Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketagihan Mama Temanku

Ketagihan Mama Temanku

Pras adalah remaja delapan belas tahun yang terpikat oleh pesona wanita matang. Baginya, kedewasaan dan ketenangan mereka jauh lebih menarik dibandingkan drama teman sebaya. Namun, obsesi ini perlahan berubah menjadi candu yang rumit. Di balik gairah yang membara, Pras mulai mempertanyakan apakah pencariannya ini adalah bentuk pelarian dari kekosongan di rumahnya sendiri. Ini adalah kisah tentang nafsu dan pendewasaan seorang pemuda yang tumbuh terlalu cepat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku sendiri sebenarnya hampir tidak percaya dengan semua yang terjadi saat ini. Tak menduga, siswa kelas satu SMA bisa berdiri telanjang di depan Bu Anhar, wanita yang selama ini begitu dhormati oleh semua warga kompleks, istri seorang PNS, ibu dari tiga anak dewasa dan mertua dari seorang Polisi.

Lebih aneh lagi, Bu Anhar pun tampak tenang-tenang saja walau matanya tak beranjak dari penisku yang ngaceng maksimal berjarak kurang dari setengah meter dari wajahnya. Bu Anhar bahkan sesekali mendongak memandang wajahku sambil tersenyum. sepertinya dia juga tak menduga kalau aku berani berbuat senekad ini.

"Gede dan panjang banget Pras.." ucapnya lagi dengan suara yang sangat lirih, sorot matanya pun seketika nanar memandangi penis coklat kehitaman dalam genggamanku. Walau belum banyak uratnya namun bulu-bulunya sudah lebat.

Mendengar pujiannya yang berkali-kali itu, gairahku semakin melonjak. Dari posisiku juga terlihat jelas payudara Bu Anhar dari lobang leher dasternya yang lebar. Dia sama sekali tidak berusaha menutupinya, malah menarik kerudungnya lebih ke atas.

Aku masih berdiri tanpa mengocok penisku. Masih menikmati sensasi aneh, melihat wajah Bu Anhar yang mupeng mengagumi penisku yang mungkin saja ukurannya jauh lebih besar dan panjang dari miliki Pak Haji Anhar, suaminya. Apalagi bila dibanding dengan milik Rifky, anaknya.

Aku benar-benar merasa menjadi lelaki paling beruntung, paling perkasa dan paling berkuasa di dunia ini. Laksana seorang raja yang menguasai seorang selir yang pasrah dan siap memuaskan hasrat gilaku ini.

Aku pun tetap masih tak percaya, seorang Bu Haji yang selama ini dikenal sebagai istri alim dan solehah, tak marah apalagi melarang, bahkan mengizinkan aku melakukan pelecehan terhadapnya.

Setelah beberapa saat, aku membasahi telapak tangan dengan liurku, lalu dilumurkan pada penisku yang semakin keras dan panas. Bu Anhar tak melakukan apa-apa, tampaknya dia pun mulai tidak berkonsentrasi untuk melanjutkan kerjaannya mencuci pakaian. Beberapa kali aku melihat dia menelas air liurnya sendiri, seolah sedang menjilati penisku.

Dengan gerakan yang konstan, aku mulai mengocok penisku secara perlahan-lahan. Sesekali desahan lembut kleuar dari mulutku sambil sedikit menjulurkan lidah menyapu bibir bawahku. Mataku dan mata Bu Anhar beberapa kali saling berserobok nanar dalam perasaan yang sulit diterjemahkan.

Sengaja aku tidak mempercepat kocokanku, beberapa kali meludahi telapak tangaku dan melanjutkan memijat, meremas dan mengocok penisku dengan sangat intens seperti berirama. Napas Bu Anhar terlihat mulai memburu dan duduknya pun mulai terlihat sedikit gelisah, wajahnya mulai memerah.

Beberapa menit berlalu. Aku berusaha menahan orgasme agar kenikmatan sensasi ini bisa bertahan lama, padahal aku sudah merasakan spermaku hampir saja meledak.

Mata Bu Anhar makin lama makin sayu dan nanar memandangi tubuhku yang atletis dan mulus. Sengaja aku sedikit meliuk liuknya dengan gerakan lamban nan erotis sambil menikmati sensasi gila yang kian menggulung jiwaku.

