Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kesucianku Ternoda

Kesucianku Ternoda

Dalam perjalanan hidup yang penuh dengan lika-liku, setiap insan hanyalah mampu menyusun rencana dan impian masa depan mereka. Namun, pada akhirnya, ketetapan Tuhanlah yang memegang kendali penuh atas segala sesuatu yang terjadi. Melalui kisah romansa modern ini, kita akan melihat bagaimana takdir bekerja dengan cara yang tidak terduga, melampaui segala niat serta usaha keras manusia dalam menentukan jalan hidup dan akhir dari sebuah perjuangan cinta.
Bab
Bagikan

Bab 2

Saat ini Meli sedang sibuk beres-beres dan menyiapkan segala sesuatu di rumahnya. Karena hari ini ada teman-teman arisan yang akan berkumpul di rumah Meli. Dia tidak mau melewatkan kesempatan ini untuk menyambut geng sosialitanya yang tidak akan lama lagi akan berkumpul bersama.

Jamuan yang telah disajikan juga terlihat sangat enak dan mahal. Karena Meli tidak mau repot dengan memasak untuk beberapa temannya, dia hanya memesan semua masakan itu di restoran mewah. Sehingga, masakan yang dia suguhkan begitu berkelas dan super mewah. Bagi Meli, dia akan repot-repot memasak hanya untuk anak dan suami tercintanya saja.

Dengan hati riang gembira, wanita setengah baya itu terlihat ceria menunggu kedatangan temannya. Dia sesekali tersenyum sambil terus memperbaiki riasan make up di wajahnya agar terlihat tetap cantik. Meli sangat modis dengan dress brokat hitam selutut yang dia kenakan. Penampilannya tidak menunjukkan umur dia yang sesungguhnya. Meli begitu pandai merias diri. Sehingga, tampangnya jauh lebih muda dibanding umur dia yang sebenarnya.

Perhiasan yang dikenakan Meli juga tidak terlalu berlebihan, sehingga tidak membuat penampilannya mencolok. Namun, dengan begitu, penampilannya masih terlihat mewah dan modis. Harga setiap item yang dia kenakan mulai dari perhiasan kepala hingga ujung kaki tidaklah murah. Total keseluruhannya jika dilihat dari merk yang dia kenakan bisa mencapai satu milyar untuk pakaian, accesoris, dan perhiasannya.

Beberapa lama menunggu dengan gaya anggun, akhirnya ada juga yang mengetuk pintu Meli.

"Halo, Jeng," sapa seorang wanita dari balik pintu rumah Meli dengan suara mendayu.

Meli yang mendengar ketukan pintu, dan mendengar suara temannya menyapa darik balik pintu, dia pun langsung membalikkan badannya dan gegas berjalan menuju pintu untuk menyambut kedatangan semua temannya dengan senang hati.

"Eh, kalian sudah datang. Aku sudah menunggu dari tadi. Mari, silahkan masuk," ucap Meli mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah.

Empat perempuan dengan perhiasan yang sangat mencolok itu langsung masuk kedalam rumah, dengan jalan yang berlenggok ala model. Walau usia mereka tidak muda lagi, tetapi gaya mereka melebihi dari abegeh yang sedang puber pertama kalinya.

Setelah memasuki rumah Meli, mata mereka liar menatap ke seluruh sudut rumah itu di setiap inci yang bisa dipindai retina mata mereka. Seisi rumah Meli disapu bersih untuk mereka amati. Mereka semua terlihat sangat terpukau dengan suguhan interior yang ada di dalam rumah besar itu. Dalam hati mereka masing-masing begitu kagum. Ada juga yang terselip rasa iri dalam kekaguman itu.

"Sendirian aja di rumah sebesar ini, Jeng?" tanya salah satu wanita seumuran Meli yang mengenakan sanggul besar di kepalanya.

"Iya, Jeng. Anak semata wayangku sudah berangkat ke kampus. Dia lagi ada kelas pagi. Suami aku juga sudah berangkat kerja." Jawab Meli sambil mendaratkan bokongnya di sofa.

