
Kutemukan kebahagiaan ku
Bab 2
"Halo, Bu.. katanya Ibu pergi dari restoran sama pria seusia Ibu, ya? Ibu mau kemana, Bu?" tanya Sofia kepadaku.
"Eh, maafkan Ibu sofia. Ibu nggak enak harus tinggal di dekat Restoran dan ngerepotin kamu dan Reno. Ibu sudah menemukan gantinya Broto, lagipula kali ini Ibu aman-aman saja kok tinggal si ini," jawabku. Lagian siapa sih yang mengatakan jika aku keluar selarut ini dari Restoran? Apa Jangan-jangan Ike atau Mak Su?
"Oh, okay deh Bu. Besok Ibu tetap kerja di Restoran 'kan?" tanya sofia lagi.
"Besok, Ibu akan melangsungkan akad pernikahan ibu terlebih dahulu sofia. Kamu kalau mau datang, Ibu akan kirim lokasinya ya?"
"Boleh Bu. Jam berapa acaranya?"
Ketika seperti ini, aku benar-benar merasa bersalah kepada putriku, Sofia Vergara. Karena, ia benar-benar menyayangiku tanpa mengingat kembali bagaimana kesalahanku di masa lalu. Maafkan Ibu, Sof Begitu ujarku dalam hatiku, aku merasa terlalu berdosa jika aku terus mengusik kehidupan Sofia
"Bu?"
Lagi-lagi Sofia memanggilku, karena aku terdiam cukup lama. Jam 9 pagi, Sof.
Sof.. maafkan Ibu ya?" entah mengapa ingin sekali aku mengatakan hal ini kepada Sofia putriku. Aku benar-benar terharu ia masih perhatian seperti biasanya kepadaku.
"Sudahlah Bu, jangan bicara aneh-aneh. Sofia sudah maafkan Ibu, kok,"
"Terima kasih, ya, Mir,"
"Sama-sama, Bu."
Telepon terputus begitu saja. Ternyata sinyal di tempat Agus sedang melemah. Malam ini dingin sekali, aku hendak ke dapur untuk mencari mie instan untuk disantap.
Mas Agus juga berpamitan padaku akan ngopi dengan temannya sebentar. Aku hanya mengangguk. Mungkin, ia sedang berniat mengundang semua teman-temannya untuk acara akad pernikahan kami besok.
Bagas? Dia di sini. Untuk apa? Apa untuk menyapaku, Ibu tirinya yang bohay ini? Ahaha, jiwa mudaku selalu saja muncul setiap kali aku melihat daun muda yang macho dan berjambang seperti Bagas. Jujur saja, aku menyukai seseorang yang berjambang sejak aku masih muda dulu.
Ceritanya, aku gagal menikah dengan pria yang berjambang itu karena restu orang tua. Dan, sampai sekarang ketika aku melihat sesosok pria berjambang aku akan otomatis menyukainya karena itu mengingatkanku dengan mantan pacarku bernama Wiro.
"Bagas? Kamu mau Ibu buatkan mie instan juga?" sapaku. Mudah-mudahan Mas Agus belum pulang atau begadang di warung kopi yang katanya tempat ia bertemu dengan teman-temannya itu, aku masih ingin bicara banyak dengan sosok Bagas.
"Apa nggak ngerepotin, Bu?" tanyanya. Entah mengapa jantungku berdetak begitu kencang ketika mendengar suara pria yang bisa di sebut brondong manis itu.
"Nggak kok."Bagas pun menunggu di meja makan layaknya anak kecil. Ia sibuk dengan ponsel nya dan memainkan game sembari menungguku selesai. Setelah beberapa menit akhirnya aku selesai juga memasakkan semangkuk mie instan untuk Bagas.
"Ayo, Gas. Di makan dulu," ujarku. Bagas lantas meletakkan ponselnya di atas meja makan.
"Gimana enak?" tanyaku.
"Enak, Bu." Jawabnya singkat.
"Adelia mana, Gas?" tanyaku."Adelia sudah tidur Bu bersama Nanda,"
"Nanda?" Aku mengernyitkan dahiku. Karena aku bingung siapa Nanda yang dimaksud? Apa mereka sudah punya anak?
