
Kesucianku Ternoda
Bab 3
Di sebuah tempat yang begitu terasa hawa-hawa negatif dari perlawanan individual. Di sana ada beberapa botol minuman keras menjadi saksi bisu penghianatan dan kebajingan seseorang yang haus akan tahta. Seisi ruangan menggema dengan begitu kental terdengar tawa dari pria paruh baya. Tawanya menggema mengisi ruangan tempat itu untuk mewakili hatinya yang riang gembira atas pencapaiannya saat ini.
Aroma minuman beralkohol menyeruak ke dalam indra penciuman siapa saja yang mendekati ruangan itu. Di sana terlihat bukan sang juarawan saja yang berada dalam ruangan tempat yang akan menjadi saksi kebahagiaannya di atas penderitaan orang lain. Namun, terlihat juga lima pria ada di sana yang sangat menikmati minuman beralkohol tersebut.
Beberapa dari mereka sudah terlihat sedikit teler dengan kesadaran yang sudah sangat minim. Karena dari tadi mereka sudah menghabiskan total sepuluh botol alkohol yang habis mereka teguk bersama.
Ketua dari mereka terus tertawa bahagia, dengan sesekali terlihat masih meneguk minuman beralkohol yang dari tadi botol minuman itu tidak lepas dari tangannya. Dia adalah Revo yang berstatus sebagai kakak kandung dari Hendra. Hanya karena rasa ingin menguasai tahta, dia rela melakukan apa saja untuk menghancurkan sang adik kandung.
Saat ini Revo berpesta ria dengan minuman keras untuk merayakan keberhasilannya. Saat ini Revo telah berhasil membuat investor mundur dari proyek perusahaan adiknya. Perusahaan yang dulunya dibangun dengan susah payah oleh orang mereka, namun kini dihancurkan oleh Revo dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaan dari Hendra, untuk mencapai suatu tujuan. Dengan bantuan orang kepercayaan adiknya, Revo bisa berhasil melaksanakan keinginannya dengan baik dan lancar tanpa ada hambatan sedikit pun.
Sangat pantas dan tidak diragukan jalan licik mereka berjalan lancar seperti sekarang. Karena Revo menjalankan rencanya dengan mempekerjakan orang-orang kepercayaan Hendra yang memegang kendali penting dalam perusahaan. Sudah pasti mereka tahu selut-belut tentang perusahaan dan berkas-berkas penting yang dikelola Hendra, makanya apapun tujuan Revo ketika bekerjasama dengan mereka, pasti jalannya akan mulus. Apalagi mereka juga punya akses atas aktifitas yang dilakukan Hendra selama ini.
Hanya karena uang yang ditawarkan Revo, mereka buta hati dan buta mata untuk menghalalkan segala cara dan melupakan mahalnya sebuah kepercayaan.
Kini Revo dengan suara yang sedikit serak mengoceh dan sesekali tertawa bahagia. Impian dan keinginannya telah berada di genggaman yang sebentar lagi akan dia patenkan. Walau sudah sedikit oleng, tangan pria itu masih setia memegang gelas yang berisi alkohol untuk terus dia konsumsi.
"Besok kita harus berpesta lebih besar daripada ini. Karena besok akan menjadi hari kehancuran Hendra yang sesungguhnya. Aku adalah pemenang yang tidak terkalahkan" ucap Revo dengan suara yang sedikit serak.
Tangan pria itu masih setia memegang gelas yang berisi alkohol yang sudah hampir habis isi cairan di dalamnya. Tawa Revo menggelegar, menggema dan membuncah segalanya. Dari sekian tahun dia menyusun rencana dan memainkan taktik licik yang dia luncurkan. Sekarang ketika dia mendapatkan apa yang dia mau, mana mungkin dia tidak akan sebabagia ini. Kecurangan yang dia berikan, mampu membuat dia merasa sukses atas rencananya.
