
Ketika Hati Yang Tulus Dibalas Dengan Luka Yang Dalam
Bab 3
Malam itu, setelah pertengkaran dengan Arkana, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Kata-kata Rania, yang keluar dari lubuk hati yang terluka, telah menciptakan jurang tak terduga di antara mereka. Arkana tidak lagi bertindak dingin; ia terlihat terkejut dan mungkin, sedikit terluka. Namun, bagi Rania, semua itu tidak lagi penting. Pengkhianatan telah menutupi segalanya. Perasaannya kini adalah sebuah badai yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.
Rania mengunci diri di kamarnya. Bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk mencari kekuatan. Ia duduk di lantai, bersandar di pintu yang memisahkannya dari Arkana, dan kembali menatap foto usang di tangannya. Pria itu, Satria, adalah satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan ini. Senyumnya di foto itu dan senyumnya saat mereka bertemu terasa seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu yang samar dengan masa kini yang penuh misteri.
Keesokan paginya, Rania bangun dengan tekad baru. Ia tidak akan lagi menjadi istri yang pasif, yang hanya menerima nasibnya. Ia akan mencari kebenaran. Pagi itu, Rania tidak turun untuk sarapan bersama Arkana. Ia langsung pergi ke kamar kakeknya.
Kakeknya sedang duduk di kursi rodanya, menatap ke luar jendela. Sebuah senyum merekah di wajahnya saat Rania masuk. "Pagi, Rania. Hari ini udara terasa lebih segar."
"Pagi, Kakek," jawab Rania, mencium tangan kakeknya. "Hari ini kita jalan-jalan, ya. Ke taman belakang."
Taman belakang adalah tempat favorit kakeknya. Di sana, terdapat sebuah bangku tua di bawah pohon rindang, tempat kakeknya sering duduk bersama istrinya, nenek Rania. Rania mendorong kursi roda kakeknya perlahan. Mereka melewati hamparan bunga mawar, melati, dan krisan yang terawat dengan baik.
Saat tiba di bangku tua, Rania membantu kakeknya duduk. Ia duduk di sampingnya, menggenggam tangan keriputnya. "Kakek, Rania mau tanya sesuatu," bisik Rania.
Kakeknya menoleh, matanya teduh. "Tanya apa, Nak?"
"Tentang ibu dan ayah," kata Rania, mengeluarkan foto usang itu. "Siapa pria ini, Kakek? Aku menemukannya di buku lama Kakek."
Kakeknya terdiam, tatapannya terpaku pada foto itu. Wajahnya yang keriput menunjukkan emosi yang campur aduk: nostalgia, kesedihan, dan sedikit penyesalan. "Dia... dia adalah sahabat Kakek," jawabnya, suaranya serak. "Namanya Aditya."
"Aditya?" tanya Rania, jantungnya berdebar kencang. "Apakah ia ayah dari Satria?"
Kakeknya mengangguk pelan. "Ya. Satria adalah putranya."
"Mengapa Kakek tidak pernah menceritakan tentang dia?"
Kakeknya menghela napas panjang, menatap jauh ke depan. "Itu adalah masa lalu yang menyakitkan, Rania. Kami adalah sahabat yang sangat dekat. Aku dan Aditya mendirikan perusahaan bersama, dengan impian yang sama. Namun, suatu hari, sebuah kesalahpahaman besar terjadi. Kami bertengkar hebat. Setelah pertengkaran itu, Aditya pergi. Ia membawa keluarganya dan tidak pernah kembali."
Rania mendengarkan dengan saksama. "Kesalahpahaman apa, Kakek?"
Kakeknya menggelengkan kepala. "Kakek tidak ingin membicarakannya. Yang Kakek tahu, Kakek merasa sangat bersalah. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
"Bagaimana dengan ibu?" tanya Rania. "Apakah ibu juga dekat dengannya?"
"Sangat dekat," jawab kakeknya, senyum tipis terukir di bibirnya. "Ibumu dan Aditya adalah... sahabat yang sangat baik. Mereka berdua memiliki mimpi yang sama, mereka saling melengkapi. Kakek bahkan sempat mengira bahwa mereka akan..." Kakeknya terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya.