"Owh," jawab orang yang bertanya tadi tanpa ekspresi.

Sepertinya dia adalah orang paling cerewet dan berhati karatan diantara beberapa teman mereka yang lainnya. Dari sorot matanya dan cara dia berbicara, terlihat jelas kalau dia adalah orang yang begitu kepo dan mempunyai hati penuh noda. Dari air wajahnya pun terlihat begitu tidak positif dalam bersikap.

Tanpa dipersilahkan oleh Meli, geng sosialita itu ikut duduk di sofa menyusul Meli. Mereka seperti orang yang sudah terbiasa datang kerumah itu. Padahal, hari ini adalah pertama kalinya mereka bertandang ke rumah Meli.

Tidak lama setelah itu, seorang pelayan datang dengan membawakan minuman dan beberapa cemilan yang dari tadi sudah disiapkan. Semuanya terlihat antusias untuk bisa mencicipi cemilan itu. Terutama orang yang tadi bertanya pada Meli.

"Silahkan dinikmati dulu minum dan makanan ringannya. Setelah itu kita beralih ke makanan berat yang sudah aku siapkan di meja makan," ucap Meli mempersilahkan mereka, walau sebelum dia angkat bicara, teman-temannya sudah mulai duluan mencicipi hidangan yang dibawa oleh pelayan.

Hari-hari Meli memang dihabiskan untuk bertemu dengan para teman-temannya itu. Apalagi yang bisa dilakukan oleh Meli selain itu untuk menghibur dirinya. Menjadi seorang nyonya pemilik perusahaan besar, membuat dirinya mampu melakukan apa saja tanpa memikirkan uang lagi. Bertemu dengan geng sosialitanya adalah cara Meli menikmati dan menghabiskan waktu.

Biasanya mereka berlima selalu berkumpul di tempat-tempat yang mewah, jarang sekali mereka berkumpul di rumah anggota geng sosialita yang mereka beri nama Geng Macan. Akan tetapi, untuk kali ini mereka memilih rumah Mely sebagai markas berkumpulnya mereka. Entah apa tujuannya, yang pasti empat orang teman Meli ngotot hari ini berkumpul di rumah Meli. Saat teman-temannya memaksa, Meli tidak ada pilihan selain menerima dan menuruti keinginan anggota Geng Macan. Jika dia menolak, takutnya Meli akan dianggap tidak tulus sama mereka dan berkemungkinan bisa dikucilkan bahkan dikeluarkan dari anggota Geng Macan. Mau tidak mau, Meli menurut walau ada rasa risih di hatinya.

"Jeng, kamu gak mau nambah anak lagi?" tanya salah satu diantara mereka pada Meli.

Meli yang ditanya langsung menoleh ke arah orang yang bertanya. "Mau, tapi gak mungkin dapat lagi." jawab Meli dengan diiringi tawa renyahnya.

"Kenapa gak bisa lagi, Jeng? Apa suamimu sudah tidak kuat lagi memberi kamu bibit?" Selidik Mirandah kembali dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan dan tatapan mata yang sulit diartikan.

Dari tadi, hanya seorang dia yang selalu buka suara untuk bertanya pada Meli. Itu pun yang dia tanyakan begitu tidak penting untuk mereka bahas. Kerempongan begitu kental terlihat dari gaya bicaranya dan sikap dia yang seperti jarum dalam kain. Akan tetapi, Meli terlihat santai dalam menanggapi temannya itu. Entah karena Meli menganggap temannya itu lagi iseng, atau berusaha ramah sebagai tuan rumah untuk tamunya.

"Masih sangat kuat, Jeng. Bahkan kekuatannya mampu membuat aku KO berkali-kali kalau sedang bermain gulat." Meli terkekeh dengan gurauannya yang begitu nyeleneh menurutnya.

Beberapa anggota geng mereka tertawa mendengar penjelasan Meli, sedangkan yang tadi bertanya terlihat jelas wajahnya memerah dengan postur tubuh yang menunjukkan kalau dia tidak suka dengan penjelasan Meli.