"Kalian sudah siap untuk the next party keberhasilanku yang tidak terkalahkan?" Tanyanya dengan diselingi tawa dan menepik dadanya berulang kali.
"Tentu saja kami siap, Bos. Besok adalah hari di mana kau akan mengambil seluruhnya dari Hendra. Kau pemenang yang sesungguhnya. Kau adalah raja jagat raya," balas pria berkemeja biru yang hampir seumuran Revo.
Dia adalah pengelola keuangan di perusahaan Hendra. dia juga adalah orang yang sudah buta karena uang. Kepercayaan yang diberikan Hendra padanya sudah tidak ada harga dan arti lagi. Sekarang uang telah berkuasa untuk dia yang lupa akan mahalnya sebuah kepercayaan.
Sebenarnya pria itu memang sudah cukup lama berada dipihak Revo untuk bekerjasama. Akan tetapi, Hendra tidak mengetahui tentang itu. Kepercayaan masih Hendra tanamkan pada orang yang sesungguhnya sudah menjadi belati untuk menusuknya bersama orang lain. Orang kepercayaan Hendra itu tidak lagi bekerja sesuai perjanjiannya dengan Hendra. Kini menurut dia, Revo lebih bisa diajak kerjasama, ketimbang Hendra yang lebih formal dan selalu bekerja konsisten tanpa bisa memberi dia keuntungan lebih. Apalagi saat bergabung dengan kakak Hendra, orang-orang kepercayaan Hendra diberi bonus oleh Revo berkali-kali lipat besarnya dari gaji yang dia dapat dari Hendra.
Selain bonus kerjasama yang besar, bersama dengan Revo, dia bisa menggelapkan beberapa uang perusahaan demi kesenangannya. Sedangakan bersama Hendra selalu saja harus bersikap jujur dan gajinya hanya seupil dibanding uang yang dia dapat dari Revo.
"Besok akan aku traktir kalian semua dengan minuman yang lebih berkelas dari ini. Tenang saja, kerja kalian tidak bertambah berat, kok. Cukup kalian terus berakting pada sasaran sebentar saja, dan kita aka mendapatkan semuanya." Revo mengatakan hal itu dengan percaya diri dan terus menebar tawa yang membawa aroma minuman keras dari mulutnya.
"Oh, iya. Kalian yang ikut berpesta hari ini, tidak lupa tugas masing-masing 'kan?" tanya Revo yang seperti sedang ingat pada sesuatu yang mungkin saja bisa mematahkannya nanti.
"Aku sudah siap dengan semua berkas-berkas penting untuk menunjang keberhasilanmu, Tuan. Semuanya aku letakkan di atas meja itu." Tunjuk orang yang dulu jadi salah satu pengacara mendiang orang tua Revo dan Hendra.
Dia adalah orang yang dulu ikut membacakan warisan peninggalan dari orang tua Hendra dan Revo. Dia juga adalah orang yang sangat setia pada orang tua Hendra. Dulunya dia sangat menjunjung tinggi kepercayaan serta memuliakan kejujuran. Namun entah kenapa, dan entah bagaimana caranya, Revo akhirnya bisa membuat pengacara itu berpihak kepadanya dan menuruti setiap keingan yang dia pinta. Revo berhasil meluluhlantakkan komitmen sang pengacara entah bagaimana caranya.
"Kau sangat bisa diandalkan. Aku akan terus memakai jasamu jika kamu tidak mengecewakan aku." Revo tersenyum kasar sambil mengacungkan jempolnya.
"Bagaimana dengan yang lain? Apakah ada yang lalai?" tanya Revo memastikan kembali untuk tugas anak buahnya.
"Aku juga sudah siap semuany, Bos. Berkas-berkas penting sudah aku amankan," jawab salah satu yang juga ikut berpesta dengan minuman keras bersama Revo.
"Bagus!" Revo mengacungkan jempolnya dan kembali meneguk minuman yang masih tersisa.
