Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kepentok Cinta Sang Idol

Kepentok Cinta Sang Idol

Adara adalah seorang jurnalis yang terjebak dalam masalah besar setelah dituduh menyebarkan rumor negatif tentang Benard, seorang aktor ternama. Kesalahpahaman ini membuat sang idola merasa sangat terganggu dan memojokkan posisi Adara. Namun, situasi justru berkembang ke arah yang tidak terduga saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Kini, Adara harus menghadapi dilema rumit antara karier dan perasaan cintanya kepada sang aktor pujaan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Secangkir kopi di meja menemani pria itu, sesekali ia menyesapnya. Tanpa rokok, dan minuman alkohol di depannya.

Artis yang baru saja naik daun itu mengambil sela-sela waktu luang unfik memainkan game drumnya yang berada di ponselnya sendiri supaya tidak merasa jenuh.

Tangannya merogoh ke saku, dia baru menyadari kalau dompetnya sudah tidak ada di saku miliknya.

"Dompetku dimana?" gumamnya meraba sakunya, matanya melihat ke kanan dan kiri untuk mencari barang berharga itu. Tidak ada di sekitarnya. Lantas, dompetnya sekarang di mana?

"Shit! Jangan-jangan?" ucapannya tergantung saat mengingat kalau dirinya tadi berlari-lari di jalanan. Bisa jadi dompetnya jatuh di sekitar sana.

"Aish!" Pria itu mengacak rambutnya sekilas, ia menelpon Asistennya untuk menyuruhnya mencari dompet yang hilang.

"Ronald, bisakah kau mencarikan dompetku?"

'Di mana? Biar aku carikan. Kebetulan aku masih di perjalanan kantor.'

"Di jalan Mawar, tadi aku sempat kepergok dengan penggemarku di sana."

'Lagian itu salahmu sendiri, aku akan mencarikan dompetmu,' ucap Ronald sebelum dirinya menutup ponselnya. Ronald ini adalah Asisten pribadinya, dia sangat setia menemani Benard dari nol sampai sekarang.

Benard menghela napasnya, tubuhnya di sandarkan di sofa. Matanya terpejam, tiba-tiba saja ia menguap pelan. Sepertinya, dia butuh istirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatannya nanti.

Selang 30 menit lebih, akhirnya Asisten yang di maksud tadi sampai di kantornya atau studio yang dibuat untuk latihan untuknya.

Ronald menatapnya tidak tega, ia meletakkan makanannya di meja yang berada di sana. 

"Benard!" Ronald menepuk pelan bahu Benard, sehingga membuat pria itu terlonjak kaget. 

"Ahh--shh, so--sorry aku ketiduran tad."

Benard menghela napasnya, wajahnya diusap sekilas untuk menyadarkan dirinya sendiri. Pria itu melirik makanan yang sudah berada di mejanya. 

"Dompetnya tidak ketemu, kau bawa  ke mana saja coba heum?" tanya Ronald menduduki sofa di samping Benard.

"Kalau aku tau pasti aku sudah mengambilnya," desis Benard pelan, kemudian membuka bingkisan yang diberikan oleh Ronald.

"Kau yang membelinya?" tanya Benard sesekali melirik Ronald. Pria yang disampingnya hanya mengangguk kecil, pertanda dirinya mengiyakannya.

"Lagipula kau juga pasti belum makan kan?"

Benard menganggukkan kepalanya dengan pelan, dugaan Ronald memang benar dirinya belum makan. 

"Setelah makan kita keluar dari sini, sesekali mencari angin. Daripada kau mengurung diri di kantor."

Benard memakan spagetinya dengan pelan, sesekali meminum jus jeruk yang sudah di belikan oleh Ronald tadi. 

"Aku sudah mencobanya tadi, tapi gagal," dengkusnya, sambil mengunyah makanannya. Sudut matanya melirik ke Asistennya itu. 

Ronald hanya mendecih pelan, sepertinya Benard sudah gila. Berlari dari serbuan wartawan penggemarnya dan pergi tanpa dirinya. 

"Kau sudah makan?"

Ronald mengerutkan keningnya. "Sudah."

"Yakin?"

Ronald menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Serius, aku sudah makan tadi sebelum pergi ke sini."

Benard hanya berdehem. Lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda. 

Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kantornya. Dengan memakai masker dan juga topi untuk menutupi wajah supaya tidak ada yang mengenalnya.

***

Pantai Hongdae-Pukul 15.00

Ronald membantu membuka pintu untuk Benard. Segera Benard keluar dari mobil tersebut setelah sampai di salah satu resort yang mempunyai fasilitas lengkap dan tentunya dekat dengan Pantai Hongdae. Mereka berjalan menelusuri lobi. Ternyata benar karyawan di sini sudah mengenalnya, dan untungnya resort ini sudah dibayar penuh oleh Ronald.

Pegawai di sana menyapanya dengan senyuman, dan mereka juga membalas dengan senyuman. Bukan hanya damai, tetapi di sini orangnya juga ramah. 

"Aku tidak yakin kalau mereka tidak mengenaliku di sini."

Ronald fokus dengan dengan ponselnya. "Aku sudah menyewa tempat ini untukmu, dan seratus persen aman buatmu. Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi," ujar Ronald diselingi dengan senyumannya. 

"Kau serius?" tanya Benard meyakinkan dirinya sendiri. Ronald hanya mengangguk mantap. 

"Sebenarnya sih kau juga ada panggilan, buat dijadikan model di salah satu produk."

"Di mana? Sekarang?"

Ronald menggelengkan kepala nya. "Besok, di sini."

Benard menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kita sekalian menginap saja di sini."

"Dua hari?" tanya Ronald, menjajarkan jalannya dengan pria itu. 

"Iya." Ronald menganggukkan kepalanya paham.

"Silahkan ke sini, Tuan Benard," kata salah satu karyawan  yang berada di sana. 

Benard melihat ke sekitar, menurutnya disini penginapan yang sangat unik. Dia memang sering menginap di mana-mana, tapi ini adalah tempat yang berbeda dengan penginapan lainnya. 

Di sana terdapat sarana yang sangat lengkap, terutama kolam renang, taman, dan juga tempat berbelanja. Di tambah dengan suasana pantai yang tidak jauh di sana. 

Benard terhenti di depan kamarnya, sekilas ia memberi senyuman kepada karyawan tadi yang sudah mengantarkannya. "Thankyou," ujarnya sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.

"Iya, saya balik dulu. Tuan." Karyawan itu membungkukkan 90 derajat, sebelum dirinya pergi dari tempat itu. Benard hanya tersenyum lembut.

Di dalam kamarnya, ternyata bisa menatap pemandangan pantai tanpa keluar.

Kemeja yang dikenakannya di buka dan digantungkan di gantungan sana. Ronald, sudah sibuk di luar dengan karyawan. Entah apa yang mereka bicarakan, Benard tidak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah tidur. 

Matanya dipejamkan, dan menikmati AC di dalam sana. Dan lama kelamaan akhirnya pria itu tertidur dengan lelap.

***

Dilain sisi, Adara yang sedang membantu Ibunya membuat kue di rumah sederhana itu. Kue itu bukan di makan sendiri, melainkan di jual untuk orang-orang yang menginginkannya.

"Sudah selesai, Bu," ujar Adara sambil meletakkan kardus yang di dalamnya terdapat kue.

"Oh ya, kue itu kirim ke alamat ini, ya." Ibu Lastri memberi sebuah kertas yang bertulisan alamat restoran yang jauh dari tempatnya. 

Adara membaca alamatnya, tanpa menolak sedikitpun ia langsung pergi dengan motor kesayangannya, sebelum itu Adara pamitan dengan Ibunya.

"Alamatnya jauh sekali, huft …." Adara menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu menambah kecepatan motornya supaya dirinya cepat sampai di tempatnya, tetapi setidaknya jualan Ibu Lastri bisa terkenal dan bisa cepat habis. Lebih baik seperti itu.

Beberapa jam kemudian~

Akhirnya gadis itu sampai di depan restoran tersebut. Wajahnya tercengo ketika melihat restoran yang begitu mewah. Jujur saja, dirinya baru sekali ini masuk ke dalam sini.

"Selamat pagi, Nona. Apa bisa saya bantu?" tanya salah satu resepsionis yang berada di tempat sana. Tentunya suara itu membuat gadis itu sedikit shock, lalu dia menganggukkan kepalanya. 