"Kalau suami aku lagi pengen semai benih, dia yang dari mulanya terlihat seperti kucing, langsung berubah jadi singa. Aku gak bisa nambah anak bukan karena dia gak bisa semai benih. Akan tetapi, perkembangan benihnya yang aku hambat," ujar Meli menjelaskan kenapa dia tidak bisa nambah anak lagi.

"Aku mau nikmatin manis-manisnya malam berdua sama suami sampai tuwir nanti tanpa direpotkan bayi, makanya disumbat dulu sebelum jadi," Meli berbicara setengah berbisik dengan guyonannya.

"Suamimu samaan dengan suami aku, Jeng. Dia maunya langsung terkam," sela teman Meli yang juga terpancing untuk membahas tingkah suaminya.

"Kalau suami aku, suka yang slow. Gak langsung terkam. Ada pemanasan dulu dari aku yang lebih seringnya" timpal teman Meli satu lagi.

"Sepertinya kamu yang lebih hiper, Jeng," goda Meli mendengar celoteh teman geng sosialitanya.

Meli dan tiga teman geng sosialita lainnya, asyik membahas karakteristik suami mereka masing-masing saat ada di ranjang untuk bermain gulat dengan pasangan masing-masing. Berbeda dengan yang tadinya begitu cerewet sekarang berubah menjadi pendiam. Mirandah terlihat tidak suka dengan pembahasan teman-temannya. Beberapa kali bola matanya mendelik jengah.

Karena tidak suka dengan pembahasan teman-temannya, Mirandah pun mencari pembahasan lain. Bahkan terlintas di pikirannya untuk cabut duluan dari rumah Meli. Namun, jika dia cabut dari rumah Meli, dia merasa tidak enak hati sama yang lainnya. Bahkan dia takut dikeluarkan dari groub Macam hanya karena itu.

"Apa ada tamannya di rumah ini, Jeng?" tanya Mirandah yang mengalihkan pembicaraan Meli dan tiga teman lainnya.

"Ada donk, Jeng. Suami aku suka banget merawat tanaman. Mulai dari tanaman obat herbal sampai bermacam-macam bunga," jawab Meli begitu bangga dan antusias menanggapi pertanyaan Mirandah.

"Owh." Mirandah tidak terlalu tertarik dengan jawaban Meli, tetapi sepertinya dia lebih tertarik memperhatikan lebih detail setiap inci isi ruangan tempat mereka berkumpul.

"Apa kamu mau jalan-jalan ke sekeliling rumah aku, Jeng? Nanti juga bisa melihat taman," Meli mencoba berbasa-basi pada Mirandah.

"Emangnya kamu mengijinkan aku melihat taman suamimu, Jeng?" tanya Mirandah berbinar dan begitu semangat.

"Boleh, dong, Jeng. Kamu jangan sungkan sama aku." Jawab Meli terkekeh.

"Mau diantar ART aku, apa kita jalan bareng-bareng?" tanya Meli menimpali ucapannya kembali.

"Kalau hanya melihat taman, tidak perlu diantar. Cukup kamu arahkan di mana letaknya saja, Jeng. Aku bisa sendiri melihat taman suamimu," jawab Mirandah yang menggelitik hati salah satu temannya.

"Jangan sampai kamu berniat melihat taman suami Meli yang ada pohon di tengahnya, Jeng. Itu bisa menimbulkan perang dunia di dalam geng kita," celetuk salah satu anggota geng mereka yang merasa aneh dengan tingkah Mirandah.

Mirandah terlihat tidak respek dengan ucapan temannya yang seakan menyindir dirinya. Dia mengacuhkan dengan pura-pura tidak mendengar celotehan orang yang duduk di hadapannya itu.

"Tamannya ada di sebelah mana, Jeng?" tanya Mirandah tanpa peduli sindiran temannya yang mengusik ketenangan dia tadi.

"Ada di samping kolam renang umum. Tepatnya arah belakang rumah ini. Bisa lewat samping memutari pekarangan rumah, bisa juga kita jalan pintas melalui belakang dari dalam sini," ujar Meli yang juga tidak merespon sindiran temannya untuk Mirandah.

