Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kepentok Cinta Sang Idol

Kepentok Cinta Sang Idol

Adara adalah seorang jurnalis yang terjebak dalam masalah besar setelah dituduh menyebarkan rumor negatif tentang Benard, seorang aktor ternama. Kesalahpahaman ini membuat sang idola merasa sangat terganggu dan memojokkan posisi Adara. Namun, situasi justru berkembang ke arah yang tidak terduga saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Kini, Adara harus menghadapi dilema rumit antara karier dan perasaan cintanya kepada sang aktor pujaan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Selamat malam, Tuan Benard," ucap wanita berparuh baya tersebut dengan sopan. Dia menjabat tangannya ke Benard, lalu pria itu membalas jabatanya.

"Selamat malam juga, Nyonya," ucap Benard dengan sangat lembut.

"Ternyata kau sangat ramah juga ya."

"Terima kasih sudah datang di ulang tahun putriku, dia sangat mengidolakanmu. Jadi, saya sebagai orang tuannya harus mengikuti permintaan dia," ucap Ayah dari Kitty.

"A--ah bisa saja." Benard sempat terkekeh kecil, mendengar pembicaraan dari mereka. Sebenarnya dia juga kaget karena acara mendadak pada malam hari ini juga, padahal dia juga barusan pulang dari liburannya. Seharusnya dirinya juga harus istirahat untuk kerja besok. Tapi bagaimana lagi, ini sudah jadwal dari menegernya.

"Sebentar lagi akan dimulai, apa bisa aku buka terlebih dahulu?" tanya Ronald kepada mereka.

"Ah ya ... silakan?" Ayahnya mempersilahkan Benard untuk naik ke atas panggung kecil yang sudah disediakan untuk menghibur orang-orang yang sudah di undangnya.

Hari semakin malam, pemotongan kue pun selesai. Semua fokus dengan kegiatan masing-masing. Ada yang memakan makanan yang berada di sana, mengambil gambar, dan juga tertawa bersama. Berbeda dengan gadis kecil yang berada di meja sambil memotret makanan tidak jelas.

"Kayaknya enak, tapi sayang Mama tidak pernah mau membelikan aku kue yang aku mau," ucap gadis tersebut sambil mengerucutkan bibirnya. Dia terus berjalan sembari memakan cupcakenya. Dia mendengar suara hp-nya berbunyi lalu mengambil untuk melihatnya.

Mata Adara terbelalak saat membaca email masuk dari kantor yang di masuki oleh Adara kemarin, bukan kantor yang menolaknya waktu itu, melainkan kantor lainnya.

"Uhuk! Apa ini serius?" Adara tidak percaya kalau dia akan diterima dikantor tersebut. Ia bersorak sambil meloncat kegirangan.

Semua terdiam, pandangan mereka tertuju ke Adara, sepertinya dirinya memang sudah gila berteriak di depan publick.

"Kakak! Bikin malu Kitty aja ih-" teriak Kitty sambil menarik tangan Adara kebelakang dengan cepat.

"Eh, Dik?" Adara mengikuti adiknya tersebut.

Dik?

Ya, Kitty adalah Adik Adara. Dia masih berumur 17 tahun selisih sedikit dengannya. Meskipun dia sudah tua, tetapi mereka seperti saudara yang sangat akur.

Gadis itu? Gumam Benard saat melihat Adara yang berada tidak jauh dari tempatnya.

"Siapa gadis tadi? Aku sepertinya pernah melihatnya," tanya Benard basa-basi ke Ronald dengan tatapan tanda tanya. Ronald menaikkan bahunya, seakan dia tidak tau. Ya, memang dia sebenarnya tidak tau sih.

"Eh maaf Tuan, tadi Anak saya yang paling tua. Mungkin dia kehabisan obatnya." Ayah Kitty mengelak. Benard menautkan alisnya lalu mengangguk paham.

"No problem."

Benard segera naik ke tempat yang sudah tersediakan dan melakukan perfom beberapa lagu untuk mereka yang masih berada di tempat tersebut. Alunan piano terdengar merdu di telinga mereka terutama Adara.

Suara itu terdengar sangat lembut, dan pastinya sangat menghayati.

"Kak, Kak Benard tampan sekali sumpah," ucap Kitty memandangi Benard dari bawah panggung.

Benard? Pria? ah-- pria kemarin itu? Gumam Adara sambil menatap ke arah panggung.

"Oh ya! Benar kenapa aku baru menyadarinya," umam Adara sambil meneguk salifanya. Wajahnya bersemu merah.

