Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Hati Yang Tulus Dibalas Dengan Luka Yang Dalam

Ketika Hati Yang Tulus Dibalas Dengan Luka Yang Dalam

Rania terjebak dalam pernikahan penuh dusta demi melindungi kakeknya yang renta. Namun, jiwanya hancur saat menyaksikan pengkhianatan Arkana, suaminya sendiri. Di tengah luka mendalam tersebut, terungkaplah rahasia masa lalu dan perasaan yang selama ini terpendam. Ini adalah kisah tentang pengorbanan yang tak terlihat dan perjuangan seorang wanita untuk bangkit dari puing-puing kehancuran hatinya demi menemukan kekuatan baru yang sejati.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, setelah pertengkaran dengan Arkana, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Kata-kata Rania, yang keluar dari lubuk hati yang terluka, telah menciptakan jurang tak terduga di antara mereka. Arkana tidak lagi bertindak dingin; ia terlihat terkejut dan mungkin, sedikit terluka. Namun, bagi Rania, semua itu tidak lagi penting. Pengkhianatan telah menutupi segalanya. Perasaannya kini adalah sebuah badai yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

Rania mengunci diri di kamarnya. Bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk mencari kekuatan. Ia duduk di lantai, bersandar di pintu yang memisahkannya dari Arkana, dan kembali menatap foto usang di tangannya. Pria itu, Satria, adalah satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan ini. Senyumnya di foto itu dan senyumnya saat mereka bertemu terasa seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu yang samar dengan masa kini yang penuh misteri.

Keesokan paginya, Rania bangun dengan tekad baru. Ia tidak akan lagi menjadi istri yang pasif, yang hanya menerima nasibnya. Ia akan mencari kebenaran. Pagi itu, Rania tidak turun untuk sarapan bersama Arkana. Ia langsung pergi ke kamar kakeknya.

Kakeknya sedang duduk di kursi rodanya, menatap ke luar jendela. Sebuah senyum merekah di wajahnya saat Rania masuk. "Pagi, Rania. Hari ini udara terasa lebih segar."

"Pagi, Kakek," jawab Rania, mencium tangan kakeknya. "Hari ini kita jalan-jalan, ya. Ke taman belakang."

Taman belakang adalah tempat favorit kakeknya. Di sana, terdapat sebuah bangku tua di bawah pohon rindang, tempat kakeknya sering duduk bersama istrinya, nenek Rania. Rania mendorong kursi roda kakeknya perlahan. Mereka melewati hamparan bunga mawar, melati, dan krisan yang terawat dengan baik.

Saat tiba di bangku tua, Rania membantu kakeknya duduk. Ia duduk di sampingnya, menggenggam tangan keriputnya. "Kakek, Rania mau tanya sesuatu," bisik Rania.

Kakeknya menoleh, matanya teduh. "Tanya apa, Nak?"

"Tentang ibu dan ayah," kata Rania, mengeluarkan foto usang itu. "Siapa pria ini, Kakek? Aku menemukannya di buku lama Kakek."

Kakeknya terdiam, tatapannya terpaku pada foto itu. Wajahnya yang keriput menunjukkan emosi yang campur aduk: nostalgia, kesedihan, dan sedikit penyesalan. "Dia... dia adalah sahabat Kakek," jawabnya, suaranya serak. "Namanya Aditya."

"Aditya?" tanya Rania, jantungnya berdebar kencang. "Apakah ia ayah dari Satria?"

Kakeknya mengangguk pelan. "Ya. Satria adalah putranya."

"Mengapa Kakek tidak pernah menceritakan tentang dia?"

Kakeknya menghela napas panjang, menatap jauh ke depan. "Itu adalah masa lalu yang menyakitkan, Rania. Kami adalah sahabat yang sangat dekat. Aku dan Aditya mendirikan perusahaan bersama, dengan impian yang sama. Namun, suatu hari, sebuah kesalahpahaman besar terjadi. Kami bertengkar hebat. Setelah pertengkaran itu, Aditya pergi. Ia membawa keluarganya dan tidak pernah kembali."

Rania mendengarkan dengan saksama. "Kesalahpahaman apa, Kakek?"

Kakeknya menggelengkan kepala. "Kakek tidak ingin membicarakannya. Yang Kakek tahu, Kakek merasa sangat bersalah. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."

"Bagaimana dengan ibu?" tanya Rania. "Apakah ibu juga dekat dengannya?"

"Sangat dekat," jawab kakeknya, senyum tipis terukir di bibirnya. "Ibumu dan Aditya adalah... sahabat yang sangat baik. Mereka berdua memiliki mimpi yang sama, mereka saling melengkapi. Kakek bahkan sempat mengira bahwa mereka akan..." Kakeknya terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya.