"Aku suka jalan pintas," Mirandah langsung menimpali ucapan Meli.

"Awas, jangan sampai jalan pintasnya membuat kamu tersesat, Jeng," yang tadi menyindir Mirandah kembali melontarkan kata-kata penuh penekanan.

Sepertinya dia tidak suka sama Mirandah. Buktinya, setiap ucapan Mirandah seakan mengarah ke sesuatu yang tidak baik baginya. Dia selalu membalas setiap perkataan Mirandah dengan sindiran. Begitu juga Mirandah, sepertinya dia juga tidak suka pada teman satu geng dengannya itu. Setiap kali teman dia yg satu itu berbicara, Mirandah tidak menanggapinya. Bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak menyambung dengan apa yang diucapkan temannya.

"Ayuk, kalau begitu mari sama-sama kita jelajah rumahku yang sederhana ini. Akan aku bawa kalian melihat pekarangan rumahku yang asri." Meli langsung berdiri dan menuntun teman-temannya berjalan menuju sekeliling rumahnya.

"Jangan terlalu merendah, Jeng. Kalau terlalu rendah, nanti diinjak semut yang buta kalau ada gajah di depannya." Teman mereka yang dari tadi berkicau menyindir Mirandah, kini kembali berceloteh lagi.

"Kalau di injak semut, aku sudah antisipasi sebelum terjadi, Jeng. Aku sudah siap sedia menyiapkan racun serangga, agar semutnya pergi menemui ajal sebelum dia berhasil menginjak aku," balas Meli dengan ciri khas senyumnya.

"Bagus itu, Jeng. Zaman sekarang kita harus siapkan racun sebelum digigit tikus. Kita juga harus waspada dengan sampah yang akan menodai pakaian," jawabnya kembali yang seakan mensuport Meli agar berhati-hati terhadap apa yang belum jelas maksudnya.

Mereka berlima berjalan beriringan. Ada yang santai, ada juga yang seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Sedangkan Meli begitu sumringah memperlihatkan isi rumahnya kepada teman-teman geng sosialita dia. Meli sengaja berjalan melalui beberapa ruangan untuk secara tidak langsung memamerkan kemewahan tempat tinggalnya.

"Tadi kamu bilang tamannya ada di samping kolam renang umum, Jeng. Berarti ada kolam lainnya di rumah ini, donk," selidik Mirandah yang tidak peka kalau teman-temannya begitu risih dengan sikapnya bertamu ke rumah Meli.

Meli menoleh ke arah Mirandah dengan senyum yang terus menunjang kecantikan dirinya. "Tentu saja, Jeng. Di sini ada dua kolam renang. Di dekat taman itu kolam renang umum. Fungsinya, kalau ada tamu atau keluarga yang datang dan ingin ikut berenang, mereka bisa pakai kolam renang yang itu. Kalau kolam renang aku sama suami dan juga anakku, ada di lantai atas. Gak ada orang luar yang ikut berenang di sana, kecuali kami bertiga," jelas Meli yang berhasil membuat wajah Mirandah berubah menjadi pias.

Entah apa yang ada dalam pikiran Mirandah saat ini, air wajahnya langsung berubah total ketika Meli menjawab dan menjelaskan tentang pertanyaannya tadi. Tidak ada lagi kata-kata yang diucapkan oleh Mirandah. Dia menjadi pendiam dengan seribu bahasa. Namun, matanya tetap liar memindai seisi ruangan yang dia lewati berjalan bersama geng sosialitanya. Sedangkan temannya yang tadi terus menyindir Mirandah nampak puas dengan senyum mengejeknya buat Mirandah.

Di sisi lain, dengan waktu yang sama, tetapi tempat berbeda, suami Meli yang bernama Hendra, sedang berusaha untuk mempertahankan perusahaan peninggalan orang tuanya dari seseorang yang begitu ambisius untuk menyingkirkan dia dan membuat dia jatuh melarat.

