
Ku hancurkan rumah tanggaku
Bab 3
"Mbak Heny, kamu masih memikirkan sofia ya?" tanya Bagas yang mencolek dagu ibu mertua nya yang ia panggil dengan sebutan Mbak itu.
"Ya, aku juga memikirkan sosok papa mertuamu, gas. Aku yakin dia pasti akan membenciku," keluhnya dengan menghela nafasnya.
"Biarlah soal papa, Mbak. Lagian 'kan masih ada aku, aku yang akan menemani Mbak sampai bayi kita lahir," ujarnya lagi."Tapi-aku mau setelah bayi ini lahir nanti, ia tetap anak kita berdua, bukan anak kamu dan sofia." Jawab Henny sembari mengunyah makanan di mulutnya, mendengar ucapan Heni ekspresi Bagas seolah berubah tak suka. Tapi, ia tidak menanggapi ucapan ucapan Henny ibu mertuanya.
"Gas, baju-bajuku sudah di bakar habis, aku bahkan tidak sempat menyelamatkan baju-baju yang pernah aku beli bersamamu dulu," keluh henny dengan berdecak kesal.
"Sabarlah, nanti kita beli lagi Mbak. Beli yang bagus-bagus. Kita 'kan punya mobil, jadi ga khawatir akan gunjingan tetangga mereka ga akan mengenali kita," ujar Bagas. Henny n pun tersenyum." Ya, mudah-mudahan hubungan kita ini bisa berjalan dengan mulus ya? Saya benar-benar senang bisa punya menantu sekaligus pacar sebaik kamu." Bagas terdiam. Otaknya masih memikirkan hubungan terlarangnya dengan wanita yang harusnya jadi Ibu mertuanya di depan matanya itu.
Di lain sisi, sofia masih mematung. Ia duduk menepi di ruang tamunya, duduk sendirian di sana. Mela sahabatnya sudah pulang sedari tadi. Ini sudah hampir jam 12 malam. Sofia masih tidak bisa memejamkan matanya. Air matanya masih menetes deras, bukan karena ia tak menerima karena diusirnya Bagas dari dirumahnya. Tapi, ia merasa kecewa. Tak menyangka jika sosok Bagas yang memiliki pengetahuan luas, pandai dan luwes itu kini berubah menjadi iblis yang buta hati.
Namun, tak lama kemudian, sebuah pesan di ponsel nya berhasil menyita perhatian sofia yang sedari tadi masih tak bisa berhenti melihat video ibu kandungnya dengan suaminya yang berboncengan mesra dan berhubungan badan di hotel kemarin.
[ Zahra
Mir, aku dengar Bayu selingkuh dengan Ibu kandungkamu sendiri ya?]
Sofia melotot heran, kenapa sahabatnya bisa mengetahui hal ini, bukannya ia tak sempat bertemu dengan Zahra cukup lama. Beras yang ia beli sekwintal kemarin juga tidak sempat ia kirim ke MZ katering. Sebuah tempat di mana sofia biasa melakukan kesibukan nya setelah ia bekerja sementara di Restoran Cece Amalia.
Jujur saja sofia bekerja di Restoran juga bukan pegawai tetap, ia bekerja di sana karena permintaan sang owner Restoran yang berani membayar nya tinggi untuk sekedar membantu dihari-hari libur atau hari-hari besar yang biasanya malah akan banyak pengunjung.
Jadi ketika ia tidak bekerja di Restoran, ia lebih memilih untuk berada di warung khusus katering milik ia dan sahabat nya bernama Zahrala Kayyara. Seorang perempuan cantik jelita yang sudah lama berteman dengan sofia. Keduanya dipertemukan kala Sofia belajar memasak untuk mengikuti lomba masak di kompleknya.
Sofia pun membalas pesan singkat Zahra di aplikasi hijaunya.
[ Kok kamu tahu? Apa warga ada yang berdesas-desus sampai ke telingamu?]
[Nggak. Tadi sempat Viral, ada yang taruh video mereka berdua di facebook.]
Sofia terdiam sejenak. Memang itu balasan yang setimpal untuk orang yang sudah melanggar aturan dan menjalin hubungan terlarang, tak ada yang perlu disalahkan jika menghujat keduanya. Karena itu sudah jelas-jelas perlakuan hewan. Tak lama karena kelelahan sofia pun terlelap. Ia tak sempat menanyakan kepada Zahra sosok siapa yang menyebarkan hubungan gelap antara Ibu Kandungnya dan suaminya itu.
