
Ketika Hati Yang Tulus Dibalas Dengan Luka Yang Dalam
Bab 2
Dingin. Kata itu menjadi satu-satunya deskripsi yang Rania miliki untuk malam itu. Bukan dingin karena udara di luar, melainkan dingin yang merambat dari dalam, dari reruntuhan hatinya yang baru saja hancur. Foto usang itu masih tergenggam erat di tangannya. Ia kembali menatapnya, membiarkan air mata mengering di pipinya. Wanita itu, ibunya, tersenyum dengan sorot mata yang penuh kehidupan. Di sebelahnya, sang kakek, terlihat gagah dan penuh ambisi. Tapi mata Rania terus kembali ke sosok pria muda di antara mereka. Senyumnya ramah, matanya teduh, dan entah mengapa, Rania merasa seolah ia mengenalnya.
Malam itu, Rania tidak bisa tidur. Ia tidak makan, tidak minum, hanya duduk di tepi ranjang, merenungi kebohongan yang kini menutupi seluruh hidupnya. Setiap sudut rumah mewah ini, yang ia yakini sebagai tempat perlindungannya, kini terasa seperti monumen kebohongannya sendiri. Janji yang hancur, hati yang terluka, dan kini, sebuah rahasia dari masa lalu yang muncul tiba-tiba.
Di tengah kegelapan, Rania mengambil ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Arkana. "Maaf, rapatnya sangat larut." "Aku akan pulang subuh." "Tidurlah, jangan menungguku." Pesan-pesan itu terasa seperti pisau tajam yang menusuk luka yang masih basah. Rania tidak membalas. Ia tidak ingin lagi berpura-pura.
Pagi menjelang, dan Rania terbangun dengan kepala pening. Ia tidak ingat kapan ia tertidur. Matanya bengkak dan merah, cermin di hadapannya memantulkan sosok yang lelah dan putus asa. Ia tahu ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus kuat, demi kakeknya. Demi janji yang sudah ia berikan. Rania membasuh wajahnya, menutupi matanya dengan riasan tipis, dan memakai pakaian yang sederhana namun elegan. Ia harus kembali menjadi Rania yang sempurna, meskipun di dalamnya ia sudah hancur berkeping-keping.
Saat ia turun ke bawah, ia melihat Arkana sudah berada di meja makan. Pria itu terlihat segar dan tampan, seolah malam sebelumnya ia benar-benar menghabiskan waktu di rapat. Arkana menoleh, menatap Rania sejenak, lalu kembali fokus pada tabletnya. "Kamu sudah bangun?" tanyanya datar, tanpa nada bersalah atau basa-basi.
Rania duduk di seberangnya, mengambil cangkir kopi. "Ya."
"Rapatnya berjalan dengan lancar. Ada beberapa proyek yang harus kita tinjau kembali," kata Arkana, mencoba memulai percakapan.
Rania hanya mendengarkan, membiarkan kata-katanya menguap di udara. Ia tidak bertanya tentang rapatnya, tentang proyeknya, tentang malamnya. Ia hanya menatapnya, memperhatikan setiap gerak-geriknya, mencari jejak kebohongan di matanya. Ia tidak menemukannya. Arkana adalah aktor yang ulung. Ia bisa menyembunyikan semuanya dengan sempurna.
"Gaunmu sudah siap?" Arkana bertanya lagi, mencoba mengisi keheningan yang canggung. "Untuk acara nanti malam."
"Aku sudah membatalkannya," jawab Rania.
Arkana mengernyitkan dahi, meletakkan tabletnya. "Kenapa?"
"Kamu bilang kamu tidak akan datang."
"Ah, iya. Lupa," katanya, seolah itu adalah hal kecil yang tidak penting. "Aku bisa datang. Rapatku sudah selesai."
Mendengar itu, hati Rania terasa mual. Ia menahan diri untuk tidak meledak. "Tidak perlu. Aku tidak ingin pergi."
Arkana hanya mengangguk, tidak memaksa. Ia mengambil tabletnya kembali, lalu berdiri. "Baiklah. Aku akan pergi ke kantor. Jangan lupa kunjungi kakekmu."
