Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta

Ketika Suami Membagi Cinta

Enam tahun menikah, Arunika Selvara harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya, Davin Albrecht, mencintai wanita lain bernama Selina. Pernikahan yang bermula dari kesalahan masa lalu ini kian retak, bahkan putri mereka, Mireya, mulai berpaling pada Selina. Meski hatinya untuk wanita lain, Davin enggan bercerai. Di tengah luka yang membisu, Arunika memilih diam dan menyerah. Namun saat Arunika menjauh, Davin justru tersadar bahwa ia tak sanggup kehilangan istrinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, hujan turun deras. Rintiknya menabrak kaca jendela kamar dengan suara monoton, menciptakan denting seolah ikut menyuarakan kegelisahan hati Arunika. Ia duduk bersandar di kursi dekat ranjang, memeluk dirinya sendiri, mencoba menemukan kehangatan yang tak lagi ia dapatkan dari seorang suami.

Davin belum juga pulang, meskipun jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ini bukan lagi hal baru. Sudah berbulan-bulan ia terbiasa menunggu dalam kesunyian, lalu akhirnya menyerah dan tertidur dengan rasa hampa.

Namun malam itu berbeda. Ada sesuatu di dadanya yang mendesak, semacam firasat buruk yang membuatnya gelisah. Ia menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang. Telepon genggam miliknya bergetar-satu pesan masuk.

Arunika meraih ponsel itu dengan tangan sedikit bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

"Aku melihat suamimu bersama seorang wanita. Mereka tampak mesra. Aku pikir kamu berhak tahu."

Jantung Arunika berdegup tak karuan. Napasnya memburu. Ia mencoba menyangkal, mencoba berkata pada dirinya sendiri bahwa itu hanya orang iseng yang ingin merusak rumah tangganya. Namun logika itu cepat hancur saat ia melihat lampiran foto yang dikirim bersama pesan itu.

Foto itu jelas sekali menunjukkan Davin. Wajahnya, tubuhnya, tatapannya pada wanita yang berdiri di sampingnya. Dan wanita itu tak lain adalah Selina. Mereka tertawa bersama, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Senyum yang sudah lama tak pernah Davin tunjukkan pada Arunika, kini ia berikan dengan tulus kepada orang lain.

Air mata Arunika luruh tanpa bisa ia tahan.

Ketika akhirnya pintu rumah berderit terbuka, suara langkah kaki Davin menggema di lorong. Arunika buru-buru menyeka wajahnya, meskipun jejak merah di mata tak mungkin sepenuhnya hilang.

Davin masuk dengan jaket yang masih basah karena hujan. Wajahnya tampak kelelahan, tapi ada kilatan berbeda di matanya-sebuah kebahagiaan yang bukan berasal dari rumah ini.

"Belum tidur?" tanyanya datar, melepaskan sepatu tanpa benar-benar menoleh ke arah Arunika.

"Aku menunggu," jawab Arunika lirih.

Davin hanya menggumam singkat, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Seolah keberadaan Arunika hanyalah bayangan samar yang tak berarti.

Namun kali ini, Arunika tak sanggup lagi diam.

"Davin," panggilnya, suaranya bergetar.

Pria itu berhenti di ambang pintu kamar, menoleh dengan ekspresi bosan. "Apa lagi?"

Arunika berdiri, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kau bersamanya lagi, kan? Dengan Selina."

Wajah Davin mengeras. Tatapannya berubah dingin, menusuk seperti belati. "Siapa yang bilang?"

Arunika menelan ludah, lalu menatapnya dengan mata yang berair. "Aku tahu. Aku lihat sendiri."

Hening panjang menggantung di udara. Hanya suara hujan yang terdengar, menambah tegang suasana.

Akhirnya Davin melangkah mendekat, wajahnya semakin dekat dengan Arunika. "Dan kalau iya? Kau mau apa?"

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada pengakuan apa pun.

Arunika terdiam, lidahnya kelu. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin menuntut. Tapi suaranya terkubur oleh rasa sakit yang terlalu besar.

Davin tersenyum sinis, lalu menjauh. "Aku sudah lelah, Arunika. Jangan buat semuanya lebih sulit."

