Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Istriku Tidak Meminta Jatah Lagi

Ketika Istriku Tidak Meminta Jatah Lagi

Habib merasa jenuh dengan Sheila, istrinya yang agresif namun tak kunjung hamil dalam pernikahan hambar mereka. Terbutakan nafsu, Habib memilih bercerai dan menikah lagi dengan wanita lain. Namun, tepat saat ia pergi, Sheila justru mengandung buah cinta yang selama ini mereka nantikan. Nasi telah menjadi bubur, Habib kini terjerat dalam penyesalan mendalam saat mengetahui rahasia kehamilan mantan istrinya. Akankah ia berusaha kembali pada Sheila?
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam sudah menunjukan pukul dua belas tepat, sudah waktunya makan siang. Perutku sudah sangat keroncongan, dan para cacing sudah demo sejak tadi. Segera ku lajukan sepeda motor untuk pulang kerumah. Baru saja aku memarkirkan motor, tiba-tiba saja aku sudah disambut oleh sheila yang aneh. Entah ada angin apa tiba-tiba saja ia mengenakan jilbab panjang dan gamis dirumah, dengan cepat ia mencium punggung tanganku sembari tersenyum menatapku.

"Kamu mau kemana Dek?" tanyaku dengan tatapan menyelidik.

"Gak kemana-mana, Abang suka sama penampilanku yang sekarang gak?" 

"Ya terserah kamu deh!" 

Aku tidak terlalu memperdulikan nya, yang ada di pikiranku kini hanya ingin segera makan karena perutku benar-benar keroncongan. Aku melangkah masuk kedalam rumah diikuti dengan sheila, dengan segera kurebahkan tubuhku di sofa untuk bersantai sembari menunggu sheila menyiapkan makan siang. Sheila adalah istri yang siap siaga, aku tidak perlu meminta ia sudah mengerti apa yang aku butuhkan.

Tidak lama kemudian sheila datang membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk kesukaanku, ia selalu memasak apa yang aku suka karena memang kebutuhan rumah tangga aku sanggup memenuhinya, jadi aku tidak mau makan makanan yang tidak aku suka.

"Selamat menikmati." Bagaikan pelayan di restoran, sheila selalu mengatakan itu saat melayaniku makan, bahkan terkadang ia selalu mencium dahiku terlebih dahulu. Bisa dikatakan dia adalah wanita yang hampir mendekati sempurna, tetapi hatiku tidak dapat dibohongi, aku sama sekali tidak mencintainya. Sheila adalah wanita dari perjodohan orang tuaku, gadis yatim piatu dari panti asuhan itu dapat meluluhkan hati ayah dan ibu sampai menjadikan nya menantu.

"Kamu ngapain sih liatin aku segitunya dek?" tanyaku sambil meletakkan sendok di tanganku, nafsu makanku hancur dibuatnya.

"Abang tadi anterin Aisyah pulang ya?"

Jeder…

Hampir saja jantungku copot, bagaimana Sheila mengetahui hal itu, dan bagaimana bisa ia mengenal Aisyah. Aku benar-benar terkejut setengah mati mendengarnya, kini aku benar-benar kehilangan selera makanku.

"Ka… Ka… Kamu tau dari mana?" tanyaku gagu kebingungan.

"Tadi aku lagi belanja di tukang sayur samping rumah Aisyah, jadi gak sengaja liat Abang lewat," sahut Sheila santai.

Mataku membulat, pantas saja ibu-ibu di sana pada liatin aku pas lewat, ternyata ada Sheila disana. Lalu bagaimana dia secepat itu bisa kembali pulang kerumah, dan untuk apa belanja sayur harus jauh-jauh kesana. Aduh, aku terus saja memikirkan hal-hal aneh, pikiranku semakin berkecamuk dan banyak tanda tanya di kepala ini.

"Kamu ditawari untuk taaruf dengan Aisyah ya Bang?" tanya Sheila lagi.

"Aduh, harus jawab apa aku," gumamku dalam hati

"Bang… Bang… Bang…!"

"Eh, kamu tadi bilang apa Dek?"

"Kok melamun sih, aku tanya tadi kamu ditawari untuk taaruf dengan Aisyah ya?"

"Em, iya. Kamu tau dari mana?"

