
Kisah tak Terduga: Back to You
Bab 2
Pukul 22.00 WIB.
Jani dan Rayhan memilih untuk pulang lebih dulu karena sudah malam.
“Kak. Makasih ya, buat traktirannya. Kita pulang duluan, kasihan Elvan udah tidur pulas banget. Takut Mas Rayhan pegel juga dari tadi gendong dia.”
“Nggak apa-apa. Elvan masih kecil, nggak terlalu pegel.” Rayhan kemudian menerbitkan senyumnya.
Keduanya lantas pergi dari sana, sementara Samuel dan Vira masih duduk saling bersampingan. Vira masih terlihat canggung di dekat bosnya itu sebab baru hari pertama kerja, sudah dibawa dan dikenalkan pada keluarganya.
“Mau pulang sekarang?” tanya Samuel kepada perempuan itu.
“Boleh, Pak. Bapak sudah mau pulang sekarang?”
Samuel mengendikan bahunya. “Biasanya sering ke club dulu atau nongkrong sama temen-temen. Tapi, karena sudah malam dan saya juga harus antar kamu ke rumah kamu, kayaknya langsung pulang aja ke rumah.”
“Saya jadi nggak enak, Pak. Nanti saya naik taksi saj—”
“Nggak usah. Sekalian saya juga pengen tahu rumah kamu di mana.” Samuel kemudian mengulas senyumnya pada perempuan itu.
Vira meringis pelan dan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Pak. Bapak baik banget. Pantesan, Mbak Tata betah banget jadi sekretaris Bapak.”
Samuel terkekeh pelan. “Tata emang lucu orangnya. Tapi, banyak ke nyebelinnya.”
Vira terkekeh pelan. “Kalau itu saya kurang tahu.”
Samuel menghela napasnya dengan panjang lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mengambil minuman miliknya dan menyesapnya.
“Anak kecil yang tadi digendong oleh Rayhan, itu bukan anak kandungnya. Tapi, anak dari kakaknya. Orang yang sudah meninggal karena telah membunuh ibunya sendiri.”
Vira terkejut mendengar cerita dari bosnya itu. “Oh, iyaa. Saya dengar cerita ini Mbak Tata. Jadi, sebenarnya Mbak Jani ini istrinya kakaknya Pak Rayhan?”
Samuel menggeleng dengan pelan. “Nggak. Jani dan Rayhan sudah lebih dulu menikah. Satu tahun kemudian, Rayhan mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal karena hanyut dibawa air sungai.
“Tapi, yang sebenarnya terjadi adalah Rayhan mengalami koma selama dua tahun lamanya. Dia bangun juga karena Jani baru diberi tahu. Meski sempat amnesia, Rayhan akhirnya ingat semuanya. Jani dan Arga bisa menikah karena dijebak.
“Arga sengaja melakukan itu agar perusahaan itu semakin kuat menjadi miliknya dengan cara memiliki Jani. Memang agak rumit perjalanan cinta Jani. Tapi, akhirnya dia bisa melewati ini semua dengan sabar dan ikhlas.”
Samuel kemudian menoleh pelan pada Vira yang tengah mendengarkan ceritanya dengan saksama.
“Kalau kamu, kenapa orang tua kamu hanya menunggu kamu pulang saat kamu gajian saja? Memangnya ayah kamu tidak kerja?”
Vira menggeleng dengan pelan. “Ayah saya kerja. Tapi, tidak halal. Bisnis anak kecil dan juga perempuan yang akan dia jual ke mucikari dan lainnya. Hanya saja, uang itu habis entah ke mana yang akhirnya saya juga yang suruh kerja untuk makan dan biaya sekolah kedua adik saya.”
Samuel manggut-manggut dengan pelan. “Ibu kamu juga pasti sibuk urus rumah, yaa. Jadi, kamu terus yang dipaksa untuk kerja keras.”
Vira meringis pelan. “Nggak juga sih, Pak. Mohon maaf, kalau saya lancang. Tapi, memang seperti itu kenyataannya. Sebelum saya berangkat, jam lima subuh itu saya harus menyiapkan semuanya dulu.