"Aku tidak akan pernah lupa," kata Rania, suaranya dingin dan menusuk. Ia menatap kepergian Arkana, dan saat pintu tertutup, Rania memejamkan mata, membiarkan rasa sakit itu kembali merayap di dadanya.
Rania menghabiskan pagi itu di kamar kakeknya. Kakeknya terlihat lebih baik hari itu. Mereka berbicara tentang masa lalu, tentang masa kecil Rania yang bahagia, tentang ibunya yang cantik dan ayahnya yang gagah. Rania dengan sengaja tidak menunjukkan foto itu. Ia tidak ingin kakeknya khawatir, atau sedih.
"Kakek," Rania memulai, suaranya pelan. "Kakek kenal dengan semua teman ibu dan ayah?"
Kakeknya tersenyum, matanya menerawang. "Tentu saja. Mereka adalah sahabat terbaik Kakek dan nenekmu. Kami sering menghabiskan waktu bersama."
"Ada seorang teman, Kakek," kata Rania, mencoba menggali informasi. "Seorang pria. Apakah Kakek ingat namanya?"
Kakeknya terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan tanda kebingungan. "Banyak sekali. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya?"
Rania terpaksa berbohong. "Tidak ada. Aku hanya teringat sebuah cerita yang pernah Kakek ceritakan."
Kakeknya kembali tersenyum, tetapi senyumnya terlihat lelah. "Mungkin lain kali, Nak. Kakek sudah lelah."
Rania mengangguk, mencium kening kakeknya. Ia tahu ia tidak bisa memaksakan ingatan kakeknya. Ia harus mencari tahu sendiri. Saat kakeknya tertidur, Rania kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan foto itu lagi, menatap wajah pria muda itu. Ia merasa ada ikatan yang tidak terjelaskan dengan pria ini. Seperti ia adalah bagian dari takdirnya, tetapi ia tidak pernah bertemu dengannya.
Sore harinya, saat Rania sedang membaca buku di ruang keluarga, suara ketukan pintu mengejutkannya. Ia tidak mengharapkan tamu. Ketika pintu terbuka, seorang pria berdiri di ambang pintu. Pria itu tinggi, gagah, dengan rahang yang kokoh dan mata yang teduh. Matanya, Rania menyadari, sangat mirip dengan mata pria muda di foto itu.
"Maaf, apakah ini rumah Tuan Arkana?" tanya pria itu, suaranya dalam dan tenang.
"Ya," jawab Rania, berdiri. "Saya istrinya, Rania. Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu tersenyum. "Nama saya Satria. Saya... teman lama dari keluarga Rania," katanya, matanya menatap Rania dengan tatapan yang lembut, seolah ia mengenalnya.
Rania merasa jantungnya berdebar kencang. Satria. Apakah ini pria yang ada di foto itu?
"Silakan masuk," kata Rania, mengundang pria itu masuk.
Satria duduk di sofa, menatap sekeliling rumah mewah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Rumahmu indah sekali."
"Terima kasih," jawab Rania, duduk di seberangnya. "Teman lama? Maaf, saya tidak ingat."
Satria tersenyum lagi. "Wajar. Saya sudah lama sekali tidak melihatmu. Kamu masih sangat kecil saat terakhir kita bertemu."
"Jadi, Anda teman ibu saya?" tanya Rania, mencoba menahan kegugupannya.
Satria mengangguk. "Ya. Teman baik ibumu." Ia menatap Rania dalam-dalam. "Kamu sangat mirip dengannya."
Rania merasa hatinya menghangat. Ia jarang sekali bertemu orang yang mengenal ibunya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya hanya kebetulan lewat dan ingin mampir. Saya baru saja kembali dari luar negeri," kata Satria. "Saya ingin tahu kabar keluargamu. Terutama Kakekmu."
"Kakekku baik-baik saja," Rania berbohong, tidak ingin Satria tahu tentang kondisi kakeknya. "Dia... dia sedang istirahat."
"Baguslah," kata Satria, mengangguk.
Mereka terdiam, keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Rania merasa penasaran, ia ingin bertanya lebih banyak. Siapa dia sebenarnya? Mengapa ia baru datang sekarang? Apakah ia tahu tentang perjanjian pernikahannya dengan Arkana?
