Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kesalahan di Malam Sebelum Akad

Kesalahan di Malam Sebelum Akad

Hidup Ardi berubah drastis setelah sebuah insiden fatal akibat pengaruh alkohol. Ia tidak sengaja memasuki kamar yang salah dan menodai Citra, pengasuh anak kembar milik adik angkatnya. Padahal, tepat esok hari Ardi dijadwalkan untuk menikahi Maya, tunangannya. Kini ia terjebak dalam dilema moral yang besar. Ardi harus memilih antara melanjutkan rencana pernikahan dengan Maya atau justru mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan menikahi Citra.
Bab
Bagikan

Bab 3

Raungan histeris Maya yang menghilang di kejauhan masih terngiang-ngiang di telinga Ardi, mengoyak-ngoyak hatinya yang sudah remuk. Ia berdiri terpaku di tengah lobi hotel yang megah, kini terasa begitu kosong dan sunyi, meskipun beberapa pasang mata penasaran masih melirik ke arahnya. Hawa dingin AC hotel terasa menusuk tulangnya, namun tidak sedingin kekosongan yang kini melingkupi dadanya. Ia telah menghancurkan wanita yang dicintainya, dan ia baru saja merasakan dampaknya secara langsung.

Rio menghampirinya, wajahnya menunjukkan campuran kekhawatiran dan amarah yang mereda menjadi keputusasaan. Ia menepuk bahu Ardi pelan, isyarat yang Ardi tahu berarti "aku bersamamu, tapi aku juga kecewa padamu."

"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Bang?" tanya Rio, suaranya pelan dan dalam. "Maya... dia pasti hancur."

Ardi hanya bisa menggelengkan kepala, bibirnya bergetar. "Aku tidak tahu, Rio. Aku tidak tahu bagaimana aku akan memperbaikinya." Ia memejamkan mata, membiarkan air mata yang tadinya ia tahan kembali mengalir. Rasa bersalah itu menusuknya lebih dalam, lebih tajam daripada sebelumnya.

"Kita harus segera menghadapi keluarga," Rio mengingatkan, menatap jam tangannya. "Waktu akad sudah semakin dekat. Mereka pasti sudah berkumpul."

Mendengar kata "akad" dan "keluarga", Ardi merasakan gelombang kepanikan. Ini bukan hanya tentang Maya. Ini tentang orang tua mereka, keluarga besar yang sudah berkumpul dari berbagai kota, teman-teman, kolega bisnis. Mereka semua akan menyaksikan kehancuran ini.

"Rio... aku tidak sanggup," Ardi berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.

"Kamu harus sanggup, Bang," Rio membalas, nadanya tegas. "Kamu yang membuat kekacauan ini, kamu yang harus membersihkannya. Aku akan menemanimu. Kita hadapi bersama."

Ada kekuatan dalam kata-kata Rio, sebuah dukungan yang Ardi butuhkan saat ini. Ia mengangguk, menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Mereka berjalan beriringan menuju ballroom hotel, tempat acara akad nikah seharusnya dilangsungkan. Setiap langkah terasa berat, seperti berjalan di atas pecahan kaca. Ardi bisa merasakan tatapan penasaran dan bisik-bisik dari para tamu yang sudah mulai berdatangan. Aura kebahagiaan yang seharusnya meliputi ruangan itu kini terasa digantikan oleh kecemasan yang mencekam.

Sesampainya di depan pintu ballroom, Ardi bisa mendengar riuhnya suara dari dalam. Suara tawa, sapaan, dan alunan musik tradisional yang seharusnya mengiringi momen sakral. Semua itu terasa begitu ironis, mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Rio membuka pintu, dan Ardi melangkah masuk. Seketika, semua mata tertuju padanya. Wajah-wajah familiar yang tadinya tersenyum ceria kini berubah menjadi keheranan. Orang tuanya, orang tua Maya, sanak saudara, dan teman-teman, semuanya menatap Ardi dengan tatapan bertanya-tanya.

