Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kontrak Cinta - Love Contract

Kontrak Cinta - Love Contract

Demi melunasi utang dan membiayai pengobatan sang ayah, Mahesa rela menunda skripsinya untuk bekerja sebagai pelayan kelab malam. Di sana, ia bertemu wanita mabuk yang baru saja patah hati. Tak disangka, wanita itu tiba-tiba menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi finansial bagi Mahesa. Meski sempat ragu, Mahesa akhirnya menerima tawaran tersebut demi keluarganya. Kini, dimulailah kehidupan penuh sandiwara antara Mahesa dan istri barunya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mahesa mengerjap dan menyipit beberapa kali karena silau matahari yang menerpa wajahnya. Namun bukan itu yang membangunkan dirinya dari dunia mimpi, melainkan teriakan melengking Olive—sahabat Indira.

“Lo siapa?” tanya Olive yang memandang Mahesa dengan ngeri.

“Saya Mahesa.”

“Kenapa lo bisa di sini? Sama Indira lagi!”

“Saya cuma nganter Mbak Indira yang semalem mabuk, Mbak.”

“Pake nginep?”

“Maaf, saya enggak bermaksud begitu. Saya hanya ketiduran, karena Mbak Indira terus meluk tangan saya. Saya jadi enggak bisa pergi.”

“Dir! Dira! Indira!” teriak Olive sembari menggoyangkan tubuh Indira.

Indira mengerang, mencoba membuka matanya. Kepalanya pening sekali, belum lagi matanya yang masih terasa berat. Namun, ocehan sahabatnya tidak bisa dihindari. Indira berusaha membuka matanya, menatap ke sekeliling dan terkejut saat mendapati Mahesa ada di hadapannya.

“Siapa lo?!”

“Lo enggak kenal sama dia?”

Indira menggeleng, lalu segera melompat dari sofa.

“Maaf, Mbak. Semalem saya yang nganterin Mbak pulang. Saya Mahesa,” jelas Mahesa sambil mengulurkan tangan. Namun, kedua wanita di hadapannya membiarkan tangan itu mengambang sampai pemiliknya menarik kembali.

“Sepertinya Mbak Indira sudah sadar, dan udah ada temannya. Jadi saya bisa pamit pulang kalau begitu.”

Mahesa tersenyum sebelum akhirnya berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat dia kesulitan membuka pintu, hingga akhirnya teman Indira menghampirinya dan menekan enam angka pin dan bunyi bip kembali terdengar. Mahesa kembali tersenyum, lalu buru-buru keluar meninggalkan penthouse Indira.

“Lo sih, sok-sokan mabuk. Eh, sekalinya mabuk malahan bawa cowok balik. Hebat juga lo.”

“Apaan, sih? Gue juga nggak kenal tuh cowok,” sahut Indira seraya mengambil sebotol air mineral kemasan dari dalam kulkas dan menenggaknya. “Tumben pagi-pagi ke sini, ada apa?”

“Ada apa, ada apa! Om sama tante nyariin lo dari kemarin. Khawatir sama kondisi lo.”

Indira menghela napas, lalu kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa dan menyalakan teve. Olive kemudian bergabung dengan membawa dua mangkok dan dua botol air, beserta dua bungkus bubur ayam yang dibelinya saat perjalanan menuju apartemen Indira.

“Om sama tante mau nanya keputusan lo tentang pernikahan lo. Gimana jadinya?”

Olive melirik sahabatnya yang diam dan menatap kosong pada semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan asap, mengabaikan teve yang sedang menayangkan acara gosip. Olive tahu, ini masih terlalu awal untuk mengungkit masalah pernikahan Indira. Namun, kedua orang tua Indira juga bingung harus berbuat apa, terlebih lagi ketika putrinya tiba-tiba saja memutuskan pindah ke apartemennya lagi.

“Dir.”

“Hem?”

“Kenapa enggak angkat telepon Om dan tante?”

“Gue enggak tahu harus ngomong apaan soalnya. Gue udah ngecewain mereka,” ucap Indira dengan suara seraknya, berusaha menahan air matanya lagi.

“Hei.” Olive beringsut memeluk Indira yang mulai terisak. Mencoba memberi dukungan sekecil apapun itu, agar sahabatnya ini bisa menghadapi masalahnya. “Ini bukan salah lo, kok. Si Goblok itu aja yang beneran bego karena udah ninggalin lo.”

