
KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC
Bab 3
Suara dentuman musik menggetarkan tembok tipis ruangan sempit itu. Aroma parfum, hairspray, dan bedak murahan menyatu dalam udara.
Di depan cermin besar penuh lampu neon kuning pucat, Maemunah, yang sekarang dipanggil Maya oleh Eci, berdiri kikuk.
Tubuhnya yang gempal dibungkus mini dress merah menyala, ketat, mencetak lipatan perut.
Di atas kepalanya, wig pirang bergelombang menjuntai sampai ke dada. Alisnya dibentuk tebal, lipstick merah menyala menutupi bibirnya yang gemetar.
Eci, ramping, lincah, centil, sedang merapikan bulu mata palsu di kelopak Mae.
"Tenang, Mae, tenang. Ini semua buat dia. Biar kamu bisa bayarin semua pengobatan Gia. Di sini, nggak ada yang nge-judge. Yang penting niat kamu bersih."
Di sudut ruangan, seorang cewek gempal lain, Bella, dengan gaya mirip Mae, sedang bercermin sambil ngunyah permen karet.
"Udah biasa, Mae. Dulu gue juga begitu. Nangis-nangis dulu. Sekarang? Liat gue. Biasa aja. Duit ngalir dan gue hepi."
Mae senyum getir. Kakinya coba menapak pakai high heels lima senti.
Kepletot.
"ASTAGA!"
Semua langsung ngakak.
Eci terpingkal, nyentil pundaknya.
"Gitu dong! Udah seksi, lucu pula. Klien suka yang kayak gitu!"
Di Paskal Karaoke, LC bukan cuma pemancing minuman.
Ada yang kerja bersih, nemenin nyanyi, dengerin curhat, joget-joget manis.
Ada yang abu-abu, kalau klien nawarin tips lebih buat pegangan tangan atau cium pipi.
Ada juga yang ke hitam, bawa klien ke hotel setelah jam tutup.
Tapi semua itu... pilihan.
Maemunah masih LC baru. Masuk ke tim Eci, yang terkenal bersih dan selektif. Posisinya bukan primadona, tapi newbie eksotis, judul yang dijual dengan penuh kejutan.
---
Bastian duduk di rooftop café, rokok di tangan, mata menerawang ke kota Bandung yang kelap-kelip. Temennya, si Ronny, lagi ngebahas proyek yang katanya bisa cuan gede.
"Bro, udah malem nih. Lu udah pusing. Kita karaokean yuk, buat ngelemesin otak."
Bastian ngelirik jam.
"Ah, males. Gue..."
"Yaelah, lo pikirin istri mulu. Udah, semalem doang. Gue tau tempat oke, cewek-ceweknya cakep, no ribet."
Bastian akhirnya nurut. Toh, cuma nyanyi-nyanyi. Nggak bakal aneh-aneh, pikirnya.
Lampu ruangan karaoke remang, musik EDM bergema.
Mae disuruh masuk room 3C.
Dia narik napas panjang, senyum dipasang.Tangannya mendorong pintu pelan.
Lalu matanya membeku.
Di depan...
Bastian menoleh, gelas di tangan.
Dan dunia seolah berhenti.
Sofa beludru ungu tua di pojok ruangan jadi singgasana laki-laki itu. Bastian.
Duduk santai, satu tangan pegang gelas whisky yang setengah habis, satu lagi ngetuk-ngetuk meja kaca dengan jari telunjuk.
Kayak orang lagi mikir utang, atau mungkin mikirin siapa yang bakal ngisi hatinya malam ini.
Maya menarik napas. Panjang. Senyum dipasang, meski rahangnya agak bergetar.
Langkah pertama, klik. Heels-nya menyentuh lantai kayu berkarpet tipis.
Klik. Klik. Klik.
"Good evening, Mas..." suaranya dibuat serak manja. Profesional. Nggak ada getar cinta, nggak ada kenangan anak-anak. Cuma suara LC yang udah dilatih tiga kali sehari.
Bastian menoleh pelan.
Matanya nyaris menyipit, lalu membelalak sedikit. Matanya hanya nge-scan bodi itu, gaun hitam mini, pundak terbuka, belahan dada rapi, paha nyaris keluar tiap jalan. Bibir merah glossy. Rambut pirang ikal sebahu.
Dia sempet mikir dalam hati,
Eh, kok... Tapi buyar. Gelasnya ditaruh.
"Masuk aja. Namanya siapa?"
Mae senyum.
"Mayaaa," katanya, sambil duduk di sebelahnya.
Senyum Bastian miring.
"Maya... dari mana aja, kok baru masuk?"
Mae menggeser rambut pirangnya ke belakang telinga. "Dari tadi nunggu disuruh masuk. Nggak berani asal nyelonong..."
