
Kencan Buta Salah Alamat
Bab 2
Saat pria itu menoleh sedikit karena mendengar suara langkah kaki, Cinta langsung merasa lututnya lemas.
Ini bukan "lumayan oke" seperti yang diceritakan Bulan. Ini level dewa Yunani. Dan jauh dari kesan "kaku" yang dibilang Bulan. Ia tampak santai, namun matanya tajam dan penuh perhitungan.
Cinta memberanikan diri mendekat. Pria itu kini menatapnya sepenuhnya, dan Cinta harus mengakui, jantungnya berdetak tidak normal. Senyumnya formal, tapi matanya memancarkan rasa ingin tahu yang dalam.
"Tuan Dio?" tanya Cinta, mencoba meniru suara Bulan yang lebih profesional.
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang sayangnya hanya membuat ketampanannya makin tak tertahankan. Ia berdiri, tingginya menjulang. "Silakan duduk. Tapi, Anda salah orang, Nona."
Cinta mengerutkan dahi. "Salah orang?"
"Ya. Dio ada di sebelah sana." Pria itu menunjuk ke arah meja di sebelahnya, di mana duduk seorang pria lain dengan kemeja kotak-kotak dan wajah yang tampak memang kaku.
Astaga. Cinta merasa wajahnya memanas. Dia sudah sok keren berjalan ke arah pria tampan ini, padahal Dio yang sebenarnya hanya berjarak satu meja.
"Oh, maafkan saya, Tuan. Saya tidak melihat-"
"Tidak masalah," potong pria tampan itu, suaranya dalam dan berwibawa. "Tapi, sepertinya Anda datang untuk kencan buta juga, bukan?"
Cinta terdiam. Seharusnya dia segera pindah ke meja Dio, tapi entah kenapa, ia tidak bisa menggerakkan kakinya. Aura pria di depannya terlalu menarik, terlalu mengintimidasi.
"Saya... saya menggantikan teman saya," ujar Cinta jujur, sedikit terlalu jujur untuk ukuran blind date palsu.
Pria itu mengangkat alisnya, tampak terhibur. "Menarik. Saya juga menggantikan teman saya. Jadi, kita sama-sama 'korban' di sini?"
Cinta tertawa kecil, suara tawa yang sudah lama tidak ia dengar. Tawa tulus, bukan tawa palsu di depan Raka. "Mungkin. Tapi, sepertinya kita benar-benar salah alamat."
"Saya Kenan Pramudita," katanya, mengulurkan tangan.
Cinta menyambut uluran tangannya. Telapak tangan Kenan terasa hangat, kulitnya halus, dan cengkeramannya kuat. Getaran listrik kecil menjalar di lengan Cinta.
"Saya... Bulan," kata Cinta, berbohong sekali lagi. Demi reputasi agensi, Cin.
Kenan mengangguk. "Bulan. Nama yang cantik. Jadi, Bulan, Anda datang ke sini untuk kencan buta dengan siapa? Dan saya, aslinya, seharusnya bertemu dengan Rania. Teman saya, si bodoh itu, tiba-tiba sakit perut mendadak karena kebanyakan makan sushi pedas."
Cinta mendengarkan. Kenan bercerita dengan gaya yang santai, membuat Cinta merasa nyaman. Ternyata, dia tidak sekaku penampilannya.
"Saya seharusnya bertemu dengan Dio. Dia client perusahaan teman saya," jelas Cinta, memilih kata-kata yang aman. "Teman saya tiba-tiba harus ke rumah sakit menemani ibunya."
Kenan menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menatap Cinta lurus-lurus. "Kalau begitu, bukankah aneh kalau kita berdua sama-sama salah pasangan, tapi di satu meja yang sama?"
Cinta tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar cerah, bukan senyum patah hati. "Mungkin ini takdir, Tuan Kenan. Takdir untuk bertemu orang yang sama-sama nggak beruntung malam ini."
"Atau, takdir untuk menemukan jalan yang benar." Kenan mengambil sparkling water dari depannya dan menyesapnya pelan. "Dio dan Rania bisa menunggu. Mereka kencan buta sungguhan. Kita di sini, hanya dua orang yang salah alamat, tapi entah kenapa, obrolannya terasa lebih menarik."
Cinta merasa tersanjung. Ia memandang ke meja sebelah. Dio, si pasangan kencan buta Bulan yang asli, terlihat sedang sibuk mengutak-atik ponselnya, sesekali melihat jam tangan. Kaku, banget.
"Sepertinya Dio tidak akan menyadari kalau saya tidak ada di mejanya," kata Cinta sambil terkekeh.
