Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketagihan Mama Temanku

Ketagihan Mama Temanku

Pras adalah remaja delapan belas tahun yang terpikat oleh pesona wanita matang. Baginya, kedewasaan dan ketenangan mereka jauh lebih menarik dibandingkan drama teman sebaya. Namun, obsesi ini perlahan berubah menjadi candu yang rumit. Di balik gairah yang membara, Pras mulai mempertanyakan apakah pencariannya ini adalah bentuk pelarian dari kekosongan di rumahnya sendiri. Ini adalah kisah tentang nafsu dan pendewasaan seorang pemuda yang tumbuh terlalu cepat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sejak sering mendengar obrolan absurd dari teman-temanku, terutama setelah bicara dari hati ke hati dengan Rifky Ustad, pikiranku jadi sering melayang ke mana-mana.

Awalnya aku cuma heran, lalu bangga dan akhirnya semua berubah jadi rasa penasaran yang aneh. Seolah aku butuh bukti: apa benar ukuran penisku ini segitu pentingnya? Sebegitu diidamkan perempuan? Apa benar mereka memimpikan pria dengan ukuran penis di atas rata-rata sepertiku?

Setiap kali lihat cewek cantik, kadang muncul pikiran nakal: 'Kalau dia tahu aku punya 'kontol' besar dan panjang, kira-kira dia bakal tertarik gak, ya?' Pikiran itu selalu membayangi. Bukan cinta yang aku cari, tapi hanya sekedar validasi atau pengakuan.

Setiap Minggu pagi, lapangan futsal di dekat rumahku ramai dengan ibu-ibu kompleks yang rutin senam. Mereka lewat di depan rumah dengan pakaian olahraga warna-warni yang ketat. Meski sebagian besar memakai kerudung, entah kenapa penampilan mereka justru terasa lebih mencolok. Seksi dan menggoda di mataku.

Sejak saat itu juga mulai muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan: semacam ketertarikan samar yang tak kukenal sebelumnya. Kadang aku sengaja menyapu halaman depan, pura-pura sibuk hanya dengan memakai singlet dan celana pendek tanpa daleman, sehingga tonjolan di selangkanganku, sengaja dipamerkan. Ada rasa penasaran: apakah mereka memperhatikan selangkanganku?

Dan sejak saat itu, aku mulai sadar bahwa dunia orang dewasa tidak selalu sederhana. Ada bahasa yang tak diucapkan, tapi bisa dirasa. Aku bisa merasakan ketertarikan luar biasa dari ibu-ibu itu saat curi-curi pandang ke arah selangkangaku yang besar dan menonjol, sambil berbisik-bisik diantar mereka. Hal itu benar-benar membuatku jadi sangat percaya diri.

Dan sejak saat itu juga aku semakin rajin onani sambil membayangkan ibu-ibu yang mata genitnya selalu jelalatan dan bernafsu menatap tonjolan selangkanganku. Salah seorang obyek fantasiku saat sedang onani ialah Bu Hajah Anhar, mamanya Rifky, tetangga sebelahku.

Bu Anhar, atau biasa disapa Bu Haji, berusia setengah baya, selalu berdandan tertutup setiap kali keluar rumah. Anehnya aku justru bisa merasakan kalau dia, justru paling rajin dan intens memperhatikan selangkanganku. Bukan karena lebih sering bertemu denganku. Tetapi aku merasa dia memiliki perhatian khusus pada diriku, khususnya isi celanaku.

Letak kamar tidurku di bagian belakang dan di sisi samping kamarku ada area tempat Bu Anhar mencuci perabot atau pakaian. Sebenarnya tempat itu dibatasi dengan dinding tembok namun tingginya hanya kira-kira setengah meteran. Dulu mamaku juga sering ikut nyuci di sana.

Ketika gorden kamarku yang berkaca gelap dibuka, maka Bu Anhar yang sedang mencuci akan terlihat jelas. Dan itu biasanya menjadi ajangku untuk menonton aktifitasnya secara sembunyi-sembunyi, terkadang sambil onani. Saat sedang mencuci, Bu Anhar hanya memakai daster rumahan, tanpa kerudung, karena mungkin dia pikir tidak akan ada yang melihatnya.