Gelas kedua dituang. Es batu disuguhkan. Cemilan kering, kacang mede, keripik kentang, dan seiris semangka di piring kecil.
"Maya suka lagu apa?" Bastian bertanya sambil ngelirik remote di meja.
"Yang mellow boleh, yang jedag-jedug juga oke. Mas suka nyanyi?"
"Gue lebih suka dengerin..."
Senyap sejenak.
Maya menahan napas. Dada sesak bukan karena takut ketahuan, tapi karena...
Dia gila ini absurd. Duduk di sebelah suaminya sendiri, yang nggak ngenalin dia.
Tapi juga nggak nyariin dia.
Nggak nyebut, "Eh, istri gue mirip-mirip lo, deh."
Dia nggak nyadar.
Sial.
Mae bersandar di sofa, menggeser sedikit lebih dekat. Tangannya mainin remote karaoke, pura-pura nyari lagu.
Tapi batinnya udah penuh sumpah serapah.
Ini toh kerjaan meeting rapat bisnis kamu, Mas Bas?
Di kaca besar di sisi ruangan, pantulan mereka terpantul samar. Maya si seksi, Bastian si klien, dua siluet dunia yang berbeda.
Tapi itu dia. Itu dirinya.
Maya melihat bayangannya, dan untuk pertama kalinya...
Dia nggak melihat ibu-ibu yang nangis sambil ngerendam cucian.
Dia nggak melihat cewek kucel yang dituduh nggak becus jadi istri.
Dia melihat perempuan.
Dan dari samping, Bastian menyender, mendekat sedikit, senyumnya melebar.
"Boleh dong denger suara Maya..."
"Ayo nyanyi, Maya!"
Sorakan datang dari ujung sofa. Lampu disko berkedip seperti mata dewa-dewa jahil yang mengintip dari langit-langit.
Maya menarik napas. Tangannya sedikit gemetar saat menerima mic. Musik mengalun pelan, lalu dentuman beat dangdut remix menyeruak, lagu klasik:
"Janda Pirang".
Maya tersenyum kecil.
"Lagu favorit emak-emak pengkhianat," umpatnya dalam hati. Tapi suaranya?
Menggelegar.
"Janda pirang kembali menggoda, senyumnya manja, hatinya luka..."
Bastian terdiam. Tangannya yang tadi sibuk ngetok-ngetokin meja, kini berhenti.
Matanya menajam. Teman-temannya, tiga cowok parlente dan satu om-om berkemeja batik modern, tercengang, lalu tertawa, bersorak, bersiul.
"Gilaaa... ini janda pirang versi real life!"
"Wah, bisa ngajarin nyanyi nggak, Mbak Maya?"
"Ini suaranya mercon! Mana dapet sih model begini?"
Maya membalas dengan senyum kalem.
Matanya tajam. Suaranya lembut, tapi terkontrol.
Dia menjawab semua candaan dan pertanyaan dengan lihai. Bahkan satu cowok sempat nyeletuk,
"Mbak, dulu guru bahasa Indonesia ya? Jawabannya tuh kayak teks ujian nasional."
Maya ketawa, tapi hatinya mendidih.
"Oh, jadi begini. Duit-duit yang gak pernah dikasih buat beli susu Gia, ternyata ngucur buat tempat beginian. Buat senyuman, buat mic wireless, buat high heels dan whisky. Ini cara Allah nunjukin. Di tempat gelap, tapi terang."
Dia naik lagi ke panggung kecil. Nyanyi satu lagu pop galau, semacam "Resesi Hati, dengan gaya lebih elegan.
Gerakan tubuhnya anggun. Tak berlebihan. Tapi cukup buat bikin semua mata lupa caranya ngedip.
Tepuk tangan menggelegar saat lagu selesai.
Satu cowok angkat gelas. "Untuk Mbak Maya! The real janda next door!"
Bastian masih diam, tapi senyumnya lain.
Bukan senyum suami, tapi senyum laki-laki yang penasaran.
Dia menyender. Mendekat sedikit.
"Mbak Maya, boleh minta nomor WA-nya?"
Maya diam. Mic masih di tangan. Jantungnya berdetak seperti genderang perang.
Dia melirik ponsel lamanya di tas.
HP receh yang cuma bisa WA-an kalau sinyalnya nggak ngamuk.
Kalau dia kasih nomor itu, besok rumah bisa meledak.
Kalau nggak dikasih, Bastian bisa curiga.
Dia senyum tipis.
Dunia dalam pikirannya sudah saling bertabrakan.
"Boleh, Mas..."
Maya nyengir. Dalam hatinya:
"Berabe kalau dikasih nomor biniknya sendiri. Mending aku kasih nomor Eci aja. Untung aku hafal nomornya..."