Arunika terhuyung, tubuhnya lemas. Kata-kata itu menghancurkan sisa kekuatan yang ia miliki.

Keesokan harinya, suasana rumah masih membeku. Mireya bangun pagi dengan wajah ceria, berlari kecil menghampiri ibunya.

"Mama, hari ini kita bisa jalan-jalan, kan? Papa janji mau ajak aku."

Arunika menunduk, mencoba tersenyum meski hatinya terasa remuk. "Iya, sayang. Mama akan tanya Papa dulu, ya."

Namun saat Davin muncul dengan pakaian kerja rapi, Arunika sudah tahu jawabannya.

"Papa, kita jadi jalan-jalan?" tanya Mireya penuh harap.

Davin berhenti sejenak, lalu menatap jam di tangannya. "Maaf, sayang. Papa sibuk. Lain kali, ya."

Wajah Mireya langsung meredup. Ia menunduk, memainkan jarinya dengan kecewa.

Arunika ingin memprotes, ingin menegur Davin karena mengingkari janji pada anak mereka. Tapi melihat dinginnya tatapan suaminya, ia menelan kembali semua kata yang hendak keluar.

Hari-hari berikutnya, keadaan semakin memburuk. Davin makin sering pulang larut, bahkan beberapa kali tak pulang sama sekali. Mireya yang dulu begitu lengket dengan Arunika, kini lebih banyak mencari perhatian ayahnya.

"Papa lebih seru," kata Mireya suatu malam, polos tanpa sadar menyakiti hati ibunya. "Papa suka cerita sama aku. Mama sering diam saja."

Arunika tersenyum pahit. "Maafkan Mama, sayang. Mama akan berusaha lebih baik."

Namun jauh di lubuk hatinya, Arunika tahu ia sedang kehilangan. Kehilangan suaminya, kehilangan anaknya, dan perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Suatu sore, Arunika duduk di taman belakang rumah. Pandangannya kosong, menatap bunga mawar yang layu karena hujan beberapa hari terakhir.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Dengan ragu, ia menjawab.

"Halo?"

Suara wanita terdengar di seberang. "Bu Arunika?"

"Ya, siapa ini?"

"Aku... seseorang yang kenal dengan Selina. Aku hanya ingin bilang... hati-hati. Dia bukan orang yang kau kira."

Arunika tercekat. "Maksudmu?"

Namun sebelum ia mendapat jawaban, sambungan itu terputus.

Tangannya bergetar memegang ponsel. Hatinya dipenuhi rasa takut sekaligus penasaran. Ada sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, yang tersembunyi di balik hubungan Davin dan Selina.

Hujan baru saja reda ketika Arunika berdiri di depan sebuah kafe kecil di pusat kota. Tangannya menggenggam surat misterius yang ia terima seminggu lalu. Hatinya berdebar kencang, seperti genderang yang dipukul tanpa henti. Selama beberapa malam ia berpikir, menimbang apakah ia harus datang atau tidak. Namun pada akhirnya, rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.

Ia melangkah masuk. Aroma kopi dan roti panggang menyambutnya. Beberapa orang duduk santai, sibuk dengan laptop atau percakapan mereka sendiri. Arunika mencari-cari sosok yang tampak mengenalinya.

Di pojok ruangan, seorang wanita paruh baya melambaikan tangan. Rambutnya sebagian sudah memutih, wajahnya dipenuhi garis waktu, tapi sorot matanya tajam dan penuh rahasia.

"Bu Arunika?" tanyanya begitu Arunika mendekat.

"Iya. Anda yang mengirim surat itu?"

Wanita itu mengangguk, mempersilakan Arunika duduk. "Nama saya Ratna. Dulu saya pernah bekerja dengan Selina."

Arunika menelan ludah. "Apa yang Anda maksud dengan surat itu? Siapa sebenarnya dia?"

Ratna menatapnya lama sebelum menjawab. "Selina bukan sekadar wanita yang merebut suami Anda. Dia... jauh lebih berbahaya dari yang Anda kira."

Arunika merasakan bulu kuduknya berdiri. "Berbahaya bagaimana?"