"I--ini. Saya mau mengantarkan kue yang sudah di pesan." Adara memperlihatkan kertas alamatnya. 

"Ohh-- Nona masuk saja. Cari kamar nomor 105. Tadi dia berpesan pada saya."

Adara mengangguk kecil, gadis itu melanjutkan jalannya ke lobi tersebut. 

"Kamar 105, di sini ya?" ujar Adara sambil celingak-celinguk ke sekitar supaya tidak salah kamar.  Tanpa basa-basi Adara mengetuk pintunya, tidak ada jawaban apapun.

"Ckk, jangan bilang orangnya keluar," gerutunya dengan nada pelan.

Tok! Tok!

"Permisi! Tuan!" teriak Adara dengan nada keras.  Lima menit, tidak ada yang membukanya bahkan tidak ada yang menjawabnya.

"Ke mana sih orangnya?" gumam Adara dengan nada kesalnya, sesekali ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 16.30.

Adara menghela napasnya, dengan nada kesalnya ia duduk di depan pintu tersebut.

Setengah jam kemudian, gadis itu masih menunggu di depan pintu. Tiba-tiba saja ada seseorang yang membukanya, siapa lagi kalau bukan Benard. Sontak, membuat wanita itu shock, lalu dirinya cepat-cepat untuk berdiri.

"Tuan ini--" Belum saja gadis itu memberi bingkisannya, tetapi dia terdiam di tempat saat melihat pria yang berada di hadapannya kini telanjang dada.

"Aaaa!!!!" jerit Adara dengan keras begitupun pria itu. "Mau apa kau hah!" teriaknya sambil menutup wajahnya pakai sebelah tangan.

Tapi pria itu tidak meresponnya, tanpa basa-basi pria itu menutup pintunya.

Brakk!

"Sial, kenapa ada orang di sini, jangan bilang dia sasaeng?" gumam pria tersebut. Tanpa basa-basi pria itu mencari kaos di lemari dan memakainya. Setelah itu, dirinya keluar kembali untuk menemui Adara kembali.

"Kenapa balik lagi hah!" ucap Adara dengan nada tinggi, wajahnya masih tertutup dengan tangannya.

Pria itu mendengus pelan, lalu mengambil bingkisannya tadi. "Buka matamu."

Adara terdiam sejenak, lalu mengintip dari sela-sela jarinya. Ia melirik dari sudut matanya, ternyata pria itu sudah memakai baju.

"Lagian, kenapa kau tidak memakai baju hah! Takut kehabisan pakaian di sini! Atau bagaimana!" ucap Adara dengan nada tidak terima.

Benard mengerutkan keningnya, matanya dipicingkan menatap gadis yang berada di hadapannya ini, sedikit meringis kecil sembari bersedekap dada.

"Sebentar? Sepertinya wajahmu tidak asing?" ucap Benard dengan wajah polosnya. Sesekali ia melihat dari bawah ke atas.

Adara terdiam, melihat wajah Benard dengan seksama. Mulutnya seketika berbentuk huruf O. 

"K--kau?" ujar Adara sambil menunjuk ke wajah Benard. 

"Kenapa kau berada di sini!"

"Harusnya aku yang tanya kepadamu!?" ucap Benard tidak kalah keras daripada gadis itu.

"A--aku?" ujar Adara sambil menunjuk dirinya sendiri. Pandangannya ke mana-mana, sekilas ia melirik bingkisan tersebut. Kenapa gadis itu mulai linglung saat berada di depan pria ini.

"Mau-- mengantarkan kue itu! Mana kuenya!" Adara hendak mengambilnya, tetapi Benard menghindarkan bingkisan tersebut.

"Bingkisan ini sudah jadi milikku," ucap Benard dengan tersenyum lebar. 

"Hei! I--itu punya orang!" Benard memutarkan tubuh Adara, lalu mendorongnya supaya pergi dari tempat ini.

"Terima kasih!" teriak Benard, sebelum pintunya di tutup.

Brakk!

Matanya membulat, ia langsung balik badan lagi. Langsung saja ia menggedor pintu tersebut dengan keras.

"Hei! Kau belum membayarnya!" teriak Adara dengan keras. 

