Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KIBAS DASTER BUNDA

KIBAS DASTER BUNDA

Dona, ibu tiga anak yang telah menikah selama 17 tahun, sering disepelekan karena penampilannya yang hanya berdaster dan dianggap kuno oleh putri sulungnya, Sakura. Di tengah tekanan ekonomi akibat krisis di kantor suaminya dan tuntutan keluarga yang tinggi, Dona harus berjuang sabar. Namun, rasa jenuh sang anak memicu tekad Dona untuk bertransformasi. Ia memutuskan mengungkap rahasia masa lalunya demi membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi sosok luar biasa bagi keluarga.
Bab
Bagikan

Bab 3

Jam menunjukan pukul delapan malam. Dona belum mendapat balasan telpon atau pesan dari putrinya, Sakura. Ia duduk di depan teras rumah sederhana miliknya. Tak lama terdengar suara mobil Mario datang dan dengan cepat Dona membuka pintu pagar. Bambi masuk dan terparkir rapih di garasi. Terlihat asap sedikit banyak keluar dari knalpot. Dona tersenyum menatap Mario yang keluar dari dalam mobil. Ia terkekeh juga saat melihat ke arah knalpot.

"Besok Bambi bawa ke dokter aja, Ayah, kasian udah tua, pasti sering sakit-sakitan." Dona menutup pagar sambil cekikikan.

"Iya, Bunda Dona. Udah direncanain, kok. Anak-anak mana? Tumben sepi?" Mario celingukan sambil melepas sepatu kerjanya.

"Dimas lagi ke rumah Fadil, Akasia tidur ... habis makan tadi ngantuk katanya."

"Sakura mana?" Mario melepas dua kancing kemeja paling atas dan melipat lengan kemejanya hingga ke siku.

"Semalem izin ke aku mau nonton sama temen-temennya, tapi sampe sekarang belum pulang, aku udah chat sama telpon tapi nggak dibales, aku jadi mikir yang enggak-enggak, kan." wajah Dona begitu cemas.

Ia tak suka jika Sakura sudah seperti ini. Bukannya ia melarang, tapi memang Sakura anak perempuan dan harus ia jaga dua kali lipat dibanding anak laki-laki.

"Hang out kali, Bun sama temen-temennya. Toh, besok libur," sahut Mario yang memang cukup memanjakan Sakura. Tak jarang Sakura jadi keras kepala dan seenaknya. Kadang justru Dimas yang bersikap dewasa dibanding Sakura. Suara motor dan gelak tawa dua orang terdengar. Dimas dan Fadil. Anak keduanya itu turun dari boncengan Fadil sambil tetap masih tertawa geli.

"Oy!" Panggil Mario. Kedua anak muda itu menoleh.

"Malam Om Mario! Tante Donaaa! Anak perjakanya saya balikin tanpa lecet, nih," ucap Fadil konyol, sikapnya itu sudah dihafal Mario dan Dona.

"Makasih, Dil! Gue tunggu kabarnya yang tadi itu." Dimas mengangkat tangan dan membuka pagar.

"Siap! Hp lo stand by aja mamennnn! Om ... Tante, Fadil ganteng pulang ya!" Fadil melambaikan tangan. Mario dan Dona terkekeh.

"Bunda sama Ayah, kok masih di luar?" tanya Dimas yang duduk selonjoran di lantai teras.

"Nunggu Kakakmu, belum pulang. Ayah juga baru sampai." Dona menatap ke layar ponselnya lagi. Sudah jam delapan kurang.

"Emang Kakak belum pulang?" Pertanyaan Dimas membuat Dona dan Mario kompak memicingkan matanya menatap ke Dimas yang langsung senyum-senyum. Ia salah melempar pertanyaan, kalau Sakura sudah pulang, untuk apa Dona dan Mario duduk di teras depan rumah.

"Aduh ... Bunda khawatir, nih." Dona beranjak dan berjalan ke depan pagar. Mengintip ke kanan dan kiri tapi tak ada yang datang.

"Ayah mandi dulu, kamu temenin Bunda di sini. Coba hubungin Sakura, siapa tau mau bales atau angkat telpon kamu kalau bukan Bunda yang telpon." Mario beranjak.