Ratna mencondongkan tubuhnya, menurunkan suara. "Dia punya masa lalu kelam. Banyak pria yang terjebak olehnya, kehilangan segalanya. Bukan hanya harta, tapi juga keluarga, bahkan nyawa."

Arunika terperanjat. "Apa maksud Anda? Anda menuduh Selina seorang-"

"Saya tidak menuduh. Saya bicara berdasarkan pengalaman." Ratna mengeluarkan sebuah foto dari tasnya. Foto itu menunjukkan Selina berdiri bersama seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa. "Itu bos saya dulu. Pengusaha sukses. Tak lama setelah dekat dengan Selina, bisnisnya hancur. Ia bangkrut, lalu meninggal dalam keadaan misterius."

Arunika menatap foto itu dengan tangan bergetar. "Dan kau yakin Selina penyebabnya?"

Ratna mengangguk mantap. "Saya tahu karena saya ada di sana. Selina selalu tahu cara membuat pria tunduk. Dia memanipulasi, mengendalikan, lalu meninggalkan mereka dalam kehancuran."

Dunia Arunika seakan berputar. Hatinya sesak. Jadi bukan hanya perasaan cintanya yang direbut. Suaminya mungkin sedang dijerat dalam permainan berbahaya.

"Kenapa Anda memberitahu saya semua ini?" tanya Arunika lemah.

Ratna menatapnya dengan iba. "Karena saya tidak ingin ada lagi keluarga yang hancur karena dia. Saya lihat mata Anda, Bu. Anda masih mencintai suami Anda, meski dia menyakiti Anda. Jangan biarkan Selina mengambil segalanya."

Arunika menunduk, air matanya menetes tanpa ia sadari. "Tapi aku lemah. Davin bahkan tidak mau mendengar kata-kataku. Dia selalu membelanya."

Ratna menggenggam tangan Arunika. "Maka buktikan. Cari tahu siapa Selina sebenarnya. Hanya dengan bukti, Davin akan sadar."

Malam itu, Arunika pulang dengan pikiran berkecamuk. Rumah terasa asing baginya. Ia melangkah pelan ke kamar, mendapati Davin sedang duduk di tepi ranjang, mengetik sesuatu di ponselnya.

"Baru pulang?" tanya Davin sekilas, tanpa mengangkat wajah.

"Iya." Arunika berusaha terdengar tenang.

Davin menaruh ponselnya di meja. "Kau dari mana?"

Arunika menatapnya sejenak. "Bertemu seseorang."

Davin mendengus. "Seseorang? Lelaki?"

Nada sinisnya membuat dada Arunika panas. "Lucu sekali. Kau menuduhku, sementara kau sendiri selalu bersama Selina."

Wajah Davin menegang. "Jangan bawa-bawa dia lagi."

Arunika hampir membuka mulut untuk membalas, tapi ia menahan diri. Ratna benar-ia butuh bukti. Kata-kata saja tak akan mengubah apa pun.

Beberapa hari berikutnya, Arunika mulai mengamati gerak-gerik Selina. Ia mengikuti dari jauh, mencatat tempat-tempat yang sering didatanginya. Selina tampak selalu tampil sempurna, seolah hidupnya tak pernah retak.

Suatu sore, Arunika melihat Selina memasuki sebuah hotel mewah. Rasa curiga membuncah. Dengan hati-hati, ia menunggu di lobi.

Satu jam kemudian, Selina keluar bersama seorang pria asing. Mereka terlihat akrab, bahkan bergandengan tangan. Bukan Davin.

Arunika cepat-cepat memotret dari kejauhan. Tangannya gemetar saat menyimpan foto itu. Ada perasaan bersalah karena ia seperti menguntit, tapi juga ada secercah harapan. Inilah bukti yang bisa membuka mata Davin.

Namun saat malam tiba, Arunika menyadari sesuatu. Bukti foto itu mungkin tak cukup. Davin bisa saja menyangkal, menganggapnya hanya kebetulan. Ia butuh lebih.

Arunika menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab. "Aku harus kuat," bisiknya pada diri sendiri. "Demi Mireya. Demi keluargaku."