“Gue mesti gimana, Live? Sampai kapan kita bisa tutupin semua ini? Media pasti lama-lama bakalan tahu, dan—”

“Dan si Bego itu bakalan nyesel.”

Indira mengusap air matanya. Sudah seminggu dia tidak berhenti menangis, sejak Adrian membatalkan pertunangan mereka sepihak. Sejak malam itu, Indira tidak berani pulang ke rumah menemui orang tuanya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Yang orang tuanya tahu, dua minggu lagi Indira akan menikah.

Serapat mungkin Indira menyimpan masalahnya. Hanya pada Olive dia menceritakannya. Efeknya akan fatal, terutama bagi papa, jika tahu Indira batal menikah. Namun sampai kapan rahasia ini akan disimpan, apalagi kehidupannya sebagai model sangat dekat dengan media.

“Lebih baik om dan tante tahu sekarang dari lo daripada dari media, kan? Ngomong pelan-pelan.”

Indira menggeleng. “Gue takut papa ntar kepikiran dan malah bikin jantungnya kumat.”

“Terus mau sampai kapan lo kayak gini? Dua minggu lagi tanggal pernikahan lo, kan? Kalau sampai saat itu lo enggak bilang yang sebenarnya, malahan parah ntar.”

“Apa gue minta balikan aja ya sama Adrian?”

Olive menghela napas. “Lo yakin? Adrian aja enggak bilang apa alasannya batalin pertunangan kalian. Sekarang lo minta balikan?”

“Terus gue mesti gimana, Live?”

“Saran gue, tetep lo ngomong ke om sama tante. Jelasin ke mereka pelan-pelan, atau ntar gue temenin deh.”

“Enggak. Gue—”

“Pikirin aja dulu,” potong Olive, lalu mulai menyantap bubur ayamnya.

Sedang Indira hanya bisa menghela napas dan juga ikut menyantap buburnya sembari pikirannya tetap mengembara mencari cara bagaimana mengabarkan dirinya yang sudah putus hubungan dengan Adrian.

***

Setelah Olive pulang, Indira kembali sendirian di apartemen papanya ini. Tempat ini menjadi pelariannya di kala penat, karena masalah pekerjaan. Siapa yang menyangka, tempat ini kini menjadi pelariannya untuk bersembunyi, karena sikap pengecutnya.

Indira baru saja selesai mandi saat ponselnya yang ada di sofa berdering. Panggilan dari mama. Sudah tiga hari ini dia mengabaikan panggilan telepon orang tuanya. Indira masih bingung harus menjawab apa jika mama atau papa bertanya tentang progress acara pernikahannya dengan Adrian yang sudah batal seminggu lalu. Namun apa yang dikatakan Olive ada benarnya, lebih baik dirinya yang memberitahukan kegagalan ini daripada mereka tahu dari berita gosip di teve.

“Ya, Ma?” sapa Indira setelah menggeser tombol hijau dan menelakupkan ponselnya ke telinga.

“Kamu ke mana aja? Kok tiga hari ini enggak angkat telepon Mama sama Papa?”

“Maaf, Ma. Indira lagi ada pemotretan di luar kota. Agak susah sinyal gitu. Makanya, Indira belum sempet hubungi Mama,” bohong Indira.

“Kok Olive enggak bilang apa-apa?”

“Aku emang enggak kasih tahu Olive tentang ini, Ma.”

“Kamu ada masalah sama Olive?”

“Enggak ada kok. Kita baik-baik aja, cuma emang proyek ini aku pengen tangani sendiri,” bohong Indira lagi, dia semakin ahli.

“Ya udah kalau gitu. Terus kabar kamu sama Adrian gimana? Udah pastiin lagi ke katering sama dekor buat dua minggu lagi?”

Akhirnya topik pembicaraan yang paling ditakutkan Indira diungkit oleh mama. Indira menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Menyiapkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya pada mama.

“Aku sama Adrian—”

Indira kembali menelan kalimatnya saat kedua matanya menangkap benda asing di atas sofa. Sebuah jaket pria. Jaket milik Mahesa yang dipakainya dini hari tadi. Entah bagaimana, Indira tiba-tiba saja mendapatkan ide untuk mengatasi masalahnya.