"Putriku."
Oh benar ternyata, Bagas sudah mempunya seorang putri. Sedari tadi aku belum melihatnya, mungkin bayi mungilnya masih tidur.
"Gas, kalau sudah makan, piringnya taruh saja biar Ibu yang bereskan," perintah ku kepada Bagas. Ia hanya mengangguk tak bisa kupercaya Bagas benar-benar cuek.
Selesai makan ia tidak mengucapkan terima kasih padaku. Benar-benar! Lihat saja nanti kamu akan kepincut dengan ibu tirimu yang seksi ini, hihi.
Pagi sekali aku terbangun, Mas Agus sudah tidur di sebelahku, memelukku begitu erat. Pagi ini kami akan melangsungkan akad pernikahan kami. Maka aku pun memaksakan diri untuk menggeser tangan kekar Mas Agus..yHehe. Namun, ketika aku ke dapur aku dikejutkan oleh Adelia. Ia menggendong putrinya sembari membuatkan secangkir kopi." Adelia?" sapaku.
"Iya, Bu. Ini Mas Bagas minta di bikinin kopi, jadi saya bikinkan sebentar."
Huff...
Kesal rasanya, kenapa Bagas nggak bilang kalau Adelia sudah membuatkan secangkir kopi untuknya? Aku jadi malas rasanya. Brondong muda itu menyebalkan. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku. Lalu pergi ke kamar mandi.Apes, apes. Terus saja aku mengumpat dirimu dengan cercaan kasar. Aku benci kenapa aku tidak mikir, harusnya aku tidak perlu membuatkan secangkir kopi untuk brondong muda itu. Ia masih punya istri yang perhatian.
Selesai mandi, Mas Agus sudah bersiap. Kami akan melaksanakan akad nikah. Sejam lagi. Beberapa orang dari pihak catering sudah mengantarkan 200 nasi kotak. Untuk acara ini.
Mas Agus tersenyum dan menyapaku. "Gimana Ni, kamu suka 'kan dengan bajunya?"
"Baju apa, Mas?"merah, memang cantik sekali.
Aku yakin ini pasti mahal, kainnya juga bagus dan rapi. Aku pun memakainya. Bercermin layaknya anak-anak remaja. Haha bodyku gak kalah dengan si Adelia yang baru anak satu dan usia dua puluhan itu.
Setelahnya aku keluar dari kamar. Kini tubuhku mulai kembali asal setelah sebelumnya aku kurus kerontang ketika bersama Broto dan anaknya. Sesampainya di luar, aku terkejut karena Mas Agus sedang bercakap-cakap dengan Broto. Seseorang yang baru saja aku ucapkan.
Menghianatinya? Radit juga seperti orang-orang gedongan semenjak ia tinggal bersama Reno. Mungkin Reno dan Sofia menjaganya dengan sangat baik. Hingga Radit menjadi tampan dan gagah berisi.
"Ni, Nini.."
Deg.
Disaat aku tidak ingin bertemu Broto ataupun Dina, Agus justru memanggilku. Huh.
"Sebentar, Mas. Aku masih sarapan..." teriak Henny dari dalam ruangan. Agus pun tak menyahut lagi.
Ia kembali bercakap-cakap dengan Broto dan juga Radit yang baru datang. Selama akad pernikahan pun, Henny memilih untuk menggunakan masker agar Broto tak menyadari siapa dirinya. Bahkan ia berusaha untuk menghindari kerumunan orang-orang yang kenal padanya dengan alasannya sendiri. Iamasih bingung memikirkan cara agar ia tidak menyambut tamu, dari alasan sakit perut, berlama-lama di kamar mandi sampai beralasan tidak enak badan.
"Mas, kamu nggak datang ke pernikahan nya Pak Agus?" tanya Sinta kepada Bagas.
"Oh, Pak Agus yang pesen baju pesta kemarin itu ya, Dik?"
"Iya, yang pesen baju buat istrinya itu. Kamu datang gih, biar aku di rumah jaga Diana," pesan Sinta. Bagas pun mengangguk, ia bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan Pak Agus salah satu pelanggan setianya.
