.
Aku menerimanya dan membukanya, didalamnya terdapat beberapa buah buku yang cukup tebal, sepertinya novel.
"Sudah lama aku membelinya, jika teringat dirimu aku membeli novel-novel itu." mas Haidar menjelaskan tanpa diminta.
Aku diam tidak menjawab, bahkan ucapan terimakasih pun enggan keluar dari mulutku.
"Apa kau marah padaku?" tanya mas Haidar.
Aku menggelengkan kepala masih belum berniat berbicara dengannya.
"Aku tidak akan menganggu rumah tanggamu, aku hanya perlu teman yang membuatku nyaman. Tidak bisakah kita seperti dulu, bukankah saat kita bersama kita tidak pernah melakukan hal-hal yang terlarang?" mas Haidar masih berusaha berbicara denganku.
"Kenapa dulu kamu meninggalkanku mas?" akhirnya aku membuka suara.
Mas Haidar terdiam sejenak, kemudian menarik nafas dalam-dalam.
"Maafkan aku ra, dulu aku sangat berambisi untuk sukses dan hidup mewah, aku ingin mengejar mimpiku dulu. Aku tidak bisa segera menikah denganmu, sedangkan kamu dan orang tua mu menginginkan pernikahan secepatnya dan aku memilih untuk pergi darimu karena aku belum siap."
"Apa kau bahagia setelah meraih kesuksesan seperti sekarang mas?" ucapku bertanya.
"Apa aku terlihat bahagia?" dia malah balik bertanya.
Aku menoleh kearahnya, pandangan kami bertemu. Lagi-lagi muncul desiran halus dalam hatiku, aku segera memalingkan wajah darinya.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, aku cuma mau mengantarkan buku-buku itu saja," mas Haidar berpamitan dan berdiri dari duduknya.
Aku mengikutinya berdiri dan mengantarkannya hingga ke halaman. Tidak lama setelah kepergian mas Haidar, mas Arkan datang dengan mengendarai mobilnya. Aku masih berdiri di teras dan menunggunya turun dari mobil.
Setelah turun dari mobil, aku menyambutnya dan mencium punggung tangannya.
"Siapa itu tadi?" tanya mas Arkan
"Tukang paket anterin novel, tuh!" ucapku berbohong sambil menunjuk pada paper bag yang ada di atas meja. "ish... kenapa aku pakai berbohong pula pada suamiku," aku mengumpat kebodohanku dalam hati.
"Tukang paket pakai mobil pribadi?" mas Arkan bertanya.
"Entahlah..." aku berkata sambil bergelayut manja pada lengannya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