Mungkin akan terdengar gila, tapi Indira hanya punya waktu kurang dari dua minggu untuk menyakinkan pemilik jaket mengikuti rencananya.

“Ma, nanti aku telepon lagi ya. Aku harus pergi.”

“Tapi, Dir. Mama pengen tahu soal acara kamu.”

“Iya, ini aku juga mau ngurus. Nanti kalau udah selesai, aku janji bakalan langsung telepon Mama. Ok?”

“Ya sudah, jaga kesehatan ya.”

“Iya, Ma.”

Indira menatap lekat jaket di tangannya, sembari menyakinkan diri bahwa rencananya kali ini demi membahagiakan orang tuanya. Bukan demi dirinya. Baiklah, mungkin juga demi citranya sebagai public figure, yang harus terlihat sempurna di mata banyak orang. Tapi itu tidak masalah, kan?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Sampah
8.1
Trauma kekerasan seksual mengubah Berlian menjadi sosok tomboi yang nakal. Merasa dirinya kotor dan tak berharga, ia menutup hati serta menghindari hubungan dengan pria mana pun. Berlian yakin tidak akan ada lelaki yang tulus menerimanya. Namun, takdir membawanya bertemu seorang pria kaya raya yang mengubah segalanya. Akankah kehadiran sosok miliarder ini menyembuhkan luka masa lalunya yang kelam, atau justru memberikan penderitaan baru yang lebih menyakitkan?
Sampul Novel Gadis Perawan Untuk CEO
8.6
Devanka hampir kehilangan kesuciannya akibat ulah tetangganya, sebuah tragedi yang bisa mendatangkan kutukan karma bagi keluarganya. Di tengah kemelut itu, ia bertemu CEO arogan yang sedang mencari istri perawan. Pria kaya tersebut harus memenuhi wasiat sang kakek di ulang tahun ke-80. Bagi keluarga besar Hamzah yang berkuasa, menikahi gadis yang masih suci adalah kehormatan mutlak. Kini, nasib Devanka terikat pada ambisi keluarga konglomerat tersebut.
Sampul Novel Invisible Rich Man
9.5
Davin, pewaris takhta bisnis global, memilih menyamar sebagai petugas kebersihan demi menemukan cinta yang tulus. Di Jakarta, ia bertemu Vania, wanita yang menerima dirinya apa adanya tanpa memandang status sosial. Meski Vania berhasil melewati berbagai ujian kesetiaan yang diberikan Davin, hubungan mereka kini menghadapi rintangan baru yang lebih besar. Keluarga konglomerat Davin muncul menentang keras kedekatan mereka dan berusaha memisahkan keduanya.
Sampul Novel Lovers
8.9
Pertemuan tak terduga di kelab malam saat tahun baru menjadi awal kisah Ryan Bagaskara dan Kanaya Putri Soemardi. Meski Kanaya tak sengaja mengotori bajunya, Ryan justru jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, hubungan mereka terhalang tembok besar karena ayah Kanaya berniat menjodohkan putrinya dengan Gilang Witjaksono. Situasi kian rumit sebab Gilang, anak pejabat negara itu, ternyata masih kerabat Ryan. Ryan kini harus berjuang demi cinta di tengah restu yang sulit didapat.
Sampul Novel Maduku Putri Konglomerat
9.4
Kehidupan yang serba kekurangan mendorong Hilman untuk mengkhianati janji suci pernikahannya. Demi mengejar harta dan kemewahan, ia nekat menikahi seorang wanita dari keluarga konglomerat di belakang istrinya. Kini, sang istri harus berjuang menghadapi kehancuran hati dan kepedihan mendalam akibat pengkhianatan lelaki yang sangat ia cintai itu. Sanggupkah ia bertahan saat suaminya lebih memilih kekayaan daripada kesetiaan mereka?
Sampul Novel My Lovely CEO
8.4
Ellen berteriak histeris saat menyadari perbuatan Reyhan Saputra padanya sebelum mereka resmi menikah. Sambil menutupi tubuhnya, ia melontarkan makian kepada pria itu. Namun, Reyhan justru tertawa gemas melihat reaksi Ellen. Ia mematikan kompor, lalu melangkah maju hingga Ellen terdesak ke tembok. Saat Reyhan menyentuh tengkuknya, Ellen merasa geli sekaligus tegang. Dengan seringai nakal, Reyhan menawarkan untuk memberi contoh perbuatan tersebut.