"Bagaimana kalau kita ubah ini? Bukan lagi kencan buta, tapi 'Obrolan Dua Orang Salah Alamat'. Anggap saja kita sedang mencoba melepaskan beban pikiran. Saya yakin Anda punya banyak beban pikiran." Kenan menatap mata Cinta, seolah ia bisa membaca semua kesedihan yang baru saja berusaha ia sembunyikan dengan make up tipis.
Cinta tertegun. Tujuh tahun memendam rasa, seminggu penuh menangisi Raka, dan sekarang, seorang asing yang baru ditemuinya lima menit bisa langsung tahu bahwa ia sedang membawa "beban pikiran."
"Anda... peramal?" tanya Cinta, mencoba melucu.
Kenan tersenyum lembut. "Saya pengamat. Mata Anda tidak bisa berbohong, Bulan. Terlihat sekali Anda sedang patah hati, dan mencoba lari dari kenyataan dengan kencan buta yang salah ini."
Cinta langsung merasa pipinya memerah. Ia menyesal tidak memakai kacamata hitam.
"Anda benar," aku Cinta, suaranya nyaris berbisik. "Saya baru saja... dipatahkan."
"Oleh si bodoh yang tidak menyadari betapa berharganya Anda?"
"Dia sahabat terbaik saya. Tujuh tahun. Dan dia memilih yang lain." Cinta menceritakan dengan singkat, tanpa detail, tapi Kenan mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Tujuh tahun? Itu bukan persahabatan, itu penantian," komentar Kenan. "Dan penantian yang tidak dihargai, harus diakhiri. Jangan buang air mata untuk orang yang tidak punya mata untuk melihat Anda."
Goblok"Lalu, bagaimana dengan Anda?" tanya Cinta, mengalihkan topik. "Kenapa Anda yang harus menggantikan teman Anda?"
Kenan menghela napas, gestur yang sangat manusiawi, jauh dari aura CEO yang Cinta bayangkan. "Saya bosnya. Dia bilang, jika dia cancel, Rania, si gadis kencan butanya, akan merajuk dan mungkin saja tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kami lagi. Jadi, saya diminta untuk datang, say hi, dan pastikan semuanya baik-baik saja."
"Bos?" Cinta membelalakkan mata. "Anda CEO?"
"Hanya pemilik. Atau sebut saja, Direktur Utama," koreksi Kenan, merendah. "Perusahaan properti dan investasi kecil-kecilan. Bima Sena Group."
Cinta mengangguk, mulutnya sedikit terbuka. "Oh. Pantas saja."
Pantas saja Kenan terlihat begitu berwibawa. Pantas saja setelan jasnya tampak seperti dijahit oleh dewa.
Obrolan mereka mengalir lancar. Kenan memesan sebotol anggur merah, yang mereka bagi sambil menikmati pemandangan kota. Cinta, yang awalnya kaku, kini sudah tertawa lepas. Kenan ternyata punya selera humor yang gelap tapi cerdas. Mereka membahas banyak hal-dari politik, film-film lama, hingga teori konspirasi paling aneh.
Cinta benar-benar lupa dengan Raka. Ia lupa dengan Bulan dan Dio di meja sebelah. Ia merasa ringan, seolah beban patah hati yang selama ini ia pikul sudah dilepaskan.
"Jadi, Bulan," Kenan memanggil namanya. "Anda sendiri bekerja di bidang apa?"
Celaka. Cinta hampir lupa dia sedang berpura-pura menjadi Bulan.
"Saya... saya bekerja di bidang kreatif," jawab Cinta, mencoba terdengar meyakinkan. "Di agensi iklan kecil. Kami fokus di branding dan strategi digital."
"Menarik," Kenan mengangguk. "Agensi apa namanya?"
"Nama agensinya... CreativeSpark," jawab Cinta cepat, menyebutkan nama agensi Bulan (yang memang adalah CreativeSpark).
"Oh, CreativeSpark," Kenan mengulang, nadanya datar, tapi Cinta merasa ada sesuatu yang aneh.
"Anda kenal?"
"Tentu saja. Kami sedang mencari agensi baru untuk proyek pembangunan resor terbaru kami di Bali. Kami sudah mengundang beberapa agensi, dan CreativeSpark adalah salah satunya. Saya tahu direkturnya. Seorang wanita bernama Bulan. Yang sepertinya sekarang sedang berada di rumah sakit."
Cinta langsung kaku. Dia tahu. Dia tahu aku berbohong.