Rania merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata kakeknya. Sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. "Kakek, apakah ibu... mencintai Aditya?"
Kakeknya tidak menjawab. Ia hanya menatap Rania, matanya dipenuhi dengan kesedihan. "Mungkin saja. Tapi itu sudah lama sekali. Mereka tidak pernah bersama. Ibumu akhirnya menikah dengan ayahmu, dan Kakek... Kakek juga ikut campur tangan dalam pernikahan itu."
Mendengar kata-kata itu, Rania merasa dunia di sekitarnya runtuh untuk kedua kalinya. Ia melihat kesamaan antara nasibnya dan nasib ibunya. Apakah ibunya juga dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai? Mengapa?
"Mengapa Kakek melakukan itu?" tanya Rania, suaranya bergetar.
"Karena ayahmu adalah pria yang sangat baik. Dia bisa melindungi ibu, memberikan kehidupan yang layak," jawab kakeknya. "Kakek tidak ingin ibumu menderita karena Kakek."
"Tapi apakah ibu bahagia?" tanya Rania.
Kakeknya hanya menunduk, tidak bisa menjawab.
Mendengar pengakuan kakeknya, Rania merasa hancur. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Marah? Sedih? Kecewa? Semua perasaan itu bercampur aduk. Ia menyadari, ia bukan satu-satunya yang menjadi korban dari pengorbanan yang tidak terucap. Ibunya juga. Dan kini, ia mengerti mengapa ia merasa ada ikatan yang tidak terjelaskan dengan Satria. Satria adalah bagian dari masa lalu yang Rania tidak pernah ketahui.
"Kakek, di mana Aditya sekarang?" tanya Rania. "Apakah ia masih hidup?"
Kakeknya menggelengkan kepala. "Kakek tidak tahu. Setelah pertengkaran itu, kami tidak pernah bertemu lagi."
Rania tahu ia tidak bisa memaksakan kakeknya lagi. Ia harus mencari tahu sendiri. Ia harus menemukan Satria.
Rania menghubungi Satria. Mereka bertemu di sebuah kafe. Rania menceritakan semuanya, tentang percakapannya dengan kakeknya, tentang foto itu, tentang Aditya, ayahnya.
Satria mendengarkan dengan saksama. "Jadi, ayahku dan kakekmu adalah sahabat?" tanyanya, matanya penuh dengan kekaguman. "Aku tidak pernah tahu."
"Ayahmu tidak pernah bercerita?" tanya Rania.
Satria menggeleng. "Tidak. Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ibuku juga. Aku hanya dibesarkan oleh nenekku."
"Jadi, kamu tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka?"
"Tidak. Nenekku hanya bilang, ada sebuah kesalahan besar di masa lalu yang membuat ayahku pergi," jawab Satria. "Aku tidak pernah tahu apa kesalahannya."
Rania merasa ada sebuah takdir yang menghubungkan mereka berdua. Mereka adalah dua orang yang sama-sama mencari jawaban dari masa lalu yang tersembunyi.
"Aku punya ide," kata Rania. "Aku akan mengajakmu bertemu dengan kakekku."
"Aku tidak yakin itu ide yang bagus," kata Satria. "Ayahku dan kakekmu memiliki masa lalu yang tidak baik."
"Tapi kakekku merindukan ayahmu," kata Rania. "Ia merasa sangat bersalah. Mungkin dengan bertemu denganmu, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan."
Satria terdiam. Ia menatap Rania, matanya penuh dengan keraguan. "Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan datang."
Hari itu, Rania membawa Satria ke rumahnya. Kakeknya sedang duduk di kursi rodanya, menatap ke luar jendela. Rania membawa Satria masuk.
"Kakek," kata Rania, "ada yang ingin bertemu denganmu."
Kakeknya menoleh, dan matanya langsung terpaku pada Satria. Ia terdiam, tatapan matanya dipenuhi dengan emosi yang tak terucapkan.