Sementara itu, Davin semakin tenggelam dalam hubungan dengan Selina. Ia sering pulang larut dengan alasan pekerjaan. Arunika pura-pura tidak tahu, tapi setiap kali mencium aroma parfum asing di jasnya, hatinya kembali robek.

Suatu malam, Davin pulang dengan langkah gontai. Wajahnya tampak lelah. Arunika yang sedang menyiapkan teh ragu-ragu menghampirinya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya hati-hati.

Davin menatapnya sebentar, lalu menghela napas panjang. "Aku... bingung."

Arunika terpaku. Ini pertama kalinya dalam beberapa bulan Davin menunjukkan kerentanan.

"Bingung kenapa?" suaranya lembut.

Davin menutup wajahnya dengan tangan. "Aku tidak tahu harus memilih apa. Hatiku... sudah terlanjur untuk Selina. Tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu. Atau Mireya."

Air mata Arunika menitik tanpa bisa ditahan. "Kalau begitu, kenapa kau biarkan aku hancur sendirian? Kau tahu rasanya diabaikan, diperlakukan seolah aku tak ada?"

Davin menunduk. Tak ada jawaban.

Malam itu, mereka tidur membelakangi. Jarak di ranjang serasa jurang yang tak bisa dijembatani.

Namun di dalam hati, Arunika berjanji: ia tidak akan tinggal diam lagi. Ia akan melawan dengan caranya sendiri.

Keesokan harinya, Arunika kembali menemui Ratna. Kali ini di tempat yang lebih sepi, sebuah taman kota.

"Saya sudah dapat sesuatu," kata Arunika sambil menunjukkan foto Selina bersama pria lain.

Ratna menatap foto itu lama. "Bagus. Ini awal yang baik. Tapi kita butuh lebih. Saya bisa bantu, kalau Anda siap."

Arunika mengangguk. "Saya siap."

Ratna tersenyum tipis. "Kalau begitu, bersiaplah. Perjalanan ini tidak akan mudah. Selina bukan wanita biasa. Dia licik, dan dia tidak akan segan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya."

Arunika merasakan ketakutan menjalar, tapi di balik itu ada api kecil yang menyala. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa punya arah.

Hari-hari berikutnya, Arunika menjalani kehidupan ganda. Di depan Davin dan Mireya, ia tetap menjadi istri dan ibu yang tampak tenang. Tapi di balik itu, ia mulai mengumpulkan informasi, menyusun potongan-potongan kebenaran tentang Selina.

Mireya beberapa kali menatap ibunya dengan bingung. "Mama, kenapa akhir-akhir ini sering keluar?"

Arunika tersenyum dan mengusap rambut anaknya. "Mama hanya ada urusan, sayang. Tapi Mama selalu pulang untukmu."

Di dalam hati, Arunika berjanji: apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan anaknya kehilangan keluarga.

Suatu malam, ketika Arunika sibuk memindai dokumen yang diberikan Ratna, pintu kamar terbuka. Davin berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan curiga.

"Kau sedang apa?"

Arunika tersentak, buru-buru menutup laptopnya. "Tidak ada. Hanya pekerjaan rumah tangga."

Davin melangkah mendekat, menatapnya lama. "Kau berubah, Arunika. Aku tidak tahu apa yang sedang kau sembunyikan."

Arunika menahan napas. "Aku tidak sembunyikan apa-apa."

Tapi dalam hatinya, ia tahu. Waktu mereka semakin singkat sebelum kebenaran terungkap.

Dan ketika malam semakin larut, Arunika menatap langit gelap di luar jendela. Ia sadar satu hal:

Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

Pagi itu, embun masih menempel di dedaunan halaman belakang rumah. Burung-burung berkicau riang, seolah sedang menyambut hari yang baru dengan penuh kebahagiaan. Namun, bagi Arunika, pagi ini terasa berat, sesak, dan penuh kerikil tajam yang tak kasat mata. Matanya sembab karena semalam tak bisa berhenti menangis.

Ia masih mengingat jelas bagaimana Dirga menatapnya dengan mata penuh amarah, bagaimana kata-kata dingin lelaki itu menusuk jantungnya tanpa ampun. Dan yang lebih sakit lagi, bagaimana Dirga lebih memilih membela Laras, sahabatnya sendiri yang sudah mengkhianatinya, daripada mendengarkan penjelasan tulusnya.

