
Ketika Suami Membagi Cinta
Bab 2
Matahari pagi menembus celah tirai kamar, mengusir sisa gelap malam yang masih tertinggal. Arunika terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya sembap, masih menyimpan jejak tangisan semalam. Namun ketika ia menoleh dan mendapati Mireya meringkuk manis di sampingnya, seakan semua luka bisa sedikit terobati.
"Sayang, bangun. Hari ini Mama antar kamu ke sekolah."
Arunika mengusap lembut rambut hitam Mireya.
Gadis kecil itu membuka mata dengan malas, lalu tersenyum. "Mama yang antar? Bukan Papa?" tanyanya polos.
Pertanyaan itu menusuk. Arunika terdiam sejenak sebelum menjawab, "Papa sibuk, Sayang. Tapi Mama akan selalu ada untukmu."
Mireya mengangguk kecil, lalu memeluk erat ibunya sebelum beranjak bangun.
Di meja makan, Arunika sudah menyiapkan sarapan. Roti panggang, telur mata sapi, dan segelas susu untuk Mireya. Sementara untuk dirinya sendiri, cukup secangkir kopi.
"Yummy! Aku suka!" Mireya bersorak riang sambil mulai menyantap rotinya.
Arunika tersenyum melihat keceriaan putrinya. "Kalau habis sarapan, jangan lupa sikat gigi dulu, ya."
"Siap, Mama!" jawab Mireya dengan gaya memberi hormat, membuat Arunika terkekeh.
Namun senyum itu hanya berlangsung sebentar. Ketika matanya terarah ke kursi di seberang meja-tempat Davin seharusnya duduk-hatinya kembali kosong. Pagi-pagi seperti ini hampir selalu sama: kursi itu dibiarkan hampa, karena Davin berangkat lebih awal tanpa pamit.
Arunika menunduk, berusaha menepis perasaan yang menusuk. Ia tahu, berharap pada Davin hanya akan melukai dirinya sendiri.
Di perjalanan menuju sekolah, Mireya tak henti-hentinya bercerita. Tentang teman-temannya, tentang mainan baru, bahkan tentang keinginannya belajar menari.
"Mama, boleh kan aku ikut kelas balet?" tanya Mireya dengan mata berbinar.
Arunika terdiam sejenak. Biaya kelas balet tidak murah. Tapi ia tak sanggup mengecewakan anaknya. "Boleh. Nanti Mama carikan informasi, ya."
"Yeay! Aku sayang Mama!" Mireya langsung memeluk ibunya begitu sampai di halaman sekolah.
Arunika tersenyum, mencium pipi putrinya sebelum melepaskan. "Belajar yang rajin, ya."
Saat Mireya berlari masuk ke kelasnya, Arunika berdiri beberapa saat, memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Satu-satunya alasan ia bertahan dalam pernikahan ini hanyalah anak itu.
Siang hari, Arunika duduk di kafe dekat sekolah sambil membuka laptop. Ia masih bekerja sebagai editor lepas untuk sebuah penerbitan. Pekerjaan itu bukan hanya memberi pemasukan, tapi juga pengalih perhatian dari kehampaan rumah tangganya.
Namun hari itu, pikirannya sulit fokus. Kata-kata Selina yang kemarin meneleponnya terus terngiang di telinga: "Dia mencintaiku."
Arunika menggenggam cangkir kopi, matanya menerawang. Apa benar Davin mencintai wanita itu? Jika iya, kenapa ia masih bertahan di rumah? Kenapa ia tidak mengakhiri semuanya saja?
Pertanyaan itu menghantuinya, tapi tak ada jawaban.
Sore hari, Arunika menjemput Mireya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Davin sudah berada di sana lebih dulu. Pria itu berdiri dengan tubuh tegap, wajahnya dingin, namun tangannya menggenggam erat tangan kecil Mireya.
"Papa datang!" Mireya bersorak begitu melihat Arunika. "Aku tadi kira cuma Mama yang jemput."
Arunika menahan senyum kaku. "Aku tidak tahu kamu akan datang," katanya pada Davin.
"Pekerjaanku selesai lebih cepat," jawab Davin singkat.
Mereka berjalan bertiga menuju mobil. Sepanjang jalan, Mireya berceloteh riang, seakan tidak peduli pada ketegangan yang menggantung di antara orang tuanya.
