
Kupu-kupu Sang Miliarder
Bab 2
"Biarkan dia mencari uang lebih banyak untuk kita,” ucap Elma.
Braak
Ferdi memukul meja makan dengan sangat kencang, dia sangat marah mendengar Elma mengatakan hal itu lagi, ya ini bukan pertama kalinya Elma mengatakan agar Niela bekerja seperti kebanyakan wanita yang tinggal di sana.
“Ayah jangan khawatir sampai kapan pun aku tidak akan menuruti apa yang Ibu katakan,” ucap Niela.
“Langkahi dulu mayatku jika kau ingin melakukan itu kepada putri kesayanganku!” ucap Ferdi dengan tatapan tajamnya sambil menunjuk wajah Elma lalu Ferdi pergi karena dia tidak ingin semakin lepas kendali saat berhadapan dengan Elma.
“Dasar benalu kau puas melihat aku dan suamiku bertengkar terus gara-gara ulahmu?” tanya Elma.
“Maaf Bu, aku tidak bermaksud untuk membuat ayah dan Ibu bertengkar, tapi ....”
“Persetan dengan semua itu yang terpenting untukku, kau harus mendapatkan uang yang banyak dan bisa memenuhi semua keinginanku,” ucap Elma menyela lalu dia segera mengambil tasnya dan pergi.
“Kapan semua ini berakhir, masih ada waktu beberapa jam lagi aku masih sempat untuk mencari pekerjaan yang lain,” ucap Niela lirih sambil melirik jam dinding yang ada di dapur, dia kembali melanjutkan pekerjaannya karena Niela akan pergi lagi untuk mencari pekerjaan tambahan.
***
“Mama gak bosan terus jodohin anak itu? Nanti ujung-ujungnya dia nolak lagi,” tanya seorang pria paruh baya yang saat ini sedang membaca koran di ruang tamu rumah mewahnya.
“Gak, kali ini dia harus mau menikah sama perempuan pilihan Mama, pokoknya sekarang Mama gak mau dengar penolakan dia lagi,” jawab sang istri.
Pasangan suami istri itu bernama Haris dan Danira.
“Ma, aku pergi lagi soalnya ada meeting penting.” Haris dan Danira menoleh saat mendengar suara sang putra.
“Kamu tuh ya, gak betah banget diem di rumah ini udah sore sebentar lagi juga jam pulang kantor,” ucap Danira kepada sang putra.
“Kalau aku gak kerja Mama gak bisa shoping beli barang branded,” ucapan putra mereka membuat Haris tertawa dengan kencang.
“Papa, kok malah ketawa sih,” ucap Danira dengan kesal.
“Emang bener,” ucap Haris.
“Pa, aku berangkat,” ucapnya lalu dia pergi.
“Darren jangan lupa nanti malam temenin Mama makan malam sama, Mega!” pekik Danira tapi sang putra tidak menghiraukan panggilannya sama sekali.
Darren Alvaro Prayudha, seorang CEO muda yang memiliki paras tampan namun selalu memasang wajah dinginnya kepada semua orang, bahkan Darren terkenal sebagai pemimpin yang tegas dan selalu menginginkan pekerjaan yang sempurna.
“Berkas untuk meeting sudah siap?” tanya Darren kepada Albert saat dia sudah sampai di kantor.
Albert adalah sahabat Darren sekaligus orang kepercayaannya, kedua pria itu sama-sama memiliki paras yang tampan namun kepribadian mereka sangat jauh berbeda. Darren benar-benar sangat acuh kepada semua orang tanpa pandang bulu dan tidak peduli pria atau wanita, sedangkan Albert selalu bersikap seenaknya. Satu lagi, julukan sang penakluk wanita pun sudah sangat melekat pada Albert.
“Semuanya sudah aku siapkan,” jawab Albert.
“Ada meeting lagi?” tanya Darren.
“Tidak,” jawab Albert mereka pun masuk ke ruangan meeting.
Satu jam telah berlalu meeting pun selesai, kini hanya ada Darren dan Albert yang ada di ruangan itu.
“Mau ikut denganku?” tanya Albert.
“Ke mana?” tanya Darren.
“Ke tempat yang bisa melepaskan keperjakaanmu,” jawaban Albert membuat Darren melayangkan tatapan tajamnya karena ini bukan pertama kalinya Albert mengatakan hal itu kepada Darren.
“Stupid!” maki Darren.
“Kau pengecut, Darren!” ucap Albert.
“Lebih baik aku jadi pengecut menurutmu dari pada aku ganti teman tidur setiap malam sepertimu, aku tidak sudi,” ucap Darren.
“Kau harus tau Darren, itu sangat menyenangkan,” ucap Albert dengan mata yang berbinar.
“Cih! Sangat menjijikan!” Darren lalu beranjak dari tempatnya.
“Ayo ikut aku!” ucap Albert sambil menarik lengan Darren.
“Tidak!” ucap Darren sambil menepiskan lengan Albert dengan kasar.