Arunika duduk di pinggir ranjang, meremas ujung piyama lusuh yang dikenakannya. Hatinya seperti disayat-berulang kali, tanpa jeda. Sementara di meja rias, bayangan wajahnya sendiri yang pucat, dengan lingkar hitam di bawah mata, seakan mengejeknya: "Kamu lemah. Kamu kalah. Kamu tak lagi berarti."

Perlahan, pintu kamar berderit terbuka. Naya, adik Arunika, masuk dengan hati-hati membawa nampan berisi segelas teh hangat dan sepiring roti tawar.

"Kak... ayo makan dulu. Dari tadi pagi belum ada yang masuk perut, kan?" suara Naya lirih, khawatir.

Arunika mengangkat wajahnya. Senyum yang dipaksakan muncul di bibirnya, meski matanya masih sembab.

"Terima kasih, Nay. Tapi... Kakak belum lapar."

Naya meletakkan nampan itu di meja kecil dekat tempat tidur. Ia kemudian duduk di sisi Arunika, menggenggam tangan kakaknya yang dingin.

"Kak... kalau terus-terusan begini, Kakak yang rugi. Jangan biarkan mereka menang dengan melihat Kakak hancur. Kakak harus kuat."

Air mata Arunika kembali jatuh, membasahi pipinya.

"Tapi Nay... Kakak nggak tahu harus mulai dari mana. Semua orang seakan menilai Kakak salah. Padahal Kakak nggak pernah melakukan itu."

Naya menatap kakaknya lekat-lekat, lalu memeluknya erat.

"Aku percaya Kakak. Aku tahu siapa Kakak sebenarnya. Yang penting sekarang, Kakak jangan menyerah. Kalau Kakak menyerah, mereka akan semakin mudah menginjak-injak."

Pelukan itu membuat Arunika sedikit merasa hangat. Namun, luka di hatinya masih terlalu dalam.

Sementara itu, di ruang tamu rumah besar keluarga Dirga, suasana pagi terasa tegang. Ibu Dirga, Ny. Ratna, duduk dengan wajah dingin sambil menyeruput teh. Dirga berdiri di dekat jendela, tatapannya kosong menatap ke luar.

"Dirga, Ibu sudah bilang dari dulu. Perempuan itu tidak pantas jadi istrimu," ujar Ratna dengan nada penuh kepastian.

Dirga menarik napas panjang. "Bu, jangan bahas itu lagi."

"Kenapa tidak? Semua orang sudah membicarakan skandalnya. Kamu mau terus menutup mata? Mau menanggung malu lebih besar lagi?"

Dirga mengepalkan tangannya, wajahnya menegang. "Arunika bukan seperti yang orang-orang kira."

Ratna mendengus sinis. "Kalau begitu, buktikan. Tapi sampai sekarang, buktinya mana? Yang ada hanya foto-foto, video singkat, dan gosip. Semua sudah cukup membuat nama keluarga kita tercoreng."

Dirga memejamkan mata. Bayangan wajah Arunika terlintas di kepalanya-wajah yang dulu selalu penuh senyum, kini berganti dengan tatapan penuh luka. Ada bagian dalam dirinya yang ingin percaya, tapi ego dan tekanan dari sekeliling membuat hatinya ragu.

Di tempat lain, Laras sedang duduk di sebuah kafe mewah bersama seorang pria berjas rapi. Senyum puas terukir di bibirnya.

"Lihat? Segalanya berjalan sesuai rencana. Arunika hancur. Dirga mulai menjauh darinya. Sebentar lagi, aku bisa mengisi tempat itu," kata Laras sambil menyeruput kopi.

Pria itu, bernama Rendra, hanya tersenyum tipis. "Kamu puas menghancurkan sahabatmu sendiri?"

Laras menatapnya dengan tatapan tajam. "Sahabat? Dia selalu punya apa yang aku mau. Dirga, perhatian semua orang, bahkan kesempurnaan hidup. Sekarang giliranku."