Di kursi belakang, Mireya menunjukkan gambar lain pada Davin. Kali ini ia menggambar dirinya bersama seorang wanita berambut pirang.
"Ini siapa?" tanya Davin, pura-pura tidak tahu.
"Bu Selina! Dia baik sekali padaku. Dia suka kasih aku cokelat." Mireya tersenyum polos.
Arunika tertegun. Tangannya yang memegang kemudi hampir gemetar. Jadi Selina bahkan sudah menemui putrinya?
Davin menyadari perubahan ekspresi Arunika lewat kaca spion, tapi ia tidak berkata apa-apa. Hanya hening yang kembali menguasai perjalanan.
Malam itu, setelah Mireya tidur, Arunika mendatangi Davin yang sedang duduk di ruang kerja rumah.
"Kamu sudah bawa Selina menemui Mireya?" suaranya bergetar menahan emosi.
Davin tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya, lalu menatap Arunika. "Dia ingin mengenalnya. Lagipula, Mireya tampak senang."
"Tanpa izin dariku?" Arunika menahan amarah. "Aku ibunya, Davin. Kamu tidak bisa seenaknya."
"Kenapa tidak bisa? Dia juga bagian dari hidupku sekarang."
Arunika memejamkan mata, dadanya terasa sesak. "Bagian hidupmu, bukan hidup anakmu. Jangan campur adukkan."
"Jangan buat ini lebih sulit, Arunika."
"Sulit? Kamu yang membuatnya sulit!" suara Arunika meninggi. "Kamu ingin bersama Selina, silakan. Tapi jangan tarik Mireya ke dalamnya. Dia anak kecil. Dia tidak mengerti apa-apa."
Davin berdiri, wajahnya menegang. "Aku tahu kamu benci Selina. Tapi jangan larang aku dekatkan dia pada Mireya. Aku tidak akan sembunyikan apa pun dari anakku."
Arunika tercekat. "Kamu begitu tega... bahkan pada anakmu sendiri."
Davin menunduk, lalu berkata pelan, "Aku tidak pernah ingin menyakitinya."
"Kalau begitu, jangan biarkan dia bingung dengan kehadiran orang lain di antara kita."
Hening panjang terjadi. Tatapan mereka saling mengunci, penuh luka dan kemarahan yang tak terucap.
Malam itu, setelah Davin kembali ke ruang kerjanya, Arunika menangis sendirian di kamar. Ia merasa kalah, merasa tak punya tempat lagi.
Namun di sisi lain, ia juga tahu: jika ia menyerah sekarang, Mireya akan tumbuh dalam bayangan Selina. Dan itu yang paling ia takutkan.
Beberapa hari berlalu. Davin semakin sering menghabiskan waktu di luar rumah. Namun anehnya, setiap malam ia tetap pulang. Bahkan ketika ia jelas-jelas lelah dan tidak bicara apa pun, ia tetap memilih tidur di rumah.
Arunika tidak mengerti. Mengapa pria itu tidak pergi saja? Apa yang sebenarnya ia pertahankan?
Suatu malam, ketika Arunika hendak keluar kamar untuk mengambil air, ia mendengar suara di ruang kerja. Davin sedang berbicara di telepon.
"...aku tidak bisa, Selina. Jangan paksa aku." Suara Davin terdengar tegang. "Aku masih punya tanggung jawab di rumah."
Arunika berdiri terpaku di balik pintu. Hatinya berdebar kencang.
"...bukan begitu. Aku peduli padamu, tapi aku juga tidak bisa lepaskan Arunika begitu saja."
Air mata Arunika jatuh. Ia menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak terdengar.
Kalimat itu menusuk sekaligus menghangatkan. Jadi, Davin masih memikirkan dirinya? Atau hanya sekadar beban tanggung jawab?
Keesokan paginya, Arunika menatap Davin saat sarapan. Ia ingin bertanya, ingin tahu apa yang ada di dalam hati pria itu. Tapi lidahnya kelu.
Davin hanya duduk diam, menyeruput kopi, lalu pamit pergi bekerja.
Arunika menatap punggungnya, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Kamu tidak pernah benar-benar pergi... tapi juga tidak pernah benar-benar tinggal."
Hari-hari berjalan dalam ritme yang sama: hening, dingin, namun tetap bertahan. Arunika mulai terbiasa dengan rasa sakit yang diam-diam menjadi bagian dari hidupnya.
