
Ketika Suami Mulai Bosan
Bab 2
Rasa penasaranku semakin menjadi. Ketika pandanganku beralih ke tempat tidur. Gegas aku berjalan mendekat. Rupanya tidak cukup sampai situ Nisa juga menaburi seprei dengan kelopak bunga mawar. Di tengah-tengah dia bentuk sedemikian rupa hingga terlihat seperti hati lalu di tengahnya ada sebuah kue ulang tahun. Seketika jantungku mendadak sakit ketika membaca kotak dari kue itu bertuliskan Lavanda Cake. Mungkinkah Nisa ada di sana? Dia mendengar semuanya? Aku mengatakan hal buruk tentangnya. Sekarang lihatlah yang di lakukan. Aku yang bahkan lupa dengan hari ulang tahun sendiri, tapi dia mau susah payah mendekor kamar kami hingga tampak begitu indah. Di tengah rasa bersalah yang terus menjalar ke lubuk hati terdengar suara pintu terbuka.
“Selamat ulang tahun, Sayang.” Dia berkata dengan mata nanar. Perempuan yang beberapa jam yang lalu telah kubuka aibnya di depan teman-temanku lalu kami menertawakannya tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sekarang bagaimana bisa dia tengah tersenyum manis, dengan segala persiapan yang cukup merepotkan. Aku merasa begitu tidak tahu diri.
“Abang tahu bagian paling menyakitkan dari kehilangan?” tanya Nisa, sekaligus memulai pembicaraan di antar kami.
“Apa?”
“Dilupakan, meski kenyataannya ragaku selalu disisimu. Dulu kita enggak saling mengenal hingga seiring berjalannya waktu. Aku jadi segalanya buat Abang tapi kemudian rasa itu mulai memudar. Hingga datang hari ini. Ketika hadirku tidak lagi berarti dan bukan lagi jadi prioritasmu. Meski enggak pernah mengungkapkannya secara langsung. Aku tahu hatimu telah lama berpaling. Entah di bagian mana namaku tersimpan atau jangan-jangan sekarang sudah terhapus seutuhnya?" Tidak menyangka dia akan mengatakan kalimat itu. Bukan salahnya lagi juga bukan salahku. Entah salah siapa yang jelas kami tidak bisa menolak ketika rasa bosan itu mulai menyapa. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Mengakuinya atau tidak semua itu berawal dariku. Sengaja menabur api ke dalam rumah tanggaku sendiri. Kejenuhan ini membuatku lupa akan arti cinta sesungguhnya.
“Maafkan Abang, Dik.” Aku berjalan mendekatinya sembari berusaha memeluk tubuh mungil yang berbalut daster kumal yang menjadi gaya khasnya ketika di rumah. Mengabaikan bau pesing yang sekali lagi menyeruak masuk mengganggu Indra penciuman. Aku tetap merengkuhnya, membenamkan tubuh itu ke dalam dada. Untuk beberapa saat, kami larut dalam suasana yang entah. Sampai akhirnya dia berusaha melepaskan diri.
“Kalau aku maafkan. Maukah Abang, menautkan hati padaku lagi seperti semula?” tanya Nisa seraya menahan tanganku yang hendak memeluknya kembali.
“Dik.”
Aku tidak mau kalah, tetapi lagi-lagi Nisa menahan sekuat tenaga hingga tanganku tidak kuasa memeluknya.
“Aku tahu pasti enggak mungkin ‘kan?”
Aku terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa.
“Benar kata Abang aku ini istri yang membosankan dan seleraku itu kampungan, kuno! Sampai anak-anak pun ikut kelihatan kampungan.”
“Siapa yang berani mengatakan seperti itu, Dik?” Mataku kian lekat menatapnya tapi dia malah tertunduk. Aku bisa tahu ada kesedihan yang mendalam di sana. Nisa bersandar pada dinding, sedang tangannya mengepal kuat. Seperti berusaha menahan emosi yang sebentar lagi mungkin akan meledak.
“Abang sendiri yang bilang tadi sore, di depan semua teman-teman.”
“Tadi sore? Jadi Adik ada di situ?” Melihatnya begitu hancur mendadak sekelebat bayangan Fredi dan Haris yang tertawa di Cafe tadi sore melintas tanpa dapat kucegah. Tawa mereka yang nyaring itu. Kenapa justru membuat rasa bersalah kian menjalar ke dalam dada?
“Aku sama anak-anak ada di belakang, melihat saat kami jadi bahan lelucon teman-teman Abang.”
Nisa menatap lekat, tidak ada lagi tangisan hanya badannya yang sedikit bergetar.
“Kenapa enggak bilang? Kita mungkin bisa pulang sama-sama.”