Rania merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata kakeknya. Sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. "Kakek, apakah ibu... mencintai Aditya?"

Kakeknya tidak menjawab. Ia hanya menatap Rania, matanya dipenuhi dengan kesedihan. "Mungkin saja. Tapi itu sudah lama sekali. Mereka tidak pernah bersama. Ibumu akhirnya menikah dengan ayahmu, dan Kakek... Kakek juga ikut campur tangan dalam pernikahan itu."

Mendengar kata-kata itu, Rania merasa dunia di sekitarnya runtuh untuk kedua kalinya. Ia melihat kesamaan antara nasibnya dan nasib ibunya. Apakah ibunya juga dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai? Mengapa?

"Mengapa Kakek melakukan itu?" tanya Rania, suaranya bergetar.

"Karena ayahmu adalah pria yang sangat baik. Dia bisa melindungi ibu, memberikan kehidupan yang layak," jawab kakeknya. "Kakek tidak ingin ibumu menderita karena Kakek."

"Tapi apakah ibu bahagia?" tanya Rania.

Kakeknya hanya menunduk, tidak bisa menjawab.

Mendengar pengakuan kakeknya, Rania merasa hancur. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Marah? Sedih? Kecewa? Semua perasaan itu bercampur aduk. Ia menyadari, ia bukan satu-satunya yang menjadi korban dari pengorbanan yang tidak terucap. Ibunya juga. Dan kini, ia mengerti mengapa ia merasa ada ikatan yang tidak terjelaskan dengan Satria. Satria adalah bagian dari masa lalu yang Rania tidak pernah ketahui.

"Kakek, di mana Aditya sekarang?" tanya Rania. "Apakah ia masih hidup?"

Kakeknya menggelengkan kepala. "Kakek tidak tahu. Setelah pertengkaran itu, kami tidak pernah bertemu lagi."

Rania tahu ia tidak bisa memaksakan kakeknya lagi. Ia harus mencari tahu sendiri. Ia harus menemukan Satria.

Rania menghubungi Satria. Mereka bertemu di sebuah kafe. Rania menceritakan semuanya, tentang percakapannya dengan kakeknya, tentang foto itu, tentang Aditya, ayahnya.

Satria mendengarkan dengan saksama. "Jadi, ayahku dan kakekmu adalah sahabat?" tanyanya, matanya penuh dengan kekaguman. "Aku tidak pernah tahu."

"Ayahmu tidak pernah bercerita?" tanya Rania.

Satria menggeleng. "Tidak. Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ibuku juga. Aku hanya dibesarkan oleh nenekku."

"Jadi, kamu tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka?"

"Tidak. Nenekku hanya bilang, ada sebuah kesalahan besar di masa lalu yang membuat ayahku pergi," jawab Satria. "Aku tidak pernah tahu apa kesalahannya."

Rania merasa ada sebuah takdir yang menghubungkan mereka berdua. Mereka adalah dua orang yang sama-sama mencari jawaban dari masa lalu yang tersembunyi.

"Aku punya ide," kata Rania. "Aku akan mengajakmu bertemu dengan kakekku."

"Aku tidak yakin itu ide yang bagus," kata Satria. "Ayahku dan kakekmu memiliki masa lalu yang tidak baik."

"Tapi kakekku merindukan ayahmu," kata Rania. "Ia merasa sangat bersalah. Mungkin dengan bertemu denganmu, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan."

Satria terdiam. Ia menatap Rania, matanya penuh dengan keraguan. "Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan datang."

Hari itu, Rania membawa Satria ke rumahnya. Kakeknya sedang duduk di kursi rodanya, menatap ke luar jendela. Rania membawa Satria masuk.

"Kakek," kata Rania, "ada yang ingin bertemu denganmu."

Kakeknya menoleh, dan matanya langsung terpaku pada Satria. Ia terdiam, tatapan matanya dipenuhi dengan emosi yang tak terucapkan.

"Kakek," kata Satria, suaranya bergetar. "Saya Satria. Putra dari Aditya."

Mendengar nama itu, kakeknya langsung menangis. Ia berusaha berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Satria langsung memeluknya. "Kakek," bisiknya. "Tidak apa-apa."

Kakeknya menangis di pelukan Satria, tangisan yang penuh dengan penyesalan, kerinduan, dan rasa bersalah. Rania hanya bisa melihat mereka berdua, air matanya juga mengalir. Ia melihat bagaimana takdir menghubungkan mereka, bagaimana sebuah kesalahan di masa lalu telah menciptakan sebuah luka yang baru bisa sembuh sekarang.