Setelah beberapa lama ia berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke sana. Sinta pun tersenyum, semenjak punya anak, Bagas suaminya berubah drastis. Ia lebih perhatian, dan lebih sayang akan Sinta.
"Dik, Mas berangkat dulu ya?"
"Iya, Mas. Hati-hati," jawab Sinta. Bagas lantas mencium Diana dan kening istrinya. Ia juga tampak lesu karena harus berpisah dari Diana. Bagas sejauh ini amat sangatlah menyayangi Diana layaknya anaknya sendiri. Ia bahkan meminta Sinta untuk tidur bertiga dengan bayi mungil itu.
Dua puluh menit perjalanan, Bagas sudah tiba di rumah Agus. Acara akad tampaknya sudah selesai, sekarang adalah ramah-tamah. Semua orang tampak kumpul menyantap makanan. Bagas memarkir sepeda motornya.
Pergi ke dalam menemui Agus. "Permisi, Pak Agus.." panggilnya.
Seorang perempuan datang menghampiri dirinya. "Bagas?"
Bagad hanya tersenyum. Dina? Kamu di sini?" tanya Bagas" Iya, ini hadir di acara pernikahan pamanku,"
"Paman?"
"Iya, Pak Agus itu masih pamanku,"
"Oh."
Bagas tak menyahut lagi, Agus pun kini menemuinya. "Wah, Pak Bagas penjahit konveksi ya?" sapanya.
"Iya, Pak. Maaf saya telat, tadi saya kesiangan semalam anak saya sejenak untuk melihat putrinya. Karena Adelia istrinya masih berkutat di dapur.
Para tamu juga banyak yang pulang, kecuali Broto dan anaknya, Sofia Reno dan Radit juga masih setia menunggu Henny untuk keluar dari kamarnya. Wanita paruh baya itu sedari tadi tak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
"Ibu kenapa nggak keluar, Dik?" tanya Reno.
"Malu ke bapak kali, apalagi itu ada mantan suaminya," ujar sofia. Radit hanya tersenyum." Kenapa harus sembunyi yamakmu itu?"
"Mungkin canggung Pak,"
"Masa canggung? Untuk apa? Sedari tadi dia cuma pakai masker, bolak-balik keluar ke dalam nggak nemuin kita," ketus Radit.
"Iya, biasa Pak. Lihat Bapak berbeda mungkin,"
"Itu Bagas, sof. Semua orang kumpul di sini, mungkin itu alasan Mak Nini nggak mau keluar," ujar Reno yang menunjuk ke arah Bagas di luar ruangan.
"Pengecut mah dari dulu," ujar Radit dengan kesal.Tak beberapa lama, Sofia dan Reno berpamitan untuk pulang, Agus pun memanggil Henny kembali. Wanita paruh baya itu akhirnya keluar juga.
"Bu, ibu sakit?" tanya Sofia.
"Iya, Ibu mules nggak enak badan," jawab Henny dengan memakai maskernya. Ia berbicara lirih. Radit hanya berjalan mendahului Mira. Malas rasanya dengan alasan Henny. Setelahnya, Agus juga meminta Henny untuk mengantar Sofia dan Reno.
Ketika di depan, Dina dengan sengaja mendatangi Henny. Henny mau menghindar tapi-mana mungkin. "Tante sakit apa?" sapa Dina.
"Loh, sofia?? Sofianya MS.Za Restoran 'kan?" sapa Dina.
"Kok baru sadar, iya aku sofia ," ujar sofia
"Nggak kamu berisi banget, beda sama kemarin-kemarin," ketus Dina.
"Eh aku kan emang lagi isi? Bentar lagi setelah empat bulanan udah mau lahir kok," jawab Sofia
"Tunggu, tunggu berarti " Dina dengan lancangnya menarik masker Henny dan menurunkan nya kebawah."MAK NINI??! KAMU YA?" teriaknya. Henny terkejut. "Ada apa? Kenapa kamu bentak ibu saya?"