Kenapa dia berada di sini! Aduh, aku sangat malu kalau mengingat kejadian-- batin Adara, dia merngis kecil ketika mengingat waktu dirinya melihat tubuhnya tanpa sehelai kain di badannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, untuk mengusir ingatan tidak jelas itu.

I give you all, all of me

And you give me all, all of you

[Bruno Mars_All Off Me]

"Tapi, kalau dilihat dia sangat tampan juga. Suaranya juga bagus banget! Tapi-- sikapnya ahh-- tidak bisa tata krama," ucap Adara dalam hati kecilnya.

"Kak lihat deh dia udah lembut, tampan, mutitalent. Tau tidak? dia itu jago bermain alat musik apapun. Pokoknya Perfect! Apalagi ya, dia dari agensi yang terbilang sangat terkenal!" ucap Kitty sambil tersenyum tidak jelas menatap Benard yang berada di panggung sana.

Adara yang melihat Kitty hanya bergidik geli, sembali memutarkan bolamatanya. Rasanya bulu kuduk Adara ingin berdiri.

"Kamu sama aja gilanya seperti dia," ucapnya dengan cepat. Dia terus memandangi Benard yang masih berada diatas sana.

Adara diam-diam melangkah pergi dari samping Kitty.

"Eh, Kak! Mau ke mana?"

Adara tidak meresponnya. Dia berlari ke belakang. Diam-diam dia mengambil videonya serta gambar dari Benard.

"Bagus," gumam Adara.

"Huh akhirnya, acaranya sudah selesai hoamm ...." ucap Adara sambil diselingi dengan uapannya. Matanya sudah sangat berat, yang dia inginkan sekarang adalah tidur dikasur kesayangannya.

"Adara, bantu Mama tutup pintu yah kalau sudah sepi! Mama capek ingin tidur," teriak Mama Sherly, selaku Mama Adara.

"Ayah juga, selamat malam putri cantiknya Ayah." Ucapan Mama dan Ayahnya membuat langkah Adara terhenti. Mereka menuju kearah kamarnya masing-masing. Kitty? Dia masih bercengkrama dengan temannya.

"Ayah Mama!" rengek Adara, dia terlihat sangat kesal. Kakinya dihentakin sambil menggerutu tidak jelas.

Menyebalkan! Batin Adara, mukanya sangat kusut, bukan hanya mukanya pakaian yang dia kenakan juga sangat kusut. Dia melangkah kedepan teras rumahnya lalu menyender diambang pintu. Kenapa tidak menyuruh Kitty? Toh, dia juga masih ngobrol sama temannya.

Dia terus menguap, matanya hampir tertutup. "Sial banget," gerutunya.

"Mau apa kau di sini, hah?"

"Aku mau bertemu sama kamu, Benard. Aku merindukanmu." ucap wanita tersebut dengan rengekan manjanya.

"Bisa lepas!"

"Tidak!"

Suara bisingan itu membuat telinga Adar memanas. "Berisik sekali, siapa sih!"

Adara mencari sumber suara tersebut, meskipun matanya sudah berat untuknya.

Terdapat sepasang kekasih yang sedang bertemu disamping rumahnya. Nampaknya tidak asing, Adara memincingkan matanya, kenapa mereka masih di sini tidak mencari tempat lain, kenapa harus disini. Ia berdecak pelan.

Dia masih penasaran dengan pria gila tersebut. Pria itu terlihat mendekat kearah gadis tersebut.

Apa jangan-jangan dia mau cabul? Mata Adara membulat ketika jangka mereka terlalu dekat.

"Tidak bisa dibiarin, lihat aja," ucap Adara pelan.  Tanpa mereka sadari dia mengambil gambar mereka secara diam-diam.

Adara melangkahkan kakinya dengan sangat pelan sambil melihat hasil gambar mereka.

"Hei, kau tau Benard?" tanya Ronald tiba-tiba, membuat Adara terhenti melihat gambar di kamrea tersebut, lalu menatap pria yang sempat mengagetkannya tadi.

"Be--benard?" Adara menerjapkan matanya seolah-olah dia bodoh.

"Di- dia ...." Kepala Adara di gelengan dengan cepat dan menahan rasa gugupnya.

"Hei, maaf menunggu lama," ucap seseorang dari belakang Adara, siapa lagi bukan Benard. Tubuh Adara menegang ketika terdengar suara yang familiar di telingannya, sesekali menggerutu di dalam benaknya.

Aduh, kenapa pas banget, batin Adara.

