Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji

Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji

Clara Martins berjuang menyelamatkan toko roti warisan neneknya di São Paulo dari lilitan utang. Saat pengkhianatan mengancam bisnisnya, Enzo Albuquerque, pengusaha dingin sekaligus cinta lamanya, menawarkan pernikahan kontrak satu tahun. Enzo butuh istri demi mengamankan posisinya dari konspirasi keluarga. Namun, tinggal bersama memicu kembali gairah lama. Clara menyimpan rahasia kehamilan, sementara Enzo memendam misteri yang bisa menghancurkan cinta kedua mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Cahaya senja yang lembut menyinari fasad kaca besar kafe termahal di pusat kota. Di dalam, para pria berjas mengobrol pelan, mencampur kata-kata seperti saham, merger, dan akuisisi. Di antara mereka, Enzo Albuquerque tampak tak menyadari semua itu, meskipun semua mata berputar di sekelilingnya bagai satelit di sekitar matahari yang dingin.

Duduk di kursi kulit, ia tanpa sadar mengaduk cangkir kopinya, tak menyadari uap yang mulai menguap. Di seberangnya, Lucas Viana, rekan sekaligus tangan kanannya dalam beberapa transaksi yang kurang resmi, mengobrol.

"Kami sudah punya tanah di blok atas. Yang kurang hanyalah bekas toko roti, dan kami telah menutup seluruh perimeter untuk menara baru. Para investor Asia ingin semuanya ditandatangani bulan depan."

Enzo mendongak dari angka-angka yang diproyeksikan di tablet yang Lucas dorong di seberang meja. Di seberang jalan, melalui dinding kaca, ia bisa melihat toko roti itu. Kecil, sempit, di antara toko-toko dengan papan reklame yang siap dibongkar. Ia melihatnya, atau lebih tepatnya, mengamatinya.

Clara.

Di sanalah ia, di balik jendela yang berkabut, sedang mengelap meja dengan kain lap usang. Cahaya kekuningan di dalamnya seakan menyelimutinya dalam kepompong yang sangat kontras dengan dinginnya beton kota. Setiap kali ia bergerak, sehelai rambut lepas dari sanggulnya yang dibuat-buat, jatuh ke dahinya yang berkerut.

"Kau mendengarkanku, Enzo?" Lucas berdeham tak sabar. "Sudah kubilang, kalau kau tidak menyerahkan kuncinya, departemen hukum akan mengajukan penyitaan. Cepat dan diam-diam."

Enzo tidak menjawab. Ia terus mengamati. Ia melihat Clara berhenti, mendesah panjang, dan memandang sekeliling seolah mengamati setiap detail dari bagian dunia yang tak kunjung musnah ini. Seorang wanita masuk dan keluar, tersenyum, membawa sekotak kue. Clara balas tersenyum, tetapi Enzo mengenalinya: senyumnya terpaksa. Ia mengusap dagunya, merasakan janggutnya yang tak beraturan yang terus tumbuh selama rapat-rapat panjang. Sesaat, sebuah kenangan lama terlintas di benaknya: Clara tertawa saat mencoba bahan baru, Clara melemparkan tepung kepadanya di suatu Sabtu malam, Clara lari dari sentuhannya, padahal ia masih percaya ia bisa mencintai tanpa rasa takut.

Enzo menyandarkan sikunya di meja, mengabaikan hiruk pikuk kafe yang elegan.

"Bagaimana jika dia tidak menyerah?" tanyanya, tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya. "Bagaimana jika dia memutuskan untuk berjuang sampai akhir?"

Lucas tertawa kecil, melepas kacamatanya untuk menggosok pelipisnya.

"Enzo, kumohon... dia sendirian. Dia tidak punya modal, tidak punya mitra, tidak punya kredit. Bank sudah menolak semuanya. Ini hanya masalah waktu. Dan jika dia terlalu sombong untuk pergi dengan baik-baik, kita akan mengirim juru sita, titik."

Enzo mendengus, menggelengkan kepalanya. "Dengan baik-baik..." ulangnya pelan, seolah menikmati rasa pahit dari kalimat itu. Lucas mencondongkan tubuh ke depan, mencium sesuatu selain bisnis. "Jangan bilang kau akan mengalami krisis hati nurani sekarang? Lagipula? Wanita itu ingin putus denganmu, ingat? Dia meninggalkanmu berdiri di tempat kotor itu seolah kau orang biasa."