Namun satu hal yang selalu ia pegang: Mireya. Selama ia masih punya putrinya, ia akan terus bertahan.
Dan ia tahu, cepat atau lambat, Davin harus membuat pilihan.
Malam turun perlahan, membawa dingin yang merayap hingga ke dalam rumah besar keluarga Albrecht. Di kamar tidur utama, Arunika duduk di tepi ranjang dengan buku terbuka di pangkuannya. Namun matanya kosong, tidak benar-benar membaca. Pikirannya terus melayang ke percakapan yang ia dengar beberapa malam lalu-ketika Davin berbicara dengan Selina.
"Aku tidak bisa lepaskan Arunika begitu saja."
Kalimat itu terus terulang, seperti gema yang tidak pernah berhenti. Ada luka, ada sedikit harapan, tapi juga kebingungan. Apakah Davin benar-benar masih menganggapnya penting, atau hanya sekadar beban yang tidak bisa ia tinggalkan?
Pintu kamar berderit. Davin masuk dengan wajah lelah, dasi sudah longgar, kemeja sedikit kusut. Arunika mengangkat kepala, ingin menyapa, tapi kata-kata itu lagi-lagi tertahan.
"Sudah tidur?" tanya Davin, suaranya datar.
"Belum," jawab Arunika singkat.
Davin hanya mengangguk. Ia melepas jam tangan, meletakkannya di meja, lalu masuk kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi. Hening kembali menguasai.
Arunika menarik napas panjang, menutup bukunya. Ia merasa semakin asing dengan pria yang tidur di ranjang yang sama dengannya.
Sementara itu, di apartemen mewah yang berada di pusat kota, Selina berdiri di depan cermin. Gaun merah satin membalut tubuhnya, bibirnya dilapisi lipstik dengan warna serupa. Ia menatap pantulan dirinya dengan senyum puas, lalu mengambil ponsel dan menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.
"Davin," suaranya lembut, menggoda.
"Selina, sudah larut," suara di seberang terdengar berat, sedikit kesal.
"Aku hanya ingin dengar suaramu," Selina tertawa kecil. "Kamu tahu aku tidak bisa tidur kalau belum bicara denganmu."
Davin menghela napas. "Aku lelah. Besok kita bicara."
"Selalu saja besok," Selina mengerucutkan bibir. "Kamu tahu aku benci menunggu, Davin. Sudah berapa lama aku harus berada di posisi ini? Menjadi bayangan, sementara kamu pulang ke rumah yang seharusnya sudah kamu tinggalkan?"
"Jangan mulai lagi, Selina."
"Aku tidak mulai. Aku hanya mengingatkanmu. Kamu bilang mencintaiku. Tapi apa artinya kalau setiap malam kamu tidur di samping wanita lain?"
Kata-kata itu membuat Davin terdiam. Ia menekan pelipisnya, merasa kepalanya semakin berat. "Kamu tahu kenapa aku tidak bisa begitu saja pergi."
"Karena dia?" nada suara Selina meninggi. "Karena Arunika? Jangan bohong, Davin. Kamu tidak mencintainya. Pernikahan kalian hanya kesalahan masa lalu. Kenapa kamu masih terjebak?"
"Karena Mireya," jawab Davin akhirnya, suaranya tegas. "Dia anakku. Aku tidak bisa meninggalkannya."
Selina terdiam sejenak, lalu tertawa sinis. "Anak itu bisa tetap bersama kita. Aku tidak masalah. Tapi Arunika... dia yang selalu kamu pertahankan. Jangan pura-pura itu hanya tentang Mireya."
Davin tak menjawab. Selina menatap cerminnya dengan tatapan marah. Ia benci kalah. Dan ia tidak akan membiarkan Arunika menang hanya karena status sebagai istri sah.
Keesokan harinya, Arunika mengantar Mireya ke sekolah seperti biasa. Namun di gerbang, ia terkejut melihat Selina berdiri di sana. Wanita itu memakai setelan elegan, kacamata hitam menggantung di rambut pirangnya, wajahnya tersenyum seolah-olah tidak ada permusuhan di antara mereka.
"Arunika," sapa Selina ringan, seolah mereka teman lama.
