Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kepingan Hati

Kepingan Hati

Rafa Dwindra Athaya harus menghadapi kenyataan sulit saat jatuh hati pada gurunya sendiri, Khafa Aseanda Zayn. Meski Khafa terus menolak karena perbedaan usia dan status sosial, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Kini, Rafa berjuang keras memenangkan hati sang istri yang masih menutup diri. Baginya, mencintai Khafa adalah pilihan hidup, namun membangun masa depan bersama perempuan itu adalah tujuan akhirnya yang paling utama.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Jangan terus ngelamun, lebih baik banyak berdoa saat hujan."

"Oke, gue bakalan berdoa," ujar Khafa, menengadahkan tangannya.

"Allahumma shoyyiban nafi'an."

Khafa memilih bersantai di kasur, menatap langit-langit kamar, ditemani Khafi di sampingnya.

"Seberapa penting brengsek itu sampai lo mau ketemu lagi?" tanya Khafi, menatap sang kakak.

"Gue cuma mau tahu alasan dia, Fi. Gue juga mau tegasin kalau hubungan kami benar-benar usai."

"Oke, kalau gitu gue ikut!"

"Enggak bisa, Khafi. Biarin gue selesaikan sendiri."

"Oke, kalau itu mau lo. Tapi tolong, kalau lo nggak sanggup, berbagilah sama gue, Fa. Gue sayang sama lo lebih dari apapun."

Khafa memandang adiknya dengan senyuman tulus, hatinya tersentuh mendengar cerita Khafi, menunjukkan kasih sayang yang mendalam.

"Makasih udah percaya sama gue. Gue nggak bakal lupa kalau lo sayang sama gue. Sama halnya gue yang sayang banget sama lo, Fi," ucap Khafa membuat Khafi tersenyum.

"Peluk, Fa," rengek Khafi.

"Kak Khafa," ralat Khafa.

"Cuma beda 5 menit doang. Peluk dong, kangen berat sama pelukan lo," ujar Khafi manja.

"Sini-sini."

Khafi merentangkan tangannya, Khafi langsung memeluknya. Mereka merasakan kehangatan dalam pelukan itu.

"Gue janji bakal membahagiakan lo, Fa," batin Khafi.

"Hujannya udah reda, Fi! Akhirnya, gue bisa pergi juga," pekik Khafa sambil berlari heboh ke depan jendela.

Khafi memayunkan bibirnya. Khafi beneran kesal kepada kakaknya itu dikarenakan ia hampir menyelami mimpi malah Khafa berteriak dengan suara cempreng, membuat Khafi gagal untuk tidur.

"Khafi gue pergi, ya!"

Khafa sudah siap dengan tas yang disampirkan di bahunya. Lelaki itu mengucek mata untuk melihat jelas wajah sumringah Khafa.

"Yuk, gue antar," kata Khafi sambil turun dari kasur.

"Eh, nggak usah deh. Lo itu ngantuk mana bisa fokus ntar bawa motornya. Udah, nggak pa-pa gue pergi sendiri. Bye, Adik Ganteng!"

Setelah mengatakan kalimat tersebut, Khafa segera berlari secepat mungkin, meninggalkan Khafi yang sudah berdecak sebal.

***

Selama perjalanan menuju kafe untuk pertemuan dengan sang mantan, kenangan pahit tentang kegagalan pernikahan mereka memenuhi pikirannya. Ia menyandarkan  kepala di jendela mobil, mencoba menahan tangisnya.

"Lo nggak boleh tenggelam lagi dengan masa lalu tersebut, Fa," lirihnya.

"Neng, sudah sampai."

Khafa tenggelam dalam lamunan yang begitu dalam sehingga tak menyadari waktu berlalu. Dengan senyuman ramah, ia kemudian menyerahkan ongkos kepada bapak tersebut sebelum turun dari mobil, melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kafe.

"Khafa," panggil seseorang sambil melambaikan tangan.

Khafa terdiam sejenak, kemudian mulai menghela napas perlahan. Ia sedang mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi lelaki yang meruntuhkan hatinya dengan begitu kejam.

"Udah lama nunggu?" tanya Khafa yang sudah sampai ke meja bernomor 07 itu.

"Belum kok, Fa. Ayo, duduk dulu," ujar Fathan dengan sopan.

Khafa tersenyum tipis lalu mengangguk dan duduk di hadapan lelaki tersebut.

"Bagaimana kabarmu, Fa?" tanya Fathan sambil menatap Khafa dengan hangat.

"Alhamdulillah lebih baik, Bang."

"Maafkan kesalahanku dua tahun lalu, Fa."

"Bang, bisa nggak jangan bahas masa lalu? Waktu itu, Abang udah minta maafkan? Jadi, jangan buat Khafa terpaku dengan masa lalu yang menyakitkan itu," tegas Khafa membuat Fathan bungkam.