"Pria gila! Bagaimana bisa kau bisa mengambil makananku tanpa membayar!" lanjutnya, masih setia mengetuk pintu tersebut dengan keras. Demi apapun, cuma pria ini yang membuat gadis ini naik darah. 

"Hei! Buka pintunya!" teriak Adara dengan sangat keras.  Pintunya terbuka, pria itu langsung meletakkan uang 200 ke kening Adara.

"Sudah aku bayar, kan? Lebih baik kau kau pergi dari sini."

Adara terdiam, tangannya meraba ke kening untuk mengambil uang tersebut. Mata Adara di lebarkan, dengan wajah kesalnya ia melangkah pergi dari tempat itu. 

Sesekali gadis itu melirik ke belakang, sambil menjulurkan lidahnya ke belakang.

Tanpa Benard sadari, dirinya terkekeh kecil melihat tingkah Adara barusan. "Dasar, tidak punya urat malu," ujar Benard sambil menggelengkan kepalanya, sebelum dirinya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. 

Benard membuka kardus yang berisi kue tersebut, lalu mencicipi kue tersebut dengan hati-hati. 

"Ternyata enak juga, apa gadis itu yang membuatnya?" gumam Benard, sejenak menikmati kue yang dimakannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Cinta Romantis di IKN
9.1
Aiden, arsitek ambisius di proyek IKN, bertemu Clara, aktivis lingkungan yang gigih. Meski awalnya berselisih paham, kerja sama dalam pembangunan hijau justru menumbuhkan perasaan di antara mereka. Konflik prinsip sempat menguji hubungan ini, namun mereka belajar saling menghargai. Saat tawaran karier di luar kota dan luar negeri muncul, keduanya harus memilih. Akhirnya, mereka tetap di IKN demi cinta dan visi lingkungan, membangun masa depan bersama di ibu kota baru.
Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
9.6
Hidup eksekutif muda Davina Hadinata hancur setelah menjalin hubungan dengan Aria Wardana yang ternyata beristri. Aria memfitnahnya hingga ia menganggur, sementara bisnis ayahnya bangkrut akibat skandal sang kakak. Tragedi memuncak saat istri Aria bunuh diri, memicu dendam Rajata Bagaskara. Rajata menodai Vina hingga hamil sebagai balasan atas kehilangan keponakannya. Di tengah penderitaan dan kemiskinan, Vina berjuang bertahan hidup demi harapan yang tersisa.
Sampul Novel Crazy In Love  (Katharine)
9.2
Pasca kematian Alex Wolff di medan tempur, Katharine terpaksa menjadi orang tua tunggal bagi putra kecilnya. Di tengah duka, muncul Warren Cook, pria misterius bermata satu yang mengaku sebagai sahabat karib mendiang suaminya. Secara mengejutkan, Warren melamar Katharine dengan janji kebahagiaan. Demi masa depan sang anak, Katharine menerima pinangan pria asing tersebut. Namun, kecurigaan menyelimuti hatinya. Siapa sebenarnya Warren dan apa motif tersembunyinya?
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey
8.9
Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Sampul Novel Gelora Berbahaya Sang Pengacara
9.8
Demi melunasi utang orang tuanya kepada mucikari, Madona nekat menjebak pengacara bernama Ardan demi uang 500 juta rupiah. Namun, rencana tersebut berbalik menjadi petaka bagi Madona saat video skandal mereka justru membawanya ke dalam masalah besar. Alih-alih mendapatkan harta, ia justru terkurung di kediaman Ardan. Di tengah situasi penuh tekanan ini, akankah benih cinta mulai tumbuh, ataukah hanya rasa benci yang akan mewarnai hubungan mereka?
Sampul Novel KERESEK HITAM DALAM FREEZER
7.9
Kehidupan Tedi berubah mencekam saat ia menemukan bungkusan kresek hitam berisi jasad bayi di dalam freezer kulkasnya sendiri. Alih-alih melapor ke pihak berwajib, Tedi justru memilih untuk menyimpan rahasia mengerikan tersebut dan bertekad memburu sosok di balik tindakan keji ini secara mandiri. Mampukah ia mengungkap identitas pelaku sebenarnya sebelum segalanya terlambat? Sebuah kisah misteri penuh ketegangan tentang pencarian keadilan yang gelap.