"Emang Kakak nggak bales chat atau telpon Bunda?" Dimas menatap ke Dona dan tampak terkejut saat Dona menggeleng.

'Resek banget punya Kakak satu doang.'

Umpat Dimas sambil coba menghubungi Sakura.

***

Di dalam mobil.

Sakura sedang tertawa bersama Alden. Ya, dia di mobil Alden. Ia lalu menatap layar ponsel dan melihat nama adiknya muncul di layar.

"Ya, Dim" jawab Sakura.

"Di mana?"

"Arah pulang."

"Ok." Lalu telpon terputus. Sakura memasukan ponsel ke dalam tas dan diam. Ia tau, jika Dimas sudah berbicara singkat, tandanya ia bikin kesalahan. Jam menunjukan pukul setengah sembilan malam. Suara mobil terdengar. Mobil itu berwarna hitam. Bukan putih seperti mobil Meyra. Dona beranjak begitu pun Dimas. Kedua mata Dona membulat saat Sakura keluar dari mobil bersama seorang cowok. Masih dengan seragam SMA juga.

Dona sudah mau marah tapi ia urungkan. Dimas merangkul bahu bundanya dan mengusap. Menenangkan emosi. "Bunda," ucap Sakura pelan. Dona memaksa tersenyum.

"Maaf terlambat pulangnya." Sakura berjalan bersama cowok itu.

"Bun, ini temen sekolah Kakak, Senior satu tingkat. Algen namanya." Sakura tampak ragu. Ia sesekali menunduk.

"Malam Tante ... saya Algen." Alden meraih tangan Dona dan mencium punggung tangannya.

"Malam." jawab Dona singkat.

"Maaf kita pulangnya malam Tante, Algen nggak tahu nomor HP Tante, jadi nggak bisa izin," ucap Algen.

"Nggak bisa tanya sama Sakura!" kini suara berat seorang pria terdengar.

O-ow paduka raja yang muncul. Sontak Sakura menoleh ke Algen dan memberi kode supaya Algen pulang.

"Ma-lam, Om, " sapa Alden sedikit ragu campur takut.

"Anak mana kamu! Diajarin orang tuanya nggak bawa anak perempuan orang sampe malam gini! Di mana kamu tinggal!" kini suara seorang ayah yang terdengar. Dona mengerjap.

"Gue saranin lo balik. Dari pada itu pot bunga Bunda gue nabrak kepala lo. Lain kali kalau mau bawa Kakak gue--" Dimas menatap sinis ke Alden. "Yang sopan!" lanjutnya. Algen mengangguk.

"Saya pamit Om, Tante, permisi" Alden begitu ciut. Sakura pun tak di pamitkan oleh Alden. Kini Sakura yang kesal dan marah. Wajahnya sinis menatap Dona.

"Bunda kayak nggak pernah muda aja!" omel Sakura sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Dona diam.

"Lho, yang marah kan, Ayah, kenapa Bunda yang di semprot Sakura?" tatap Dona bingung ke Suami dan anak lelakinya.

***

"Kak, Kakak..." sudah kesekian kalinya Sakura tak menjawab ketukan pintu kamarnya. Dona terus memanggil anak perempuannya untuk makan. Ia melewatkan sarapan pagi bersama yang rutin dilakukan. Kini sudah mendekati jam makan siang. Sakura masih mengunci kamarnya.Dona menghela napas, ia duduk di ruang tamu. Memikirkan sejenak, sesuatu supaya Sakura mau buka pintu.

"Kakak marah sama Bunda ya? Kakak ngambek ya?" Dona kembali beranjak dan berdiri di depan pintu kamar Sakura.

"I am sorry sayang. Bunda cuma khawatir sama kamu, lho, Bunda juga pernah muda, tapi pergaulan sek--"

KLEK. Pintu kamar terbuka.

"Bunda, tuh, lebay. Bunda kebiasaan apa-apa takut, apa-apa khawatir. Kakak udah gede Bunda, udah mau tujuh belas tahun. Kakak bisa jaga diri. Kakak tau mana yang baik sama buruk. Kakak malu kalau Bunda apa-apa larang, apa-apa batasin! Kakak juga butuh bergaul dan deket sama lawan jenis Bunda. Kakak--" Sakura menghentikan ucapannya. Ia menatap Dona lekat.