"Jadi, kamu ingin bicara apa? Hal sepenting apalagi yang menginginkanmu bertemu denganku? Jika hanya bertanya tentang hubungan kita. Aku tegasin ke Abang kalau hubungan kita benar-benar udah selesai." Tegas Khafa.

"Aku udah bercerai dengan Vayka, Fa," ujar Fathan dengan sendu.

"Jika kamu bercerai dengan Vayka. Lalu apa urusannya denganku?" tanya Khafa dengan alis terangkat satu.

"Kamu mau tidak menjadi Ibu sambung bagi Dito? Percayalah, abang masih sangat mencintaimu."

"Jadi ini alasanmu mengajakku bertemu. Kau hanya ingin enaknya saja, Bang! Kau pikir aku juga akan mau mengulangi hal yang sama? Maaf, aku tidak selugu dahulu yang bebas kamu bohongi."

"Khafa, kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu telah memaafkan aku? Mengapa malah mengungkit masa lalu lagi?"

"Aku memang sudah memaafkanmu. Namun, aku tak akan pernah melupakan kelakuanmu!"

"Jujur aku tidak terima, kau membuat keluargaku malu di saat acara pernikahan kita, kau malah kabur bersama Vayka! Sekarang, kau jangan pernah meminta hal konyol apapun kepadaku lagi! Termasuk menikah denganmu!"

Khafa bangkit dari kursinya dan meninggalkan kafe dengan mata yang berembun. Fathan tetap diam, tidak berniat untuk mengejar Khafa. Di seberang meja, Khafi menggerutu kesal mendengarkan obrolan mereka. Jika tidak ingat pesan dari kakaknya, pasti Fathan hanyalah nama yang tersisa.

"Jangan nangis karena lelaki seperti Fathan! Air mata lo gak berhak nangisin si brengsek itu!"

Khafa memalingkan wajahnya ke arah kiri dan ia melihat senyuman lebar yang terpancar dari Khafi sambil merentangkan kedua tangannya. Tanpa ragu, Khafa memeluk tubuh jangkung adiknya, Khafi mengusap kepala kakaknya dengan lembut.

"Udah jangan cengeng! Hilang udah predikat guru killer kakak gue nih," ucap Khafi dengan terkekeh kecil.

"Coba senyum."

Khafi menangkup kedua pipi kembarannya. Khafa yang mendengar itu segera menyunggingkan senyum. Lelaki itu dengan lembut mengelus kepala kakaknya yang terbalut hijab.

"Jangan nangis karena dia lagi. Dia nggak pantes ditangisin."

"Iya, lo bener."

"Oh iya, gue tadi lihat anak murid lo, Fa. Gue yakin dia liat lo nangis begini," ujar Khafi membuat mata Khafa terbelalak.

"Serius lo?"

"Iya, serius!"

"Ayo pulang, firasat gue nggak enak nih!"

"Loh, Bu Khafa kenapa buru-buru sih? Padahal, saya baru aja beliin Ibu minuman," ucap seseorang yang berhasil menghentikkan langkah keduanya.

Saudara kembar itu berbalik dan melihat pria berhidung mancung tersenyum sambil mengangkat botol minuman. Khafa menghela napas, merasa firasatnya tepat.

Lelaki yang tersenyum lebar itu adalah Rafa Dwindra Athaya, seorang siswa dari Khafa sendiri. Selama setahun terakhir, Rafa sangat gigih mendekati gurunya. Cinta lelaki itu pada Khafa bermula sejak pandangan pertama, tetapi Khafa selalu menolak karena perbedaan usia dan status di antara keduanya.

"Bang Khafi, gebetan gue kenapa nangis gitu sih?"

"Biasalah, Raf, habis ketemu mantan," jawab Khafi dengan entengnya.

"Ibu jangan nangis lagi dong, 'kan masih ada saya yang mencintai Ibu segenap jiwa dan raga."

Mendengar ucapan Rafa membuat Khafi tertawa renyah sedangkan Khafa langsung memutar bola mata malas.

"Kamu yang sopan sama guru sendiri," ketus Khafa menatap tajam Rafa.

"Sekarang kita tidak berada di sekolah, Bu," sanggah Rafa.

"Walaupun tidak di lingkungan sekolah, kamu tetap harus menghormati saya sebagai gurumu."

"Oke, kalau sekarang saya menghormati Bu Khafa sebagai guru saya. Ibu harus percaya suatu saat nanti, Ibu lah yang akan menghormati saya juga sebagai suami Ibu." ucap Rafa dengan percaya diri.

"Jangan kebanyakan halu! Belajar yang benar. Kamu itu sudah kelas 12 'kan? Jangan menggoda guru sendiri kerjanya!"

"Ya Allah, Bu Khafa kita hanya beda 5 tahun kali, Bu. Jadi, nggak pa-pa dong saya godain Ibu. Hehehe," ucap Rafa sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Khafa ingin muntah.