Setelah kakeknya tenang, ia menceritakan semuanya pada Satria. Tentang persahabatannya dengan Aditya, tentang impian mereka untuk membangun perusahaan bersama, tentang kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.

"Aditya ingin membangun perusahaan dengan visinya sendiri," kata kakeknya. "Namun, aku terlalu ambisius. Aku ingin perusahaan itu menjadi besar dalam waktu singkat, dan aku mengambil jalan pintas yang tidak disetujui Aditya. Kami bertengkar, dan Aditya pergi."

"Apa jalan pintas itu, Kakek?" tanya Rania.

"Aku... aku berhutang dengan orang yang salah," kata kakeknya, suaranya bergetar. "Aku berhutang dengan seorang mafia. Aku tidak punya pilihan. Perusahaan kami bangkrut."

Rania terkejut. Ia tidak pernah tahu tentang ini. Jadi, ini alasan di balik kebangkrutan perusahaan kakeknya. Ia menatap Satria, matanya penuh dengan kekaguman. Satria hanya mengangguk, seolah ia sudah tahu semuanya.

"Jadi, mengapa kamu menikah dengan Arkana?" tanya Satria. "Apa hubungannya dengan kebangkrutan ini?"

"Arkana datang dan menawarkan modal," kata kakeknya. "Ia tahu tentang hutangku. Ia berjanji akan melunasi hutang itu dan membangun kembali perusahaan ini. Dengan satu syarat: Rania harus menjadi istrinya."

Rania menunduk, air matanya menetes. Ia merasa malu. Ia merasa bodoh. Ia merasa, ia adalah korban dari kebohongan yang rumit.

"Kakek," kata Satria, suaranya tegas. "Kakek harus tahu. Ayahku adalah orang yang menemukan tentang hutang ini. Ia mencoba untuk melunasi hutang ini, tetapi ia... ia dibunuh."

Mendengar kata-kata itu, kakeknya langsung pingsan. Rania dan Satria terkejut. Mereka berusaha membangunkan kakeknya, tetapi kakeknya tidak sadarkan diri.

Rania segera memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa kakeknya. "Kakeknya mengalami serangan jantung," kata dokter. "Jantungnya terlalu lemah untuk menerima berita yang mengejutkan. Ia harus dirawat di rumah sakit."

Malam itu, Rania dan Satria menemani kakeknya di rumah sakit. Arkana datang, tetapi Rania tidak ingin berbicara dengannya. Ia hanya ingin fokus pada kakeknya.

"Siapa pria itu?" tanya Arkana, menunjuk Satria.

"Dia adalah orang yang bisa dipercaya," jawab Rania.

Arkana menatap Satria, matanya penuh dengan kecurigaan dan amarah. "Aku tidak tahu kau punya teman seperti ini."

Rania hanya mengabaikannya. Ia tahu, Arkana kini merasa terancam.

"Kita perlu bicara," kata Arkana.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab Rania. "Kita tidak punya apa-apa lagi."