Ayah Ardi, Pak Danu, menghampirinya dengan raut wajah cemas. "Ardi? Kamu kenapa, Nak? Mana Maya? Kenapa kamu belum siap?" tanyanya, suaranya dipenuhi kekhawatiran.

Ibu Ardi, Bu Amira, juga mendekat, matanya memancarkan ketakutan. "Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?"

Ardi menatap kedua orang tuanya, dan ia merasakan pisau tajam menusuk dadanya. Ia harus menghancurkan harapan dan kebahagiaan mereka. Ia melihat ke arah Ayah Maya, Pak Bayu, dan Ibu Maya, Bu Laras, yang juga mendekat dengan ekspresi bingung. Bu Laras sudah terlihat gelisah, matanya mencari-cari putrinya.

"Ayah... Ibu... Pak Bayu... Bu Laras..." Ardi memulai, suaranya serak dan bergetar. "Ada sesuatu yang harus saya sampaikan."

Suasana di ballroom mendadak hening. Semua mata menatap Ardi, menunggu. Rio berdiri di samping Ardi, memberikan dukungan fisik dan moral.

"Pernikahan... pernikahan saya dengan Maya... harus dibatalkan," Ardi akhirnya mengucapkan kata-kata itu. Meskipun ia sudah mengucapkannya pada Maya, mengucapkannya di depan seluruh keluarga terasa seribu kali lebih berat.

Seketika, riuh rendah bisik-bisik menyebar di antara para tamu. Ada yang terkejut, ada yang tidak percaya, dan ada pula yang mulai bergosip. Namun, yang paling hancur adalah keluarga inti.

Bu Laras terhuyung, seolah baru saja dipukul. "Apa?! Apa yang kamu katakan, Ardi?! Kamu bercanda, kan?!" teriaknya, suaranya pecah. "Mana Maya?! Kenapa dia tidak bersamamu?!"

Pak Bayu, meskipun terkejut, berusaha menenangkan istrinya. Namun wajahnya juga terlihat sangat tesiksa. "Ardi, apa maksudmu? Ini tidak lucu. Ini hari besar putriku."

Pak Danu dan Bu Amira juga sama terkejutnya. "Ardi, jelaskan pada kami! Ada apa sebenarnya?!" Pak Danu bertanya, nadanya tegas, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.

Ardi menelan ludah, mencari kata-kata yang tepat. Ia tahu ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tidak di sini, tidak sekarang, tidak di depan semua orang. Ia harus mencari alasan yang masuk akal, yang setidaknya bisa diterima, meskipun itu berarti ia harus berbohong.

"Maafkan saya, semuanya," Ardi memulai lagi, suaranya sedikit lebih stabil. "Ada... ada hal mendesak yang terjadi. Sebuah masalah keluarga yang sangat serius dan tidak terduga. Saya tidak bisa menceritakannya secara detail sekarang, tetapi hal ini membuat saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."

"Masalah keluarga apa?!" Bu Laras kembali berteriak, air mata membasahi pipinya. "Ini tidak masuk akal! Semua sudah siap! Putri saya sudah menunggu! Apa yang akan kamu katakan padanya?!"

Ardi memejamkan mata. "Saya sudah bicara dengan Maya. Dia... dia sudah tahu." Kata-kata itu terasa seperti pisau yang mengoyak-oyak hatinya. Maya tidak tahu yang sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa pernikahannya dibatalkan, tanpa penjelasan yang memadai.

Tiba-tiba, suara tangis histeris kembali terdengar dari pintu masuk ballroom. Semua mata menoleh ke arah sumber suara. Maya. Ia muncul di ambang pintu, dengan rambut berantakan, wajah sembap, dan mata merah bengkak. Gaun pengantin yang seharusnya ia kenakan kini digantikan oleh pakaian biasa yang asal ia kenakan. Ia tampak seperti badai yang baru saja menerpa.

"Maya!" Bu Laras berteriak, menghambur memeluk putrinya.

