
Kendra dan Lukanya
Bab 3
Gak usah senyum, senyum
lo jelek! -Kendra-
Kendra terdiam menutup kencang pintu kamarnya, berjalan santai menuju balkon dengan sebotol wine ditangannya.
"KALAU MAMA BISA AJARIN KENDRA!! INI SEMUA NGGAK AKAN TERJADI, ANAK KESAYANGAN KAMU ITU NGGAK AKAN BERANDAL SEPERTI ITU!"
Kendra berusaha menutup rapat-rapat telinganya mendengar teriakan, bentakan, pertengkaran dari orang tuanya.
Asap mengepul dari mulutnya, dia berusaha menutup rapat telinganya berusaha untuk tidak mendengar pertengkaran itu.
Prank!
Kendra tetap diam mendengar keributan itu, suara pecahan kaca tidak sama sekali membuatnya turun untuk menghentikan semua itu, karena itu semua percuma!
Kendra meneguk wine itu dengan ugal-ugalan, tanpa sadar satu botol wine itu telah dia habiskan.
Sampai pertengkaran itu tak lagi terdengar dan dia mulai mendengar tangisan mamanya, hal itu sangat menyesakkan dadanya, namun dia hanya diam. Kendra terkekeh pelan.
"Sampai kapan? Gak ada habisnya mereka berantem. Dari gue kecil sampai gue sebesar ini, mereka bahkan nggak perduli gimana perasaan gue. Egois!"
Air matanya mengalir begitu saja, dia meremas rambutnya merasa lelah dengan semua ini, dia muak!
"Gue capek Tuhan, gue capek sama hidup gue. Gue cuma pingin mereka bisa ngertiin gue, gue pingin keluarga yang bahagia, gue pingin di sayang sama orang tua gue. Gue pingin kayak temen-temen gue, di semangati, di support, di banggain, dan diperhatiin."
"Mereka, selalu nuntut gue buat bisa dalam segala hal, tapi mereka nggak ada dalam proses itu, mereka nggak nemenin gue. Mereka cuma nyuruh gue, belajar dan terus belajar sampai kepala sakit. Dan di saat gue berhasil, gak ada satu kata pun kata bangga dari mereka, pujian atau semacamnya."
"Gue gak mau dipuji, gue cuma mau dihargai. Dan di saat gue gagal, yang seharusnya kebanyakan orang tua support kasih dukungan buat anaknya bangkit, tapi itu semua nggak berlaku buat orang tua gue. Orang tua gue pasti akan mukul gue, ambil motor gue, dan kurung gue di rumah selama sebulan."
"Bukannya gue semangat yang ada gue pingin cepet-cepet ketemu Tuhan!" Kendra mengusap kasar air matanya, dia bangkit mengambil kunci motornya dan keluar dari rumahnya.
"KENDRA, MAU KEMANA KAMU!" teriakan suara itu berasa dari mamanya yang tengah menangis di ruang tamu.
"Keluar." Kendra berucap acuh dan segera pergi tak perduli dengan makian, atau umpatan yang keluar dari bibir mamanya.
"ANAK NGGAK TAU DIRI, MASUK KAMAR SEKARANG KENDRA! HARUSNYA KAMU ITU BELAJAR BUKAN MALAH KELUYURAN NGGAK JELAS KAYAK GITU!" sentak Kiara, mama Kendra yang tentu saja dia dengar.
Namun Kendra acuh, dia tetep memilih pergi dari rumah itu. Kendra melajukan motornya dengan ugal-ugalan, dia seolah tak perduli dengan nyawanya yang kapan saja bisa melayang.
Kendra menghentikan motornya, di markas tongkrongannya dengan teman-teman. Dia keluar dengan wajah yang di bilang tidak baik-baik saja.
"Woi, akhirnya lo datang juga!" ucap salah satu teman Kendra, Evan.
"Kenapa muka lo?" tanyanya. Setelah melihat wajah Evan yang babak belur.
"Dikeroyok anak sebelah, gue tadi gak sengaja lewat depan tongkrongan mereka, gue dicegat dan dihajar sama mereka semua!" adunya.
"Shit! Pengecut!" umpat Kendra kesal, dia mengepalkan tangannya kuat tak terima dengan apa yang menimpa anggotanya.
"Dan tadi dia nantangin lo balapan. Katanya kalau lo kalah, kita semua akan mereka habisin!" ucapnya kembali.
Kendra tersenyum miring mendengarnya, dia menatap tajam ke arah Evan. "Di mana?" tanyanya.
"Di tempat biasa, kalau lo mau sekarang kita berangkat." Kendra mengangguk lantas bangkit, membuat teman-temannya tersenyum senang.