Rendra tertawa kecil. "Kamu licik, Laras. Tapi aku suka itu. Kita lihat saja, apakah Arunika benar-benar bisa bangkit lagi atau justru tenggelam selamanya."

Sore harinya, Arunika memberanikan diri keluar kamar. Ia tidak ingin terus-terusan terlihat rapuh di depan Naya. Ia berjalan ke halaman rumah kecil mereka, mencoba menghirup udara segar. Namun, suara-suara tetangga yang berbisik-bisik membuat langkahnya goyah.

"Itu dia, Arunika..."

"Kasihan ya, suaminya aja udah nggak percaya sama dia."

"Katanya sih selingkuh sama bosnya sendiri. Malu-maluin banget."

Arunika menggertakkan giginya, menunduk, lalu mempercepat langkah kembali ke dalam rumah. Dadanya terasa sesak, matanya panas.

Di dalam, Naya menunggu dengan wajah khawatir.

"Kak, tadi ada apa?"

Arunika menggeleng, air matanya jatuh lagi. "Mereka semua nggak akan pernah percaya, Nay. Rasanya Kakak ingin pergi jauh... meninggalkan semua ini."

Naya menggenggam bahunya erat. "Jangan bilang begitu, Kak. Kalau Kakak pergi, siapa yang akan membuktikan kebenarannya? Jangan biarkan Laras atau siapa pun menang."

Arunika menatap adiknya, mencoba menyalakan sisa api kecil di dalam hatinya. Mungkin benar. Aku harus bertahan. Aku harus melawan.

Malam itu, Dirga duduk sendirian di ruang kerja. Gelas wiski di tangannya hampir habis. Ia menatap foto pernikahannya dengan Arunika di meja. Hatinya berkecamuk.

"Kenapa aku masih ragu? Kenapa aku nggak bisa benar-benar membencimu, Nika?" gumamnya pelan.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk. Dari nomor tak dikenal.

"Kalau mau tahu kebenaran tentang istrimu, temui aku di taman kota, besok jam 8 malam."

Dirga menatap pesan itu dengan dahi berkerut. Hatinya digelayuti rasa penasaran sekaligus curiga. Apakah ini jebakan? Atau mungkin ada seseorang yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi?

Keesokan harinya, Arunika mencoba memberanikan diri untuk kembali ke kantor. Meski hatinya ciut, ia tahu jika ia berhenti bekerja, itu hanya akan membuat gosip semakin berkembang.

Namun, begitu masuk ke ruangan, semua mata menatapnya dengan penuh ejekan. Bisik-bisik terdengar jelas.

"Eh, itu dia... yang selingkuh sama bos."

"Pantesan cepat naik jabatan, ternyata pakai cara begitu."

"Hidupnya sudah hancur, tapi masih bisa nyelonong ke sini juga ya."

Arunika menggigit bibirnya. Ia berusaha menahan air mata, berusaha menegakkan kepala, meski hatinya remuk.

Di saat yang sama, Laras masuk dengan wajah penuh senyum, pura-pura peduli.

"Nika... kamu nggak apa-apa? Aku dengar kabarnya... aduh, aku sampai nggak tega lihat kamu digosipin."

Arunika menoleh, tatapan matanya tajam. "Jangan pura-pura peduli, Ras. Aku tahu semua ini ulahmu."

Wajah Laras sempat berubah, tapi ia cepat-cepat tersenyum manis. "Kamu jangan asal nuduh, Nika. Aku sahabat kamu, lho. Aku justru yang paling sakit hati lihat kamu difitnah."

Arunika ingin berteriak, ingin mengungkapkan semuanya. Tapi ia tahu, tanpa bukti, semua orang hanya akan menertawakan dan semakin membencinya.

Malam itu, Dirga datang ke taman kota sesuai pesan misterius. Ia menunggu di bangku kayu, menatap sekeliling dengan hati waspada.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya menghampirinya. Wajahnya penuh gurat serius.

"Anda Dirga?" tanyanya pelan.

Dirga mengangguk. "Ya. Kamu yang kirim pesan itu?"

Pria itu mengangguk. "Saya hanya ingin Anda tahu, istri Anda bukan seperti yang Anda pikirkan. Semua bukti yang beredar... sudah diatur. Ada orang yang sengaja menjebaknya."