Maya tidak membalas pelukan ibunya. Matanya tertuju pada Ardi, penuh amarah, pengkhianatan, dan kesedihan yang tak terhingga. "Kamu pengecut, Ardi!" teriaknya, suaranya bergetar karena amarah. "Pengecut! Beraninya kamu melakukan ini padaku!"

Suasana menjadi semakin ricuh. Para tamu berbisik-bisik, beberapa mencoba mendekat untuk mendengar, sementara yang lain hanya bisa menatap terkejut.

Pak Bayu, dengan wajah memerah menahan marah, menghampiri Ardi. "Ardi! Jelaskan ini padaku sekarang! Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku?!"

Ardi menunduk. Ia tidak bisa berbohong lagi pada Maya. Ia tidak bisa menyakiti Maya lebih jauh. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dilema itu menghimpitnya.

"Saya minta maaf, Pak Bayu," Ardi hanya bisa mengucapkan. "Saya... saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Saya tidak layak untuk Maya."

Kata-kata Ardi semakin membingungkan semua orang. Tidak layak? Apa maksudnya?

Bu Amira, ibu Ardi, kini mendekat, wajahnya juga dipenuhi air mata. "Ardi, Nak... apa yang terjadi? Kenapa kamu bilang begitu?"

Ardi melihat sekeliling, merasakan semua mata menghakiminya. Ia tahu ia harus pergi. Ia tidak bisa menghadapi ini lebih lama lagi. Ia tidak bisa terus menerus melihat Maya hancur karena dirinya.

"Maafkan saya, semuanya," Ardi berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar. Kemudian, ia berbalik dan berjalan cepat keluar dari ballroom, meninggalkan kekacauan dan kebingungan di belakangnya. Rio mencoba memanggilnya, namun Ardi terus berjalan, ingin menghilang dari pandangan.

Ia tidak tahu kemana tujuannya. Ia hanya ingin pergi, menjauh dari semua kekacauan ini. Ia berjalan cepat menyusuri koridor hotel, turun menggunakan lift, dan keluar dari pintu utama. Udara pagi Jakarta yang dingin menyambutnya, namun tidak mampu meredakan panas di hatinya.

Ia berjalan tanpa arah, pikirannya kosong. Ia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan yang baru saja ia ciptakan. Rasa bersalah, penyesalan, dan kehancuran menggerogoti dirinya dari dalam.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Citra muncul di layar. Ardi ragu-ragu sejenak, kemudian mengangkatnya.

"Halo?" suaranya serak.

"Ardi... kamu di mana?" suara Citra terdengar cemas. "Rio memberitahuku apa yang terjadi. Maya... dia menangis histeris."

"Aku tahu," Ardi membalas, suaranya putus asa. "Aku sudah menghancurkan hidupnya, Citra."

"Kita harus bicara," Citra mendesak. "Kita harus segera membuat keputusan. Kamu tidak bisa terus seperti ini."

Ardi menghela napas. Citra benar. Ia telah membuat keputusan untuk menikahi Citra. Sekarang, ia harus menghadapi konsekuensinya, dan mulai menyusun rencana.

"Baiklah," Ardi akhirnya menjawab. "Aku akan kembali ke hotel. Temui aku di kafe. Jangan di lobi."

"Oke," Citra menjawab, suaranya sedikit lega. "Aku akan segera ke sana."

Ardi berbalik, kembali ke hotel dengan langkah yang lebih pasti. Ia tahu ia harus menghadapi kenyataan. Ia telah membuat pilihan, dan sekarang ia harus hidup dengan pilihan itu.

Sesampainya di kafe hotel, Ardi melihat Citra sudah duduk di salah satu sudut, dengan wajah tegang. Ia terlihat sudah rapi, namun matanya masih sembap dan menunjukkan bahwa ia juga baru saja menangis.

Ardi menghampirinya, duduk di kursi di hadapannya. "Maaf membuatmu menunggu," katanya.

Citra menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Bagaimana... bagaimana dengan Maya?" tanyanya, suaranya pelan.