Setelah memastikan semua aman terkendali untuk rencana yang telah dibikin skenario sebelumnya, mereka semua kembali menikmati momen bahagia atas keberhasilan mereka dengan kepuasan yang tiada tara. Walau mereka sedang berpesta ria dalam keadaan bahagia level dewa, hal itu tidak membuat mereka lupa juga membahas rencana besok agar berjalan dengan sangat lancar. Yang paling tampak sangat antusias adalah Revo, dia sudah tidak sabar melihat wajah adiknya ketika mendapat suprise atas semua perbuatan Revo bersama tim yang dia bentuk untuk menghancurkan Hendra.
"Kalian bisa bayangin, betapa lucunya wajah Hendra dan Meli ketika dapat suprise dari kita." Revo tertawa lepas membayangkan adiknya yang akan mengemis pada dia beberapa saat lagi.
"Pasti dia akan langsung bersujud di kaki aku ketika mendapatkan suprise yang begitu amazing. Dia akan menangis bersama istrinya untuk meminta belas kasih dariku. Betapa hancur dan rapuh dia saat itu, dan aku akan membeli harga dirinya, lalu menginjak tanpa ampun," ucap Revo begitu angkuhnya.
"Keadilan yang tidak pernah aku dapat, sekarang akan aku balas semuanya dengan ketidak adilan pula. Aku yang dulu tidak dipandang, sekarang datang waktunya untuk memberi bukti pada mereka, kalau aku pantas dan layak untuk menjadi seorang penguasa. Aku adalah Revo sang penguasa keabadian yang tidak terkalahkan!" teriak Revo dengan tangisnya yang entah bahagia atau lagi bersedih.
Semua terdiam, tidak ada suara dari mereka selain isakan tangis Revo. Gejolak api dendam membara di dalam dadanya. dibawah alam sadar, Revo meremas kuat botol di tangannya. Sejenak dia terdiam, lalu melemparkan botol itu ke dinding, hingga botol dari kaca itu berubah jadi berling.
"Hancur! Yah, hancur ... semua akan hancur seperti botol itu yang telah jadi berling, dan tidak akan pernah kembali utuh," ujarnya datar, namun penuh penekanan.
"Hendra! Kamu akan hancur di tanganku. Tunggu jam mainnya, kamu akan menikmati segala yang aku dapatkan hari ini!" Revo kembali menarik botol kosong minuman keras disela teriakannya dam kembali melemparkan botol itu ke dinding.
Suara tabrakan antara botol dan dinding terdengar begitu nyaring diantara diamnya orang-orang yang bekerjasama dengan Revo dan ada di dalam ruangan itu. Botol yang baru saja dilempar Revo menjadi berling berserakan di lantai, sama seperti botol sebelumnya yang dilempar Revo beberapa saat lalu.
"Kau adalah jembatanku untuk keserakahan yang tidak aku inginkan ini, Hendra! Kau dudukkan aku di atas nestapa kehancuran yang tak bertepi. Namun, itu dulu. Bukan sekarang! Aku yang dulu tak dianggap orang tua karena kehadiranmu diantara kami, sekarang kau harus membayar segalanya," teriak Revo yang terlihat jelas telah terbakar api dendam membara dalam dirinya.
"Kamu harus membayar semuanya!" Revo terus berteriak seakan menuntut keadilan yang menurut dia tidak ada untuk dirinya.
Gelapnya malam membentang dan menyambut teriakan dari Revo bersama dendamnya. Angin malam yang berseliweran seakan enggan memacu jagat raya untuk menyampaikan apa yang diutarakan pria paruh baya itu. Dinginnya malam pun sekarang tidak mampu menusuk inci kulit Revo. Malam ini seakan begitu mendayu dan tunduk kepada teriakan maut Revo yang telah berhasil mendapatkan keinginannya.
Anda Mungkin Juga Suka