Arunika terdiam. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku hanya kebetulan lewat. Dan Mireya bilang padaku kemarin bahwa hari ini ada acara di sekolah. Jadi aku pikir... kenapa tidak datang?"
Arunika mengepalkan tangan. "Kamu tidak berhak ikut campur dalam urusan anakku."
Selina mendekat, menunduk agar sejajar dengan Mireya. "Hai, Sayang. Selamat pagi. Kamu cantik sekali hari ini."
Mireya tersipu malu. "Bu Selina!" Ia memeluk wanita itu tanpa ragu.
Arunika tercekat melihat pemandangan itu. "Mireya, ayo masuk," ucapnya cepat, menarik tangan putrinya.
Selina berdiri tegak lagi, menatap Arunika dengan senyum tipis. "Kamu bisa larang aku bicara denganmu, tapi kamu tidak bisa larang aku dekat dengan Mireya. Dia suka padaku, dan kamu tahu itu."
Arunika membalas tatapan itu dengan mata berkilat marah. "Kalau kamu benar-benar mencintai Davin, seharusnya kamu cukup tahu diri. Jangan rebut apa yang bukan milikmu."
Selina tertawa pelan. "Kamu salah. Davin sudah menjadi milikku sejak lama. Kamu hanya menggenggam status. Dan status itu, cepat atau lambat, akan hancur."
Arunika tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Mireya lebih erat, lalu berjalan menjauh. Tapi di dalam hatinya, amarah dan rasa takut bercampur menjadi satu.
Siang itu, ketika Davin pulang lebih awal, Arunika tidak bisa menahan diri lagi. Ia menunggu pria itu di ruang tamu.
"Kita perlu bicara," katanya langsung.
Davin melepas jasnya, menatap istrinya dengan wajah datar. "Tentang apa lagi?"
"Selina," suara Arunika bergetar. "Aku bertemu dengannya pagi ini. Dia ada di sekolah Mireya. Apa kamu sengaja?"
Davin terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku tidak tahu dia akan ke sana."
"Kamu biarkan dia mendekati anak kita tanpa izinku? Apa kamu sudah tidak peduli sama sekali padaku, Davin?"
"Aku peduli pada kalian berdua," jawab Davin, kali ini dengan nada tegas. "Tapi aku juga tidak bisa begitu saja menyingkirkan Selina. Dia bagian dari hidupku sekarang."
Arunika menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Bagian dari hidupmu? Lalu aku ini apa? Beban? Formalitas?"
Davin mendekat, tatapannya menusuk. "Kamu pikir aku tidak tersiksa? Aku tahu aku salah. Aku tahu aku membuatmu menderita. Tapi aku juga tidak bisa bayangkan rumah ini tanpa kamu."
Air mata Arunika jatuh begitu saja. Kata-kata itu seperti paradoks. "Kamu mencintainya, tapi kamu tidak bisa melepaskanku. Kamu mau aku bagaimana, Davin?"
Pria itu menunduk, lalu menjawab lirih, "Aku tidak tahu."
Keheningan panjang tercipta. Arunika merasa semakin hancur. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara Davin berdiri mematung, seolah terjebak dalam dilema yang tidak pernah berakhir.
Di sisi lain kota, Selina duduk di kafe sambil menatap ponselnya. Pesan dari Davin belum juga masuk. Wajahnya gelap. Ia tidak pernah menyangka akan mendapat perlawanan sekuat itu dari Arunika.
"Kalau dia pikir bisa menyingkirkanku begitu saja, dia salah besar," gumam Selina.
Ia mengetik pesan pada Davin: "Aku tidak mau menunggu lebih lama. Pilih aku, atau aku yang akan membuat pilihan untukmu."
Jarinya menekan tombol kirim dengan penuh tekad.
Malam itu, Davin membaca pesan itu dengan wajah menegang. Arunika yang sedang menidurkan Mireya tidak tahu, bahwa di ruang kerja suaminya, ada badai lain yang tengah berkecamuk.
Davin menatap layar ponselnya lama, lalu meletakkannya di meja dengan kasar. Ia menenggelamkan wajah ke dalam kedua tangannya, merasa terjebak di antara dua dunia yang sama-sama tidak bisa ia lepaskan.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: Apa aku akan kehilangan keduanya sekaligus, jika aku terus seperti ini?
Anda Mungkin Juga Suka