Setelah beberapa menit, Bu Anhar terlihat makin gelisah. Sepertinya dia juga terangsang dengan pemandangan aneh di depannya. Dan itu benar-benar membuat darahku semakin berdesir hebat. Aku mendekatkan penisku ke wajahnya.

Bu Anhar terlihat semakin gelisah dan nafasnya terdengar makin memburu naik turun. Aku yakin dia berusaha sekuat tenaga menahan gairahnya yang meletup-letup.

Aku berusaha menempelkan kepala penisku ke wajah Bu Anhar, dan ternyata dia tidak menolaknya sama sekali. Lalu aku melebarkan kedua kakiku hingga posisi selangkanganku benar-benar sejajar dengan wajah Bu Haji yang cantik, anggun keibuan.

Kepala penisku makin sempurna menempel di wajah Bu Anhar. Tangan kiriku memegang kepalanya yang terbungkus jilbab cream, dan tangan kananku menekan penisku di pipi kanan dia. Aku menggosok-gosokkan kepala penisku yang licin oleh air liur dan percumku pada beberapa bagian wajah Bu Anhar.

Bu Anhar beberapa akali melenguh kecil, kedua tangannya memegangi pahaku. Namun sayang, hanya berlangsung beberapa menit saja karena akhirnya aku benar-benar tak kuasa menahan senasasi nikmat dan dorongan birahi yang sudah memuncak.

"Aaaaaaaaa. Buuuuuu Hajiiiii sssssst,"

Seeeeer crot crot crot... penisku akhirnya memuncratkan isinya yang putih, kental dan panas tepat di wajah Bu Anhar hingga belepotan, sebagian lainnya mengenai jilbabnya. Untung saja beliau segera memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya, sehingga tidak masuk ke mulutnya.

Namun sejurus kemudian, mataku terbelalak saat melepaskan genggaman tangaku di kepalanya. Dengan gerakan malu-malu lidah Bu Anhar menjilati bagian pinggir bibirnya yang blepotan dengan spermaku. Dia menelan spermaku?

Ini benar-benar pemandangan dan pengalaman yang sangat-sangat gila. Bu Haji Anhar, mau menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku?

Setelah melampiaskan hasrat yang seharusnya tak kulakukan, aku segera masuk ke kamar mandi membersihkan penisku tanpa mandi. Lalu setelah itu mengunci diri rapat-rapat di kamar. Entah mengapa, tiba-tiba dadaku sesak oleh rasa penyesalan dan takut yang begitu dalam.

Keberanianku runtuh seketika, digantikan oleh perasaan bersalah dan berdosa karena telah berlaku kurang ajar terhadap Bu Haji Anhar. Meski dia tidak menunjukkan amarah, namun pikiranku mulai dipenuhi ketakutan yang membuncah.

Bagaimana jika Bu Anhar menceritakan semuanya pada Rifky, Mas Rido, atau Mas Benny, menantunya yang seorang polisi? Atau lebih buruk lagi, pada Pak Haji Anhar, suaminya yang bekerja sebagai PNS di kantor kejaksaan?

Habis sudah riwayatku. Bukan hanya namaku yang tercoreng, tapi juga kehormatan ayahku akan ikut tercabik.

Selama ini, kami dikenal sebagai ayah dan anak yang kalem, pendiam, dan selalu bersikap santun terhadap siapa pun.

Ayah memang bukan tipe yang gemar bersosialisasi dengan para tetangga, namun wibawanya tak perlu diragukan. Rasa hormat dari lingkungan bisa terlihat jelas dari cara para tetangga bersikap padanya-sopan, penuh takzim, dan menjaga tutur kata.

Kepalaku terasa berat. Aku segera menenangkan diri, lalu bergegas tiduran, sambil menantikan apa yang akan terjadi setelah ini.

^*^

Azan maghrib berkumandang dari masjid, mengalun tenang di udara senja yang lembap. Suaranya membangunkanku dari tidur sore yang tanpa rencana. Masih setengah sadar, aku bangkit, menyapu wajah dengan tangan, lalu menyeret langkah ke kamar mandi.

Usai mandi, dengan tubuh masih basah dan hanya selembar handuk melingkar di pinggang, aku mendengar ketukan pelan di pintu dapur. Tiga kali. Hening sebentar. Lalu dua kali lagi. Jantungku langsung berdegup kencang.