“Ayolah kali ini saja, jika kau tidak ingin bermain-main maka temani aku minum sebentar,” ucap Albert terus memaksa Darren. Akhirnya sambil menghela nafasnya dengan panjang Darren menuruti ucapan sahabatnya.
***
“Niela, kamu mau ke mana?” tanya Tian saat melihat Niela keluar dari gang rumahnya dengan membawa tas.
“Mau cari kerjaan,” jawab Niela.
“Emangnya kamu udah gak kerja di cafe?” tanya Tian.
“Masih, tapi aku mau cari tambahan yang lain soalnya ya gitu lah,” jawab Niela.
“Ya udah aku antar,” ucap Tian.
“Emangnya gak ngerepotin kamu?” tanya Niela.
“Enggak lah makanya aku tawarin tumpangan,” jawab Tian.
“Oke deh ayo,” ucap Niela lalu Tian kembali ke rumahnya untuk mengambil motornya setelah itu mereka pergi.
Niela dan Tian mendatangi hampir semua tempat yang memungkinkan, namun belum membuahkan hasil hingga mereka berhenti di salah satu tempat.
“Niela, kamu serius mau kerja di tempat kayak gini?” tanya Tian, tempat yang mereka datangi adalah club malam.
“Gak tau Tian, aku mau coba tanya aja ke dalem siapa tau mereka butuh karyawan baru,” jawab Niela.
“Tapi gak di sini Niela, kamu tau kan itu tempat apa?” tanya Tian.
“Iya aku tau, tapi kan gak ada salahnya mencoba aku juga capek dari tadi muter-muter terus tapi belum ada kerjaan yang dapat ini juga udah hampir malam,” jawab Niela.
“Udah lah, besok kita cari lagi dari pada kamu kerja di tempat kayak gini,” ucap Tian.
“Aku mau coba tanya sama pemiliknya,” ucap Niela tak ingin menghiraukan ucapan sahabatnya.
“Niela, tunggu!” cegah Tian, tapi Niela tetap masuk ke tempat itu.
“Ck ... keras kepala banget sih,” ucap Tian, dia pun pergi menyusul Niela, dia tidak akan membiarkan Niela bekerja di tempat seperti ini.
Saat masuk ke tempat itu ternyata Tian melihat Niela sedang digoda oleh seorang pria.
“Lepasin!” pekik Niela karena tangannya dicengkram sangat erat oleh pria yang tidak dia kenali.
“Kau orang baru di sini, Nona?” tanya pria itu.
“Iya dia orang baru, tapi dia harus pergi sama gue!” ucap Tian dengan tatapan tajamnya.
“Berapa kau bayar dia, biar aku ganti dua kali lipat?” tanya pria itu.
“Kau tidak akan mampu membayarnya!” jawab Tian.
“Perempuan murahan seperti dia, tidak pantas dibayar dengan harga tinggi,” ucapan pria itu membuat Tian semakin naik pitam, lalu dia mengangkat tangannya bersiap untuk melayangkan tinjunya, namun perbuatan Tian dicegah oleh Niela.
“Jangan Tian, nanti kamu malah kena masalah lebih baik kita pergi dari sini,” ucap Niela sambil menarik lengan Tian.
“Enggak, dia harus diberi pelajaran biar gak kurang ngajar sama cewek,” ucap Tian.
“Hei Bung, kau tidak sadar sedang berada di mana?” tanya pria itu dengan senyuman mengejek.
“Kau!” pekik Tian.
“Tian jangan, ayo kita pulang!” ucap Niela lalu menarik Tian untuk keluar dari tempat itu, namun ....
Bruk
Niela yang tidak memperhatikan di sekitarnya menabrak seseorang hingga dia terjatuh di atas orang itu.
“Niela!” ucap Tian.
Mata Niela membulat sempurna ketika bibirnya beradu dengan bibir pria itu.
‘Oh my god, my first kiss!’ ucap Niela di dalam hatinya.
“Niela!” panggil Tian tapi Niela tidak menanggapi karena gadis itu masih terkejut.
“Rupanya dia menikmati posisi itu!” ucap seorang pria yang datang bersama pria yang kini berada di bawah Niela.
“Niela!” panggil Tian lagi namun dengan sedikit kencang hal itu membuat Niela terperanjat lalu dia langsung bangun dari posisinya.
“Ayo pergi!” ucap Tian dengan kesal sambil menarik lengan Niela.
“Bentar, Tian!” ucap Niela.
“Gak ada, pulang sekarang!” ucap Tian lagi lalu menyeret Niela agar keluar dari tempat itu.
“Mas, sorry!” pekik Niela kepada pria yang tadi terjatuh karena dia.
“Kamu suka ya ciuman sama cowok itu?” tanya Tian dengan tatapan tajamnya ketika mereka sudah sampai di parkiran.
“Hah? Ciuman?” tanya Niela dengan mata yang membulat sempurna.
Anda Mungkin Juga Suka