"Kakak nggak mau kayak Bunda yang kuper dan di rumah terus. Kakak nggak mau kayak Bunda!" lalu Sakura menutup pintu kamar walau tak membantingnya. Dona diam. Tak menjawab atau membantah.

Mario dan Dimas yang baru pulang dari bengkel menatap terkejut. Mereka berdua melihat Sakura marah-marah. Dimas sudah emosi tapi Dona berjalan menghampiri sembari menggelengkan kepala. Meminta Dimas tak marah ke Sakura.

"Udah ... biasa, anak remaja. Udah ... udah." Dona lalu berjalan ke meja makan. Dimas dan Mario hanya saling menatap.

"Ayah, nanti jam satu bukannya ada rapat di sekolah Sakura?" suara Dona sengaja ditinggikan supaya Sakura dengar. Mario mengangguk. Dimas masih menatap kesal ke bundanya.

"Bunda boleh ikut?!" kembali Dona bernada sedikit tinggi saat berbicara. Pintu kamar Sakura kembali terbuka.

"Ayah aja yang ke sekolah Kakak, Bunda di rumah aja. Kakak nanti diledekin sama temen-temen karena penampilan Bunda." Begitu ketus, Sakura lalu masuk ke dalam kamar mandi.

"Kak!" bentak Dimas. Sakura menoleh dan menatap Dimas.

"Apa!" omel Sakura. Dimas maju selangkah. Dona berlari dan berdiri di antara dua anak remajanya.

"Mandi ya, Kak, Kakak harus ikut ke sekolah. Makan dulu sebelum berangkat, ya," ucap Dona sambil memeluk Dimas.

Mario hanya diam. Ia cukup terkejut melihat putrinya memaki Dona seperti itu. Ia duduk di kursi meja makan. Dona dan Dimas menyusul.

"Biasa kayak gini. Anak remaja ..., Bunda yang salah, bener kok apa yang dibilang Sakura, kalian makan ya, nanti Bunda pisahin untuk Sakura sama Akasia. Akas kemana ya, ngomong-ngomong." Dona sejak tadi tak melihat anak bungsunya itu.

"Di minimarket sama Mami. Tadi ketemu kita, Bun di jalan," jawab Dimas.

"Lihat nih, pasti pulang-pulang bawa dua kantung penuh. Mami Silvi tuh kebiasaan banget, Bunda sampe suka malu." Dona masih bisa tersenyum dan tertawa. Mario mengusap kepala istrinya itu dengan tatapan nanar.

"Kenapa, jangan lihatin Bunda kayak gitu. I'm ok. Anak remaja emang kayak gitu."

Dona tersenyum. Mario mengangguk, sedangkan Dimas menatap kesal ke bundanya.

***

Dona duduk di atas ranjang setelah ia memasukan pakaian suami dan dirinya yang sudah disetrika. Ia menatap sendu ke arah jendela. Lalu menoleh ke cermin meja rias miliknya. Ia menatap penampilannya.

Daster motif batik, rambut yang ia biarkan tergerai sepanjang punggungnya. Wajah tanpa riasan atau bedak. Bibir tipis yang pucat.

'Dona, keep smile.' ucapnya dalam hati. Walau kemudian air mata menetes di pipinya.

Ia tau, Sakura malu menatap penampilan dirinya. Tapi ia harus apa lagi. Jika ia membeli kebutuhan dirinya. Ia akan mengorbankan uang belanja harian dan kebutuhan suami serta anak-anaknya yang berkegiatan di luar rumah.

Ia memejamkan mata. Menghapus bulir-bulir air matanya dan tersenyum. Ia mengambil kunciran rambut lalu merapihkan rambutnya sembelum ia cepol rapi.

"Semoga Sakura sukses di masa depan, jangan kayak bundanya. Semangat Dona!" Ia berucap kepada dirinya sendiri di depan cermin.

"Bunda hujan!" teriak Akasia.

"Ehhh! Jemuran bundaaa! Dimassss ... angkatin tolong!" Dona berlari keluar dari kamar. Tanpa Dona tau, Dimas sudah mengambil jemuran yang sudah kering, lalu Dona membantunya.

"Bunda, Akas hujan-hujanan boleh?" Akasia sudah berdiri di teras.