"Apakah... Anda mengenal Arkana?" tanya Rania akhirnya.
Satria mengangguk. "Ya. Kami pernah bertemu beberapa kali. Dia pria yang baik."
Hati Rania terasa dingin. "Ya," katanya, suaranya serak. "Dia pria yang baik."
Satria menatapnya, matanya tajam dan penuh arti. "Tapi kamu tidak bahagia," katanya, suaranya sangat pelan, seolah ia bisa membaca pikirannya.
Rania tertegun. Ia tidak bisa berbohong pada pria ini. Ada sesuatu di matanya yang menembus pertahanannya. Air matanya kembali menggenang. "Bagaimana Anda tahu?"
"Aku bisa melihatnya," kata Satria, suaranya penuh empati. "Di matamu, ada kesedihan yang dalam. Kesedihan yang sama seperti mata ibumu saat ia... saat ia menghadapi masalah."
Rania menunduk, membiarkan air matanya mengalir. Ia merasa nyaman di dekat Satria. Pria ini terasa seperti pelabuhan, tempat ia bisa meluapkan semua emosinya tanpa harus berpura-pura.
"Maaf," katanya, menghapus air matanya. "Saya tidak tahu kenapa saya begini."
"Tidak apa-apa," kata Satria, suaranya lembut. "Hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan." Ia berdiri, menatap Rania. "Aku harus pergi. Tapi... jika kamu butuh teman bicara, jangan ragu untuk menghubungiku."
Ia memberikan Rania sebuah kartu nama. "Aku akan pergi ke kantor. Jangan lupa kunjungi kakekmu."
Rania menatap kartu nama itu. Satria Adhitama, CEO sebuah perusahaan teknologi. Satria tersenyum, lalu pergi.
Setelah Satria pergi, Rania kembali ke kamarnya. Ia menatap foto itu lagi, lalu kartu nama Satria. Ada kemiripan yang tidak bisa ia abaikan. Wajah yang sama, senyum yang sama, tatapan mata yang sama. Apakah Satria adalah anak dari pria muda itu? Atau apakah dia pria itu sendiri?
Ia menyadari, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pernikahan hampa yang ia jalani. Ada sebuah rahasia yang tersembunyi di balik masa lalu keluarganya. Dan Satria, entah bagaimana, adalah kunci untuk mengungkapnya.
Beberapa hari berlalu, dan Rania kembali menjalani rutinitasnya. Namun, ada yang berbeda. Ia tidak lagi merasa sendiri. Ia kini memiliki seorang teman, seorang pria bernama Satria. Mereka sering bertemu di kafe, berbicara tentang buku, musik, dan hal-hal sepele yang membuat Rania merasa hidup kembali. Satria adalah pendengar yang baik. Ia tidak pernah menghakimi, ia hanya mendengarkan.
Suatu hari, saat mereka bertemu di kafe, Satria bertanya tentang pernikahan Rania. "Apakah kamu mencintai Arkana?" tanyanya, suaranya lembut, tidak menghakimi.
Rania terdiam. Ia menatap Satria, matanya penuh dengan kesedihan. "Tidak," bisiknya pelan. "Aku tidak pernah mencintainya."
Satria mengangguk, seolah ia sudah tahu jawabannya. "Lalu, mengapa kamu menikah dengannya?"
Rania menceritakan semuanya. Tentang perusahaan kakeknya yang hampir bangkrut, tentang kondisi kakeknya yang sakit, tentang perjanjian pernikahan dengan Arkana. Ia menceritakan semuanya, tanpa ada yang ia sembunyikan.
Satria mendengarkan dengan penuh perhatian. "Aku mengerti," katanya. "Kamu mengorbankan dirimu untuk keluargamu."
Rania mengangguk. "Aku tidak punya pilihan."
Satria terdiam sejenak. "Dulu, aku juga pernah mengira begitu. Mengorbankan diri untuk orang yang kita cintai adalah hal yang benar. Tapi, apa jadinya jika pengorbanan itu justru menyakiti diri sendiri?"
Rania menatap Satria. "Aku tidak tahu."