"Dia... dia sangat terpukul," Ardi mengakui, merasakan nyeri di dadanya. "Dia menangis histeris. Aku... aku tidak sanggup melihatnya."

Citra menunduk, bibirnya bergetar. "Aku turut prihatin, Ardi. Aku tidak ingin ini terjadi."

"Ini bukan salahmu, Citra," Ardi berkata, menatap lurus ke mata Citra. "Ini semua salahku. Aku yang mabuk, aku yang ceroboh. Aku yang menghancurkan segalanya."

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Citra bertanya, suaranya lebih tegas. "Kamu sudah membatalkan pernikahanmu. Sekarang, bagaimana dengan kita?"

Ardi menghela napas panjang. Ini adalah inti masalahnya. "Aku sudah bilang padamu. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu."

Citra menatapnya, matanya memancarkan keraguan. "Apakah kamu yakin, Ardi? Ini bukan pernikahan yang didasari cinta. Ini adalah pernikahan yang didasari kewajiban."

"Aku tahu," Ardi membalas, suaranya berat. "Tapi ini satu-satunya cara. Aku tidak bisa membiarkanmu menanggung semua ini sendirian. Aku tidak bisa membiarkan reputasimu hancur."

"Tapi bagaimana dengan hatimu?" Citra bertanya, suaranya lirih. "Bagaimana dengan hatiku? Bisakah kita membangun rumah tangga seperti ini?"

Ardi terdiam. Pertanyaan Citra menusuknya. Bisakah ia membangun rumah tangga tanpa cinta? Bisakah ia hidup dengan bayangan Maya yang selalu menghantuinya?

"Kita akan mencobanya, Citra," Ardi akhirnya menjawab, meskipun ia sendiri tidak yakin. "Kita akan berusaha. Demi masa depanmu. Demi tanggung jawabku."

Citra tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kita harus bicara dengan keluargamu," Ardi melanjutkan, mencoba menyusun rencana. "Dan juga keluargaku. Kita harus menjelaskan situasinya, meskipun tidak sepenuhnya jujur."

"Bagaimana kamu akan menjelaskannya pada orang tuamu?" Citra bertanya. "Mereka pasti sangat terkejut dengan pembatalan pernikahanmu dengan Maya."

"Aku akan bilang ada hal serius yang terjadi di antara kita," Ardi mencoba merangkai skenario. "Dan bahwa aku dan kamu... kita berdua memutuskan untuk memulai babak baru bersama. Mungkin kita bisa bilang kita sudah lama punya perasaan satu sama lain, tapi terhalang oleh keadaan." Ia tahu itu adalah kebohongan besar, tapi itu adalah satu-satunya skenario yang paling tidak merugikan.

Citra menatapnya, ada sedikit keraguan di matanya. "Apakah mereka akan percaya?"

"Kita harus membuat mereka percaya," Ardi bersikeras. "Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan muka kita berdua."

"Dan bagaimana dengan Rio?" Citra bertanya. "Dia sudah tahu yang sebenarnya."

"Rio akan membantu kita," Ardi menjawab, yakin. "Dia mengerti situasinya. Dia akan mendukung kita."

Meskipun Ardi berkata demikian, ia tahu ia masih harus menghadapi kemarahan Rio. Rio mungkin akan mendukungnya di depan umum, tetapi secara pribadi, ia pasti masih kecewa padanya.

"Kita harus segera pulang," Ardi memutuskan. "Aku akan mengurus hotel dan check-out. Kamu bisa siapkan si kembar. Kita akan pulang ke rumahku. Kita akan tinggal di sana dulu, sementara kita memikirkan langkah selanjutnya."

Citra mengangguk. "Baiklah. Aku akan siapkan barang-barang si kembar."

Ardi merasa sedikit lega melihat Citra mulai bisa berpikir jernih dan bekerja sama. Setidaknya, mereka tidak akan menghadapi ini sendirian.