"Heh! Diam kamu! Mak
harusnya kamu itu bela bapak, bukan malah nikah lagi sama pamanku!" Dina dengan beringasnya menarik rambut Henny, Henny berteriak dan menarik rambut Dina, keduanya sama-sama saling menjambak. Reno dan Bagas datang untuk melerai. Sofia hanya menghindari pertengkaran itu, khawatir jika ia akan dijadikan bahan salah sasaran.
Semua tamu undangan melihat ke arah mereka. Bagas pun sama. Ia baru menyadari jika Reno dan Sofia bersama mantan ayah mertuanya juga di sana.
"Cukup! Cukup!" bentak Agus.
Dina pun melepaskan cengkramannya di rambut Henny.
"Apa-apaan ini! Bikin malu aja! Kenapa kamu serang Henny Din?!" bentak Agus.
"Om, ini tuh mantan istrinya bapak, dia yang buat bapak dipecat!" bentak Dina. Agus menggaruk-garuk kepalanya. Reno juga ikut andil di sana. Bapak kamu dipecat karena bersama karyawan saya! Bukan karena Mak Nini," jelas Reno.
Sofia pun mengangguk setuju atas suaminya. Radit masih malas, ia memilih untuk duduk di mobilnya. Tak menggubris Henny sama sekali.
"Tetap saja! Harusnya Mak Nini perjuangkan bapak! Bukan seenaknya cari suami lagi, Mak ganjen!" bentak Dina yang lagi-lagi menarik rambut Henny.
"Awh sakit!" teriak Henny memelas.
"SUDAH DIN!" bentak Agus lagi. Dia melakukan asusila di kamar bersama karyawan saya! Bukan karena Mak Nini," jelas Reno.
Mira pun mengangguk setuju atas ucapan suaminya. Radit masih malas, ia memilih untuk duduk di mobilnya. Tak menggubris Henny sama sekali.
"Tetap saja! Harusnya Mak Nini perjuangkan bapak! Bukan seenaknya cari suami lagi, Mak ganjen!" bentak Dina yang lagi-lagi menarik rambut
"Awh sakit!" teriak Henny memelas.
"SUDAH DIN!" bentak Agus lagi.Adelia yang melihat ramai nya pertengkaran itu juga mendekat sembari menggendong Nanda putrinya. "Ada apa, Yah?" tanyanya.
Agus menghela nafasnya penuh. Broto tidak ada di sana, pria itu sedang berbicara dengan seorang tamu undangan di belakang.
"Sudah! Sudah! Kalau Mas Broto sudah selingkuh dan berbuat asusila apalagi yang mau dibahas, Din? Mak Nini ini istri Om. Kamu nggak berhak menghakimi dia!"
Dina hanya merengut. Ingin Setianya. Ia lantas memilih untuk berbicara dengan Bagas di sudut halaman.
"Kamu menantu tirinya Ibu Nini?" tanya Bagas kepada Bagus.
"Iya, Mas. Ada apa ya?"
"Titip ya? Jangan mau kalau sampai dia ajak kamu yang aneh-aneh kasihan istri dan anak kamu," pesan Bagas tiba-tiba. Bagus melongo. "Aneh-aneh apa ya, Mas?" tanyanya lagi. Bagas menghela nafasnya penuh.
"Pokoknya kamu harus bisa jaga diri, demi anak dan istrimu, apalagi ayah mertuamu." Bayu masih menggaruk kepalanya.
"Bu Nini itu perhatian ke aku, Mas," ceritanya.
"Iya, justru itu yang kutakutkan," ujar Bagas lagi.
Bayh seolah penasaran dan kembali bertanya. "Takut apanya Mas? Saya nggak kira suka dengan Bu Nini kok,"
"Kamunya nggak. Takutnya Bu Nini," lirih Bagas lagi. Bayy tampak berpikir keras. Ia pun mengangguk.
Beberapa lama kemudian.. Sofia dan Reno sudah pulang. Dina masih berseteru dan Agus Berusaha melerai Dina dan Henny di antara beberapa tamu undangan yang ada.
"Cukup! Dina! Berhenti
menyerang istri Om terus! Kamu kalau ga suka jangan main fisik!!!" bentak Agus dengan lantang.