"Pengorbananmu itu mulia," kata Satria, suaranya penuh kekaguman. "Tapi kamu harus ingat, Rania. Kamu juga berhak bahagia. Kamu berhak untuk mencintai dan dicintai."
Mendengar kata-kata itu, Rania merasa hatinya bergetar. Ia merasa seperti ada seseorang yang akhirnya melihatnya, melihat penderitaannya, melihat pengorbanannya. Ia merasa ada seseorang yang akhirnya memahaminya.
Rania tidak tahu mengapa, tetapi ia merasa nyaman di dekat Satria. Ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Ia merasa bisa melupakan sejenak bahwa ia adalah istri dari pria yang mengkhianatinya. Ia merasa ada sebuah kebahagiaan kecil yang ia temukan di tengah reruntuhan hatinya.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu sore, saat Rania dan Satria sedang berjalan di taman, mereka bertemu dengan Arkana. Arkana terlihat terkejut melihat Rania bersama seorang pria.
"Rania?" panggilnya, suaranya tajam. "Siapa dia?"
Rania terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Satria maju, mengulurkan tangannya pada Arkana. "Satria Adhitama," katanya. "Teman lama Rania."
Arkana menjabat tangan Satria, tatapan matanya penuh kecurigaan. "Arkana. Suaminya."
Suasana menjadi tegang. Arkana menatap Satria, lalu beralih ke Rania. "Kamu tidak bilang kamu punya janji."
"Aku tidak ingin mengganggu 'rapat mendadak'-mu," jawab Rania, suaranya dingin.
Arkana mengabaikan sindiran itu. "Kita pulang sekarang."
Rania menatap Satria, lalu mengangguk. "Sampai jumpa, Satria."
Satria hanya tersenyum, matanya penuh dengan kekhawatiran. "Sampai jumpa, Rania."
Di dalam mobil, Arkana tidak berbicara. Rania juga tidak. Keheningan itu jauh lebih mengerikan dari pertengkaran. Rania tahu, Arkana kini mencurigainya.
Setibanya di rumah, Arkana menarik tangan Rania, menariknya ke ruang kerja. "Siapa pria itu?" tanyanya, suaranya marah.
"Aku sudah bilang, dia teman lama," jawab Rania, mencoba melepaskan tangannya.
"Teman lama apa? Aku tidak pernah melihatnya," kata Arkana. "Apakah dia pria yang menggodamu saat aku tidak ada?"
"Dia tidak menggodaku!" Rania membentak, kemarahannya meledak. "Dia jauh lebih baik darimu! Dia mendengarkan aku, dia memahami aku, dia tidak sepertimu, yang hanya peduli pada dirimu sendiri!"
Arkana terdiam. Ia menatap Rania, matanya penuh dengan amarah, tetapi juga ada sedikit rasa bersalah. "Apa maksudmu?"
Rania tertawa hampa. "Kamu tahu apa maksudku," katanya. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku bodoh? Aku melihatmu, Arkana. Aku melihatmu dengan wanita lain."
Mendengar kata-kata itu, wajah Arkana memucat. Ia menunduk, tidak bisa menatap mata Rania. "Aku..."
"Tidak perlu menjelaskan," Rania memotongnya. "Aku sudah tahu. Aku sudah melihat semuanya."
Ia keluar dari ruang kerja itu, meninggalkan Arkana yang terdiam. Ia kembali ke kamarnya, mengunci pintunya. Ia tidak peduli dengan apa yang akan Arkana pikirkan. Ia sudah hancur, dan ia tidak takut lagi.
Malam itu, Rania kembali menatap foto usang itu. Ia melihat wajah Satria, dan ia merasa seolah ada sebuah harapan. Harapan bahwa ia tidak sendirian. Harapan bahwa ia bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menghadapi kenyataan yang tersembunyi di balik foto itu. Tetapi ia tahu satu hal: ia tidak akan menyerah. Ia akan berjuang, demi dirinya sendiri, demi kakeknya, dan demi kebahagiaan yang ia layak dapatkan.
Kini, bukan hanya pengkhianatan Arkana yang menjadi bebannya. Ada rahasia masa lalu yang harus ia pecahkan. Dan ia, yang perlahan bangkit dari reruntuhan, akan memulainya.
Anda Mungkin Juga Suka