"Siapa?" tanyaku, setengah berbisik.

"Ini, Ibu, Pras," jawab suara dari luar. Suara yang sangat kukenal.

Perlahan aku membuka pintu, hanya menyisakan celah kecil. Bu Anhar berdiri di sana, dengan pakaian gamis dan kerusung besarnya seperti biasa. Dia membawa sepiring nasi hangat dengan lauk yang aroma rempahnya langsung menyelinap ke hidungku.

"Kamu sudah makan belum, Pras?" tanyanya sambil tersenyum, suaranya lembut seperti biasanya dan seperti tak ada kejadian mendebarkan tadi sore.

"Oh... iya, Bu Haji. Terima kasih banyak." Aku berusaha tersenyum, meski dalam hati deg-degan tak karuan.

"Silahkan masuk dulu, Bu Haji?"

"Bentar aja ya. Takut Bapak keburu pulang," jawabnya sambil melangkah masuk ke dapurku. Lalu menyimpan piring nasi itu di meja makan.

Aku mengangguk, meski rasa kikuk masih melingkupi. Bayangan kejadian sore tadi masih lekat dalam ingatanku dan entah mengapa, penisku di balik handuk, justru mendadak bergeliat kembali dan berdiri dengan kokohnya dalam waktu yang sangat singkat.

"Eh... maaf saya hanya pakai handuk begini, Bu Haji," kataku sambil memegang erat pinggiran handuk, namun tak bisa menyembunyikan tonjolan di selangkangaku.

Bu Anhar tersenyum kecil, lalu mendekatiku, "Ini masih berdiri aja dari tadi? Bukannya tadi sudah dikeluarin?" tanyanya sambil menghulurkan tangan meraba penisku dari balik handuk.

"I... i...ya Bu Haji, maaf kalau tadi saya kurang ajar," jawabku dengan suara masih terputus-putus.

"Dasar, bocah mesum!" ucapnya sambil terus meremas-remas penisku.

Aku benar-benar tak percaya dengan semua yang sedang terjadi. Tak terasa tanganku pun terlepas dari memegangi handuk di pinggangku, hingga handuk itu melorot terjatuh ke lantai.

Bu Anhar semakin inten meremas-remas penisku, kedua mata kami saling bertatapan tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Jantungku dag-dig-dug tak karuan, darahku berdesir. Imajinasiku melayang kemana-mana, serasa Bu Anhar akan mengajakku bersetubuh. Sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

"Pras, kamu sudah biasa ya melakukan itu?" tanya Bu Anhar setengah berbisik, dengan tangan yang terus meremas-remas penisku.

"Me..me,,lakukan apa, Bu Haji?" tanyaku dengan suara bergetar karena terdorong oleh gemuruh dada dan desiran darah yang sulit dikendalikan.

"Ya, kaya tadi sore, ngocok depan ibu," balas Bu Haji sambil melotot, tapi bukan marah.

"Be... be..belum pernah Bu. Saya baru pertama kali melakukannya di depan Bu Haji."

"Jangan bohong, kamu!"

"Sumpah Demi Allah, Bu."

"Memangnya kamu belum punya pacar?"

"Belum Bu Haji," jawabku sambul merem melek, merasakan nikmat yang tiada tara dari remasannya. Dan ini benar-benar pengalaman pertama penisku dipegang dan dirmas-remas manja oleh tangan wanita.

"Kamu masih kelas satu SMA, tapi kok barangnya gede banget sih, Pras," Bu Anhar kembali memujiku sambil menurunkan tubuhnya, berjongkok tepat di depan selangkanganku. Dan...

"Hah!" Aku benar-benar berseru dan tercekat. Nyaris berteriak kaget. Tak percaya saat dengan tiba-tiba Bu Anhar memasukan penisku ke dalam mulutnya.

"Ooh, amazing!" seruku lagi saat gairahku seketik melambung, tak bisa mendefiniskan bagaimana rasa kaget, geli dan nikmat menyatu menjadi satu. Ini benar-benar pengalaman pertama penisku dikulum dan dijilati oleh wanita. Apalagi wanita tersebut masih mengenakan pakaian lengkap dan berjilbab.

Aku tidak berani melakukan apapun selain merem melek dan mendesah-desah nikmat serta membiarkan penisku dijilati dan dihisap oleh Bu Anhar yang semakin lama semakin kuat sedotannya.