"Aku nggak suka sama Mak Nini, Om! Dia sudah ngabisin uangku, tapi dia nggak pernah mau ganti uangku!" seru Dina dengan lantang.
Agus mengambil uangnya dan memberikan kepada Dina." Ini ambil! Jangan ganggu Tante kamu lagi!" perintahnya. Dina membuka amplop tersebut, ada uang cukup banyak di dalamnya. Ia pun tersenyum senang. "Oke, makasih. Om."
Semua tamu undangan hanya melongo melihat ke arah keduanya. Dina tampak senang dan seketika berpamitan untuk pulang kepada Agus, ia juga memanggil Broto bapaknya untuk pulang bersamanya.
Mata Dina seolah tidak pernah rela jika Agus, Omnya menikah dengan Henny. Ia masih memandang Henny dengan tatapan sengit. Meski, akhirnya Henny mengalah ia memilih untuk masuk ke dalam.
Sore harinya, Agus duduk di teras bersama Henny. Keduanya mengobrol banyak mengenai histori mereka masing-masing."Ni, kamu kenal Broto di mana?" tanya Agus.
"Ga sengaja kenalnya kok, Mas. Kenapa?" tanya Henny. " Kamu masih cinta nggak sama si Broto?" tanya Agus lagi. "Nggak, Mas."
"Apa benar dulu kamu sudah menghabiskan banyak uang Dina?"
"Nggak Mas, itu salah Broto. Aku menikah dengan Broto, tapi Broto malah minta uang ke Dina, Mas."
"Huff.. " Agus menghela nafasnya penuh. Kemudian ia mulai berbicara sesuatu yang membuat Henny salah tingkah sendiri.
"Ni, kamu tahu Bagas 'kan?"
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Menurut kamu, Bayu menantu kita itu ganteng nggak?"
"Ganteng kok, Mas. Kenapa? Kok Mas tanya aneh-aneh?"
"Masa aneh sih? Bayu itu mau di ambil jadi tokoh terkenal di televisi nasional, katanya dia ikut casting online. Menurut kamu cocok ga?"
"Serius kamu, Mas?"
"Iya.. Oh ya Ni. Nanti kalau mantan istriku datang, kamu jangan sewot ya? Aku dulu nggak pernah cinta sama dia kok,"
"Mantan istri? Ngapain dia kesini, Mas?"
"Biasanya sih nengokin cucunya. Dia juga sudah punya suami kok, jadi kamu cukup tenang aja. Nggak usah marah-marah kalau dia ngomongnya agak ngelantur ya?"
Henny masih hanya menatap Agus dengan malas. Kenapa harus mantan istrinya bertamu ke rumahnya? Padahal Henny berharap malam ini ia bisa
"Iya..
"Mas, kamu kenapa? Pulang-pulang kok wajahnya masak gitu?" tanya Sinta dengan heran.
Bayu hanya menghapus air matanya. Ia melirik ke arah Diana yang tertidur pulas di atas box bayinya.
"Sin.. kalau aku cerita ke kamu? Kamu nggak akan benci * kan punya suami kek aku?" tanya Bagas dengan menghela nafasnya penuh.
"Nggak kok, Mas. Ada apa sih Mengingat mereka baru saja menikah, sepertinya ada hal lain yang harus mereka lakukan terlebih dahulu.
Hari ini Bagas dikejutkan oleh hasil pemeriksaan alat reproduksinya. Temannya dengan berat hati mengatakan jika ia memang memiliki kelainan dan ia positif mandul.
Bagas pun merasa tidak berharga menjadi seorang laki-laki, terjawab sudah ketakutannya jika ia benar-benar tidak bisa menghasilkan keturunan lagi. Ia pulang dengan berderai air mata,?" Sinta mengernyitkan dahinya dan penasaran.
"Soal hasil test organ reproduksi Sin.." ujar Bagas dengan lirih. "Kenapa hasilnya kamu mandul, Mas?" tanya Sinta. Bagas mengangguk lemah.
"Iya, aku mandul. Mungkin ini juga salahku kenapa aku dulu sering seenaknya menyalahkan Mira kenapa ia tidak kunjung hamil. Ternyata memang aku yang mandul, aku layak kok mendapatkan ini semua," tunduk Bagas.