"Kenapa kamu sama perempuan ini? Kekasihmu?" Benard mengerutkan keningnya, menatap Adara dengan wajah penasaran.

Adara berbalik arah, lalu menatap Benard dengan tampang tidak bersalah, tidak lupa dengan cengiran khasnya.

"Kau? Dari kapan kau di sini?!" mata Benard membulat ketika melihat Adara bersama dengan Asistennya. Benard manatap Ronald, dia ingin dijelaskan olehnya.

"Hai, Benard." Adara melambaikan tangannya, sebenarnya didalam hati kecilnya dia sangat muak bahkan ingin muntah ketika dirinya sok baik padanya.

Benard menyunggingkan senyumannya. Dia fokus ke tangan Adara. Menatap dengan penuh selidik.

"Hmmm." Benard berdehem dengan pelan. Lalu melirik wanita tadi yang sedari tadi membututi Benard, sekilas ia menghela napasnya dengan pelan.

"Ronald, bawa wanita itu pulang. Aku ada urusan sebentar." Benard menyuruh Ronald, tetapi wanita itu tidak terima atas perlakuannya, karena wanita itu ingin bertemu dengan Benard.

"T-tapi Benard!?" ujar wanita itu sesekali melirik Adara tidak suka.

"Eh hehe, sepertinya aku harus masuk. Hoam ... Lagian aku juga mengantuk. Dah ah--" Adara membalikkan badannya lalu berjalan layaknya seorang maling.

"Tunggu! Kau tetap di sini."

"Aduh! Pria gila ini. Mau ngapain, sih," gumam Adara membalikkan padanya lalu menyengir kuda.

"Aku tunggu di mobil, ayo Alexa." Ronald menuntun wanita tersebut.

"Eh Benard, aku be ..."

Ronald segera menarik wanita itu ke mobilnya. Sebenarnya wanita itu sempat memberontak karena ingin lepas dari Ronald. Namun nihil, kekuatan Ronald lebih besar dari wanita tersebut.

Benard terdiam sejenak lalu menatap Adara yang kini sedang terdiam.

"Di belakangmu itu apa?"

"Hah? Apa?" Adara menaikan kepalanya, lalu menatap Benard.

"Itu barang yang dibelakangmu. Coba biar ku lihat." Benard melangkah ke belakang Adara. Namun, Adara terus menghalanginnya.

"A--aniya. Cepat pergi!"

"Ani, sebelum aku lihat barangmu itu." Benard terhenti lalu menatap Adara dengan tatapan tajam.

"Apa hah! Tidak ada!" Adara bergegas untuk membalik badannya.

"Ehh!"

Ketika Adara berbalik arah, dia tidak menyadarinnya kalau dibelakangnya itu tembok bukan pintu masuk. Untungnya, Benard segera menahan keningnya dengan tangan supaya tidak terlalu sakit karena ulahnya sendiri.

Pria itu sempat meringis ketika Adara sempat melukai kepalanya sendiri.

"Teledor banget."

"Kurang baik apa aku sudah membantumu," lanjutnya.

Adara mencebikkan mulutnya dengan kesal, lalu menghela napas sekilas.

Dengan cepat dia membalik badannya, dia sempat ingin memukulnya. Dengan sigap, tangan Adara ditahan olehnya.

"Mau apa?"

Adara terdiam, dan juga sempat shock ketika muka Benard sudah berada asli didepannya.

Hening...

Mata mereka bertemu, dan napas saling bersautan. Tidak ada suara diantara keduannya. Kecuali, suara hembusan napas mereka.

"Deg! deg!"

"Kalau jalan itu harusnya pakai mata jangan pakai pake kaki. Dasar, apa kau buta heum?" ucap Benard menoyor kening Adara.

Mata Adara sempat membulat, ketika pria di depannya ini bilanh dirinya buta? Sekilas sambil mencebikkan bibirnya dengan kesal.

"Apa? Bilang terimakasih dulu sama aku."

"Tidak, aku tidak akan berterimakasih dengan maling kue." Adara melanjutkan jalannya dan tentunya dia tidak akan menabrak pintunya lagi. Sedangkan Benard hanya terkekeh kecil melihat tingkah gadis itu.

"Sakit," gumam Adara sambil mengusap keningnya dan melangkah untuk masuk kedalam rumahnya. Tidak lupa dia menutup pintunya sebelum itu.

Dia terus menguap, kali ini matanya tidak bisa dibuka lagi.

"Cklekk!" pintunya terbuka lagi, Adara menatap Kitty yang sudah di dalam.