Tidak hanya sekali aku melakukan itu, nyaris tiap pagi mengintip Bu Anhar sambil mengocok penisku. Terutama ketika ayahku tidak ada di rumah.

Aku benar-benar telah terobsesi dan gila olehnya. Wajah Bu Anhar yang terlihat keibuan dan cantik dalam usianya yang sudah menua, selalu sukses membuat jantungku dag-dig-dug tak karuan. Aku bahkan lupa kalau Rifky, anak bungsunya, sudah mahasiswa tingkat tiga.

Kadang Bu Anhar mencuci hanya mengenakan daster pendek yang ditariknya ke atas, beberapa kali aku bisa melihat paha mulusnya dan celana dalamnya yang mendebarkan. Pemandangan yang mustahil bisa aku lihat ketika dia sedang di depan rumahnya.

Lama-lama aku mulai bosan dengan ritual mengintip sambil oanani. Aku menginginkan sesuatu yang lebih. Maka ketika rumah Bu Anhar kosong aku masuk ke tempatnya mencuci lewat pintu belakang rumahku yang tembus ke samping. Di sana aku mengamati jendela kamarku dan aku pikir sangat aman.

Sejak saat itu, aku tidak lagi mengintip di balik gorden yang tertutup tapi sengaja dibuka lebar-lebar. Dan gilanya lagi aku merasa mendapatkan kepuasan tersendiri ketika Bu Anhar sepertinya menyadari jika aku sedang mengintipnya sambil onani di kamar.

Menyadari Bu Anhar sepertinya tidak terganggu, aku pun semakin meningkatkan keberanianku. Feelingku mengatakan jika sesungguhnya Bu Anhar sangat penasaran dan menikmati apa yang sering aku lakukan itu.

Puncak keberanianku pun akhirnya datang. Aku melakukan ritual gila itu dengan lebih terbuka dan ketika ejakualasiku tiba, aku sengaja mengarahkan penisku ke luar jendela hingga cairan yang menyembur pun nyaris mengani Bu Anhar yang sedang mencuci pakaian.

Setelah itu, aku benar-benar kerasukan obsesi, karena ternyata sikap Bu Anhar pun teramat biasa-biasa. Dia tidak marah atau terganggu, malah terkesan menikmati.

Hal itu bisa aku rasakan ketika dia sedang mencuci namun aku sengaja tidak melakuakan onani, Bu Anhar seperti yang gelisah dan matanya selalu mencuri-curi pandang ke kamarku. Bahkan sesekali dia sengaja mengguyurkan air yang menimbulkan suara cukup keras. Seolah memberikan kode 'Pras, saatnya onani!'

Dan aku mulai merancang sebuah atraksi yang lebih ekstim.

Pada suatu sore, aku sedang asyik nonton film dewasa, telingaku kembali mendengar suara Bu Anhar sedang berada di tempat mencuci pakaian.

Aku segera bangkit dari tiduran dan langsung menyalakan lampu kamar serta membuka gorden dan kaca nako. Setelah itu aku pun melucuti seluruh pakaian, lalu memulai onani sambil berdiri menghadap tempat Bu Anhar mencuci pakaian.

Aku yakin Bu Anhar melihat dengan jelas apa yang sedang aku lakukan. Aku sengaja maju mendekati jendela. Saat itulah sensasi liarku membakar birahi, menyergap jiwa ragaku, merasakan sensasi aneh yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Gairahku meletup-letup menyaksikan Bu Anhar yang tampak begitu gelisah dan berkali-kali melihat ke arah kamarku dengan pandangan tajam, kemudian menunduk dan tak berapa lama kemudian aku pun mencapai puncak, ejakulasi dengan menyemburkan sperma sangat banyak.

Setelah itu aku benar-benar lemas dan terhempas. Lalu terlentang di atas tempat tidur. Aku yakin seyakin-yakinnya Bu Anhar bisa mengintipku lewat jendela nako yang sengaja masih aku buka.