"Ibunya Aisyah yang cerita, masa kamu lupa sih dengan wajah Ibu angkatku? Ibunya Aisyah itu yang pernah main kesini loh Bang!"

Astaga, bagaimana bisa aku melupakan wajah Ibu itu. Pakai acara aku terima tawarannya lagi, pasti Ibu itu sedang menguji kesetiaanku kepada Sheila. Benar-benar sangat memalukan! Mau dibuang kemana lagi wajahku ini.

"Inget ya Bang, kamu itu belum mampu melayaniku diranjang. Jangan sok-sokan mau nambah lagi deh!"

"Em, iya iya!" 

Sungguh menyebalkan jika sudah mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia benar-benar merendahkan ku dalam urusan ranjang. Ku akui memang aku belum bisa mengimbanginya, tetapi lihat saja nanti kalau sudah dapat cela nya. Kamu yang bakalan ampun-ampun kubuat.

"Sheila, kamu jangan tersinggung ya? Aku mau ngomong serius!"

"Ngomong apa Bang?"

"Kamu bisa pergi gak? Jangan ajak ngobrol aku terus, aku mau makan tau!"

"Hehehe, oke aku kunci deh mulutku ini." Sheila mengacungkan ibu jarinya ke udara.

Aku langsung melahap nasi di piring dengan secepat mungkin, cacing di perutku sudah demo sejak tadi, tetapi Sheila tidak mengerti dan malah mengajakku bicara panjang lebar. Rasanya kesal sekali, aku merasa dijebak oleh pertemuanku dengan Aisyah.

Setelah selesai makan, Sheila kembali mengajakku bicara. Aku benar-benar tidak memperdulikan ucapannya, bahkan aku hanya menjawab ala kadarnya saja. Aku masih memimpikan seandainya aku benar-benar bisa menikahi Aisyah, tetapi sayangnya itu hanya angan-angan semata. Aku tidak mengerti mengapa aku sangat bosan dengan pernikahan ini, ya mungkin karena sudah lima tahun pernikahan kami, tapi belum juga dikaruniai seorang anak. Sheila memiliki riwayat penyakit kista, walau ia sudah dioperasi dan sudah sembuh total, tetapi kata dokter hanya kemungkinan kecil kami bisa memiliki anak.

"Shel, aku ingin sekali punya anak!"

Seketika kata-kataku membuat Sheila diam membisu, dirinya yang masih bicara panjang lebar langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

"Maaf, kalau aku uda buat kamu tersinggung," ucapku lirih.

"Gak papa kok Bang aku ngerti, ya udah ayo kita buat anak yang banyak. Pantang menyerah sebelum pagi!" Ia bersorak mengangkat tangannya sambil menarik tanganku, mulutku terbuka lebar melihat tingkahnya. Astaga, mengapa ia malah menjadi salah mengerti. Padahal maksud omonganku bukan untuk kesitu, aku ingin ia sadar tidak dapat memberiku anak dan mengizinkanku menikah lagi, bukannya malah mengajakku tempur di siang bolong seperti ini.

"Ayo Bang, kok malah diem aja sih!" Sheila terus saja menarik tanganku sekuat tenaganya, tetapi aku enggan beranjak dari tempat duduk. Spontan saja aku membentaknya, rasa kesal dalam hatiku benar-benar sudah memuncak.

"Bukan itu maksudku Dek, aku mau nikah lagi. Aku bosan kamu kerjain terus, tapi nyatanya kamu gak hamil-hamil. Aku juga pengen punya keturunan, tolong jangan egois!"

Genggaman tangan Sheila mulai mengendur saat mendengar ucapanku, air matanya mengalir membasahi kedua pipi mungilnya. Bibirnya bergetar tidak mengeluarkan sepatah katapun.

"Maaf Dek, bukan maksudku menyakiti perasaanmu, tapi aku hanya minta sedikit pengertianmu saja." Aku mencoba menyeka air matanya, tetapi Sheila menepis tanganku. Ini baru pertama kalinya Sheila menolak sentuhanku, pasti ia sangat sakit hati dengan kata-kataku. Aku ingat betul dengan kata-kata Sheila, ia akan memaafkan segala kesalahanku, tetapi tidak untuk berselingkuh atau pun dimadu. Ia berkata hatinya terlalu rapuh untuk di dua kan dan ia juga tidak suka berbagi diriku dengan orang lain, tetapi bagaimana lagi aku benar-benar bosan dengan pernikahan tanpa anak ini.