Keesokan harinya..
Susan teman Bagas kembali bertandang kerumah Sofia. Gadis itu masih terlelap, Pak Raditlah yang menyambut sosok Susan di depan pintunya. Pria paruh baya itu tampak malas sebenarnya untuk menyambut tamu. Hatinya masih sangat sakit dan hancur berkeping-keping karena ulah istrinya bersama menantunya.
"Permisi, Pak. Ini ada surat dari kantor untuk Bagas, ini perintah dari atasan kami katanya Bagas resmi dikeluarkan dari perusahaan kami. Semalam Banyak yang mengetahui hubungan terlarang ia dan Ibu mertuanya." Susan memberikan sebuah amplop coklat berisikan surat pemecatan Bagas secara tidak terhormat kepada Bapak Radit.
"Tapi, Bagas sudah tidak ada di sini. Dia kan sudah diusir semalam, warga banyak yang membakar pakaiannya dan benda-benda istri saya." Jawab Pak Radit malas.
"Oh, apa iya pulang ke rumah barunya ya, Pak?" tanya Susan. Pak Radit menggelengkan kepalanya lesu. "Saya juga nggak tahu dimana rumah barunya, saya belum pernah tahu soal perkembangan aset Bagas, karena selama ini saya sibuk bekerja dan merantau." Jawab Pak Radit lagi, sesaat setelahnya sofia sudah berdiri di depan pintu.
"Susan?""Eh, sofia? Kamu jangan sedih ya? Kamu yang tabah, masih banyak laki-laki yang mau bersanding denganmu, kamu masih cantik, masih muda belum punya anak lagi." Hibur Susan. Sofia mengangguk dengan matanya yang sembab.
"Emang kamu tau rumah baru Mas Bagas?" tanya Sofia lagi. Susan mengangguk. "Tahu kok, di belakang swalayan Daskara. Di sana ada komplek elit namanya komplek Nusa Regency. Rumah Bagas nomor 12. Masa kamu nggak tahu sih? Bagas sudah lama beli rumah itu," ujar Susan yang lantas memberikan amplop ditangannya kepada sofia.
Sofia Menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu. Ya sudah biarlah. Anggap aja aku sekarang bukan lagi istrinya," jawab sofia santai. Meski matanya bengkak bekas menangis semalaman, sofiamasih berusaha tersenyum simpul. Susan pun kembali memeluknya.
"Sabar ya. Bumi tidak selamanya malam, ada kalanya siang, kamu harus yakin nanti akan ada orang lain yang lebih baik dan bisa menggantikan posisi bagas di hati kamu, sementara ini kamu fokus untuk menjaga diri kamu dulu, setidaknya memulihkan perasaan sakit kamu.. kamu harus kuat!" ujar Susan. Sofia tersenyum. "Makasih ya? Aku akan berusaha untuk melupakan semuanya dengan seiringnya waktu yang berjalan kok."
Susan pun tersenyum, lantas ia juga pamit untuk kembali ke kantornya. Surat pemecatan suaminya di tangan sofia membuat sofia penasaran akan rumah baru suaminya. Ia pun meminjam sepeda matic milik bapaknya untuk mengantar surat itu ke tempat Bagas.
Ia menyusuri jalanan yang cukup padat karena aktivitas
masyarakat yang berlalu-lalang di pagi hari. Setibanya di tempat yang diberitahukan Susan tadi, sofia mencari rumah yang diucapkan Susan. Rumah nomor 12. Kala ia tiba di depan rumah itu, ia melihat Ibunya yang mengecup kening suaminya dengan mesra kala pria itu bersiap untuk berangkat bekerja.
"Ibu.. " lirih Mira
Bagas yang menyadari kehadiran seseorang di depan gerbangnya segera menoleh ke arah sofia. "Sofia? Kamu?" tanyanya yang lantasmembukakan pintu untuk istrinya.
Sofia masih membisu,
tapi-lantas ia mencoba untuk berbicara kepada Bagas. "Ya, Mas. Ini aku, ini surat pemecatan dari kantor kamu, Mas. Tadi Susan yang kirim ke rumah," ujarnya yang memberikan amplop surat itu kepada suaminya.
