
Ketika Cinta Telah Mati dan Harapan Pupus
Bab 3
Setiap patah kata itu bagaikan pisau yang menyayat hatiku. Ternyata, rasa sakit bisa mencapai tingkat setinggi ini. Dalam sekejap, hatiku seperti sudah mati.
“Chloe, kenapa kamu ada di sini?”
Begitu membuka pintu dan melihatku, Lucia terlihat terkejut, seolah-olah aku barulah tamu tak diundang di rumah ini.
“Ini rumahku. Memangnya aku harus lapor sama kamu waktu aku pulang?”
“Bukan itu maksudku ....”
Lucia langsung menangis dan terlihat sangat kasihan.
Aku langsung melempar tas usangnya ke sisi kakinya. “Bawa barang-barangmu ....”
“Ah! Sakit sekali ....”
Dia tiba-tiba membungkuk dan menutupi jari kakinya.
Theo langsung melangkah maju dan mendorong bahuku dengan kuat. “Chloe Winata! Jangan keterlaluan kamu! Nggak peduli seberapa marah pun kamu, kamu nggak seharusnya menghantamnya dengan tas!”
Ketika aku terdesak mundur dengan terhuyung-huyung, Jared mengadang di depan mereka.
“Chloe, kalau kamu marah, lampiaskan amarahmu padaku dan Theo. Jangan targeti Lulu. Dia sudah cukup kasihan.”
Dia kasihan? Bagaimana denganku?
Apa yang mereka lakukan ketika aku mengalami hipotermia di puncak gunung? Ketika aku merasa kedinginan sampai penyakit jantungku kambuh. Ketika seluruh tubuhku terasa sakit sampai aku tidak berhenti gemetar. Ketika aku memohon pada mereka.
Mereka hanya terpikirkan untuk memeluk Lucia yang wajahnya merona merah dan terlihat segar.
Ketika aku tidak sadarkan diri di rumah sakit, Lucia tidak berhenti memosting foto di akun media sosialnya. Semuanya adalah foto mereka menemaninya makan dan bersenang-senang.
Kata-kata yang ditulis dalam setiap postingan Lucia itu juga sangat menusuk mata, seperti berterima kasih atas perhatian mereka, berterima kasih atas perlakuan istimewa mereka, berterima kasih atas segala sesuatu yang diberikan mereka.
Sebelumnya, semua itu adalah milikku.
“Lucia, kamu bukan cuma bergantung hidup padaku, tapi kamu akhirnya juga merebut orang-orang di sekitarku. Selanjutnya, apa kamu juga mau merebut orang tuaku?”
Aku yang baru keluar dari rumah sakit masih tidak sanggup menanggung guncangan seperti ini. Jantungku lagi-lagi terasa nyeri. Aku pun menutupi dadaku dan jatuh ke lantai.
Jared langsung membelalak. “Chloe!”
Theo juga menerjang ke arahku. “Chloe!”
Namun, sebelum mereka sampai ke hadapanku, Lucia sudah berseru sambil menangis, “Maaf! Aku nggak seharusnya muncul! Aku pantas mati! Aku bersalah! Siapa suruh ayahku itu cuma sopirmu! Dia mati karena nasibnya yang buruk. Itu bukan salah keluarga kalian!”
Lucia menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya.
Gerakan Jared yang mengulurkan tangannya ke arahku pun terhenti. Dia berbalik dan langsung memeluk Lucia dengan sakit hati. Dia yang jarang terlihat marah pun meledak.
“Chloe, kamu terlalu jahat! Kamu memang kaya dan punya latar belakang kuat. Tapi, itu juga bukan alasanmu untuk lukai Lulu seperti ini! Kamu cuma kedinginan sekali, sedangkan Lulu kehilangan ayahnya!”
Theo juga berseru marah ke arahku, “Cepat minta maaf sama Lulu!”
Jantungku terasa makin sakit. Rasa sakit itu membuatku hampir kehilangan akal sehat. Aku hanya bisa mengulurkan tangan ke arah Theo dengan terhuyung-huyung.
Theo dan Jared tahu aku mengidap penyakit jantung. Setiap kali penyakitku kambuh dulu, mereka akan merasa sangat cemas. Mereka bahkan pernah bersumpah tidak akan membuatku marah selamanya. Sekarang, Theo malah menepis tanganku dan menatapku dengan penuh waspada.
“Aku suruh kamu minta maaf, tapi kamu malah mau pukul orang?”
Jared memeluk Lucia yang gemetar ketakutan dan berujar, “Chloe, jangan pura-pura lagi. Meski dalam keadaan begini, Lulu juga cuma memarahi dirinya sendiri. Dia sama sekali nggak ngomong apa-apa tentang kamu. Jadi orang itu harus lebih baik hati.”
Aku tidak seharusnya mencoba untuk meminta tolong pada mereka.
Keinginan untuk bertahan hidup membuatku merangkak sampai ke depan sofa dengan susah payah. Aku membuka botol obat jantungku dan baru menyadari isinya kosong. Ketika pulang dari rumah sakit hari ini, aku lupa mengambil obat.
Aku meringkuk sambil menutupi dadaku. Sampai saat ini, kedua orang itu baru menyadari bahwa aku bukan sedang bersandiwara. Mereka hendak melangkah maju, tetapi Lucia malah menangis lagi. Ekspresi mereka pun seketika berubah.
Theo menunjukku dan berseru, “Mampus kamu! Kalau kamu nggak berhati sempit, jantungmu juga nggak akan sakit setiap harinya! Ini semua karmamu!”
Anda Mungkin Juga Suka