Dirga menatapnya tajam. "Siapa? Siapa yang melakukan ini?"

Pria itu menghela napas panjang. "Kalau saya bilang, mungkin Anda tidak akan langsung percaya. Tapi saya punya sebagian bukti. Kalau Anda mau kebenaran, ikuti petunjuk saya."

Dirga terdiam, hatinya berkecamuk. Ada rasa ragu, tapi juga ada harapan kecil. Apakah mungkin Arunika benar-benar tidak bersalah?

Di rumah, Arunika duduk termenung di balkon. Angin malam berembus pelan, membawa aroma hujan yang baru saja turun. Ia menggenggam telepon genggamnya, menatap nomor Dirga yang masih tersimpan di daftar kontak. Jemarinya ragu-ragu untuk menekan tombol panggil.

Haruskah aku bicara? Haruskah aku mencoba lagi, meski dia tidak percaya padaku?

Air matanya jatuh lagi.

"Ya Tuhan... berikan aku kekuatan. Aku lelah, tapi aku masih ingin memperjuangkan cintaku."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel Jerat Cinta Mafia Kejam
8.2
Kinanti terusir dari rumahnya sendiri akibat ulah kerabatnya yang serakah. Ia pun memulai hidup baru di Amerika demi mencari ketenangan. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Brian, seorang ketua mafia kejam yang terobsesi padanya sejak lama. Dulu Kinanti bisa menghindar, tapi kini ia terjebak dalam kekuasaan Brian yang mutlak. Di tengah tekanan keluarga pamannya yang kembali mengusik, mampukah Kinanti bertahan dari jerat cinta sang mafia?
Sampul Novel Kau Hancurkan Persahabatan Kita
8.8
Satu malam penuh kelalaian mengubah persahabatan Lysandro Wicaksana dan Callista Rayendra menjadi pernikahan terpaksa. Sebagai pewaris bisnis, Lysandro panik saat Callista hamil hingga sempat memintanya menggugurkan janin tersebut. Meski Callista menolak dan memilih pergi, Lysandro akhirnya kembali untuk menikahi sahabatnya secara rahasia. Kini Callista harus hidup dalam bayang-bayang Elowen, kekasih Lysandro yang tidak tahu suaminya telah menjadi milik wanita lain.
Sampul Novel Musuhku Bankir Crazy Rich
9.6
Dahulu Elaine Tanjung hidup bergelimang harta sebelum ayahnya dituduh mencuri triliunan rupiah. Yakin ayahnya dijebak, Elaine bertekad menghancurkan keluarga Suryajaya, termasuk merayu sang bankir miliarder, Indra Suryajaya. Indra yang terobsesi pada Elaine berusaha menjadi pahlawan saat tahu Elaine kesulitan finansial. Namun, semakin Elaine mendekati Indra demi balas dendam, ia menyadari sifat asli Indra yang tak terduga, hingga membuat rencana dan hatinya kini terancam.
Sampul Novel Of Love Trilogy
8.9
Ayana Ranisya terjebak dalam penderitaan akibat utang suaminya, Ares Adiswara. Takdir membawanya bertemu Arga Arkhilendra, pengusaha sukses yang terikat pertunangan bisnis dengan Sheryl Claudia Wibowo. Insiden cinta satu malam mengubah segalanya, memicu perasaan tulus dalam hati Arga yang sebelumnya dingin. Di tengah komitmen formal demi kekuasaan, Arga kini harus memilih antara logika bisnis atau cintanya pada Ayana. Akankah Arga meninggalkan Sheryl demi mengejar kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak
8.0
Dahulu bintang ice skating, masa depan Alessa hancur saat sang ayah menjualnya pada pria misterius demi melunasi utang judi. Usai malam itu, Alessa hamil lalu diusir keluarga hingga mengalami keguguran akibat jebakan wanita licik. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali untuk membalas dendam pada Jovian Arsenio Heide, pria dari masa lalunya. Namun, Jovian justru menawarinya pernikahan kontrak. Di tengah kasih sayang Jovian, Alessa harus menghadapi kekejaman ibu mertua dan obsesi wanita lain.