
Ketika Cinta Pertama Berujung Penderitaan
Bab 3
Setelah dua hari tidur di emperan toko dan bersembunyi di toilet umum pasar, Laila tahu ia tidak bisa begini terus. Arka mulai rewel. Tangisannya bukan lagi tangis lapar biasa, tapi tangis bayi yang kedinginan, yang tidur di alas keras, yang tidak mendapatkan perawatan yang layak. Laila sendiri sudah demam ringan, tubuhnya kelelahan dan lukanya mulai terasa nyeri yang berbeda-rasa nyeri yang mengisyaratkan infeksi.
Keputusan itu datang dengan rasa pahit di lidah. Ia harus pulang.
Bukan pulang untuk menetap, tapi pulang untuk memohon. Memohon sedikit kehangatan, sedikit makanan yang benar, dan mungkin, sedikit ampunan. Ia harus menelan harga dirinya, rasa malu yang ia bawa, dan menghadapi Bapak serta Ibunya. Ia tahu risikonya besar, tapi demi Arka, ia akan lakukan apa saja.
Rumah orang tuanya ada di pinggiran kota, jauh dari tempatnya sekarang. Laila harus menumpang angkot sekali, lalu berjalan kaki sekitar satu jam. Ia tidak punya cukup uang untuk naik ojek sampai depan rumah.
Perjalanan itu adalah siksaan. Laila berjalan terseok-seok, langkahnya kaku. Setiap getaran dari jalanan yang tidak rata menembus kakinya, naik ke punggungnya, dan menghantam lukanya. Arka ia gendong erat-erat di balik jaket lusuh. Ia sering berhenti, duduk di halte bus yang sepi, menenangkan Arka, dan mencoba menarik napas panjang untuk mengusir rasa pusing yang terus mendera.
"Bertahan, Nak. Sebentar lagi. Kita sampai," bisiknya pada Arka, lebih seperti menyemangati dirinya sendiri.
Ketika akhirnya ia sampai di kompleks perumahan sederhana tempat ia dibesarkan, lutut Laila terasa seperti jelly. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena kelelahan, tapi karena ketakutan. Rumah itu. Rumah kecil dengan pagar kayu putih yang dicat ulang. Jendela dapur yang selalu terbuka, tempat Ibu selalu menyambutnya dengan aroma masakan.
Laila berhenti di depan pagar. Ia ragu. Kenangan akan kata-kata terakhir Bapaknya menggema di telinganya. "Jangan pernah bawa aib ini kembali."
Ia menarik napas, mengatur ekspresinya. Ia harus terlihat tegar, tapi juga rentan. Ia harus memohon belas kasihan, tapi tidak boleh terlihat seperti pengemis yang sudah menyerah total.
Laila membuka gerbang, suaranya yang berderit terdengar memekakkan telinga dalam keheningan sore itu. Ia melangkah ke teras.
Ia mengetuk pintu. Pelan. Satu ketukan, lalu jeda. Dua ketukan lagi.
Sunyi.
Ia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam. Jantung Laila melompat ke tenggorokan. Ia merasakan Arka menggeliat, seolah ikut merasakan ketegangan yang ia rasakan.
Kenop pintu berputar perlahan.
Wajah Ibu yang pertama kali muncul. Wajah yang sudah lebih tua, lebih lelah dari yang Laila ingat. Kerutan di sudut mata Ibu tampak lebih dalam. Tapi begitu mata Ibu melihat siapa yang berdiri di depan pintu-melihat Laila yang kurus kering, pucat, dan membawa bungkusan besar di dada-ekspresi itu langsung berubah.
Bukan kebahagiaan. Bukan lega. Tapi terkejut yang berujung pada kengerian.
"Laila...?" Suara Ibu nyaris tak terdengar, seperti bisikan hantu.
"Ibu," Laila mencoba tersenyum, tapi yang keluar hanyalah tarikan bibir yang gemetar. "Aku... aku pulang."
Ibu melihat ke sekeliling, matanya bergerak panik, seolah takut ada tetangga yang melihat. Lalu matanya kembali tertuju pada gendongan di dada Laila.
"Apa itu?" tanya Ibu, suaranya mulai naik satu oktaf, penuh ketegangan.
Laila membuka sedikit lipatan jaketnya, memperlihatkan wajah Arka yang tertidur pulas. "Ini Arka, Bu. Cucumu."
Suara krak kecil terdengar dari dalam rumah, seolah ada benda jatuh. Itu Bapak.
Ibu Laila langsung memucat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap nanar wajah Arka, lalu wajah Laila. Matanya penuh air mata, tapi bukan air mata haru. Itu air mata keputusasaan.
"Tutup, Bu! Tutup pintunya!" Suara Bapak menggelegar dari dalam, lebih keras, lebih menakutkan dari yang Laila ingat.
Ibu terkesiap, seperti baru sadar. Ia mendorong pintu, mencoba menutupnya. Tapi Laila menahan dengan kakinya.
"Tunggu, Bu! Sebentar saja! Aku cuma mau minta tolong. Arka sakit, Bu. Aku nggak punya apa-apa lagi. Aku cuma butuh tempat istirahat sebentar, aku janji besok pergi lagi." Air mata Laila tumpah ruah, mengalir tak tertahankan.