Seseorang itu yang selalu saja ingin merebut segalanya dari Hendra. Namun, selama ini Hendra masih bisa mengendalikan hal itu dengan semampu dia. Suami Meli begitu menjaga amanah dari orang tuanya, agar perusahaan tidak jatuh ke tangan orang lain. Karena perusahaan itu berdiri penuh perjuangan dan butuh pengorbanan yang berat dari orang tua Hendra.

Dari dulu, kakak Hendra yang bernama Vero, juga berusaha keras merebut perusahaan orang tua mereka. Bahkan, itu terjadi dari sejak orang tua mereka masih hidup. Akan tetapi, semasa itu orang tua mereka tidak mau memberikan perusahaan itu pada kakak Hendra yang bernama Vero tersebut. Mereka tahu kalau Vero tidak akan bisa membuat perusahaan itu maju. Bahkan melihat dari kebiasaannya, Vero tidak akan bisa mempertahankan perusahan itu. Melainkan hanya bisa merusak a0a yang sudah ada. Sejak kecil Vero memang selalu malas dan iri dengan semua pencapaian Hendra.

Kini setelah orang tua mereka meninggal, Vero semakin gencar ingin merebut semuanya dari Hendra. Bahkan dia menjuruskan siasat yang lebih tajam lagi. Hendra juga berusaha sekuat dirinya untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi milik dia saat ini.

Di kantornya, lebih tepat di dalam ruang kerja yang tidak pernah beralih dari beberapa tahun lalu, Hendra terlihat seakan sedang tidak baik-baik saja. Dia menghembuskan napasnya jengah. Hari ini sudah ada dua investor yang mundur dari proyek kerjasama dengannya. Entah apa yang menyebabkan hal itu, padahal Hendra sendiri yang bernego dengan mereka saat itu dan investor itu juga terlihat sangat senang degan kerja sama ini. Akan tetapi, tiba-tiba saja mereka mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas dan menarik kembali modal bersama yang disepakati.

Hendra harus menggali masalah ini dengan jelas, jika terus seperti ini nama perusahannya akan diperbincangkan buruk, karena banyak investor yang mengundurkan diri. Hendra memijit kepalanya yang terasa berat karena lelah memikirkan hal itu.

"Aku harus melakukan apa lagi sekarang ini?" tanya Hendra lesu. Entah kepada siapa pertanyaan itu dia tujukan.

"Haruskah aku mundur, dan hancur di titik ini? Atau masih adakah kesempatan aku untuk bertahan?" batin Hendra yang sudah mulai diserang kecemasan.

Hendra terus bermonolog sambil menyenderkan kepalanya ke punggung kursi. Pria itu menatap langit-langit ruang kerjanya dengan pemikiran yang kacau. Dia terus berusaha memikirkan cara apa yang harus dia tempuh untuk bisa menggaet kembali para investor yang sudah memutuskan sepihak kerjasama mereka.

Ingin sekali Hendra berbagi keluh kesahnya yang dia rasa saat ini kepada orang lain, karena sudah tidak kuat lagi menahan semua itu pada dirinya sendiri. Terkadang, terlintas di keinginannya untuk berbagi dan cerita pada Meli tentang bagaimana keadaannya saat ini, tapi disisi lain dia juga takut membuat istrinya itu merasa khawatir kepadanya.

Selama ini paling anti bagi Hendra untuk membuat istri dan anaknya merasa khawatir terhadap urusannya. Karena bagi Hendra, masalah pekerjaan itu adalah masalah yang harus dia selesaikan sendiri. Namun kali ini, rasanya urusan pekerjaan yang sedang dia hadapi sudah melebihi daripada batas kemampuan yang Hendra miliki. Maknanya sering terlintas keinginan untuk curhat pada istri tercinta.

Sebenarnya, atas kasus yang dia alami saat ini, Hendra sedikit mencurigai permasalahan yang terus bergulir adalah campur tangan dari kakaknya yang bernama Revo. Akan tetapi, Hendra tidak bisa menuduhnya begitu saja. Apalagi saat ini Vero sedang berada diluar kota untuk berlibur. Oleh karena itu, Hendra tidak ada bukti yang kuat untuk menuduh Vero melakukan kecurangan sehingga membuat Hendra mengalami kerugian besar.