"Iya. Sama Abang, ya," ucap Dona. Dimas meletakkan baju kering di atas Sofa ruang tamu, lalu ia dan Akas menuju ke halaman kecil di depan teras lalu ikut hujan-hujannya.

Dona tertawa melihat tingkah dua anak lelakinya. Bermain hujan pun, bisa menjadi hiburan untuk keduanya. Dona duduk di sofa ruang tamu sambil melipat baju dan memperhatikan raut wajah Akasia dan Dimas yang tertawa bersama.

'Maaf ya, Nak, Bunda sama Ayah belum bisa ajak kalian liburan.'

Bersambung,

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JXW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JXW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aktor Idola Dan Author Barbar
8.4
Erick Adrian merupakan aktor ternama yang memiliki karier cemerlang dan kekasih seorang model cantik. Meski bergelimang harta, ia merasa resah dengan citranya sebagai bintang film dewasa. Hidupnya berubah saat ia terlibat konflik dengan penulis novel bernama Kaemila. Sebuah kecelakaan tragis yang menyebabkan Kaemila lumpuh dan hilang ingatan memaksa Erick untuk bertanggung jawab melalui pernikahan. Akankah Kaemila pulih dan sanggup menerima Erick sebagai suaminya?
Sampul Novel Aku Pasti Bisa Tanpamu
7.8
Selama delapan bulan, seorang istri bertahan dalam siksaan batin dan diperlakukan layaknya pelayan oleh suami serta keluarga mertuanya. Ketakutan akan status janda membuatnya bungkam hingga pengkhianatan suaminya terungkap. Meski diusir dari rumah warisan orang tuanya sendiri akibat kelicikan mereka, ia kini bangkit dalam keadaan mengandung. Ia bertekad memulai lembaran baru demi membuktikan bahwa dirinya mampu meraih kesuksesan dan kemandirian tanpa mereka.
Sampul Novel Ashes Of Love (Abu Cinta)
8.3
Arkan dan Dinar tumbuh bersama di panti asuhan dengan janji suci untuk menikah. Namun, sebuah tragedi mengirim Arkan ke penjara. Usai bebas, ia hancur mendapati Dinar telah menikah dengan pria lain. Rasa cinta itu berubah menjadi benci akibat pengkhianatan sang kekasih. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Kirana, yang ternyata merupakan putri tiri Dinar. Di sinilah dendam dan luka masa lalu mulai memicu konflik baru yang tak terduga bagi mereka.
Sampul Novel Hasrat Liar Istri Hyper
7.9
Zara, wanita cantik dengan gairah besar, terjebak dalam pusaran perselingkuhan yang berbahaya. Hasratnya yang tak terbendung membawanya menjalin hubungan rahasia dengan Pak Haris, atasan suaminya, hingga Dr. Zein yang memikat. Di tengah pertemuan terlarang ini, batas moralitasnya mulai memudar. Zara kini harus menghadapi konflik batin antara kenikmatan sesaat dan rasa bersalah yang mengancam kehancuran hidupnya. Mampukah ia berhenti sebelum semuanya musnah?
Sampul Novel Istri Kontrak Mr Billionaire
8.6
Demi membiayai pengobatan sang ibu, Claudya terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan miliarder ternama asal Eropa. Namun, kehidupan barunya justru penuh penderitaan karena sang suami menjadikannya pelampiasan rasa sakit hati akibat ditinggalkan mantan kekasih. Meski raga dan jiwanya sempat terpikat, Claudya akhirnya memilih menyerah. Ia memutuskan untuk pergi menjauh demi mengakhiri segala kepedihan dalam hubungan yang tidak berlandaskan cinta tersebut.
Sampul Novel MENIKAHI CEO LUMPUH
9.1
Demi kesembuhan sang ayah, Sofia yang baru berusia 19 tahun terpaksa menikahi Yesaya, seorang CEO lumpuh berumur 33 tahun. Awalnya penuh tekanan, perasaan Sofia berubah menjadi cinta tulus saat menemukan surat wasiat bunuh diri suaminya. Namun, cinta itu justru dibalas penolakan. Yesaya sengaja menjauhkan diri dan melakukan tindakan ekstrem demi melindungi rahasia serta kebahagiaan Sofia, meski hal tersebut malah menghancurkan hidup istrinya.