
Ketika Cinta Pertama Berujung Penderitaan
Bab 2
Laila terbangun, atau lebih tepatnya, tersentak dari tidur singkatnya, saat cahaya pagi pertama mulai menyusup lewat celah-celah di atap gedung. Kepalanya terasa berat, dan seluruh badannya seperti habis dilindas truk. Rasanya sakit sekali, sakit yang menusuk sampai ke tulang. Ia melirik ke dadanya. Arka. Putra kecilnya masih ada di sana, tidur nyenyak, mulutnya sedikit terbuka, tangannya mengepal di dekat pipi Laila. Momen damai itu hanya bertahan sepersekian detik.
Ketakutan langsung menghantamnya.
Pagi. Artinya sebentar lagi orang-orang akan mulai beraktivitas. Mungkin ada pekerja konstruksi yang datang mengecek bangunan, atau mungkin saja petugas keamanan patroli. Kalau sampai ada yang menemukan ia dan bayinya di sini, skenarionya hanya ada dua: Laila ditangkap karena dianggap membuang anak (meski ia melahirkannya sendiri), atau anaknya diambil paksa. Keduanya sama-sama mengerikan. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Arka adalah satu-satunya miliknya.
"Kita harus pergi, Nak," bisik Laila, suaranya serak. Ia mencoba menggerakkan kakinya. Rasa perih luar biasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya. Ia menggigit bibir, menahan erangan. Luka-luka itu masih basah, kotor, dan ia hanya punya selembar kain yang tidak layak untuk membersihkannya.
Ia meletakkan Arka perlahan di atas tumpukan kain kering seadanya. Arka menggeliat sedikit, tapi tidak bangun. Laila mengambil kesempatan itu untuk mencoba membersihkan diri secepat mungkin. Ia menggunakan sisa air minum terakhirnya-hanya beberapa teguk-untuk membasuh tangannya. Ia tahu ini sia-sia, tempat ini kotor sekali, tapi setidaknya ia mencoba.
Masalah terbesar sekarang adalah logistik. Bagaimana cara membawa bayi ini turun dari lantai tiga tanpa terlihat? Dan ia tidak punya tas bayi, gendongan, atau apapun yang pantas. Ia hanya punya ransel lusuh yang isinya cuma pakaian kotor dan beberapa lembar uang receh.
Laila mencari akal. Ia merobek bagian lengan dari satu-satunya jaket tebal yang ia punya. Jaket itu sudah kusam, tapi bahannya cukup kuat. Dengan tangan yang masih gemetar dan nyeri, ia mulai mengikat potongan kain itu menjadi simpul-simpul darurat. Ia membuat semacam kantong gendongan dadakan. Jaket itu berfungsi ganda: sebagai gendongan untuk mengamankan Arka, dan sebagai penutup, agar tidak ada yang bisa melihat bayinya secara langsung.
Setiap gerakan, entah membungkuk, mengikat, atau bahkan hanya bernapas dalam-dalam, terasa seperti jarum yang menusuk. Ia merasa mual, lemas, dan pandangannya sering berkunang-kunang. Ia kehilangan banyak darah, ia tahu itu. Tapi adrenalin dan ketakutan mengalahkannya.
Setelah beberapa menit perjuangan yang terasa seperti jam, Arka akhirnya terbungkus aman di dada Laila. Wajahnya yang mungil terlindungi di balik lipatan jaket. Arka mulai rewel sedikit, mungkin lapar, tapi Laila hanya bisa menenangkannya dengan sentuhan dan bisikan. "Tahan sebentar ya, Sayang. Kita harus keluar dari sini."
Ia mengambil ranselnya. Rasanya ringan, terlalu ringan. Mengingat semua yang ia tinggalkan di gedung itu-sisa-sisa persalinan yang kotor, pecahan kaca, bau darah-rasa bersalah menusuknya. Ia tidak bisa membersihkan semuanya. Ia hanya bisa berharap tempatnya cukup tersembunyi. Ini bukti keberadaan mereka. Bukti bahwa Laila ada di sini, dan ia harus menghilang sebelum bukti itu ditemukan.
Laila memosisikan dirinya di dekat tangga darurat. Tangga ini adalah kerangka besi terbuka, curam, dan berkarat. Ini adalah cara tercepat turun, tapi juga yang paling berbahaya. Tergelincir sedikit saja, semuanya selesai. Ia akan jatuh, dan bayinya... ia tidak berani memikirkannya.
Ia mulai melangkah. Satu langkah. Ia menumpukan seluruh berat tubuhnya pada sisi tangga yang paling kokoh. Kakinya gemetar hebat, bukan hanya karena kelelahan tapi karena ketakutan. Ia harus membungkuk sedikit, membuat langkahnya pendek-pendek.
Di lantai dua, ada area terbuka yang langsung menghadap ke jalanan sepi. Laila merapat ke dinding, menahan napas. Ia bisa mendengar suara knalpot motor yang lewat sesekali. Jantungnya berdebar-debar liar. Ia merasa seperti seorang buronan, padahal ia hanya seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya. Paranoia mulai menguasainya. Setiap bayangan yang bergerak, setiap suara burung, terasa seperti langkah kaki yang mendekat.
"Pelan-pelan," gumamnya pada dirinya sendiri.
