
Kesalahan Semalam : Manisnya Suami Miliarder
Bab 2
Alina duduk di ruang tamu luas yang dipenuhi furnitur mewah, ruangan yang seharusnya terasa asing baginya namun kini terasa seperti penjara yang tak terlihat. Lampu gantung besar di atas kepalanya memancarkan cahaya keemasan yang menyoroti siluet pria yang duduk di kursi di seberang ruangan. Nathaniel, pria yang malam itu muncul di taman, menatapnya dengan mata hitam yang tajam, seolah sedang mengamati setiap detail di dirinya, mencari tahu siapa dia sebenarnya.
Di luar jendela, hujan mulai turun, menampar kaca dengan ritme yang tak menentu. Suara gemuruh jauh di kejauhan menggema seperti desah nafas bumi yang terluka. Alina menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang mengancam. Betapa tidak adil hidup ini. Semua yang ia miliki, semua yang ia perjuangkan, seakan runtuh dalam sekejap mata, meninggalkannya dalam kekosongan yang menyesakkan.
"Kamu tidak perlu takut," kata Nathaniel, suaranya serak, namun ada kelembutan di sana, seperti dia tahu betapa rapuhnya Alina saat itu. "Aku di sini bukan untuk menyakiti. Aku di sini untuk membantumu. Tapi, untuk itu, aku perlu persetujuanmu."
Alina menatap pria itu, membiarkan kata-katanya bergema di benaknya. Bantuan? Bagaimana bisa seorang pria asing memberikan bantuan? Apa yang dia inginkan sebagai imbalannya? Hati Alina berdebar kencang, takut akan jawaban yang akan datang. Setiap detik terasa begitu lama, seolah waktu sedang mempermainkannya.
"Apa yang kamu inginkan?" Suara Alina terdengar kecil, nyaris berbisik. Ia menyesal mengucapkannya, tapi kata-kata itu sudah keluar, mengalir seperti aliran sungai yang tak bisa dibendung.
Nathaniel menghela napas, seolah memikirkan sesuatu yang berat. "Aku tahu hidupmu penuh dengan beban. Kau harus tahu, ada orang-orang di luar sana yang tidak ingin melihatmu jatuh. Tapi, aku juga tidak bisa memberi bantuan tanpa imbalan."
"Kau ingin apa?" Alina berusaha menenangkan dirinya sendiri, meski suara gemetar dalam ucapannya memberi tahu bahwa ia tidak mampu.
Nathaniel bangkit dari kursi, langkah kakinya yang berat membuat jantung Alina semakin tak karuan. Dia mendekat, jarak di antara mereka semakin mengecil hingga hanya beberapa langkah saja. "Aku ingin menikah denganmu, Alina."
Ucapan itu menggetarkan seluruh tubuh Alina. Seolah seluruh dunia berhenti berputar, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. "Menikah denganku, dan aku akan membantumu menyelamatkan saudaramu. Aku akan memberikan segala yang kau butuhkan. Tapi, kau harus menjadi milikku."
Alina terdiam, suaranya tercekik. Otaknya berputar mencari jawaban, melawan rasa takut yang semakin membesar. Bagaimana bisa ia menerima tawaran ini? Perasaan tak aman, rasa sakit dan kehilangan, semuanya berpadu di dalam dirinya. Hatinya berkata bahwa ini adalah pilihan terburuk, namun di sisi lain, ada bagian dalam dirinya yang tahu bahwa ini mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkan adiknya, satu-satunya orang yang masih ia miliki di dunia ini.
"Kau tahu aku bukan siapa-siapa," katanya akhirnya, suaranya pecah. "Aku bukan orang yang layak untuk dijadikan istri seorang pria sepertimu. Aku-"
"Kau lebih dari sekadar apa yang kamu pikirkan. Aku tidak peduli siapa kamu, Alina. Aku peduli pada apa yang bisa kita capai bersama." Suara Nathaniel semakin dalam, seperti ombak yang menghempas tebing. "Dan kau harus tahu, ketika kau menerima tawaran ini, hidupmu akan berubah selamanya."
Alina menatapnya, menilai setiap kata yang diucapkannya, mencoba menangkap setiap makna yang tersembunyi di balik ekspresi datar dan suara dingin pria itu. Namun, di balik ketegasan itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan-sebuah kehangatan yang mengejutkan, seolah ada api tersembunyi yang membara di dalam dirinya.
"Kenapa aku?" pertanyaan itu meluncur begitu saja, menggema di ruangan yang sepi.
Nathaniel tersenyum, tapi senyumnya tak mencapai mata. "Karena aku melihat apa yang kamu sembunyikan, Alina. Aku melihat keberanian di dalam dirimu, meskipun kau sedang jatuh. Itu cukup bagiku."
Mata Alina berkaca-kaca. Kata-kata itu, meskipun terdengar sederhana, membuat jantungnya berdegup kencang. Mungkinkah ada secercah harapan di tengah segala kegelapan ini? Akankah keputusan ini membawa cahaya atau malah mengubur dirinya lebih dalam?
Dia menatap pria itu, mencari jawaban, mencari keberanian di mata hitam yang penuh misteri itu. Dan saat itu, untuk pertama kalinya sejak malam yang menghancurkan itu, ia merasa seolah ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya yang sedang menuntunnya ke arah yang tak terduga.
"Aku tidak punya pilihan lain," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.
"Begitu, ya?" Nathaniel mengangguk pelan, senyumnya kali ini lebih nyata, menampilkan sisi manusiawi yang jarang terlihat. "Maka, mulai malam ini, hidupmu akan bersamaku. Dan segala sesuatu yang kau perjuangkan akan menjadi milikku juga."
Dalam sekejap, Alina tahu bahwa perjanjian itu tidak hanya tentang menyelamatkan saudara perempuannya, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih besar, yang tak bisa ia bayangkan. Namun, satu hal pasti-pada malam itu, ia membuat keputusan yang akan mengubah jalannya hidup selamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