Kembali ke ballroom, kekacauan masih belum mereda. Pak Danu dan Bu Amira berusaha menenangkan Pak Bayu dan Bu Laras yang masih syok dan marah. Maya sudah dibawa pergi oleh beberapa anggota keluarga untuk menenangkan diri.

"Saya tidak percaya ini!" Bu Laras menangis, memeluk suaminya. "Bagaimana bisa Ardi melakukan ini pada putriku di hari pernikahannya sendiri?!"

"Tenang, Laras," Pak Danu mencoba menenangkan. "Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ardi pasti punya alasan."

"Alasan apa?!" Pak Bayu membentak. "Tidak ada alasan yang bisa membenarkan ini! Ini adalah penghinaan besar bagi keluarga kami!"

Rio, yang kembali ke ballroom setelah Ardi pergi, mencoba menjelaskan. "Om, Tante... ada hal mendesak yang terjadi. Ardi... dia sedang dalam masalah besar."

"Masalah apa, Rio?!" Bu Laras menatap Rio dengan mata sembap. "Katakan pada kami! Ada apa dengan Ardi?!"

Rio ragu-ragu. Ia tidak bisa mengungkapkan kebenaran tentang Citra. Ia harus melindungi kakaknya, dan juga Citra. "Saya tidak bisa menceritakannya secara detail sekarang, Tante. Tapi percayalah, ini bukan karena Ardi tidak mencintai Maya. Ini lebih rumit dari itu."

Pak Danu menghela napas panjang. "Baiklah, Rio. Kami akan bicara dengan Ardi nanti. Tapi sekarang, kita harus menghadapi para tamu. Kita harus memberitahu mereka bahwa pernikahan dibatalkan."

Membatalkan pernikahan di hari-H adalah skandal besar. Terutama di lingkungan sosial mereka yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan reputasi. Ardi tahu bahwa ia akan menghadapi kritik, cemoohan, dan mungkin juga pengucilan sosial. Namun, ia telah membuat pilihannya.

Beberapa jam kemudian, Ardi dan Citra sudah berada di mobil Ardi, dalam perjalanan menuju rumah Ardi. Di kursi belakang, si kembar, Kevin dan Kiki, sudah tertidur pulas setelah lelah menangis karena bingung dengan suasana pagi itu.

Suasana di dalam mobil terasa canggung dan sunyi. Ardi fokus mengemudi, sementara Citra menatap keluar jendela, memandangi hiruk pikuk kota Jakarta yang kontras dengan kekacauan dalam hatinya.

"Kamu sudah menghubungi orang tuamu, Citra?" Ardi memecah keheningan.

Citra menggelengkan kepala. "Belum. Aku tidak tahu harus bilang apa pada mereka."

"Kita akan pikirkan itu nanti," Ardi membalas. "Yang penting sekarang, kita sudah keluar dari hotel itu."

Ia tahu, ini hanyalah awal. Awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Mereka akan menghadapi keluarga, masyarakat, dan yang terpenting, diri mereka sendiri.

Sesampainya di rumah Ardi, sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta, Citra merasa semakin canggung. Ini adalah rumah Ardi, rumah yang seharusnya ia tempati bersama Maya. Kini, ia berada di sini, sebagai "pengganti" yang tidak diinginkan.

Rio sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya masih terlihat lelah dan khawatir. Ia membantu Citra menurunkan si kembar dan tas-tas mereka.

"Kamu baik-baik saja, Citra?" tanya Rio, menatap Citra dengan prihatin.

Citra mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, Rio. Terima kasih sudah membantuku."

"Tidak masalah," Rio membalas. Ia kemudian menoleh ke Ardi. "Bang, Ayah dan Ibu sudah menunggumu di ruang keluarga. Mereka ingin penjelasan."

Ardi menghela napas panjang. Ini dia. Pertempuran sesungguhnya. Ia menoleh ke Citra. "Kamu bisa istirahat dulu, Citra. Aku akan menghadapi mereka."