Hendra semakin pusing menerka-nerka siapa dalang dibalik ini semua. Jika semua investor memutuskan kerjasama mereka dan menarik kembali saham mereka dari perusahaan Hendra, maka perusahaan yang sudah berdiri puluhan tahun itu berkemungkinan hanya akan tinggal nama.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Tersisih
8.4
Sarinah melarikan diri dari rumah karena ketidakadilan orang tuanya. Insiden kecelakaan mobil justru membawanya ke kehidupan baru sebagai Rully setelah ia diadopsi. Dari gadis buta huruf, ia bertransformasi menjadi dokter sukses. Namun, konflik besar muncul saat seorang pria melamarnya tanpa mengetahui asal-usul Rully yang sebenarnya dari keluarga miskin. Kini, ia harus memilih antara jujur atau terus bersembunyi demi menjaga cinta dan statusnya.
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Pangeran Mafia
8.1
Pernikahan Belleza dan Rafaele hanyalah aliansi bisnis antar klan mafia yang menghancurkan impian Bella akan cinta sejati. Terjebak dalam dunia gelap, Bella terpaksa tunduk pada dominasi Rafaele demi melindungi keluarganya. Namun, kematian mendadak ayahnya di wilayah Jefferie memicu dendam membara. Di tengah kehamilan dan intrik pengkhianatan yang terungkap, Bella harus mencari kebenaran. Akankah cinta tumbuh di balik kebencian, atau justru dendam yang menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Cinta Dalam Balutan Tasbih
8.1
Mencintai seseorang memang indah, namun Ikrimah harus menghadapi kenyataan pahit saat sahabatnya, Sakila, juga memuja pria yang sama. Sakila bahkan nekat menjadi mualaf demi mendapatkan hati Zaid. Meski difitnah secara keji, Ikrimah memilih bersabar dan berserah diri pada petunjuk Tuhan. Di sisi lain, Zaid terjebak dalam dilema besar untuk menentukan pilihan hatinya. Siapakah yang akan dipilih Zaid pada akhirnya, Ikrimah yang tulus atau Sakila yang penuh pengorbanan?
Sampul Novel Disangka miskin diperantauan
8.4
Sisil dan orang tuanya terus-menerus dikucilkan serta dianggap rendah oleh keluarga besar mereka. Karena dipandang miskin, ia dilarang terlibat dalam urusan keluarga. Tak tahan dihina, Sisil bertekad mengubah nasib dan mengangkat derajat orang tuanya di mata dunia. Ia memulai langkah besar untuk membuktikan kesuksesannya sekaligus membalas rasa sakit hati terhadap mereka yang dulu meremehkannya. Perjuangan Sisil pun dimulai demi sebuah harga diri.
Sampul Novel Gara-Gara Cinta Satu Malam
8.0
Dikhianati sang kekasih membuat Ellena Cameron nekat menyerahkan kesuciannya pada pria asing demi membalas dendam pada takdir. Namun, saat ia ingin melupakan malam itu, pria tersebut justru muncul kembali dan menjungkirbalikkan dunianya. William Asahavey Hamilton, konglomerat yang jenuh dipaksa menikah oleh kakeknya, terpikat oleh keberanian Ellena yang dianggapnya unik. Meski terbiasa dikelilingi wanita, eksistensi gadis mungil itu kini menjadi pusat perhatiannya.
Sampul Novel Obsesi Sang Badboy
9.0
Sereia berjuang menghidupi ketiga adiknya meski hatinya penuh luka masa lalu. Elias, pria yang pernah menyakitinya, terkejut saat mengetahui gadis polos yang dulu ia rendahkan kini telah berubah drastis. Setelah satu malam yang tak terduga, Elias terobsesi mengejarnya. Sereia berusaha keras melarikan diri dari pria itu, namun Elias justru bertindak nekat demi memilikinya. Meski Sereia mencoba menjebaknya agar bisa bebas, Elias bersumpah takkan melepaskannya lagi.