"Kakek," kata Satria, suaranya bergetar. "Saya Satria. Putra dari Aditya."
Mendengar nama itu, kakeknya langsung menangis. Ia berusaha berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Satria langsung memeluknya. "Kakek," bisiknya. "Tidak apa-apa."
Kakeknya menangis di pelukan Satria, tangisan yang penuh dengan penyesalan, kerinduan, dan rasa bersalah. Rania hanya bisa melihat mereka berdua, air matanya juga mengalir. Ia melihat bagaimana takdir menghubungkan mereka, bagaimana sebuah kesalahan di masa lalu telah menciptakan sebuah luka yang baru bisa sembuh sekarang.
Setelah kakeknya tenang, ia menceritakan semuanya pada Satria. Tentang persahabatannya dengan Aditya, tentang impian mereka untuk membangun perusahaan bersama, tentang kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"Aditya ingin membangun perusahaan dengan visinya sendiri," kata kakeknya. "Namun, aku terlalu ambisius. Aku ingin perusahaan itu menjadi besar dalam waktu singkat, dan aku mengambil jalan pintas yang tidak disetujui Aditya. Kami bertengkar, dan Aditya pergi."
"Apa jalan pintas itu, Kakek?" tanya Rania.
"Aku... aku berhutang dengan orang yang salah," kata kakeknya, suaranya bergetar. "Aku berhutang dengan seorang mafia. Aku tidak punya pilihan. Perusahaan kami bangkrut."
Rania terkejut. Ia tidak pernah tahu tentang ini. Jadi, ini alasan di balik kebangkrutan perusahaan kakeknya. Ia menatap Satria, matanya penuh dengan kekaguman. Satria hanya mengangguk, seolah ia sudah tahu semuanya.
"Jadi, mengapa kamu menikah dengan Arkana?" tanya Satria. "Apa hubungannya dengan kebangkrutan ini?"
"Arkana datang dan menawarkan modal," kata kakeknya. "Ia tahu tentang hutangku. Ia berjanji akan melunasi hutang itu dan membangun kembali perusahaan ini. Dengan satu syarat: Rania harus menjadi istrinya."
Rania menunduk, air matanya menetes. Ia merasa malu. Ia merasa bodoh. Ia merasa, ia adalah korban dari kebohongan yang rumit.
"Kakek," kata Satria, suaranya tegas. "Kakek harus tahu. Ayahku adalah orang yang menemukan tentang hutang ini. Ia mencoba untuk melunasi hutang ini, tetapi ia... ia dibunuh."
Mendengar kata-kata itu, kakeknya langsung pingsan. Rania dan Satria terkejut. Mereka berusaha membangunkan kakeknya, tetapi kakeknya tidak sadarkan diri.
Rania segera memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa kakeknya. "Kakeknya mengalami serangan jantung," kata dokter. "Jantungnya terlalu lemah untuk menerima berita yang mengejutkan. Ia harus dirawat di rumah sakit."
Malam itu, Rania dan Satria menemani kakeknya di rumah sakit. Arkana datang, tetapi Rania tidak ingin berbicara dengannya. Ia hanya ingin fokus pada kakeknya.
"Siapa pria itu?" tanya Arkana, menunjuk Satria.
"Dia adalah orang yang bisa dipercaya," jawab Rania.
Arkana menatap Satria, matanya penuh dengan kecurigaan dan amarah. "Aku tidak tahu kau punya teman seperti ini."
Rania hanya mengabaikannya. Ia tahu, Arkana kini merasa terancam.
"Kita perlu bicara," kata Arkana.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab Rania. "Kita tidak punya apa-apa lagi."
Malam itu, Rania menyadari, ia tidak lagi sendirian. Ia punya Satria, seorang pria yang membantunya mengungkap rahasia masa lalu. Dan di tengah reruntuhan hatinya, sebuah harapan baru telah lahir. Harapan untuk sebuah kehidupan yang baru, sebuah kehidupan yang tidak lagi dipenuhi dengan kebohongan.
Anda Mungkin Juga Suka