Bagas terbelalak, lantas Henny datang menghampiri anak kandungnya. "Sofia, ini pasti ulah kamu 'kan yang menghasut semua orang agar mereka membenci Aku dan Suamimu?" tegurnya.
"Maaf, Bu. Bukan aku yang meminta mereka untuk membenci mu dan Mas Bagas. Tapi, karena perlakuan kalian sendirilah yang sekarang bahkan viral di media sosial." Jawab Sofia yang lantas meninggalkan Bagas yang masih tidak tahu harus berbicara apa. Wanita itu sudah enggan untuk berbicara banyak dengan keduanya.
"Sofia! Tunggu!" Bagas memanggil nama sofia kala ia sudah siap pergi untuk meninggalkan dirinya, ia sudah siap dengan menarik gas motor maticnya. Sofia hanya menoleh dan tersenyum. "Aku nggak akan ganggu kalian, selamat tinggal, Mas." Ujarnya yang lantas pergi begitu saja dari hadapan Bagas
"Sial! Sial! Sekarang aku sudah benar-benar dipecat! Dasar mantan istri Afran kurang ajar, berani sekali dia merekamku dan membagikan ke media sosial!"
Henny pun terburu-buru mengambil ponselnya. "Gas, ini bukan ulah Mela. Ini Pak RT yang semalam memposting video kita saat terekam di hotel, seperti nya kalau seperti ini terus, kita terancam akan mendapatkan sanksi sosial." Henny n tampak panik.
Bags menghela nafasnya pelan. "Wah, kalau begini sepertinya aku nggak bisa buka usaha apapun, mereka pasti akan mencemoohku!" gerutu Bagas. Kamu sih, Mbak. Terlalu sering ke Salon, ke mana-mana pamer, lihat kita terbongkar 'kan! Reputasiku hancur sekarang!",
"Kok kamu salahkan aku?
Bukannya kamu yang menggodaku kala papa mertuamu pergi merantau?!"
"Tetap saja, ini juga salahmu yang jelas-jelas memberikan lampu hijau di kala aku merindukan sosok sofia! Kamu juga 'kan Mbak, yang bilang kalau aku tidak cocok jadi menantumu?! Kita cocoknya kakak adik begitu ' kan?!"
Bagas dan henny mulai bertengkar, Bagas sebenarnya sudah tahu jika ia akan mau tidak mau kehilangan pekerjaannya. Ia pun segera menelpon sahabatnya bernama Afran di tengah percekcokan keduanya.
"Iya, memang aku! Lagian kamu juga 'kan yang menginginkan momongan dengan wajah seperti Mira istrimu?!"
"SUDAH! CUKUP, AKU
MUAK! AKU MAU MENGHUBUNGI ARFAN SAJA DULU!"
Bagas menjauh dari Henny. Ia lantas mengambil ponselnya dan menelepon sahabat nya itu. Tak beberapa lama ia menunggu, Arfan sudah mengangkat nya.
"Halo, Bagas ada apa?"tanyanya.
"Aku dipecat. Nanti aku akan kerumahmu, aku akan menjenguk bisnis kita berdua,"
"Maafkan aku gas, bisnis kita tidak bisa berlanjut sementara ini, karena modalnya terpakai," jawaban Afran membuat Bagas panik seketika.
"Apa?!! Terpakai?! Lalu bagaimana kita bisa membeli mobil-mobil bekas dan memolesnya lagi, Fan?! Astaga, di saat-saat sulit ku kenapa modalnya juga harus terpakai?!" tanyanya dengan kesal.Afran menghela nafasnya pelan. "Maafkan aku Bagas, tapi secepatnya akan aku ganti, karena kemarin ku pakai untuk anak sambungku, aku menikah lagi dengan janda anak dua," keluhnya dengan penuh penyesalan.
"Ya, tapi kapan kamu akan menggantinya? Uang tabunganku juga sedikit, aku juga dipecat paksa oleh perusahaan dimana aku bekerja,"
"Bulan depan aku usahakan, aku sudah mengganti modalnya. Maafkan aku gad, kamu kenapa dipecat?" tanya Afran dengan heran. Karena sepengetahuan Afran,Bayu sangat baik selama ini dalam mengelola perusahaan nya.