“Dari masak, cuci piring, cuci baju dan beres-beres rumah. Jadi, ibu saya hanya ongkang kaki dan mungkin hari ini tidak akan pulang setelah dapat uang dari saya kemarin. Gaji terakhir di tempat kerja saya dulu.”
Samuel mengedip-ngedipkan matanya. Betapa ia sangat mengasihani hidup Vira yang cukup nelangsa itu.
“Nggak mau pindah rumah aja? Sendirian itu lebih nyaman dibanding jadi pembantu bahkan nggak dianggap sebagai anak oleh orang tuanya sendiri.”
Vira menghela napasnya dengan panjang. “Tidak, Pak. Saya tidak mau nanti ibu dan ayah saya nyari saya kalau pergi dari rumah itu. Juga kasihan pada adik-adik saya nanti, Pak. Takutnya mereka dijual oleh ayah saya.”
Samuel menggaruk alisnya seraya menatap Vira yang tengah menunduk sembari menyesap minuman miliknya.
“Mau pulang sekarang?” tanya Samuel kemudian.
Vira mengangguk. “Boleh, Pak. Sudah malam juga.”
Samuel mengangguk lalu beranjak dari duduknya. “Ya sudah, kamu tunggu di luar saja. Saya mau bayar dulu.”
“Baik, Pak.” Vira lalu bangun dari duduknya dan pergi keluar menunggu di dekat mobil lelaki sementara Samuel-nya sendiri masih di meja kasir tengah membayar semua makanan yang ia pesan tadi.
“Semoga Pak Samuel selalu baik seperti ini. Aku tidak boleh mengecewakan dia. Jarang sekali mendapat bos sebaik dia,” gumam Vira berharap Samuel bisa jadi bos terakhirnya.
Ia sudah sangat nyaman kerja di sana karena sudah terlihat bila Samuel memang pria yang baik. Tidak pernah angkuh meski seorang pemilik perusahaan dia mana ia bekerja kini.
“Yuk!” ajak Samuel lalu masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Vira.
“Rumah kamu di mana, alamatnya?” tanya Samuel kemudian.
Vira menoleh. “Jalan Kencana nomor tiga puluh, Pak. Gang Merpati.”
Samuel menganggukkan kepalanya. “Lumayan jauh juga, dari kantor. Kamu nggak punya kendaraan, yaa? Sorry, kalau pertanyaan saya sedikit menyinggung. Hanya ingin tahu saja.”
“Nggak apa-apa kok, Pak. Karena memang seperti itu. Saya pernah punya motor. Tapi, ditarik lagi karena tidak mampu membayar. Uang yang selalu saya sisipkan selalu saja ketahuan oleh ibu saya.”
Samuel menelan saliva dengan pelan. “Kalau nanti saya belikan kamu motor, yang ada diambil lagi oleh ibu kamu. Apalagi kalau beli mobil.”
“Tidak usah, Pak. Jangan. Karena percuma, nggak akan awet,” tolak Vira lalu meringis pelan.
“Baiklah kalau begitu. Kamu naik taksi saja biar nggak kena debu jalanan.”
Samuel mengambil dompet kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada Vira. “Ini, buat uang saku kamu. Jangan sampai ketahuan oleh ibu kamu.”
“Ng—nggak usah, Pak. Saya masih ada kok untuk ongkos taksi.” Vira menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan menolek pemberian Samuel itu.
Samuel menghentikan mobilnya sebab traffic light berwarna merah. Ia kemudian mengambil tas Vira dan memasukan uang tersebut ke dalamnya.
“Jangan menolak rezeki, pamali. Buat makan siang kamu, ongkos naik taksi dan keperluan lainnya. Jangan sampai ketahuan oleh ibu kamu. Ingat itu! Kalau kamu menolaknya, saya akan mencari pengganti kamu.”
Vira lantas menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Te—terima kasih banyak, Pak. Saya akan bekerja dengan giat dan tidak akan mengecewakan Bapak.”
Samuel tersenyum tipis lalu menatap wajah Vira. ‘Mata kamu … seperti mata perempuan yang kini sudah pergi meninggalkanku, Vira. Siapa sebenarnya kamu ini? Kenapa aku merasa nyaman, berada di dekat kamu?’
Anda Mungkin Juga Suka