"Udah deh, lo jangan gangguin kembaran gue. Kalau serius datang aja ke rumah, Raf bawa sekalian keluarga," ujar Khafi dengan entengnya.

"Aman, Bang!" Rafa menyahut sembari terkekeh dengan geli.

"Gue mau pulang!" ketus Khafa kepada Khafi kemudian berjalan cepat ke arah parkiran.

"Hahaha, lo yakin mau dapatin kakak gue?" tanya Khafi ketika Khafa sudah menghilang dari pandangannya.

"Yakin dong," balas Rafa sambil mengangguk mantap.

"Oke, gue pasti dukung lo! Asal, lo jangan nyakitin kembaran gue aja."

Khafi menepuk bahu Rafa kemudian pamit untuk pergi. Ketika lelaki itu sduah tiba di parkiran. Khafa langsung menatap adiknya dengan tajam.

"Kok nggak pamit dulu sih sama Rafa?"

"Lo gausah dukung Rafa! Lo nyadar nggak sih dia itu murid gue?" tanya Khafa dengan ketus.

"Gue nyadar, kok! Ya, kalau Rafa bisa bikin lo bahagia kenapa nggak?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta masa kecil
9.0
Dina dan Arga berbagi masa kecil yang indah sebelum akhirnya terpisah oleh jarak dan ambisi. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di kota besar. Dina kini menjadi desainer gigih, sementara Arga telah bertransformasi menjadi pengusaha sukses. Meski kehidupan mereka telah berubah, perasaan lama yang terpendam perlahan muncul kembali. Di tengah keraguan masa lalu, mereka harus mencari tahu apakah ikatan masa kecil ini adalah jodoh sejati.
Sampul Novel Daddy's Princess (21+)
8.4
Dominic menjalani peran sebagai ayah angkat bagi Bee, namun kehadiran sosok dosen tampan bernama Nathan mulai mengubah dinamika kehidupan mereka. Hubungan ketiganya terjalin dalam narasi penuh emosi yang mendalam dan kompleks. Konflik hati serta ketegangan asmara mewarnai setiap babak perjalanan mereka, membawa pembaca menelusuri sisi dewasa dari sebuah komitmen. Sebuah kisah romansa modern yang menantang batas perasaan antara perlindungan dan cinta.
Sampul Novel Dari Pion Milik Pria, Menjadi Ratu Milik Wanita
9.5
Kania Halim, jurnalis pemberontak, terjebak dalam hubungan rahasia dengan CEO Elang Solehudin. Ternyata, ia hanyalah alat bagi Elang untuk melindungi Clara. Pengkhianatan Elang mencapai puncaknya saat ia membiarkan Kania dipenjara hingga membiarkannya terluka dalam kecelakaan demi menyelamatkan Clara. Sadar hanya menjadi beban yang dikorbankan, Kania bangkit dari kehancuran. Ia menghancurkan dunia Elang dan memulai hidup baru melalui pernikahan dengan miliarder lain.
Sampul Novel Fake Marriage
9.3
Dikhianati calon suaminya tepat sebelum hari bahagia, Lunar melarikan diri hingga sebuah insiden menyeretnya ke dalam pernikahan kontrak dengan Arkan, pebisnis kaya raya. Di sisi lain, Arkan terpaksa membatalkan rencana lamaran bagi kekasihnya demi kesepakatan ini. Saat sandiwara mereka perlahan berubah menjadi perasaan tulus, keduanya terjebak dalam dilema emosi yang rumit. Akankah ikatan palsu ini berakhir menjadi kebahagiaan sejati bagi mereka?
Sampul Novel Kehidupan Edo yang Menakjubkan
9.1
Novel modern Kehidupan Edo yang Menakjubkan menyoroti perjuangan emosional dalam sebuah keluarga. Kakak ipar sang protagonis sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam hidupnya, namun impian tersebut tak kunjung terwujud karena ia kesulitan untuk hamil. Didorong oleh rasa kepedulian yang mendalam, sang protagonis merasa terpanggil dan sangat ingin membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi kakak iparnya tersebut. Kisah romansa ini berfokus pada dinamika hubungan dan keputusan besar demi mewujudkan harapan baru.
Sampul Novel Kendra dan Lukanya
8.6
Kendra dikenal sebagai pemuda bengis yang tidak segan bertindak kasar pada siapa pun. Di sisi lain, ada Lea, gadis cantik dan lugu yang pantang menyerah mengejar cintanya meski terus ditolak mentah-mentah oleh Kendra. Walau Kendra menegaskan tak akan pernah membalas perasaannya, Lea tetap bertahan demi menumbuhkan benih cinta di hati cowok itu. Namun, saat Kendra akhirnya menyadari perasaannya pada Lea, ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa waktunya hampir habis.