
Kepingan Hati
Bab 3
Rafa menatap puas kamarnya yang telah berubah warna menjadi biru langit. Bibir lelaki itu membentuk senyuman, warna ini merupakan warna favorite sang pujaan hati. Apa pun yang di sukai oleh gadis itu, pasti Rafa juga akan belajar menyukainya. Ya, Rafa sebucin itu, memang.
"Wah, kesambet apaan lo, Bang? Sejak zaman apa lo suka warna biru langit begini?"
"Sejak zaman Megalitikum," jawab Rafa asal.
"Ngelawak lo? Kok garing amat kek hidup lo."
Tawa puas itu lolos dari bibir lelaki yang sudah duduk di sebelah Rafa. Rafa mendelik mendengar ucapan adik laknatnya itu. Revan Putra Abintara, merupakan adik lelaki Rafa yang merupakan anak dari ayah sambungnya, Abintara Mahesa.
"Gimana kamar gue sekarang, Van?"
"Biasa aja."
"Ucapan lo bisa nggak sekali aja bikin gue bahagia gitu, Van?"
"Lah, ucapan lo juga sering pedes ke gue, Bang."
"Pergi deh lo dari kamar gue! Males gue liat tampang gak seberapa lo itu," cibir Rafa sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Mata Revan langsung melotot mendengar ucapan pedas dari sang kakak.
"HEH! Lo bilang tampang gue gak seberapa? Nyadar oii, gue ini termasuk jajaran cowok tampan di sekolah!"
"Oh, gitu? Terus kenapa bisa di selingkuhi sebanyak tiga kali? Itu menandakan cewek-cewek males liat muka lo."
Rafa menghina adiknya dengan pedas mencapai 10 level membuat Revan meradang. Dengan gerakan cepat, Revan sudah memukul kepala Rafa.
"Ya Allah, punya Abang kok gini amat sih? Bisa retur Abang nggak sih?" gumam Revan sambil mengelus dadanya sabar.
"Mulut lo, Bang! Makin hari makin pedes aja tuh ucapan. Lo tiap hari makan cabe, yak?"
"Kepo amat lo! Udah sana pergi!" usir Rafa dengan sadisnya.
Revan mendengkus sebal mendapat usiran lagi dari Rafa. Revan menyesal memasuki kamar lelaki yang bermulut sambal itu. Dengan perasaan kesal, Revan melangkah pergi meninggalkan kamar Rafa seraya menutup pintu dengan keras.
***
Sudah dua hari Khafi dicuekin oleh kembarannya sendiri karena masalah lelaki itu menyusul Khafa di cafe. Khafa hanya menatap sekilas kembarannya yang terus saja mengoceh. Khafi yang melihat hal tersebut menghela napas panjang.
"Jangan diem aja dong, Fa! Gue 'kan kemarin udah minta maaf dan lo juga udah maafin gue. Terus, kenapa masih nyuekin gue?"
"Ayolah, nggak baik loh marah-marah begini. Nanti pahala Khafa berkurang gimana? Kalau pahala Khafa berkurang, Khafi nggak mau, ya, ganti rugi," lanjut Khafi dengan wajah lesu.
"Sakit woi, pipi gue!"
Khafa menyentak sambil menghempaskan tangan Khafi yang sibuk menguyel-nguyel pipinya.
"Alhamdulillah, akhirnya Khafa terbebas dari bisu sementara."
Ucapan Khafi barusan, sukses membuat Khafa semakin dongkol. Khafi hanya menyengir kuda melihat raut wajah kembarannya tersebut.
"Jangan marah lagi dong! Baikan, ya," ajak Khafi seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
"Ayo dong, masa gak mau baikan sih?"
Dengan malas, Khafa menautkan kelingkingnya ke jari kelingking adiknya. Khafi tersenyum lebar melihat kelingking mereka bertautan.
"YES, BAIKAN!"
"Biasa aja kali, gausah pakai teriak."
"Ih, lo kok gak bahagia sih kita baikan? Jangan bilang, kalau lo terpaksa ya, Fa. Gue nggak suka pokoknya," ujar Khafi yang sudah berdrama.
"Gausah alay deh! Gue ikhlas baikan sama lo. Udah, ya, gausah pake drama."
Khafi mengerjap dengan lucu. "Beneran ikhlas 'kan, Fa?" tanya Khafi untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ish, jadi orang kagak percayaan amat. Iya, Khafi, iya ... gue ikhlas."
Senyuman Khafi pun mengembang. "Yes! Berarti lo bisa dong nemenin gue kondangan malam ahad besok!" seru Khafi sembari bertepuk tangan girang.
"Eh? Gue belum ada bilang setuju, ya," protes Khafa tak terima.
"Udahlah, lagian kita udah baikan 'kan."
"Ish, cepetan nikah deh lo. Biar ada gandengan yang bisa diajak kondangan."
"Khafa, selagi masih ada lo, ya, gue manfaatin lah," ujar Khafi enteng tanpa beban.
"APA LO BILANG!"