Mae membanting pintu ruang karaoke dengan pelan tapi jengkel. Bukan suara keras, tapi cukup nyaring buat mewakili perasaan gondok yang menempel dari kepala sampai tumit.
Langkahnya cepat, sepatunya berdecit melintasi lorong. Matanya tajam, napasnya berat, dan hatinya, ah, hatinya campur aduk kayak es teler ditambah sambel rawit.
Di ruang make-up, Eci lagi ngerapihin rambutnya yang udah lepek karena terlalu banyak joget lagu dangdut koplo tadi. Begitu Mae masuk, Eci langsung berdiri, nyamperin.
"Eh, kenapa lo, Mae? Wajah lo kayak abis nelen paku payung."
Suaranya Mae pelan, tapi menggigit
"Aku ketemu Mas Bas, Ci. Di ruangan 3C."
"APA?! Mas Bas? Suami lo? Yang bangke itu? Gue samperin sekarang juga!"
Mae langsung nangkep tangan Eci, narik pelan tapi tegas.
"Jangan. Jangan bikin ribut. Dia gak tau kalau aku... aku ini aku. Dia bener-bener percaya aku tuh Maya."
Eci terdiam. Nafasnya tertahan. Antara geli dan bingung.
"Terus... kalian ngapain aja di dalam?"
Mae ngelirik ke kaca. Bayangannya sendiri membuatnya pengen muntah tapi juga, pengen ketawa. Dunia memang sialan.
"Dia nyuruh aku nyanyi. Aku nyanyi lagu 'Janda Pirang'. Aku joget. Dia senyum-senyum. Temen-temennya seneng. Akhirnya dia minta nomor HP aku."
"Terus lo kasih?"
Mae buka tas kecilnya, ngeluarin ponsel butut warna pink pucat dengan casing retak di pinggir.
"Kalo aku kasih nomorku nanti dia tahu. Jadi aku kasih nomor kamu, Ci. Maaf, ya..."
Eci tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya mengurai udara soal perkata tak masalah. Bahkan nyawa pun akan aku berikan untuk membantumu.
"Aku cuma punya HP ini. Yang gak pernah bunyi kecuali dari rumah sakit dan debt collector. Dia sama sekali ga pernah nelpon aku yang sebagai isterinya. Kita liat apakah dia akan nelpon Eci sebagai Maya ..."
Eci ketawa. Mae ikutan ketawa. Tapi air mata udah jalan duluan.
"Anj*r. Lo tuh kuat banget, Mae. Tapi kadang hidup keterlaluan juga ya."
Mae ngusap air matanya dengan punggung tangan.
"Aku mau ke rumah sakit. Pekerjaan selesai. Aku gak tenang."
Bella baru muncul dari pintu
"Gue temenin. Kita naik mobil gue. Sekalian cari makan."
Mae ngangguk. Tapi ekspresinya masih kayak orang yang kepalanya barusan ditabrak truk emosi.
"Gue sih emang sendiri dan gak punya anak. Suami gue emang menggila di luar sana, tapi... hidup gue masih lebih gampang dari lo. Malam ini, gue temen lo ya, Mae."
Eci, Bella, dan Mae saling berpelukan. Tapi tentu saja...
"Eh! Eh! Ntar tok*t gue kegencet! Astagaaa... dada gue bukan pelindung baja!"
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang pahit tapi hangat. Seperti kopi tubruk yang diseduh di tengah badai.
Mungkin aku gak bisa beli kebahagiaan. Tapi malam ini, aku beli harapan. Dengan suara. Dengan tubuh. Dengan sakit yang tak terlihat mata.
Manajer menyerahkan amplop coklat.
"Ini bagian kalian malam ini. Tamu VIP suka sama perform-nya Maya. Bonusnya masuk. Total dua juta tujuh ratus."
"Alhamdulillah."
"Kita bisa bantu buat nambahin kalau kurang, ya."
"Gue jual cincin tunangan juga gak apa-apa. Emang mantan gue juga udah kawin sama juru masak catering."
Semua tertawa lagi. Tapi kali ini... lebih lega.
Mae duduk di mobil, matanya memandangi layar ponsel bututnya.
Tapi tiba-tiba, malah muncul notifikasi di hp Eci. satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
"Kamu tadi nyanyi dengan hati, Maya. Aku belum pernah lihat perempuan kayak kamu. Besok aku booking kamu lagi. Jangan tolak ya."
Eci mematung. Jari-jarinya tak sabar membalas pesan.
Mae, laki lo wasap ke nomor gue nih.
Dan uang yang tak pernah sampai ke tangan Maya itu... ternyata mengalir ke malam-malam seperti ini.
Terima kasih, Tuhan. Karena Kau kirimkan kebenaran dengan cara yang tak akan pernah bisa kuprediksi, gumam Mae lirih.
---
Anda Mungkin Juga Suka