Kenan tersenyum, tapi senyumnya kali ini terasa mengintimidasi. "Jangan khawatir, Bulan palsu. Saya mengerti situasinya. Teman Anda, Bulan, sangat profesional. Dia pasti berpikir, 'lebih baik mengirim pengganti daripada tidak sama sekali'."
"Saya minta maaf, Tuan Kenan. Saya tidak bermaksud berbohong," kata Cinta, merasa sangat malu. Ia ingin lari dan bersembunyi di balik sofa.
"Lalu, nama Anda yang sebenarnya siapa?" tanya Kenan, nadanya berubah serius.
Cinta menelan ludah. "Nama saya... Cinta. Cinta Adelia."
Kenan memiringkan kepalanya sedikit. "Cinta. Jauh lebih cocok daripada Bulan. Jadi, Nona Cinta, apa Anda juga bekerja di CreativeSpark?"
"Tidak. Saya... baru saja lulus S2 dan sedang mencari pekerjaan baru. Saya sedang melamar di beberapa tempat, salah satunya Bima Sena Group," Cinta mengaku. Ia merasa tidak ada gunanya lagi berbohong.
Ekspresi Kenan berubah lagi. Kali ini, ia tampak terkejut. "Anda melamar di tempat saya? Posisi apa?"
"Spesialis Komunikasi Korporat. Saya submit lamaran dua minggu lalu. Sebenarnya, alasan kenapa saya cepat-cepat menerima tawaran Bulan adalah agar saya bisa ganti baju dan make up untuk wawancara kerja yang seharusnya saya lakukan besok pagi," jelas Cinta, kini ia merasa lemas.
Kenan tertawa, tawa yang benar-benar lepas dan mengisi ruangan. "Ini semakin menarik. Nona Cinta, Anda datang untuk menggantikan kencan buta teman Anda, dan Anda berakhir kencan buta... dengan calon bos yang akan menginterview Anda besok."
Cinta menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Oh, astaga! Saya merusak semuanya! Saya minta maaf, Tuan Kenan. Lupakan saja yang tadi. Saya akan pergi sekarang, dan besok saya akan bersikap seolah kita tidak pernah bertemu."
"Tidak semudah itu, Cinta," Kenan berkata, nadanya kini lembut, tapi penuh bobot.
Kenan menarik tangan Cinta dari wajahnya, matanya menatap Cinta dalam-dalam. "Anda merusak apa? Anda sudah membuat saya tertawa malam ini, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan selama sebulan terakhir. Anda berhasil membuat saya lupa bahwa saya seharusnya berada di rumah, mengerjakan tumpukan laporan. Dan Anda berani mengakui patah hati Anda di depan orang asing."
Kenan menjeda, lalu senyumnya kembali-senyum yang membuat lutut Cinta lemas.
"Saya tidak perlu interview lagi untuk posisi Komunikasi Korporat. Saya sudah melihat kemampuan komunikasi Anda. Dan saya suka kejujuran Anda. Saya juga suka bahwa Anda tidak kabur saat menyadari saya adalah atasan Anda."
"Jadi... apakah ini artinya saya diterima?" tanya Cinta, tidak percaya.
"Anggap saja, Anda mendapatkan babak kedua," ujar Kenan misterius.
Ia mengambil teleponnya dan mengetikkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ponsel Cinta bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal.
"Ini nomor saya. Besok pagi jam 9, datang ke kantor saya, bukan untuk wawancara, tapi untuk kontrak kerja. Dan jangan pakai kacamata itu. Anda jauh lebih cantik tanpa penyamaran." – Kenan Pramudita.
Cinta menatap Kenan, lalu menatap pesan itu. Senyum lebar tak tertahankan merekah di wajahnya.
"Tapi, Tuan Kenan... bukankah saya merusak kencan buta teman Anda?"
Kenan melihat ke meja Dio lagi. Dio kini terlihat seperti baru sadar bahwa ada seseorang yang duduk di meja sebelahnya.
"Mungkin, Cinta. Tapi, saya pikir, tulang rusuk memang punya cara yang aneh untuk menemukan pemiliknya."
Ia mengangkat gelas anggur. "Untuk blind date yang salah alamat, dan awal yang baru. Ayo bersulang."
Cinta mengangkat gelasnya, hatinya berdebar kencang, bukan karena Raka, tapi karena pria yang ada di depannya. Pria yang baru ia temui, yang seharusnya menjadi pasangan kencan buta temannya, yang kini menjadi calon bosnya.
Patah hati karena Raka ternyata mengantarkannya pada takdir yang sama sekali tidak ia duga.
Anda Mungkin Juga Suka





