
Kencan Buta Setelah Pulang Kampung
Bab 3
Lagu utama album baru Daniel akan segera dirilis. Setiap harinya, dia selalu pergi pagi dan pulang malam karena sibuk membahas soal lagu dengan Yuna. Setelahnya, dia pun tidak pulang lagi.
Isi postingan media sosial Yuna setiap harinya adalah foto mereka yang berjalan di pinggir danau sambil bergenggaman tangan, melepaskan layangan dengan suara tawa riang, saling bersandar sembari melihat kembang api eksklusif ….
Aku tahu Yuna sengaja mengunggah semua itu untuk dilihat olehku. Hanya saja, aku sudah tidak peduli dengan Daniel lagi.
Sebelum meninggalkan Kota Harman, aku mencari seseorang yang dapat menghargai lagu yang sudah kuselesaikan, yang mana juga merupakan hartaku yang paling berharga. Orang itu adalah penyanyi baru, Yosef Bianra.
Kerja sama ini berjalan sangat lancar. Seusai menandatangani kontrak, Yosef mentraktirku makan untuk mengutarakan rasa terima kasihnya.
Santapan kali ini berjalan sangat menyenangkan. Usia Yosef tidak tergolong besar, tapi dia sangat gentleman dan tahu batasan. Dia sangat berharap kami bisa melanjutkan kerja sama.
“Aku nggak nyangka Bu Nael yang berbakat ternyata secantik ini. Sebenarnya, kamu bisa langsung memulai debutmu. Untung saja, Bu Nael nggak masuk ke jalur penyanyi. Kalau nggak, mata pencaharian kami akan direbut.”
Nael adalah nama samaranku. “El” berasal dari nama Daniel.
Aku mengira seumur hidupku, aku akan bekerja sama dengan Daniel, dan kami akan menjadi pasangan eksklusif.
“Nad, kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu bisa makan bersamanya?”
Seusai makan dan bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini, aku tidak menyangka kami akan bertemu dengan Daniel dan Yuna yang datang untuk makan di sini.
Daniel tidak lagi berpura-pura. Dia yang membawa wanita keluar-masuk restoran dengan terang-terangan pun menarik perhatian orang-orang.
Yosef menarik Daniel untuk meninggalkan tempat. Setelah kami masuk ke dalam ruangan VIP, aku baru menjelaskan semuanya dengan singkat.
“Kamu jual lagumu?” Terlihat rasa tidak percaya di wajah Daniel. “Kamu malah jual lagumu kepada orang lain!”
Saat Daniel memelototiku dengan gusar, aku pun membalas dengan tenang, “Aku cuma kasih barang yang nggak kamu inginkan kepada orang lain.”
“Hebat, Nadya! Kamu hebat sekali!” Daniel benar-benar murka.
“Niel,” panggil Yuna dengan ringan. “Itu cuma sebuah lagu saja. Mungkin Nadya marah karena masalah lagu utama, makanya dia berbuat begini.”
Daniel memalingkan kepalanya. “Ke depannya, kamu saja yang ciptakan semua laguku. Berhubung dia nggak mau kerja sama denganku, ke depannya, kita nggak usah kerja sama lagi.”
Usai berbicara, Daniel menarik Yuna pergi dengan emosi.
Yuna menoleh dan menunjukkan ekspresi puas terhadapku.
Yosef menyodorkan saputangan kepadaku. “Nggak seharusnya aku dengar semua ini. Tapi, aku merasa kamu butuh ini.”
Aku tersenyum padanya sembari menggeleng.
Saat pergi, aku bertemu lagi dengan Yuna di koridor. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu berkata, “Dia sudah janji akan melamarku waktu dia rilis album barunya.”
Aku teringat pesan Ayah dan mengangguk. “Selamat.”
Yuna tersenyum tipis, lalu mengangkat daguku. “Nadya, kamu nggak akan lebih bahagia dariku selamanya.”
Kuku indah Yuna telah menancap ke kulitku. Ekspresinya yang penuh kemenangan itu membuatku merasa kliyengan. Aku pun mendorongnya. Pada detik berikutnya, aku didorong hingga terjatuh ke lantai.
“Nadya, cukup! Aku kira kamu itu anaknya patuh dan pengertian. Aku nggak menyangka semua itu cuma khayalanku saja. Jangan beronar lagi. Ekspresi iri nggak cocok sama kamu.”
Aku mengangkat kepalaku.
Soal cinta atau tidak, semuanya sudah cukup jelas.
“Daniel, kita putus saja.”
Anda Mungkin Juga Suka