Pintu itu didorong lebih keras dari dalam. Kini Bapak muncul, berdiri di belakang Ibu. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menegang. Ia mengenakan kaus rumahan dan sarung, tapi auranya seolah membawa palu godam yang siap menghantam Laila.
"Pergi. Sekarang!" bentak Bapak. Suaranya rendah dan mengancam.
"Bapak, tolong. Dia cucu Bapak! Dia nggak salah apa-apa. Aku yang salah, aku yang berdosa. Hukum aku, tapi jangan hukum anak ini, Pak!" Laila memohon, suaranya sudah berubah menjadi isakan histeris. Ia menunduk, mencium kemeja Bapaknya, memohon belas kasihan.
Bapak menarik tangannya dengan kasar. "Aku bilang jangan bawa aib ini kemari! Kau sudah mencoreng nama baik kami di lingkungan ini. Kau tahu betapa malunya kami? Aku harus menghadapi tetangga setiap hari! Anak haram itu... bukan cucuku! Dia adalah bukti kesesatanmu!"
Kata-kata itu. Anak haram. Kata-kata itu lebih tajam dari pecahan kaca yang ia gunakan untuk memotong tali pusat Arka. Kata-kata itu membunuh harapan terakhirnya.
Ibu kini ikut menangis, tapi tangannya tetap memegangi pintu, menghalangi Laila masuk. "Nak... kau tahu bagaimana Bapakmu. Kami nggak bisa. Kami nggak punya apa-apa lagi. Kami malu. Kami sudah tua, Nak. Biarkan kami hidup tenang. Pergilah... cari jalanmu sendiri."
"Tapi, Bu," Laila mendongak, matanya memohon, "Aku demam. Arka butuh susu. Aku nggak bisa lagi jalan, Bu. Tolong... cuma semalam saja."
Bapak mengambil langkah maju, wajahnya sudah penuh amarah yang dingin. "Kau mau kami dihakimi? Setelah kau pergi, tetangga-tetangga itu menyindir kami, Laila! Kau pergi tiga bulan lalu, dan sekarang kau kembali, membawa makhluk kecil ini. Kau mau kami bilang apa? 'Oh, anak kami yang kami banggakan sudah melahirkan di jalanan?' Kau menghancurkan kami!"
Laila terdiam. Ia melihat matanya di mata Bapaknya. Tidak ada cinta, tidak ada belas kasihan, hanya rasa malu yang meluap-luap. Di mata mereka, Laila bukan lagi putri mereka, melainkan virus yang membawa aib.
"Baiklah," ucap Laila, suaranya datar, semua air mata dan energinya terkuras habis. Ia mendongak, menatap Bapaknya tepat di mata. "Aku mengerti. Aku pergi. Aku nggak akan kembali lagi. Jangan khawatir, Bapak dan Ibu tidak akan pernah malu lagi karena aku. Aku akan menghilang dari hidup kalian."
Ia membalikkan badan, memunggungi rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungannya. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang menghantam ulu hatinya. Itu adalah rasa sakit dikhianati oleh darah daging sendiri.
Laila berjalan menjauh dari rumah itu. Tidak lagi terseok-seok, tapi langkahnya kini berat, mati rasa. Ia berjalan seolah tubuhnya hanya digerakkan oleh tali. Di gendongan Laila, Arka mulai menangis keras, seolah merasakan penderitaan ibunya.
Laila akhirnya ambruk di bawah pohon beringin besar, dua blok dari rumahnya. Ia memeluk Arka erat-erat, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Ia menangis terisak-isak, meratapi nasibnya yang kini benar-benar sebatang kara. Keluarga sudah membuangnya. Ia resmi menjadi tunawisma.
"Aku janji, Nak. Mereka nggak butuh kamu, tapi aku butuh kamu. Kita berdua saja. Kita akan buktikan kita bisa. Kita nggak butuh siapa-siapa," sumpahnya, kata-kata itu diucapkan dengan keyakinan baru yang lahir dari keputusasaan.
Ia menggendong Arka, mengatur kembali gendongan daruratnya, dan bangkit. Kakinya kini berjalan ke arah yang berlawanan dari rumah itu, berjalan menuju pusat keramaian kota, mencari tempat untuk memulai segalanya dari nol. Ia harus mencari uang. Ia harus menstabilkan dirinya.
Laila berjalan sepanjang jalan, wajahnya kini terlihat keras. Anak ini, Arka, adalah satu-satunya alasan ia tidak bunuh diri saat itu juga. Ia tidak akan membiarkan penolakan ini menghancurkannya. Penolakan ini adalah api yang akan membakar semangatnya untuk bangkit.
Pada malam itu, Laila menemukan sebuah pos keamanan kecil yang sudah lama tidak terpakai, di samping bangunan proyek baru. Di sanalah ia memutuskan untuk bermalam. Ia harus mencari pekerjaan besok pagi, apa pun itu, pekerjaan yang bisa menerima ibu dengan bayi. Ia harus mendapatkan uang untuk membeli susu formula dan obat-obatan.
Saat ia membaringkan Arka di pangkuannya, ia menyentuh kantong jaketnya. Ia hanya punya sisa Rp20.000. Hanya itu yang ia punya untuk menghidupi Arka. Konflik berikutnya sudah menanti: perjuangan melawan kemiskinan dan eksploitasi. Laila memejamkan mata, memeluk Arka, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bertahan, sampai kebahagiaan itu datang menjemput mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