"Cabut!" Evan tersenyum senang melihatnya, dia mengusap pipinya yang terasa kebas akibat pukulan dari musuhnya, Kevin.
"Gue akan balas perbuatan lo semua!" ucapnya lirih.
"Ken!" ucap Evan membuat Kendra menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Gue ada ide," ucapnya dengan senyum licik.
"Apa?"
"Kita rusakin motor Devian, dan buat taruhan kalau lo menang Maudy jadi milik lo, gimana? lo masih suka kan sama tuh cewek." Mendengar ucapan Evan membuat Kendra senang.
"Tapi gue gak mau pakai cara curang. Tanpa gue rusakin motor Devian, gue yakin kita akan menang!" ucapnya percaya diri.
"Kalau gue gak yakin! dari dulu, lo aja nggak pernah menang balapan sama dia. Udahlah, Ken ikuti saran gue. Kalau lo Maudy, anggap aja satu sama karena mereka udah main keroyokan sama gue tadi siang!"
"Oke."
*****
Evan segera melancarkan aksinya, saat Devian dan teman-temannya yang lain tengah beradu mulut dengan Kendra.
Dengan hati-hati dia mulai merusak motor Devian, dia yang memang pandai dalam urusan mesin tentu saja merasa mudah membuat motor Devian mati saat balapan nanti.
"Sip." Evan segera pergi dari tempat itu, sebelum anak-anak REVICKS ada yang melihatnya.
Evan tersenyum miring menatap menantang ke arah Devian dan teman-temannya.
"Selamat kalah!" ejeknya.
Devian tersenyum sinis menatap remeh ke arah Evan. "Gue kalah? nggak ada sejarahnya seorang Devian kalah dari para banci kayak lo!" ucap Devian remeh.
"Haha, lo udah nangis di ketek emak belum, Van? modal tameng ketua nggak usah sok keras!" ejek Angga.
"BANYAK BACOT! mending sekarang mulai balapannya, dan kalau sampai lo kalah. Bendahara kelas lo yang cantik itu akan jadi milik Kendra!"
"Haha, ngimpi! dan kalau sampai lo kalah. Siap-siap tubuh lo gur potong kecil-kecil buat santapan buaya di markas gue!" ucap Devian dengan tatapan mengarah ke arah Angga.
"Shit! Sialan lo. Kalau ngomong buaya gak usah ngadep gue!" kesalnya. Devian terkekeh pelan dia mulai menutup kaca helmnya dan menatap tajam ke arah Angga.
"Selamat kalah, Devian! malam ini gue pasti akan ngalahin lo. Dan inget kalau gue menang, Maudy jadi milik gue!" ucap Kendra dengan senyum miring di bibirnya.
"Kalau lo menang. Dan kenyataannya lo selalu kalah dari gue! jadi jangan berharap buat menang dari gue!"
"SIAP!?" Keduanya mengangguk, Seorang wanita dengan baju mini berdiri di tengah-tengah Devian juga Kendra, dengan bendera hitam putih di tangannya.
"TIGA ...."
"DUA ...."
"SA ... TU!"
Kedua motor itu melesat jauh, Kendra maupun Devian sama-sama tak ingin kalah, mereka berdua saling salip menyalip.
"KALAH LO, BITCH!" ejek Devian, motor lelaki itu melesat jauh meninggalkan Kendra di belakang.
"Anjing!" Kendra terus menambah kecepatan motornya berusaha untuk menyusul Devian, sampai matanya melihat motor Devian berhenti di depan sana.
Senyum miring terukir di bibirnya, sepertinya rencana Evan berjalan sempurna. Dengan santai dia melewati Devian begitu saja.
"Lo yang kalah, bitch!" ucapnya mengejek.
****
Setelah balapan semalam, tubuh Kendra terasa ngilu karena mereka semalam sempat adu jotos.
Selalu sama seperti sebelumnya, dia selalu kalah dengan Devian karena kekuatan lelaki itu jauh di atasnya.
"Sekarang gue emang kalah sama lo, tapi suatu saat gue pasti akan ngalahin lo. Maudy, dia akan jadi milik gue!" ucapnya.
Kendra mengambil ponselnya menatap foto gadis cantik yang dia jadikan wallpaper ponselnya.
"Sebentar lagi, gue akan milikin lo Maudy!" ucapnya.
Tring!
Leak!
Ken jadi ke rumah gak sih!! ini udah siang tau. Kalau nggak sekarang, Lea nggak mau ngerjain tugas Ken!!
"FUCK!" umpatnya kesal, kenapa gadis menyebalkan itu selalu merusak suasana hatinya.
Dengan malas Kendra berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, bahkan lukanya yang semalam belum dia obati.