Citra mengangguk. Ia tahu ini bukan saatnya untuk ikut campur.

Ardi melangkah menuju ruang keluarga, jantungnya berdebar kencang. Di sana, duduklah Pak Danu dan Bu Amira, dengan ekspresi tegang di wajah mereka.

"Ardi," Pak Danu memulai, suaranya dingin dan tegas. "Jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pernikahanmu dengan Maya dibatalkan? Dan kenapa Citra ada di sini?"

Ardi menarik napas dalam-dalam. Inilah saatnya untuk memulai kebohongan yang akan menjadi dasar dari kehidupan barunya. Ia harus meyakinkan orang tuanya, dan meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ini adalah jalan yang harus ia tempuh.

"Ayah, Ibu," Ardi memulai, suaranya pelan namun penuh tekad. "Ada hal yang rumit terjadi antara aku dan Maya. Kami menyadari bahwa kami... kami tidak cocok. Dan selama ini, aku... aku memiliki perasaan pada Citra."

Seketika, mata Pak Danu dan Bu Amira membelalak. Terkejut, bingung, dan tidak percaya.

"Apa?! Perasaan apa, Ardi?!" Bu Amira berseru, suaranya meninggi. "Kamu kenal Citra hanya sebagai pengasuh keponakanmu! Bagaimana mungkin kamu bisa tiba-tiba punya perasaan padanya di hari pernikahanmu sendiri?!"

"Ini bukan tiba-tiba, Bu," Ardi mencoba meyakinkan, meskipun hatinya mencelos karena kebohongan yang ia ucapkan. "Perasaan ini sudah ada sejak lama. Tapi aku selalu menepisnya, karena aku pikir aku harus menikah dengan Maya. Tapi semalam, aku menyadari bahwa aku tidak bisa hidup dengan kebohongan ini. Aku tidak bisa menikah dengan Maya jika hatiku tidak sepenuhnya untuknya."

Pak Danu menatapnya dengan tajam. "Jadi, kamu membatalkan pernikahan karena kamu tiba-tiba menyadari kamu mencintai pengasuh adikmu? Kamu pikir kami akan percaya omong kosong ini, Ardi?"

"Ayah, Ibu, saya bersumpah," Ardi bersikeras, mencoba membuat kata-katanya terdengar tulus. "Ini adalah kebenaran. Saya tahu ini mengejutkan. Saya tahu ini menyakitkan. Tapi saya tidak bisa berbohong pada diri sendiri, apalagi pada Maya."

Bu Amira mulai menangis. "Bagaimana dengan Maya, Nak? Dia pasti hancur. Bagaimana dengan keluarga Bayu? Ini adalah aib bagi keluarga kita, Ardi!"

"Saya tahu, Bu," Ardi membalas, rasa bersalah kembali melilitnya. "Saya akan menanggung semua konsekuensinya. Saya akan bicara dengan keluarga Maya. Saya akan meminta maaf. Tapi saya harus jujur pada diri sendiri. Saya harus mengikuti kata hati saya."

Pak Danu menghela napas panjang, mencoba memproses informasi yang baru saja ia dengar. "Jadi... kamu berniat menikahi Citra?" tanyanya, suaranya berat.

Ardi mengangguk. "Ya, Ayah. Saya berniat menikahi Citra. Saya ingin bertanggung jawab atas perasaan saya. Saya ingin membangun hidup baru dengannya."

Keheningan melanda ruangan. Suasana terasa sangat mencekam. Pak Danu menatap Ardi dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kekecewaan, kemarahan, dan mungkin juga sedikit pemahaman yang samar. Bu Amira masih terisak, namun perlahan mulai mereda.

"Ini adalah keputusan terbesar dalam hidupmu, Ardi," Pak Danu akhirnya berkata, suaranya kini sedikit lebih lembut. "Kamu harus yakin dengan apa yang kamu lakukan. Karena setelah ini, tidak ada jalan kembali."