Sheila menyembunyikan wajahnya dan langsung berlalu pergi masuk kedalam kamar, aku tau aku pasti sudah sangat keterlaluan. Naluriku berkata tidak tega karena telah menyakiti anak yatim piatu itu, Ibu dan Ayahnya sudah menyakiti dia dengan cara membuangnya, kini aku suaminya pun malah tidak bisa membahagiakan nya. Lelaki macam apa aku ini? Akan tetapi aku juga menginginkan keturunan, aku bosan jika harus menjalani hidup hanya berdua dengan istriku. Aku ingin mendengar tangis dan tawa seorang bayi di rumah ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Bitna, aktris berbakat asal Korea Selatan, terjerat skandal besar setelah menghadiri pesta di Indonesia. Reputasinya terancam hancur akibat insiden dengan Kenzo, bos besar penyelenggara acara tersebut. Demi menyelamatkan karier, Bitna sepakat melakukan klarifikasi publik. Namun, Kenzo justru mengejutkan dunia dengan mengumumkan pertunangan palsu tanpa persetujuannya. Mengapa Kenzo nekat berbohong? Akankah sandiwara ini menyelamatkan atau justru menghancurkan hidup Bitna?
Sampul Novel Cinta di Musim Semi
9.6
Kehidupan kota Amara terusik saat sebuah surat lama memaksanya kembali ke kampung halaman demi mengungkap rahasia kelam. Di sana, ia terjebak di antara Rendra, sosok dari masa lalunya, dan Daffa, fotografer misterius yang tiba-tiba hadir. Di tengah tumpukan memori dan misteri, Amara harus berjuang menghadapi luka lama serta pengkhianatan. Apakah kebenaran yang terungkap akan membawa kesembuhan bagi hatinya atau justru menghancurkan segalanya?
Sampul Novel KAMINI (Wanita Penuh Kasih Sayang)
9.4
Kamini Citra Kirana diusir oleh Dirandra Ekadanta setelah melahirkan anak untuk suami dan istri pertamanya. Dibuang dengan kompensasi agar menjauh, Kamini pergi membawa rahasia besar yang menjadi kekuatannya untuk bangkit. Lima tahun berlalu, takdir membawanya kembali berhadapan dengan masa lalu dan keluarga besar yang pernah mencampakkannya. Bagaimana Kamini menghadapi situasi ini? Akankah rahasia yang ia simpan mengubah segalanya saat pertemuan itu terjadi?
Sampul Novel MrP (Mertua Rasa Pelakor)
7.9
Kehancuran rumah tangga membayangi saat campur tangan mertua menjadi duri dalam pernikahan. Memiliki suami yang lebih mengutamakan ibunya daripada anak dan istri sendiri adalah ujian berat bagi kesabaran. Meski hati terkoyak, aku berusaha tegar menghadapi hinaan mertua yang puas melihat penderitaan kami. Saat Mas Bo'eng memilih pergi meninggalkan aku dan Fito dalam kepahitan, aku terpaksa bertahan di tengah luka batin yang kian mendalam.
Sampul Novel Pasangan Rahasia
8.1
Erin terjebak dalam dilema besar saat harus menutupi status pernikahannya demi mengamankan karier profesional. Sang suami ternyata adalah bos besar di perusahaan tempatnya bekerja, memaksa mereka menjalani hubungan rahasia yang penuh risiko di kantor. Akankah sandiwara ini tetap terjaga rapat hingga tujuan mereka tercapai, ataukah tekanan dunia korporat justru akan membongkar identitas asli mereka ke hadapan publik sebelum waktunya tiba?
Sampul Novel Pesona Janda Anak Satu
8.9
Dunia Laila runtuh saat ia diceraikan dan diusir suaminya tepat setelah melahirkan anak laki-laki. Meski menjadi pewaris, sang putra justru ditolak keluarga suaminya. Tiga tahun berlalu, Laila bangkit menjadi wanita mandiri yang menutup hati bagi pria mana pun. Namun, prinsipnya goyah saat Malik, sang mantan kekasih, hadir kembali untuk meluluhkan hatinya. Akankah Laila memilih membangun masa depan serius bersama Malik atau bertahan dengan status jandanya?