Khafa berteriak kesal. Dengan gerakan cepat Khafi lari terbirit-birit setelah mendengar teriakan maha dahsyat itu.
***
Bola mata Rafa berbinar kala melihat gadis cantik bergamis maroon memasuki gramedia. Tanpa izin ke Revan, ia melenggang pergi menuju sang pujaan hati. Katakan lah, Rafa rindu dengan perempuan tersebut.
"Khafa!" seru Rafa girang membuat sang empu terkejut.
Gadis itu masih syok dengan kehadiran Rafa yang tiba-tiba begini ditambah muridnya itu tak memiliki sopan-santun asal menyebut nama saja.
"Kamu yang sopan sama saya!"
"Saya bukan anak kamu. Jadi, ngapain harus manggil Ibu?" tanya Rafa dengan menyengir kuda.
"Kamu murid saya, Rafa. Otomatis kamu anak didik saya, jadi bersikaplah sopan." Tegas Khafa lengkap dengan tatapan tajam.
"Iya-iya, Ibu Khafa yang terhormat," ucap Rafa dengan senyuman.
"Ibu ngapain di sini?" tanya Rafa berbasa-basi.
Khafa enggan menjawab pertanyaan tak penting dari Rafa karena sudah jelas ini gramedia tentu saja beli buku. Mana mungkin di gramedia membeli bawang, itulah pikirnya.
"Bu Khafa, kita makan siang bersama, yuk. Mumpung weekend loh ini."
Khafa tetap diam dan fokus memilih buku di deretan rak. Khafa sama sekali tidak menganggap keberadaan Rafa yang sedari tadi mengoceh.
"Bu Khafa kok diam aja? Ibu taukan arti diam perempuan itu adalah iya."
Khafa masih tidak menggubris ucapan Rafa, ia malah melenggang pergi dan Rafa turut mengekori gurunya tersebut.
"Ibu mau menikah dengan saya?" tanya Rafa yang di balas diam juga oleh Khafa.
"Oke, fiks! Saya besok kerumah Ibu untuk mengkhitbah Ibu!" serunya girang membuat mata Khafa terbelalak.
"Emangnya saya ada bilang iya? HAH!" pekik Khafa dengan kesal.
"Loh, 'kan sudah saya bilang, Bu diamnya perempuan itu berarti iya. Jadi, itu artinya Ibu mau menikah dengan saya," ucap Rafa dengan percaya diri tinggi.
"Tertolak!" jawab Khafa dengan netra menatap tajam Rafa.
"Ibu jangan terus menolak saya dong. Kalau semesta menginginkan kita bersama gimana? Ibu mana mungkin bisa menentang semesta," terang Rafa dengan cengiran khasnya.
"Saya minta kepada semesta agar tak berjodoh denganmu!"
"Oh, gitu? Oke, deh kita liat saja nanti doa siapa yang dikabulkan oleh Allah dan diridhoi semesta," ucap Rafa dengan sungguh-sungguh.
"Apakah Rafa memang tulus sama gue atau hanya modus ala anak SMA?" batin Khafa bertanya-tanya.
"Sudah bicaranya, Rafa?" tanya Khafa dengan datar.
"Sudah, Bu! Gimana, Ibu terharu nggak saya ngomong gitu?"
Mendengar hal tersebut membuat Khafa berdecak sebal. "Mending kamu jangan ikutin saya dan jangan masuk terlalu dalam ke hidup saya, Rafa," ucap Khafa dengan tegasnya.
"Hah? Mana mungkin saya tidak masuk ke dalam hidup Ibu sedangkan separuh hidup saya Ibu yang menggenggamnya."
"Rafa, saya tidak ABG lagi yang mendengar gombalan mu itu langsung luluh, ya!"
"Idih, sombong amat sih, Bu. Umur Bu Khafa aja masih 23 tahun, gegayaan bilang tidak ABG lagi, huuh."
"Kamu tahu definisi ABG tidak sih, Rafa?" tanya Khafa yang semakin kesal.
"Taulah! Emang saya bodoh banget gitu ya di mata, Ibu?" Rafa bertanya dengan cemberut.
"Sudahlah, saya malas berdebat denganmu. Mending saya pulang daripada berurusan dengan bocah kayak kamu."
Khafa mengerenyit heran menatap Rafa yang malah senyam-senyum dengan sendirinya membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Ibu cepat-cepat mau pulang karena tidak tahan dengan pesona saya? Takut jatuh cinta gitu, ya? Bu, jangan jatuh cinta gimana kalau kita bangun cinta?"
Mata bulat Khafa melebar mendengar ucapan muridnya yang kelewatan percaya diri itu.
Malas mengucapkan kata-kata, Khafa segera beranjak pergi menuju kasir. Mood-nya sudah terjun bebas ke jurang karena bertemu dengan Rafa yang sialnya terlihat tampan hari ini. Wajah Rafa memang tampan paripurna, tetapi bagi Khafa akhlak Rafa nol besar.
Anda Mungkin Juga Suka