Sinta mengusap pundak Bagas dengan tersenyum. "Mas, kamu yang sabar ya? Semuanya itu cuma prediksi, ga ada sesuatu yang mustahil kalau Tuhan mau," hibur Sinta.
"Tapi, aku gagal jadi laki-laki sejati, Sin," tangis Bagas memecah. Ia memeluk istrinya dengan sesenggukan.
"Mas, sudah.. walau kamu tidak bisa memberikan aku keturunan pun, aku nggak masalah kok,"
Bagas semakin terharu dan memeluk Sinta dengan sangat erat. "Makasih ya Sin, maafkan aku kalau aku awalnya menikahi kamu hanya sebagai penutup aib sendiri, aku tau aku salah, aku pantas kok mendapatkan hukuman ini," keluh Bagas dengan menangis sejadi-jadinya.
Sinta tersenyum. "Memang maksud kamu menutup aibmu sendiri itu apa sih, Mas?" tanya Sinta lagi.
"Maksudku aku dulu dibenci karena pernah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan seorang anak hingga aku harus berselingkuh dengan mertuaku, kamu tahu 'kan? Sejak saat itu aku ditolak bekerja dimanapun, hingga aku harus terpaksa mencari hidupku kembali dengan cara menikahi kamu, aku tahu itu adalah hal bodoh yang amat sangat memalukan, aku menyesal. Mulai sekarang kamu jaga Diana ya untuk kita? Aku akan bekerja keras untuk dia, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk gadis ku, kamu mau 'kan maafkan aku?" cerita Bagas panjang lebar dengan memohon maaf kepada istrinya yang masih setia mendengarkan curhatan nya.
"Santai aja, Mas. Aku sudah tahu kok, aku justru berterima kasih, meski aku dinikahi kamu karena sebuah alasan tertentu untuk keuntunganmu sendiri, tapi akhirnya aku bebas Mas, aku bebas dari jerat bapak angkatku,"cerita Sinta.
"Bapak angkatmu di panti asuhan dimana kamu di besarkan itu? Emang ada apa?" Bagas menatap kedua netra istrinya dengan heran.
"Aku sering dirayu mas, di paksa untuk melakukan hubungan intim dengan dia, karena katanya biaya hidupku saat aku SMA di panti itu besar, apalagi katanya aku ini seksi Mas, meski secara wajah aku emang nggak secantik Mbak sofia," keluh Sinta.
Bagas mengelus dadanya dengan perlahan. "Kamu nggak marah 'kan, Sin? Aku sayang kamu, Sin. Apapun yang terjadi, aku mau rumah tangga kita awet untuk selamanya, aku mau berubah. Aku harus bisa menghargai sisa waktuku untuk berbuat kebaikan demi anak-anak ujar Bagas lagi. Hingga membuat Sinta terkejut.
"Mas, kamu mau pergi kemana? Kok bilang gitu?"
Bagas menggelengkan kepalanya. Ia lantas mengulas senyumnya. "Aku nggak mau pergi kemanapun Sin, aku hanya ingin berubah untuk anakku dan kamu, Diana Putri kecilku,"Aku juga bukan laki-laki yang lahir dengan nol kesalahan, aku pernah berbuat sesuatu yang melanggar aturan. Dan aku, harus bangkit setidaknya untuk diriku, kamu dan Diana,"
Sinta tersenyum lega. Tapi tiba-tiba bayi kecil mereka menangis. Hingga akhirnya Sinta memutuskan untuk memberinya sebotol susu Formula. Bayu tersenyum, setidaknya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik.
Di lain sisi, Henny sedang menghitung uang di amplop yang diberikan Agus, suaminya. Pria Itu juga masih terlelap, dan kamar Henny juga di ketuk tiba-tiba.
Tok.
Tok.
Henny pun beranjak dan membukakan pintu kamarnya. Ia terkejut karena Bayu berdiri di depan kamarnya dengan setelan baju piyamanya.
"Bayu?" tanyanya.
Anda Mungkin Juga Suka