Enzo mengepalkan tinjunya, otot rahangnya berderak. "Aku tidak butuh ceramah, Lucas."

"Kalau begitu biarkan urusan administrasinya beres dengan sendirinya. Itu bukan urusanmu."

Tapi memang begitu. Selalu begitu. Sekuat apa pun ia ingin menyangkalnya, Clara bagaikan serpihan yang menancap di kulitnya: tak terlihat dari kejauhan, tak tertahankan ketika menusuk dalam.

Ia memperhatikan Clara meninggalkan toko dengan dua kotak kardus. Clara berhenti di trotoar, membetulkan celemeknya yang bernoda frosting, dan mengobrol dengan seorang kurir yang terlalu banyak menggerakkan tangan. Bahkan dari kejauhan, Enzo mengenali sikapnya: tegas di luar, gemetar di dalam.

Tanpa berpikir, ia mendorong kursinya ke belakang, mengabaikan tatapan bingung Lucas.

"Mau ke mana?" tanya pasangannya, mencoba meraih lengannya.

"Selesaikan dengan caraku."

Lucas tertawa mengejek. "Hati-hati jangan sampai tertukar antara ranjang dan kontrak, Albuquerque."

Enzo menatapnya dengan tatapan yang bisa membekukan seisi kafe. Ia tidak menjawab. Ia pergi begitu saja, membanting beberapa lembar uang ke meja dengan langkah panjang.

Di seberang jalan, Clara hampir menjatuhkan salah satu kotak. Si pengantar barang, karena terburu-buru, sama sekali tidak membantunya: ia membiarkan semuanya bersandar di dinding dan menghilang dengan motornya yang berisik. Kotak itu hampir tergelincir, membuat bungkus permen berhamburan ke trotoar.

"Sial..." gumamnya, mencoba menyeimbangkan diri.

"Butuh bantuan?" Suara itu terdengar di belakangnya, begitu dekat hingga Clara menggigil bahkan sebelum ia berbalik. Aroma parfum kayu bercampur dengan udara hangat di luar.

Berbalik, ia melihat jaket abu-abu yang sempurna itu terlebih dahulu. Lalu ia melihat wajah yang lebih ia kenal daripada yang ingin ia akui: senyum yang tertahan, mata gelap yang seolah meneliti setiap kelemahan sebelum muncul.

"Enzo."

Ia tersenyum, setenang biasanya. "Clarita."

Ia ingin sekali menertawakan julukan itu. Ia bukan Clarita lagi. Ia sama sekali tidak mirip dengannya.

"Apa maumu?"

Enzo mengambil salah satu kotak dari tangannya, seolah itu hal yang paling wajar di dunia. "Tidak bisakah aku membantu teman lama?"

"Aku bukan temanmu," balasnya ketus, mencoba mengambil kotak itu kembali. Enzo tidak melepaskannya.

Sesaat, jari-jari mereka bersentuhan. Sesaat, tetapi cukup untuk mengalirkan arus listrik dari mata Enzo ke mata Clara.

"Kalau begitu, izinkan aku membantumu sebagai..." Enzo berhenti sejenak, tersenyum tipis. "...sebagai kreditor."

Clara merasakan gejolak di perutnya. "Kau tidak akan bisa membeliku, Enzo."

Ia tertawa terbahak-bahak, menyandarkan kotak itu ke pinggulnya agar bisa berbicara lebih dekat. "Siapa bilang aku ingin membelimu?"

Ia mendengus, melewati Enzo dan membuka pintu toko roti. Enzo mengikutinya, membawa kotak itu seolah-olah ia pemilik toko itu, yang, bisa dibilang, memang begitu. Di dalam, Enzo memandang sekeliling, terpaku pada meja kasir, jam tua, aroma manis masa kecil yang masih tertinggal.

"Aku tahu setiap sudut tempat ini," katanya, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Kau tak berubah sedikit pun." Clara mengambil kotak itu dari tangannya, meletakkannya di belakang meja kasir, dan menyilangkan tangan. "Langsung saja ke intinya, Enzo. Kenapa kau di sini?"