“Enggak usah pura-pura, kami sudah dengar semuanya kok tadinya kami mau buat pesta kejutan ulang tahun. Kebetulan di sana ada banyak kue kesukaan Abang. Niatnya mau beli beberapa potong untuk dibawa pulang tetapi, di sana malah melihat orang yang begitu kami hormati menjadikan kami bahan tertawaan,” ujarnya sedikit tercekat. Tatapannya yang memilukan seakan menghipnotisku hingga ikut larut dalam kesakitan yang ia rasakan.
“Harusnya bilang. Abang enggak tahu kalau Adik ada di sana.”
“Untuk apa? Kalau dengan kehadiranku cuma bikin malu.”
“Enggak seperti itu, Dik.”
Aku berusaha meraih tangan Nisa menggenggamnya erat supaya membuatnya percaya padaku.
“Abang mau menikah lagi?” tanya Nisa.
“Kamu mengizinkannya?” Nisa refleks merenggangkan tanganku. Namun, aku tetap mengeratkannya kembali.
“Kasih kesempatan Abang sekali saja.”
Aku meletakkan tangannya di depan dadaku. Nisa menatap Nanar, bibirnya mulai bergetar.
“Untuk apa?” tanyanya lirih hampir saja tidak terdengar.
“Izinkan aku menikahi Santi Dik.” Bulir bening yang sedari tadi dia tahan akhirnya mengalir tanpa dapat dicegah. Tidak ada jawaban hanya air matanya yang seakan bicara. Aku tahu bukan hal mudah baginya memberikan izin untuk menikah lagi tapi rasa ini tidak mampu lagi dicegah. Bukankah aku hanya laki-laki normal yang butuh asupan. Hidupku berantakan karena pikiran yang tak karuan. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya hampa bagai mati rasa. Aku bukan tak mencintainya tapi Nisa bahkan dia tak lagi mampu menyediakannya untukku.
“Aku enggak mengizinkannya, Bang.”
“Kenapa? Bukannya Adik sendiri yang bilang dari pada melakukan sesuatu yang diharamkan Tuhan akan lebih baik menghalalkannya.”
“Kalimat itu Abang ucapkan sebelum memintaku untuk jadi istri dan sekarang kenapa mengatakannya lagi sebelum melamar perempuan lain?”
“Dik, Abang enggak bisa menahannya kali ini. Takut nantinya terjerumus dalam dosa. Bukannya Adik pernah bilang tidak akan pernah menentang poligami.”
Aku masih ingat dengan jelas dahulu saat kami sering diskusi tentang poligami hal itulah yang Nisa katakan. Bisa kurasakan dari tangannya yang masih dalam genggaman. Tubuh Nisa bergetar hebat. Apakah ini terlalu menyakitkan?
“Aku enggak pernah menentangnya bukan berarti aku harus mengamalkan sunah itu? Aku belum siap. Selamanya aku tidak akan siap.” Nisa mengentakkan tangannya cukup keras membuatnya terlepas dariku.
“Tapi Dik ....”
“Ini demi anak. Kamu yang meminta untuk punya banyak keturunan tapi kamu malah mau menikah lagi hanya karena syahwatmu tak tuntas. Ini hanya soal waktu. Tidak bisakah kamu menunggu sebentar lagi?”
Nafasku tercekat semua yang dia katakan benar. Aku telah memilih seseorang untuk masuk ke dalam rumah tanggaku hanya karena alasan nafsu yang tak tersampaikan. Apa bedanya aku dengan pria brengsek.
“Kamu tidak mengerti bagaimana laki-laki, Nisa.”
Sudah tiga bulan dia tak kunjung memberi hakku. Aku mencoba mengerti kalau dia belum suci tapi ini sudah terlalu lama. Apakah melahirkan membuatnya trauma? Kurasa tak mungkin bukankah dia baik-baik saja saat melahirkan putri kembar kami sebelumnya.
“Aku enggak pernah memintamu mengerti perasaan perempuan, tapi yang kamu minta sama saja merenggut kebahagiaan hidupku,” kata Nisa. Kali ini bahunya ikut naik turun seolah larut dalam emosi.
“Abang bisa adil, kalaupun kamu tak mau ....”
“Abang mau bilang laki-laki tidak perlu izin istri untuk berpoligami? Lain kali tidak perlu minta izinku. Lakukan saja semaumu! Sesuai hukum yang kamu tahu.”
“Dik.”
“Enggak usah panggil Adik lagi Bang! Sekarang bagimu aku cuma orang asing ‘kan? Yang pendapatnya tidak perlu dihiraukan lagi.”
Tiba-tiba kilatan cahaya sejenak menerangi seisi ruangan, lalu tidak lama suara petir menggelegar tepat di saat Nisa selesai bicara. Aku sedikit tersentak, sedangkan Nisa tidak bergeming sedikit pun. Untuk menenangkan diri dari keterkejutan. Kuhembuskan nafas perlahan berkali-kali sembari memberi jeda untuk kami mendinginkan hati dan kepala yang mulai tersulut emosi.
Anda Mungkin Juga Suka