Malam itu, Rania menyadari, ia tidak lagi sendirian. Ia punya Satria, seorang pria yang membantunya mengungkap rahasia masa lalu. Dan di tengah reruntuhan hatinya, sebuah harapan baru telah lahir. Harapan untuk sebuah kehidupan yang baru, sebuah kehidupan yang tidak lagi dipenuhi dengan kebohongan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jadikan Kau Ratu
9.7
Darren Gerald rela mendekam di penjara dan nyaris tewas demi menolong perempuan yang ia cintai. Meski sempat ingin menyerah, ia memilih tetap setia mendampingi sang kekasih yang kini berstatus janda dan mengidap gangguan mental. Namun, saat orang tua pihak wanita memberikan restu, rintangan baru muncul dari Rossi, ibu kandung Darren. Rossi menentang keras hubungan tersebut. Darren kini terjebak dalam dilema antara baktinya pada ibu atau memperjuangkan cintanya.
Sampul Novel BERONDONG PERKASA
9.8
Danny Sasmita sering mengintip tetangga barunya, Camelia, menggunakan teropong. Suatu hari, ia bergegas menolong Camelia yang histeris karena kecoak. Namun, warga salah paham hingga memaksa mereka menikah meski terpaut usia jauh. Di tengah tekanan sosial dan tanda tanya mengenai status Camelia, mantan tunangannya muncul kembali setelah dua tahun berpisah. Kini Camelia terjebak dalam dilema antara suami mudanya atau pria dari masa lalu yang datang kembali.
Sampul Novel Diary Naya
9.1
Bagi banyak orang, makna cinta bersifat subjektif dan beragam, sebagaimana kutipan Marianne Williamson yang menyebutnya sebagai inti eksistensi manusia. Namun, dalam sudut pandangku, definisi sejati dari perasaan ini bukanlah tentang memiliki. Kisah ini mengeksplorasi arti pengorbanan terdalam, di mana mencintai berarti memiliki ketulusan untuk melepaskan sosok yang paling berharga agar ia mampu menemukan kebahagiaan sejatinya sendiri.
Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Mengandung konten 21+ Harap bijak menentukan bacaan... Jangan lupa mampir juga cerita pertama "Mertua Hiperseks" Zakia Ananta Arman, gadis remaja yang masih sangat polos dan tidak pernah mengenal apa itu jatuh cinta sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan pemuda tampan yang merupakan putra dari kyai pengasuh pesantren dikingkungannya. Malam itu gadis yang cakap dipanggil Kia itu secara sengaja masuk ke dalam kamar pria yang sering di panggil Gus Beren oleh para santri. Kia memasukkan obat perangsang dan alkohol secara bersamaan pada teh yang disajikan oleh Santri dan akan di minum oleh Gus Beren. Alhasil, malam itu tanpa sadar Gus Beren menyetubuhi Kia yang bersembunyi dibalik tirai gorden kamarnya, saat Gus Beren tengah membersihkan badan di kamar mandi setelah acara pengangkatan pengasuh baru di adakan di pesantren yang di miliki abahnya. Hubungan satu malam itu berakhir duka bagi Kia. Ia tidak pernah menyangka bahwa dari hubungan itu ia akan mengandung anak dari Gus Beren, tapi sayangnya Gus Beren tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Karena bagaimana pun anak itu tetap akan bernasab pada ibunya, sebab ia hadir sebelum terjadinya Ijab Qobul pernikahan. Apalagi Kia baru mengetahui, jika Gus Beren sudah memilik istri yang di nikahi secara siri, karena saat ini istri Gus Beren masih melanjutkan pendidikannya di Mesir. Kia teringat akan perbuatan papanya Arman beberapa waktu yang lalu, ia membawa Cantika yang merupakan wanita selingkuhannya ke rumah dan melakukan perbuatan mesum di depan mamanya Arini. Mungkinkah yang terjadi saat ini merupakan balasan atas perbuatan Arman, yang telah menyakiti Arini. Bukan hanya itu, Arman juga sering melampiaskan amarah pada mamanya dan juga kakaknya Zoni saat mereka memberontak kelakuan Arman untuk bermain panas dengan Cantika. Kata-kata Kia terngiang begitu dalam pada ingatan Arman, yang menyiratkan kebencian dari seorang putri yang sangat ia sayangi. Arman tak pernah begitu menyesal atas perlakuannya dan perkataannya yang sering menyakiti Arini dan Zoni, tapi untuk Kia, dia benar-benar menyesal karena telah membuat putri kesayangannya itu kecewa dan berkata kasar padanya. Teringat pada masa lalu kelam tentang Rania yang harus mati akibat ulah Ayah Arman, ia takut hal itu terulang kembali pada Kia. Akankah Kia bisa mendapatkan keadilan serta tanggung jawab dari Gus Beren untuk anak yang dikandung? Sedang usianya saat ini masih belum cukup umur untuk melangsungkan pernikahan karena ia baru 9 SMP. Ataukah ia akan menjalani sisa-sisa hidup dengan karma yang telah papanya perbuat selama ini? Siapakah Rania, yang menyisakan luka begitu dalam bagi Arman?
Sampul Novel Harga Sebuah Keperawanan
9.6
Terdesak kemiskinan, Dinda nekat menjual kehormatannya seharga lima ratus ribu rupiah kepada preman. Namun, razia kepolisian menggagalkan rencananya hingga ia bertemu Sergio, polisi tampan yang menolongnya. Meski Sergio sudah berkeluarga, Dinda tetap mengejar cintanya hingga mereka memulai hubungan terlarang secara sembunyi-sembunyi. Akankah rahasia gelap ini terungkap? Bagaimana reaksi istri Sergio saat mengetahui pengkhianatan suaminya tersebut?
Sampul Novel Permainan Cinta Billionaire's
8.1
Ditinggal Aldo di hari pernikahan memaksa Aletta menikahi Bian demi menjaga martabat keluarga besar. Meski Bian sosok suami yang baik, kehidupan baru Aletta justru dipenuhi cobaan berat saat rahasia kelam mulai terkuak satu per satu. Situasi kian pelik ketika Aldo mendadak muncul kembali membawa kerumitan baru. Akankah Aletta mempertahankan rumah tangganya dengan Bian, atau justru kembali pada cinta lamanya? Ikuti perjuangan cinta penuh intrik ini.