Ia mendekati meja kasir, mengetuk-ngetukkan ujung jarinya pelan di atas marmer. Tatapan Enzo terpaku padanya, intens, tak terbaca.

"Karena aku bisa menyelamatkanmu, Clara," katanya, nadanya begitu tenang hingga hampir terdengar kejam. "Dan karena aku tahu kau tak bisa melakukannya sendirian."

Ia merasakan dunianya berputar. Sesaat, ia ingin melempar kain lap itu ke wajah Enzo, mengusirnya. Namun sesuatu di matanya, di antara hasrat dan penyesalan, membuatnya berhenti.

Di balik kaca, jalanan ramai. Namun di dalam, hanya mereka berdua, terjebak dalam permainan kuno janji dan utang tak terucap yang tak bisa diselesaikan oleh kontrak apa pun.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PHH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PHH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Nadia menghabiskan malam bersama pria asing setelah dikhianati orang terdekatnya. Meski sempat menyesal, ketampanan pria itu justru membuatnya malu hingga ia nekat meninggalkan uang sebelum pergi. Kresna, sang pria misterius, merasa sangat terhina karena dianggap sebagai pria bayaran. Dengan amarah yang meluap, ia segera memerintahkan asistennya melacak identitas Nadia melalui rekaman CCTV hotel demi membalas perbuatan wanita tersebut.
Sampul Novel BIDADARI
8.1
Aida Tazkia merasa rendah diri karena kondisi fisiknya sebagai penyintas kanker. Reiko Byakta Adiwijaya, pria dari keluarga konglomerat, justru tetap menikahinya meski melontarkan hinaan tajam. Di balik pernikahan tanpa cinta ini, tersimpan rahasia besar yang disembunyikan Reiko. Aida kini terjebak dalam belenggu keluarga Adiwijaya yang penuh tekanan. Mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati dan cinta tulus di tengah keraguan akan kesempurnaannya sebagai wanita?
Sampul Novel CEO Itu Ayah Dari Anakku!
8.6
Risa, gadis desa yang mencari orang tuanya di kota, justru dikhianati teman dan dijual hingga berakhir menghabiskan malam bersama CEO muda, Arjuna. Hubungan singkat itu menghasilkan kehamilan yang mengancam reputasi sempurna Arjuna. Di tengah perbedaan kasta sosial dan intrik keluarga yang rumit, Arjuna terjebak antara menjaga citra atau melindungi Risa. Akankah cinta tumbuh di balik skandal besar ini, ataukah status sosial menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Ceo suamiku (season 2)
9.7
Hidup Tasya mendadak berubah menjadi penuh gangguan sejak kehadiran Revan dalam kesehariannya. Sebagai CEO baru yang mengambil alih takhta kepemimpinan perusahaan dari sang ayah, Revan kerap bertindak menyebalkan dan mengusik ketenangan Tasya secara konstan. Hubungan profesional antara atasan dan bawahan ini pun diwarnai dengan berbagai momen menjengkelkan yang membuat Tasya sulit bernapas lega karena ulah bosnya yang terus mengejar dan mengganggunya.
Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Bitna, aktris berbakat asal Korea Selatan, terjerat skandal besar setelah menghadiri pesta di Indonesia. Reputasinya terancam hancur akibat insiden dengan Kenzo, bos besar penyelenggara acara tersebut. Demi menyelamatkan karier, Bitna sepakat melakukan klarifikasi publik. Namun, Kenzo justru mengejutkan dunia dengan mengumumkan pertunangan palsu tanpa persetujuannya. Mengapa Kenzo nekat berbohong? Akankah sandiwara ini menyelamatkan atau justru menghancurkan hidup Bitna?
Sampul Novel Musuh Bebuyutanku yang Berdarah Dingin Tiba-tiba Terobsesi Denganku
9.4
Tujuh tahun Daniela sia-sia setelah memergoki Yosua berselingkuh menjelang pernikahan. Di hari besar itu, ia memilih membatalkan komitmen dan melempar cincinnya. Saat keluarga Clark menghina keputusannya, tiga kakak laki-laki Daniela dari keluarga Stewart datang melindungi. Mereka bersumpah menghancurkan kejayaan Clark demi adik tercinta. Di tengah kehancuran musuhnya, Daniela justru menemukan perlindungan di pelukan pria tak terduga yang mengajaknya pulang.