"Kakak! Coba tebak..."

"Udah Kitty ah, besok Kakak harus kerja. Kakak ngantuk sekarang bye--" Adara memaksa Adiknya itu keluar, lalu mengunci pintunya.

Brakk!

Pintu kamarpun tertutup, lalu gadis itu menghempaskan tubuhnya untuk beristirahat untuk malam ini.

Adara membuka matanya kembali untuk mengecek hasil gambar tadi.

Blush! Lagi-lagi pipinya memerah kalau mengingat kejadian tadi. Bukan hanya sekali tapi dua kali dia menatap dekat wajah Benard. Ia menepis pikiran kotor yang ada diotaknya, semoga saja hari in hari terakhir bertemu dengan Benard.

Ia melihat kamera yang tadinya sempat mengambil gambar dari mereka.

"Siapa wanita ini?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FVJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FVJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika
9.3
Kisah ini ditujukan bagi pembaca dewasa yang mampu menggunakan logika secara mendalam. Dalam dinamika asmara, cinta dan birahi sering kali muncul melampaui nalar manusia. Mengapa fenomena ini terjadi? Ikuti narasi ini hingga tuntas agar Anda tidak melewatkan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan sampai menyesal karena berhenti di tengah jalan, sebab setiap babnya menawarkan sudut pandang penting agar Anda tidak menjadi pembaca yang merugi.
Sampul Novel Can You See Me?
8.6
Rallin Natasha dikenal sebagai siswi populer di SMA Grand Nusa yang tampak selalu ceria. Namun, di balik senyumnya, ia menyimpan luka akibat kebencian keluarga atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Kehilangan sosok berharga dan perjuangan mengejar cinta yang tak terbalas menambah beban hidupnya. Di tengah penderitaan yang disembunyikan dari dunia, Rallin merasa lelah dan mulai mempertanyakan apakah ia bisa segera pulang ke pelukan Tuhan.
Sampul Novel Gairah Liar Binor Kesepian
8.8
Sita adalah wanita lugu di pelosok Cianjur yang hidupnya sangat tertutup bahkan setelah menikah melalui perjodohan. Jarang bersosialisasi membuat Sita tidak mengenal dunia luar, termasuk kurangnya edukasi seksual. Kondisi ini membuat suaminya, Danu, merasa kecewa karena sikap Sita yang sangat pasif saat di ranjang. Ketidaktahuan Sita soal gairah dan hubungan intim diduga menjadi penyebab mereka sulit mendapatkan keturunan meski sudah lama membina rumah tangga.
Sampul Novel Gairah Liar Dibalik Jilbab
8.7
Suasana menegang saat Arman menunjukkan hasrat terpendamnya sebelum berangkat ke Jakarta. Sang ibu terkejut ketika putranya itu mendesak dan menciumnya di atas ranjang. Meski sempat menolak dan mengingatkan tentang dosa serta hubungan darah mereka, sentuhan lembut Arman justru membangkitkan gairah yang belum pernah ia rasakan dari suaminya. Perlawanan sang ibu perlahan melemah saat ia mulai terhanyut dalam sensasi nikmat yang diberikan oleh anaknya sendiri.
Sampul Novel Ketika Dendam Berbicara
9.0
Tiga tahun membina rumah tangga, sang suami akhirnya berhasil menciptakan obat khusus demi menyembuhkan migrain bawaan istrinya, Nadya. Namun, niat tulus mengantarkan obat itu ke kantor justru berujung petaka. Di sana, seorang sekretaris malah menuduhnya sebagai selingkuhan yang mencoba menggoda atasannya. Pakaiannya disobek, makanan tumpah di kepalanya, dan obat berharga itu diinjak-injak hingga hancur. Fitnah keji ini dilaporkan kepada sang istri sebagai sebuah prestasi, memicu konflik tajam yang menguji hubungan mereka.
Sampul Novel KISAH PANAS STEWART RANZO
8.0
Ranzo menavigasi perjalanan hidup yang penuh gejolak emosi dan hasrat mendalam saat ia beranjak dewasa. Dalam pencarian cinta sejati, pria tampan ini terlibat dalam berbagai hubungan romantis dan pengalaman ranjang yang mendebarkan dengan beragam wanita unik. Setiap pertemuan membawa tantangan baru bagi Ranzo. Akankah keberuntungan terus menemaninya di tengah intrik asmara yang panas? Temukan kisah fiktif khusus dewasa ini yang mengupas tuntas liku-liku pencarian jati diri.