"Saya yakin, Ayah," Ardi menjawab, meskipun di dalam hatinya masih ada keraguan yang menggerogoti. Ia telah memilih jalannya. Jalan yang sulit, penuh tantangan, dan mungkin akan membawa lebih banyak penderitaan. Namun, ia telah membuat janji. Dan janji itu harus ia tepati. Babak baru dalam hidupnya telah resmi dimulai, dan ia harus siap menghadapi badai yang akan menerpa.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Birahi Anak Tiri
8.4
Nikmati keseruan tanpa tanding dalam kisah romansa modern yang penuh dengan dinamika tak terduga. Narasi ini menjanjikan berbagai kejutan menarik yang mungkin belum pernah Anda temukan dalam karya fiksi lainnya. Setiap bab dirancang untuk memberikan pengalaman membaca yang unik, membawa pembaca menelusuri alur cerita yang segar dan penuh intrik. Jangan lewatkan setiap momen mengejutkan yang tersaji dalam jalinan hubungan yang kompleks dan penuh gairah.
Sampul Novel Cinta Terlarang
9.6
Tara, gadis berhati mulia, terkejut saat tanda lahir di tubuhnya mengungkap asal-usul yang kelam. Ternyata, wanita yang pernah menghina dan melabraknya adalah ibu kandungnya sendiri. Konflik semakin rumit karena Tara menjalin hubungan terlarang dengan suami wanita itu, yang tak lain adalah ayah sambungnya. Kini, Tara terjebak dalam dilema besar: haruskah ia memaafkan ibu yang membuangnya, atau meninggalkan pria yang ia cintai meski status mereka tabu?
Sampul Novel Dikejar Cinta Sang Billionaire Muda
9.5
Claire terjebak dalam obsesi Nathan, bos muda yang terus mengejarnya meski ia mengaku sudah bersuami. Ironisnya, Claire tidak sadar bahwa Nathan sebenarnya adalah Jonathan, suaminya sendiri yang sengaja mendekatinya demi memicu perceraian agar bisa kembali ke sang mantan. Namun, keteguhan hati Claire justru membuat rencana Jonathan berantakan. Saat bencana besar melanda dan Claire memilih pergi, akankah Jonathan sanggup merelakan wanita yang kini ia cintai?
Sampul Novel Kabut Cinta Riana
9.2
Riana yang cantik jelita harus menelan pil pahit saat harapannya hancur berkeping-keping. Sang kekasih justru memilih wanita lain, meninggalkan luka mendalam yang mengubah hatinya menjadi sedingin es. Meski dikhianati, ia terus berjuang dengan ketabahan dan pengorbanan yang luar biasa. Akankah ketulusan Riana mampu menyibak kabut duka dan menuntunnya menemukan cinta sejati yang selama ini ia dambakan di tengah dinginnya kesendirian?
Sampul Novel Melepas Dia Yang Tak Pantas
9.4
Sepuluh tahun menikah, rumah tangga Mila dan Arfan goyah akibat campur tangan sang mertua. Di tengah kejenuhan, Mila bertemu kembali dengan Ferdy, cinta pertamanya. Takdir terus mempertemukan mereka melalui urusan anak hingga proyek kerja yang sama. Namun, kedekatan itu ternyata bagian dari rencana licik Nita, istri Ferdy. Nita sengaja menjebak mereka dalam fitnah perselingkuhan demi memuluskan perceraiannya dan menutupi aibnya sendiri sebagai korban.
Sampul Novel My Beautiful Bride
9.7
CEO Ethan Daniel dikenal dingin dan kasar akibat trauma masa lalu. Saat kakeknya menagih janji pertunangan masa kecil, Ethan awalnya tak peduli. Namun, Anna yang sederhana justru memikatnya karena berani menolak kekayaan dan pesona sang konglomerat. Penolakan Anna memicu rasa penasaran Ethan yang tak terbiasa diabaikan. Di tengah upaya Ethan mengejar Anna, bayang-bayang luka lama kembali menghantui. Mampukah ketulusan Anna menyembuhkan trauma Ethan?