Tangga berikutnya lebih sulit. Ada bagian yang berlubang, hanya menyisakan kerangka besi tipis. Laila harus berpegangan pada balok beton di sebelahnya. Rasanya seperti mendaki gunung, padahal ia hanya turun dua lantai. Ia ingat betapa lincahnya ia dulu, melompat-lompat di antara bebatuan saat mendaki gunung bersama teman-teman sekolahnya. Sekarang, tubuhnya adalah penghalang terbesar. Lemah, sakit, dan tak berdaya.
Sampai di lantai dasar. Di sini, kegelapan masih mendominasi karena bangunan lain menghalangi matahari. Udara jauh lebih dingin, menusuk kulitnya yang masih berkeringat. Laila bersembunyi di balik tumpukan karung semen, menunggu. Ia harus memastikan area keluar aman.
Ia melihat ke arah gerbang proyek. Gerbang besi tinggi yang harus ia panjat. Memanjat. Dalam kondisinya sekarang? Itu mustahil.
Laila mulai merangkak, mencari celah. Ia ingat ada lubang kecil di pagar kawat di sisi belakang gedung, yang biasanya digunakan para gelandangan untuk keluar masuk. Perutnya harus bergeser di atas tanah kotor. Rasa perih di lukanya kembali menjadi-jadi, tapi ia harus tahan. Bayinya tidak boleh tahu betapa menderitanya ibunya saat ini.
Ia sampai di lubang itu. Lubangnya sempit. Laila harus memiringkan badannya dan mendorong ranselnya terlebih dahulu. Ia merasakan kain gendongan Arka tersangkut. Panik. Ia menarik perlahan, berdoa agar jahitan daruratnya tidak lepas. Akhirnya, dengan desahan lega, ia berhasil keluar, tubuhnya tergeletak di rumput liar di balik pagar.
Ia berhasil. Laila dan Arka kini berada di luar.
Dunia luar terasa asing. Udara pagi yang lembap dan dingin menusuk paru-parunya. Gedung kosong itu kini ada di belakangnya, sebuah monumen bisu yang menyimpan rahasia kelahirannya.
Laila memaksakan diri bangkit. Ia berjalan merayap di pinggir jalan yang belum ramai, sebisa mungkin tetap berada di bawah bayangan pohon atau tiang listrik. Ia berjalan tanpa tujuan, hanya tahu satu hal: ia harus sejauh mungkin dari gedung itu, dari area yang bisa menghubungkannya dengan masa lalunya.
Di kejauhan, ia melihat deretan ruko yang masih tutup. Di depan salah satu ruko, ada trotoar lebar dengan beberapa pot tanaman besar. Itu tempat yang lebih baik. Ada atap yang bisa sedikit melindunginya dari embun pagi, dan pot tanaman bisa sedikit menyembunyikannya dari pandangan orang yang mulai lalu lalang.
Laila berjalan, atau lebih tepatnya, menyeret dirinya ke sana. Lima puluh meter terasa seperti lima kilometer.
Tepat saat ia tiba di depan ruko, kakinya tak mampu lagi menahan beban. Ia ambruk, terduduk di pinggiran trotoar, bersandar pada tembok dingin. Ia terengah-engah, mencium aroma rambut Arka yang kini terbangun dan mulai merengek pelan.
Laila membuka sedikit lipatan jaketnya dan menatap Arka. Bayi itu tampak kedinginan, bibirnya pucat. Insting Laila sebagai ibu membawanya pada satu tindakan: menyusui.
Ia tidak yakin apakah ia bisa. Ia belum pernah melakukannya, dan tubuhnya baru saja melewati trauma besar. Dengan tangan gemetar, ia mencoba memosisikan Arka. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan kehangatan dan keajaiban saat Arka mulai menyusu. Mata Laila terpejam.
Saat Arka menyusu, ada rasa lega yang luar biasa. Ia berhasil melindungi anaknya, ia berhasil memberinya kehidupan dan kini ia berhasil memberinya makanan. Namun, rasa lega itu segera disusul oleh kesadaran yang menusuk: ia adalah seorang tunawisma, seorang ibu muda yang ditinggalkan, dan bayinya lahir dari aib, kini mereka duduk di trotoar yang dingin.
Sebuah sepeda motor lewat, pengendaranya melirik sekilas, tanpa peduli. Bagi mereka, Laila hanyalah sampah kota. Ini konflik barunya: menjadi tidak terlihat, menjadi asing, menjadi bagian dari keterasingan yang dipilih masyarakat.
Laila memeluk Arka erat. Ia menangis tanpa suara, air matanya menetes di kepala Arka. Ia harus bertahan. Untuk Arka. Ia harus mencari tempat yang aman. Ia harus mencari pekerjaan yang tidak menghakiminya. Ia harus mencari kehidupan yang layak.
"Arka," bisiknya, sambil menatap wajah putranya. "Aku janji. Aku janji, kita akan dapat kebahagiaan itu. Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan."
Matahari kini mulai meninggi, menerangi jalanan. Laila harus segera bergerak lagi, mencari tempat persembunyian yang lebih terjamin sebelum ruko-ruko itu buka. Ia harus menyembunyikan diri dari dunia yang siap menghakiminya kapan saja, sambil membawa harapan kecil yang menggeliat di dadanya.
Anda Mungkin Juga Suka