"Aku ketahuan selingkuh," jawab Bagas. Afran terkejut." Selingkuh? Dengan siapa? Dengan tunangan Direktur perusahaan mu?" tanya Afran heran.
"Bukan, tapi dengan ibu mertuaku. Mbak Heny, kamu ingat saat kuliah dulu aku sering dibantu olehnya, di bantu membayar uang kost kala ayahku telat mengirim uang, ingat 'kan kamu?"
"Tunggu. Iya! Astaga, tapi Bagas, kalau kamu memang menyukai sosok Mbak heny,kenapa kamu harus menikahi putrinya?" tanya Afran lagi.
"Aku selingkuh dengan heny bukan karena aku cinta, aku hanya ingin seorang anak yang bisa hadir di dalam pernikahan ku dan sofia, itu saja, wajah sofia dan heny itu sama," jawab Bagas dengan nada lirih, ia juga duduk menjauh dari Henny yang masih murung.
"Kamu gila, gas! Nggak seharusnya kamu melakukan itu. Aku dan kamu memang sama bobroknya, kita sama-sama selingkuh dan tidak bisa menghargai pernikahan kita, tapi.. perbuatanmu jelas lebih gila.Lebih tidak masuk akal! Aku jijik denganmu!" telepon pun terputus. Bagas mulai kesal dan berteriak.
"SIAAAAL!!! INI GARA-GARA KAMU MBAK Heny! KAMU YANG SALAH!" bentaknya.
"Kok aku? Kamu yang gegabah, gas! Kamu yang memaksakan aku untuk melayanimu ketika sofia putriku berada di rumah, kamu yang salah !" bentak Heny dengan kesal.
"Aku, kamu bilang?
Hahahahah, kamu lupa ya? Siapa yang selama ini merindukan sentuhan Pak Radit? Siapa selama ini yang mengizinkan aku untuk menyentuh tubuh keriputmu?!" Bayu mulai merutuki Henny dengan kata-kata yang membuat Henny sakit hati.
"Keriput katamu?!" bentak Henny.
"Ya, kamu 'kan sudah nenek-nenek. Kalau aku tidak punya pekerjaan seperti ini, apa kamu bisa membantuku?! Kamu hanya perempuan malas, perempuan gengsian! Kamu tidak seperti putrimu, yang pekerja keras dan dia tidak lemah!" ungkap Bagas dengan amarahnya yang berkobar-kobar."Sekarang kamu sudah mulai membandingkan aku dengan sofia? Anak pembawa sial dalam
hidupku itu?!" Henny mulai memanas. Amarahnya memuncak. Bagas pun sama, keduanya kini beradu mulut dengan sengit.Hinga tiba-tiba seorang tukang pos memotong pembicaraan sengit keduanya.
"Permisi, Bapak Bagas Wijaya ?" tanya Tukang Pos itu dengan membawa sebuah amplop besar di tangan nya. Bagas pun mereda sejenak. Sedangkan Henny ia kini dengan kesalnya masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bagas.
Hatinya benar-benar hancur, sosok Bagas yang dikenal hangat dan benar-benar membuatnya luluh dan jatuh cinta di masa tuanya kini berubah total kala pria itu kehilangan segala macam bentuk penghasil uangnya.Wanita berusia 47 tahun itu menangis di dalam kamarnya.
"Ya, apalagi ini? Surat apa lagi?" tanyanya yang menyambut kedatangan tukang pos tersebut. Nafas bagas juga mulai tersengal. Emosinya seolah ingin ia luapkan begitu saja.
Tukang Pos itu hanya menyampaikan dengan wajah datarnya. "Dibaca saja dulu, Pak. Saya permisi dulu." Tukang pos itu lantas pergi dari hadapan Bagas. Bagas pun dengan terburu-buru membuka amplop tersebut.
"S-s-urat Cerai?! Sofia!! Berani nya kamu melakukan ini?!Tidak, tidak akan! Aku tidak akan membiarkan kita bercerai, bagaimana pun aku melakukan perselingkuhan ini demi rumah tangga kita, agar kita memiliki anak! Kamu jahat, sofia!!!"
Anda Mungkin Juga Suka