Entah karena nafsuku yang terlalu meletup-letup atau karena sepongan Bu Anhar yang terlalu nikmat, beberapa menit kemudian, aku mulai merasakan desakan kuat dari dari dalam diriku.

"Aduh, Bu Hajiiii, saya mau keluaaaaar sssst aaaah...!" desahku tak tertahankan.

Namun Bu Anhar sama sekali tidak menggubrisnya, alih-alih melepaskan penisku dari kulumannya, malah makin memperkuat sedotannya, hingga akhirnya aku tak kuasa lagi menahannya,

"Aaaaaaah ssssst Buuuu Hajiii saya muncraaaat..." lenguhku cukup panjang walau tertahan, berbarengan dengan penisku yang memuntahkan sperma dalam mulutnya.

Aku merasa bersalah dan takut dia marah, namun ternyata Bu Anhar malah menelan semua spermaku hingga tandas, bahkan sisa-sisanya pun dijilati, hingga tubuhku begidik dan melengkung karena ngilu dan geli.

Dan dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Bu Anhar bergegas keluar rumah, meninggalkan aku yang masih melongo tak percaya dengan semua kejadian yang sangat mendadak dan dirasa masih sangat di luar nalar.

Terpaksa aku pun kembali mandi besar. Setelah itu menikamti nasi, ayam goreng dan tempe bacem kiriman Bu Anhar.

"Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan diriku ini?"

^*^

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel CINTA ATAU BENCI
8.5
Akibat fitnah keji, Ella harus merasakan kekejaman Evan, pria yang sangat ia cintai. Ketidakpercayaan Evan dan penolakan keras dari keluarganya membuat hidup Ella hancur hingga berujung di penjara. Setelah bebas, takdir justru menyeretnya kembali ke pelukan Evan. Meski diselimuti ketakutan luar biasa, Ella seolah tak bisa menjauh dari pria itu. Di tengah siksaan yang terus berlanjut, Ella tidak menyadari bahwa Evan sebenarnya juga menyimpan rasa cinta.
Sampul Novel FATED (Tuan Mafia dan Nona Badut)
9.5
Raline merasa hidupnya penuh kesialan setelah dua kali gagal menikah. Mantan kekasihnya, Aksa dan Heru, justru menikahi wanita lain meski sudah lama menjalin hubungan dengannya. Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya dengan Axel Delacroix Adams. Kakak dari rivalnya yang merupakan seorang mafia itu melamar Raline hanya dalam empat menit. Akankah ini menjadi akhir penderitaannya atau awal masalah baru? Sebuah kisah tentang rahasia jodoh yang datang tepat waktu.
Sampul Novel Gairah Liar Perselingkuhan
9.6
Kaindra terjebak dalam pernikahan hampa dengan Tanika, sosialita yang diduga berkhianat. Alih-alih konfrontasi, ia memilih balas dendam melalui perselingkuhan panas bersama Fiona, rekan kerjanya. Demi mengungkap rahasia sang istri, Kaindra juga mendekati Isvara, sahabat Tanika yang penuh manipulasi. Di tengah labirin kebohongan dan gairah terlarang, Kaindra harus memilih: terus mencari kebenaran yang menghancurkan atau menghentikan permainan berbahaya ini sebelum segalanya musnah.
Sampul Novel Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati
8.0
Silvia Rahman, wanita difabel, mengira cinta Dion Kurniawan tulus. Namun, pendengarannya pulih dan mengungkap fakta keji: Dion sengaja menghambat kesembuhannya demi berselingkuh dengan Arini. Saat pesta, Dion menghinanya, sementara Arini mencoba membunuhnya lewat tabrak lari. Kini, Silvia bertekad membalas dendam. Di hari pernikahan, ia menyiapkan kejutan mematikan yang akan membongkar kebusukan Dion sebelum ia menghilang dengan identitas baru.
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan secara tradisional di desa meski kehamilannya sangat berisiko. Saat aku memaksanya ke rumah sakit demi keselamatan, dia justru menuduhku sebagai penyebab bayinya lahir prematur dan lemah. Kebenciannya memuncak hingga dia meracuniku. Namun, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu tepat saat dia meminta saran. Kali ini, aku memilih diam dan tidak akan ikut campur. Aku ingin melihat nasibnya tanpa campur tanganku.