Semua berakhir, dan aku bisa tidur dengan pulas, karena sudah berhasil melampiaskan obsesi gilaku yang sulit untuk aku kendalikan.

Hari berikutnya saat pulang sekolah, aku berpapasan dengan Bu Anhar di depan rumahnya. Kebetulan aku pergi dan pulang sekolah jalan kaki. Aku menunduk malu tidak berani beradu pandang dan segera bergegas menuju rumahku yang berjarak beberapa meter lagi.

"Pras!" Tiba-tiba Bu Anhar memanggil saat aku sedang memasukan anak kunci pada pintu rumahku.

Deg!

Jantungku berdegup kencang dan benar benar gemetar karena Bu Anhar mendatangiku dengan langkah yang sedikit terburu-buru walau wajah cantiknya tetap kalem.

"Ya, Bu Haji," jawabku saat Bu Anhar sudah benar-benar berdiri di dekatku.

"Pras, kemarin sore waktu ibu lagi nyuci, kamu ngapain di kamar?" tanya Bu Anhar dengan lembut namun tubuhku tambah gemetaran. Salah tingkah tak karuan mendengar pertanyaannya itu.

Aneh bin ajaib. Padahal saat melakukannya kemarin dan hari-hari yang lalu, aku sama sekali tidak punya rasa malu atau takut. Justru aku berniat hari ini akan kembali melakukan dengan gaya yang lebih ekstrim. Namun setelah berhadapan ternyata seluruh keberanianku hilang sirna berganti dengan rasa malu yang tiada tara.

"Ma..maa..maaf kan salah sa... sa... saya, Bu Haji." Aku menjawab dengan terbata-bata.

Sekujur tubuhku mendadak panas dingin. Aku yakin Bu Anhar bisa melihat wajah gantengku berubah pucat pasi menahan takut.

"Kenapa kamu melakukan itu, Pras?" tanya Bu Anhar dengan suara kalemnya, sambil merapikan jilbab besar yang dikenakannya karena tertiup angin.

"So..so... soalnya saya suka dan nafsu ngeliat wajah ibu yang cantik. Saya bener-bener gak tahan, Bu Haji," jawabku nekat dan polos.

Keberanianku timbul karena wanita di depanku ini sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan marah. Bu Anhar kembali terdiam, mendengar jawabanku. Aku sendiri merasa heran.

"Ya sudah, gak apa-apa. Asal kamu jangan kurang ajar sama ibu." Ucapannya sontak membuat dadaku plong, benar-benar lega hingga bisa menarik napas panjang.

"Jadi..kalau kapan-kapan saya gitu lagi, gak papa, Bu Haji?" Pertanyaanku meluncur beitu saja. Mungkin saking tak percaya dan senangnya mendengar pernyataan Bu Anhar yang sama sekali tidak memarahiku.

Bu Anhar tersenyum kecil sambil menatap wajah dan selangkanganku bergantian. Ajaibnya penisku di balik celana seragamku mendadak beraksi dan berdiri keras dengan cepatnya. Padahal hanya ditatap.

"Terserah kamu, ibu kan gak rugi apa-apa."

Lagi dan lagi jawaban Bu Anhar membuat darahku semakin berdesir karena merasa dia menyukai apa yang aku lakukan selama ini. Aku juga sangat yakin Bu Anhar hatinya sangat senang dengan penisku, terbukti dengan matanya yang tak lepas dari selangkanganku.

Beberapa saat setelah puas menatapku, Bu Anhar pamit kembali ke rumahnya dan aku pun masuk ke rumahku.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara air diguyur-guyurkan. Sepertinya Bu Anhar akan mencuci siang menjelang sore ini. Dan seketika itu juga aku langsung terinspirasi untuk melaksanakan rencanaku yang lebih ekstrim.

Dengan hanya memakai celana kolor tanpa celana dalam, aku segera menuju tempat Bu Anhar mencuci, lewat pintu dapur yang tembus ke rumahnya, langsung mendekati dia yang sedang mencuci.

"Ada apa, Pras?" Bu Anhar bertanya gelagapan, tampaknya dia sangat terkejut dengan kehadiranku, atau memang pura-pura tekejut.