Bagiamana dengan mamanya? kata sistem rumah tangga mamanya tadi pagi pergi ke Bandung untuk pekerjaan.
Selalu begitu, pulang dan pergi seenaknya tanpa perduli dengan Kendra yang berstatus sebagai anak.
Kendra sudah rapi dengan pakaiannya dengan satu buku di tangannya dia segera menancap gas motornya untuk ke rumah gadis menyebalkan itu.
Tidak sampai sepuluh menit Kendra sampai di rumah Lea. Dia mengetuk pintu rumahnya pelan, dia masih punya sopan santun. Karena Kendra yakin ada mama Lea di rumah.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan wanita paru baya yang masih terlihat sangat cantik yang dia yakini adalah mama Lea.
"Iya, cari siapa ya?" tanyanya lembut.
"Leanya ada Tante?" tanya Kendra sopan.
"Ada, ayo masuk dulu!" Kendra mengangguk, mengikuti langkah wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Lea, turun! ini ada temen kamu yang datang!" ucapnya, Kendra duduk di ruang tamu. Sedangkan mama Lea dia masuk ke dapur untuk mengambilkan minum dan camilan.
Lea tersenyum setelah melihat siapa tamu itu, akhirnya lelaki yang sedari tadi dia tunggu datang juga.
"Lama."
"Bacot! mending gue datang. Nih! buruan kerjain tugas gue." Dengan seenak jidat Kendra melempar buku itu ke arah Lea.
"Gue mau per---"
"EITS, ENAK AJA! kalau Ken mau pulang yaudah bawa sekalian bukunya pulang. Lea nggak mau ngerjain buku Ken kalau Ken pulang!" omelnya.
"Diem!" Kendra membekap mulut Lea yang berisik, dia hanya takut mama Lea mendengarnya.
"Ish, lepasin! tangan Ken bau." Kendra segera melepasnya dan dengan bodohnya dia menciumnya.
"G--- lo kibulin gue!" kesalnya. Lea tertawa kecil menanggapinya, dia mengambil buku Kendra dan melihat sepuluh soal biologi.
"Ah ini mah gampang, anak sma juga bisa ngerjainnya!" ucapnya bangga.
"Bego! ya iyalah orang ini pelajaran anak SMA. Emang lo anak kuliahan!" kesal Kendra.
"Ish, bercanda kali. Gitu aja marah! dasar emosian." Sekarang ganti Lea yang kesal, dua manusia ini jika dipertemukan memang tidak akan pernah bisa akur.
Pasti ada saja hal yang mereka ributkan, persis seperti anak kecil. "Buruan, gue mau kumpul sama temen-temen. Udahlah kerjain sendiri, gue mau pulang!"
"Gak! kalau Ken pulang, Lea nggak mau ngerjain tugas, Ken. Biarin kerjain aja sendiri!" ucapnya.
"Ck, yaudah buruan kerjain. Rempong amat lo jadi cewek!" Lea mencebikkan bibirnya kesal, mulai mengerjakan tugas Kendra dengan setengah hati.
Dalam waktu singkat senyum bibir gadis itu mengembang, setelah tugas yang dia kerjakan telah selesai.
"UDAH SELESAI!" ucapnya girang. Senyumnya terlihat begitu manis membuat Kendra salah fokus.
"Ken, udah selesai!" ucapnya sekali lagi.
"Hm." Kendra mengambil buku itu tanpa mengucap apapun membuat Lea kesal, namun gadis itu tak sama sekali melunturkan senyum di bibirnya.
"Udah kan? ngapain lo senyum-senyum, gak usah senyum. Senyum lo jelek!" ucapnya tanpa beban.
Buk!
"IH NYEBELIN!" Dengan kesal Lea memukul tubuh Ken dengan bantal sofa. Membuat lelaki itu mengadu sakit.
"Ck, apaan sih!" kesal Ken.
"Makasih kek, udah dibantu juga!" ucapnya cemberut.
"Hm, thanks." Lea menggembungkan pipinya kesal.
"Apa lagi!"
"Ajak jalan kek, kan sekarang Minggu. Banyak temen-temen Lea yang jalan sama pacarnya!" ucapnya.
"Tapi gue bukan pacar lo, kalau lo mau jalan yaudah tinggal jalan. Ribet amat! lo kan bukan bayi yang kemana-mana perlu digendong."
"Dasar gak peka!" kesal Lea lalu beranjak pergi dari sana.
"Ribet banget jadi cewek!" gerutu Kendra.
Kendra kembali menatap Lea dengan malas. "Yaudah ayo jalan, gue tunggu! buruan ganti."
Anda Mungkin Juga Suka