"Sa..sa..saya pingin ngocok kontol saya depan Bu Haji, boleh?" tanyaku memelas.

"Di sini?" tanya Bu Anhar dengan nada sedikit keras mungkin tidak percaya.

"Kalau ibu gak marah sih maunya gitu. Lagian gak ada orang lain ini, Bu?" sanggahku dengan sedikit memaksa.

"Ya udah terserah kamu. Tapi janji jangan kurang ajar sama ibu!" Bu Anhar lagi-lagi menatapku dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.

"Saya hanya ingin onani saja. Bu Haji terusin aja nyucinya, jangan terganggu," jawabku sambil menahan birahiku yang makin melonjak-lonjak.

Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menurunkan celana kolorku hingga batas lutut. Bu Anhar terbelalak memandangi tubuh dan penisku.

"Kamu kelas satu SMA? Astaga gede dan panjang banget anunya, kaya orang dewasa, Pras!" serunya setengah tercekat.

"I...iya..., tapi Bu Haji suka kan?" tanyaku polos.

"Dasar bocah gendeng!" bentaknya sambil tersenyum penuh misteri.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel CINTA ATAU BENCI
8.5
Akibat fitnah keji, Ella harus merasakan kekejaman Evan, pria yang sangat ia cintai. Ketidakpercayaan Evan dan penolakan keras dari keluarganya membuat hidup Ella hancur hingga berujung di penjara. Setelah bebas, takdir justru menyeretnya kembali ke pelukan Evan. Meski diselimuti ketakutan luar biasa, Ella seolah tak bisa menjauh dari pria itu. Di tengah siksaan yang terus berlanjut, Ella tidak menyadari bahwa Evan sebenarnya juga menyimpan rasa cinta.
Sampul Novel FATED (Tuan Mafia dan Nona Badut)
9.5
Raline merasa hidupnya penuh kesialan setelah dua kali gagal menikah. Mantan kekasihnya, Aksa dan Heru, justru menikahi wanita lain meski sudah lama menjalin hubungan dengannya. Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya dengan Axel Delacroix Adams. Kakak dari rivalnya yang merupakan seorang mafia itu melamar Raline hanya dalam empat menit. Akankah ini menjadi akhir penderitaannya atau awal masalah baru? Sebuah kisah tentang rahasia jodoh yang datang tepat waktu.
Sampul Novel Gairah Liar Perselingkuhan
9.6
Kaindra terjebak dalam pernikahan hampa dengan Tanika, sosialita yang diduga berkhianat. Alih-alih konfrontasi, ia memilih balas dendam melalui perselingkuhan panas bersama Fiona, rekan kerjanya. Demi mengungkap rahasia sang istri, Kaindra juga mendekati Isvara, sahabat Tanika yang penuh manipulasi. Di tengah labirin kebohongan dan gairah terlarang, Kaindra harus memilih: terus mencari kebenaran yang menghancurkan atau menghentikan permainan berbahaya ini sebelum segalanya musnah.
Sampul Novel Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati
8.0
Silvia Rahman, wanita difabel, mengira cinta Dion Kurniawan tulus. Namun, pendengarannya pulih dan mengungkap fakta keji: Dion sengaja menghambat kesembuhannya demi berselingkuh dengan Arini. Saat pesta, Dion menghinanya, sementara Arini mencoba membunuhnya lewat tabrak lari. Kini, Silvia bertekad membalas dendam. Di hari pernikahan, ia menyiapkan kejutan mematikan yang akan membongkar kebusukan Dion sebelum ia menghilang dengan identitas baru.
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan secara tradisional di desa meski kehamilannya sangat berisiko. Saat aku memaksanya ke rumah sakit demi keselamatan, dia justru menuduhku sebagai penyebab bayinya lahir prematur dan lemah. Kebenciannya memuncak hingga dia meracuniku. Namun, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu tepat saat dia meminta saran. Kali ini, aku memilih diam dan tidak akan ikut campur. Aku ingin melihat nasibnya tanpa campur tanganku.